transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.
#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bisik2 di pojok cafe.
Vivian akhirnya sampai di cafe yang ia tuju. Le Blanche. Cafe bergaya klasik di tengah kota metropolitan.
Pintu kayu jati dibuka, lonceng kecil di atasnya bunyi ting. Seketika wangi kopi arabika, butter croissant, sama parfum mahal kecium jadi satu. Lampu gantung kristal nyala temaram, bikin suasananya hangat tapi mewah. Piano mengalun pelan dari speaker, nutupin obrolan para sosialita yang lagi arisan di meja tengah.
Gadis itu masuk. Heels-nya ketuk-ketuk pelan di lantai marmer. Matanya nyapu seluruh ruangan, nyari sesosok bayangan. Nyari makhluk halus yang satu jam lalu nge-WA pake 10 tanda seru, maksa dia keluar rumah.
"Vivian."
Terdengar suara dari arah samping Pojok ruangan. Tepat di bawah lampu dinding warna gold.
Vivian noleh, Dan langsung nemu bayangan itu.
Bajunya merah nyala. Merah cabe, merah yang kalo dipake nyebrang jalan gak butuh polisi. Lipstiknya tak kalah membahana. Merah darah, tebel, glossy. ditambah acamata hitam segede topeng nangkring di atas kepala. Rambutnya di-blow sempurna.
"Silvi?" gumamnya. Vivian jalan ke arah wanita sexy itu. Di meja udah ada dua gelas mojito virgin, plus sepiring truffle fries yang masih ngebul.
Spontan Silvi bangkit. Kursinya kegeser. Braak. Dia langsung nyerbu, nempelin punggung tangan ke jidat Vivian. Terus ke pipi, lanjut ke leher. Matanya nyipit, ngecek serius kayak dokter.
"Sayang, apa kamu sakit?" tanyanya panik. "Kamu demam? Masuk angin? Kesambet? atau Tobat?"
Vivian mundur setengah langkah. Risih. "Apaan sih."
Soalnya Silvi syok berat. Mana baju ketat itu? Biasanya Vivian pake bodycon yang belahannya sampe paha. Mana warna ngejrengnya? Biasanya fuschia, emas, atau motif macan. Mana lipstik merah menyalanya itu? Sekarang Vivian cuma pake dress biru navy selutut, lip tint pink natural, rambut digerai rapi.
Ini bukan Vivian, Ini bidadari. Versi kalem, Versi anak pesantren pulang mondok, Versi yang bikin Silvi takut kiamat udah deket.
"Apasih? Aku sehat, Silvi," sahut Vivian, risih banget. Dia usap pipi merah Silvi pake punggung tangan. Agak kasar. "Nih, pegang,Normal kan?, Gak panas, Gak gila juga. aku juga Masih inget kamu utang 2 juta belum bayar."
"Eh," Silvi kaget. Tapi terus ketawa. Lega. "Galaknya masih sama. Kirain udah insaf beneran, udah ganti nama jadi Siti Aminah." celetuk Silvi sambil cengengesan.
"Sayang, ayo duduk, ceritakan padaku apa yang keluarga Wijaya lakukan?" ucap Silvi sambil narik kursi buat Vivian. Dia sendiri duduk lagi, tapi matanya gak lepas natap Vivian dari atas sampai bawah. Kayak lagi verifikasi KTP. "Kamu sampai berubah sebanyak ini. Serem tau, Dua hari gak ketemu, kok jadi kayak orang beda? Abis dirukyah berapa kali?"
Dua sahabat yang biasanya norak dan cetar membahana kalo ketemu, yang kalo ketawa satu cafe bisa denger, kini salah satunya tobat. Vibes-nya aneh. Kayak anak punk nongkrong sama anak rohis.
Vivian duduk. Dia ambil sedotan, ngaduk mojito-nya pelan. Es batunya gemerincing. "Gak ada, Silvi. Mereka baik."
"Baik?" Silvi ulangin. Nadanya gak percaya.
"Malah aku tak mau cerai," sahut Vivian. Kalimatnya pelan, tapi jelas. Dia natap Silvi lurus.
Satu detik. Dua detik. Hening.
BUGH.
Silvi membolakan matanya. Lebar banget, sampe eyeliner-nya mau lepas. "Serius, Vi? Kamu? Vivian Aurelia yang 730 hari ini tiap malem nangis di telpon sambil misuh-misuh Eric Wijaya? Yang bilang 'mending gue jadi gelandangan daripada jadi bininya si kulkas dua pintu itu'? Yang udah bikin countdown di HP sampe hari perceraian?"
Mendengarnya lebih kaget daripada liat penampilan baru Vivian. Ini levelnya udah kayak denger tukang nasi goreng nawarin menu steak wagyu.
Vivian cuma ngangkat bahu. Dia nyeruput mojito-nya dikit. Asem, seger. Cocok buat netralin mualnya yang masih sisa. "Iya. Aku berubah pikiran, Ternyata jadi Nyonya Wijaya enak juga, Kasurnya empuk, AC-nya dingin, Kartu hitamnya unlimited."
"Alasan lu materialistis banget," Silvi ngejek. pundaknya nyender ke kursi, "Terus si Doni gimana?" tanya Silvi lagi. Nadanya kali ini selidik, Hati-hati. "Pacar lu itu? Yang tiap minggu 'Pinjem dulu seratus' itu?"
Nah. Bagian penting.
Vivian naruh gelasnya keatas meja, Prang. Suaranya tegas. tiba-tiba dia nyamber tangan Silvi. Digenggam kenceng, Matanya melotot, berapi-api. Kayak abis ikut seminar motivasi.
"Aku akan putuskan dia," ucapnya. Berat, Mantap, Jelas. Sambil ngomong, jemarinya neken jemari Silvi kuat-kuat. Kuku pendeknya gak sengaja nancep.
"ADUH! VI, SAKIT! LEPAS!" Silvi menjerit. Dia langsung ngejutin tangannya sambil meringis. "Ya Tuhan, putus apa mau patahin jari gue?! Kayak mau nyek begal!"
Vivian nyengir polos. "Sori, Kebawa suasana Saking semangatnya." sahut Vivian.
"Kenapa tiba-tiba banget?" Silvi sambil ngurut-ngurut jarinya yang merah. "Kemarin masih bilang 'Doni ganteng, Doni pengertian, Doni masa depanku, Doni bisa bikin aku bahagia lahir batin'. Sekarang mau diputus? Kamu kemasukan arwah siapa, Vi?"
Vivian narik napas panjang. Oke, waktunya akting. Akting terbaik sepanjang masa.
Dia senderan ke kursi. Satu tangan nempel di dada, gaya-gaya artis sinetron. Satu tangan lagi mulai ngepak-ngepak di udara. Matanya dia bikin sayu, tapi sok berkaca-kaca.
"Aku merasa..." jeda. Dia hirup napas dramatis. "...aku jatuh cinta pada suamiku."
Silvi: "Hah?"
"Jatuh cinta pada pandangan pertama," lanjut Vivian, nadanya dibuat mendayu-dayu kayak baca puisi. "Dia tampan. Kayak patung Yunani dikasih nyawa. Dia kaya. Punya rumah 10 lantai, punya mobil segudang. Dia perhatian..." dia bohong dikit, "...walau caranya dingin. Tapi dingin-dingin ada angetnya gitu."
Bukan cuman bibirnya yang ngomong. Tangannya juga ikut berbicara. Mengepak-gepak seperti ayam mau terbang tapi tak bisa. Nunjuk-nunjuk ke atas. Muter-muter. Nunjuk ke jantung, Totalitas kaya pemain sinetron.
"Tak sebanding kalau dibandingkan dengan Doni!" pungkasnya, sambil gebrak meja pelan. "Doni apa? Modal kemeja dibuka tiga kancing sama kalung emas imitasi doang. Idih. Skip."
Silvi bengong, Dia natap Vivian dari tadi kayak lagi nonton drama kolosal. Antara cringe, kaget, tapi gak bisa berhenti nonton. Akhirnya dia hela napas panjang,Pasrah
"Yasudah terserah kau saja," sahut Silvi. Dia ambil truffle fries satu di piring, langsung di gigit. Cress. "Tapi kalo nanti nangis-nangis lagi minta gue comblangin sama Doni, gue tabok ya. Kapok." lanjutnya sambil ngunyah.
"Gak akan!" Vivian yakin, Dia acungin kelingking. "Sumpah."
"Tapi..." tiba-tiba Vivian ubah nada suaranya. Jadi pelan banget. Hampir gak kedengeran. Matanya lirik ke kanan, lirik ke kiri. Ngecek. Di meja sebelah ada ibu-ibu arisan lagi gosip, Di meja depan ada cowo lagi laptopan. Aman, Gak ada yang merhatiin.
"Aku punya rencana," ucapnya. Bibirnya hampir gak gerak.
Silvi langsung paham. Mode konspirasi ON. Dia juga ikut pasang muka serius. "Rencana apa?"
Vivian ngangkat jari telunjuk, Kode klasik. _Deketin kuping lu._
Silvi nurut. Dia geser kursinya dikit. Badannya condong ke depan sampe dadanya hampir nyentuh meja. Kepalanya miring, kupingnya dia sodorin ke arah Vivian.
Vivian juga ikut maju, Jarak mereka cuman tinggal sejengkal. Supaya bisik-bisiknya beneran gak bocor. Dia nutupin sisi mulutnya pake telapak tangan, jaga-jaga kalau ada yang jago baca gerak bibir.
"Jadi gini..." bisik Vivian. Suaranya cuma setipis angin, Hanya Silvi yang denger. Bahkan pianis cafe yang duduk dua meter dari mereka gak bakal denger.
Yang kedengeran orang lain cuma potongan kata. "Nanti... kalo dia dateng... kita..." sisanya hilang ditelen suara piano.
Silvi mengangguk-angguk pelan. Matanya melotot antusias. Terus dia balas bisik, "Terus... terus... jadi..."
"SSSTT!" Vivian nyengir. Dia nyubit paha Silvi pelan di bawah meja. "Pelan-pelan, Nanti kedengeran."
Silvi langsung bekap mulutnya sendiri pake dua tangan. Tapi telat, Dia udah ngakak ketahan. Cuma keluar suara "mphh mphh" dari balik telapak tangannya. Bahunya guncang hebat, Matanya berair. "Lu... lu gila Vi! Pfff... ide lu... PFFF..."
"Ssstt! Pelan-pelan, ntar dia denger!" Vivian nyubit lagi. Tapi dia juga cekikikan. Tangannya nutupin mulut, matanya udah berair nahan tawa. Di bawah meja, kakinya nendang-nendang pelan saking gemesnya.
Keduanya sekarang udah kayak orang kesurupan. Kepalanya nempel deket banget, bisik-bisik, terus ngakak bareng tapi ditahan. Cekikikan. Bahu Silvi guncang-guncang hebat. Vivian sampe ngelap ujung mata yang berair pake tisu. Sesekali Silvi nampol lengan Vivian pelan. "Udah kayak mau ngerampok bank aja kita, Vi!"
Vivian cuma kedip, terus bisik lagi. Kalimatnya kepotong-potong. "Nanti... pas dia... kita langsung... terus lu..."
"ANJIR!" Silvi reflek mau teriak, tapi langsung dia bekap lagi. Makin ngakak. "Oke... oke... gue ngerti... PFFFT... Demi... demi... HAHAHA!"
Mereka tos pelan di bawah meja. Plok. Gak kedengeran siapa-siapa. Terus cekikikan lagi kayak dua anak SD yang baru sukses ngerjain guru BK. Dari luar, mereka cuma keliatan kayak dua sahabat yang lagi curhat intim banget. Ketawa-tawa, bisik-bisik, saling cubit. Padahal di dalem, mereka lagi nyusun strategi perang dunia ke-3.
Yang jelas, tiap Silvi denger Vivian bisik, matanya makin melotot. Terus ngakak. Terus manggut-manggut. "Kampret lu, Vi! Tapi gue suka! HAHA!"
Vivian cuma senyum. Senyum iblis. Senyum puas. "Pokoknya nanti lu ikutin aja kode gue. Jangan sampe miss."
"Siap, Bos!" balas Silvi, masih bisik-bisik sambil hormat gaya-gayaan.
Lik Komen ya besty