Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.
Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.
Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap mawar
DRAP!
DRAP!
DRAP!
Irama langkah kaki yang berat memecah keheningan malam. Seorang pria berlari menembus kegelapan hutan, mengabaikan ranting-ranting yang menyabet wajahnya. Hawa dingin menusuk hingga ke tulang, namun keringat dingin justru membanjiri keningnya.
Napasnya memburu, sesak oleh ketakutan yang mengintai dari balik bayang-bayang pohon.
DOR!
Satu dentuman memekakkan telinga. Peluru melesat, merobek kesunyian dan menghentikan langkah sang pria dalam sekejap.
"ARGH!"
Ia tersungkur. Pekikan pilunya menggema, lalu hilang ditelan lebatnya hutan. Pria paruh baya itu mengerang kesakitan, memegangi betis kirinya yang bersimbah darah. Di tengah napasnya yang tersengal, ia tahu bahwa maut baru saja menyapa.
...----------------...
Satu jam sebelumnya,
Pukul 23.00 WIB
Colosseum Club, Surabaya.
Dentum musik techno dan pendar lampu neon memenuhi ruangan yang pengap oleh aroma alkohol.
Di sebuah sofa privat, Dendi Hasno berusaha menegakkan punggungnya yang terasa ringkih.
Sebagai mantan gubernur dengan citra Bapak Rakyat yang bersih, Dendi ahli dalam bersandiwara. Namun di tempat ini, di bawah remang lampu diskotik, topeng emasnya retak.
DRT...
DRT...
Ponsel di saku celananya bergetar. Dengan gerakan sempoyongan, ia mengangkat panggilan itu.
"Halo?" suaranya berat, khas pria yang terlalu banyak menenggak wiski.
"Kamu minum lagi?!" Suara melengking istrinya di seberang telepon membuat Dendi mengernyit muak. "Ini sudah larut! Ingat umurmu atau kamu akan cepat mati!"
"Ck, berhenti mengoceh!" Dendi memutus sambungan sepihak. "Wanita tua itu... selalu saja bicara soal umur," gerutunya sambil tertawa getir.
Ia bangkit berdiri, melangkah linglung menuju pintu keluar. Saat jemarinya baru saja menyentuh knop pintu, sebuah benturan pelan membuatnya terhuyung.
BRUK!
"Ah, maaf! Saya tidak sengaja," suara lembut menyapa indranya.
Dendi merasakan sentuhan halus mengenai lengan. Saat ditoleh dengan pandangan nanar, sosok gadis memakai dress mini hitam berdiri di hadapannya. Gaun itu begitu ketat, menonjolkan lekuk tubuh yang membuat darah pria tua itu berdesir hebat.
Kesadaran yang sempat kabur kini fokus sepenuhnya,
"Santai saja," sahut Dendi menyeringai mesum. "Sepertinya kamu pelayan baru di sini?"
"Iya, Tuan. Ini malam pertama saya bekerja," jawab gadis itu, Rila sambil tersenyum malu-malu.
"Jangan panggil Tuan. Panggil saja Dendi. Dendi Hasno," bisik Dendi, mencoba menjaga keseimbangan.
Rila menutup mulut dengan tangan, seakan terkejut. "Dendi Hasno? Mantan gubernur yang hebat itu? Wah, saya pengagum berat Anda!"
Pujiannya bagai bensin yang membakar ego Dendi. Tanpa ragu ia melingkarkan lengan di pinggang ramping Rila, menariknya mendekat. Rila tampak gugup, namun tak menolak saat Dendi membimbingnya menuju parkiran.
Di samping mobil sedan hitam klasik milik Dendi yang terparkir di sudut sepi, suasana kian memanas. Hasrat liar Dendi memuncak. Ia menghimpit tubuh Rila ke badan mobil, tangannya mulai bergerilya dengan kasar.
"Jangan seperti ini, Tuan... Saya sudah bertunangan," bisik Rila, mencoba menepis tangan keriput yang meraba pahanya.
"Tenanglah manis. Aku akan memberimu kompensasi yang sangat besar," bisik Dendi tepat di telinga Rila. Napasnya yang bau alkohol memburu saat hendak menciumi leher gadis itu.
Namun, sebelum bibir Dendi mendarat, sebuah hantaman tumpul mendarat di tengkuknya.
BRUK!
Sang politikus tersungkur seketika. Tubuhnya ambruk tak berdaya di aspal yang dingin.
Rila berdiri tegak. Seringai licik kini menghiasi wajahnya. Ia mengusap kasar bahunya, dibuat jijik oleh sentuhan pria tua tadi. Jemari lentiknya menyibak rambut, menekan sebuah earpiece kecil yang tersembunyi.
"Bos, mangsa sudah masuk perangkap. Jemput kami sekarang,"