Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.
Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.
Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.
Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…
Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.
Namun ternyata, Alexa adalah Naura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
“Kalau saya buka pintu itu… kamu mau ngapain?”
Genta berdiri tegak di hadapan Genesis, suaranya rendah tapi jelas, memotong udara yang sudah tegang sejak beberapa menit terakhir. Tatapannya tidak goyah, seolah benar-benar ingin melihat jawaban itu keluar tanpa ragu.
Genesis tidak berpikir lama. “Gue bawa dia pergi.”
Jawaban itu langsung. Berat. Tanpa basa-basi.
Dua bodyguard di depan pintu saling pandang sekilas, lalu kembali siaga. Sementara dari dalam kamar, suara benturan keras terdengar.
BRUK! BRUK!
“BUKA! BUKAIN PINTUNYA!” teriak Alexa dari dalam, suaranya pecah, napasnya tersengal. “GENESIS DI LUAR KAN?! AKU DENGER SUARANYA! BUKA!”
Tubuh Genesis langsung menegang. Tangannya mengepal kuat, urat di lehernya terlihat jelas. Ia melangkah setengah langkah ke depan, tapi langsung dihalangi dua bodyguard yang berdiri seperti tembok.
“Lex!” suaranya keluar lebih keras dari sebelumnya. “Gue di sini!”
Di dalam, Alexa terisak. “Gen… jangan pergi… tolong jangan pergi…”
Genta memejamkan mata sesaat, lalu membukanya lagi. Kali ini sorot matanya berubah tipis—bukan marah, tapi sesuatu yang lebih dalam. Ia menoleh sedikit ke arah pintu, mendengar sendiri bagaimana nama itu dipanggil dengan cara yang tidak bisa dipalsukan.
“Jadi ini…” gumamnya pelan. “Bukan sekadar kenal.”
Genesis menatapnya tajam. “Lo udah denger sendiri. Jadi geser.”
Belum sempat Genta menjawab, langkah kaki tergesa terdengar dari ujung koridor. Beberapa orang security tambahan datang, disusul seorang pria paruh baya—kepala keamanan villa.
“Tuan! Kami dapat laporan ada penyusup—” ucapnya cepat, lalu berhenti begitu melihat Genesis berdiri di sana.
Suasana langsung berubah lebih panas.
“Amankan dia!” perintah pria itu tanpa ragu.
Dua orang maju bersamaan. Genesis refleks menghindar satu langkah, bahunya ditarik, tapi ia menepis tangan itu dengan kasar.
“Jangan sentuh gue!” bentaknya, napasnya memburu.
“Gen! Jangan!” suara Alexa dari dalam makin panik, diikuti suara tangannya yang terus memukul pintu. “Mereka bakal nyakitin kamu!”
“Diam di dalam!” balas Genesis cepat, tanpa menoleh. “Gue nggak apa-apa!”
Genta mengangkat tangannya lagi. “Tunggu.”
Semua gerakan langsung terhenti.
Kepala keamanan itu menatapnya bingung. “Tuan?”
“Jangan sentuh dia dulu,” ulang Genta, kali ini lebih tegas.
Hening jatuh seketika. Bahkan Alexa di dalam kamar pun terdiam beberapa detik, seolah tidak percaya.
Genesis menyipitkan mata, menatap Genta lurus. “Lo lagi main apa?”
Genta tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat sedikit, cukup untuk memperjelas jarak dan tekanan di antara mereka.
“Saya cuma penasaran,” katanya pelan. “Sejauh apa kamu berani.”
Genesis terkekeh kecil, tapi tanpa humor. “Lo udah lihat. Gue sampai sini.”
“Belum cukup,” balas Genta tenang. “Datang ke sini bukan hal besar. Yang penting… apa kamu bisa keluar dari sini bawa dia?”
Kalimat itu seperti tantangan.
Genesis diam sejenak. Lalu ia menoleh ke arah pintu. Suara Alexa kembali terdengar, kali ini lebih lemah tapi lebih dalam.
“Gen… aku di sini… jangan tinggalin aku…”
Tatapan Genesis berubah. Lebih tajam. Lebih pasti.
Ia melangkah maju lagi.
Kali ini bodyguard langsung menahan, lebih keras. Bahunya ditekan, lengannya ditarik ke belakang. Ia berusaha melawan, tapi jumlah mereka lebih banyak.
“Lepasin!” bentaknya, tubuhnya berontak. “Gue belum selesai!”
“Bawa dia keluar!” perintah kepala keamanan.
“LEPASIN DIA!” teriak Alexa dari dalam, suaranya histeris. “KALIAN NGGAK BERHAK NYENTUH DIA!”
Genta tetap diam. Ia hanya berdiri, menonton semua itu tanpa ekspresi jelas. Tapi matanya tidak lepas dari Genesis.
Genesis masih berusaha lepas, napasnya kasar, tapi cengkeraman itu terlalu kuat. Ia akhirnya berhenti melawan bukan karena menyerah, tapi karena sadar satu hal—dia tidak akan bisa menang sekarang.
Ia menoleh ke arah pintu sekali lagi.
“Lex!” panggilnya keras.
Di dalam, Alexa jatuh berlutut di depan pintu. Tangannya menempel di kayu itu, air matanya jatuh tanpa henti.
“Iya… aku di sini…”
“Tunggu gue,” ucap Genesis, suaranya lebih dalam, lebih tenang, tapi justru terasa lebih kuat. “Gue bakal balik.”
Alexa menggeleng cepat, meski ia tahu Genesis tidak bisa melihatnya. “Jangan lama… tolong jangan lama…”
“Enggak bakal.”
Dua bodyguard mulai menyeret Genesis menjauh dari pintu. Ia tidak lagi melawan, tapi tatapannya tidak pernah lepas.
Genta masih berdiri di tempatnya.
Saat Genesis melewati posisinya, langkahnya sempat melambat satu detik. Cukup untuk mereka kembali saling tatap dalam jarak dekat.
“Ini belum selesai,” kata Genesis pelan.
Genta menatapnya, tidak tersenyum, tidak marah. Hanya diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, “Saya juga tidak bilang ini selesai.”
Genesis ditarik lagi, kali ini lebih jauh. Koridor mulai kosong perlahan. Suara langkah, suara perintah, suara pintu lift servis terbuka dan tertutup.
Hingga akhirnya sunyi kembali.
Di dalam kamar, Alexa masih terduduk di depan pintu, tubuhnya gemetar, napasnya tidak beraturan. Ia menekan dahinya ke permukaan kayu itu, seolah masih bisa merasakan kehadiran Genesis di baliknya.
“Jangan pergi jauh…” bisiknya pelan. “Aku nggak kuat kalau kamu hilang lagi…”
Tidak ada jawaban.
Hanya sisa keheningan dan gema suara tadi.
Di luar, Genta masih berdiri di tempat yang sama. Tangannya masuk ke saku, wajahnya kembali datar. Tapi ada sesuatu yang belum pergi dari matanya.
Ia menoleh ke arah ujung koridor, ke arah di mana Genesis tadi dibawa pergi.
Lalu pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri, ia bergumam,
“Aneh…”
Ia diam sejenak, alisnya sedikit mengernyit.
“Kenapa… gue ngerasa… pernah lihat mata itu…”
Langkah kaki mereka berhenti di depan pintu besi tebal di area belakang villa. Suasana di sini berbeda jauh dari kemewahan koridor utama. Lebih dingin, lebih sunyi, dan terasa seperti tempat di mana keputusan-keputusan tidak pernah ringan diambil.
“Masukin,” perintah kepala keamanan singkat.
Pintu dibuka. Genesis didorong masuk ke dalam ruangan yang hanya diterangi lampu putih redup. Di tengah ruangan ada satu meja besi dan dua kursi berhadapan. Dindingnya polos, tanpa hiasan, tanpa jendela.
Dua bodyguard masih mencengkeram lengannya, tapi Genesis tidak melawan lagi. Ia justru berdiri tegak, menatap sekeliling dengan tenang seolah sudah siap dengan apa pun yang akan terjadi.
“Duduk,” kata salah satu dari mereka.
Genesis tidak langsung bergerak. Ia menatap balik, lalu perlahan duduk tanpa dipaksa.
Kepala keamanan berdiri di depan meja, menatapnya tajam. “Nama.”
Genesis tidak menjawab.
“Saya tanya sekali lagi. Nama.”
Genesis menyandarkan punggungnya ke kursi, rahangnya mengeras. “Ngapain? Mau bikin kartu anggota?”
Salah satu bodyguard langsung maju, tangannya terangkat ingin menghajar. Tapi—
“Cukup.”
Suara itu datang dari pintu.
Semua langsung menoleh.
Genta berdiri di ambang pintu, wajahnya tetap tenang, tapi auranya langsung mengubah suasana ruangan. Ia melangkah masuk perlahan, setiap langkahnya terukur.
“Keluar dulu,” katanya singkat.
Kepala keamanan ragu. “Tuan, orang ini—”
“Saya bilang keluar.”
Tidak ada nada tinggi. Tidak ada emosi berlebih. Tapi cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu menurut tanpa banyak tanya.
Satu per satu mereka keluar. Pintu ditutup.
Sekarang hanya ada dua orang di dalam ruangan itu.
Sunyi.
Genta menarik kursi di depan Genesis dan duduk. Ia tidak langsung bicara. Hanya menatap. Lama. Seolah ingin menguliti semua yang ada di balik wajah pemuda di depannya.
Genesis juga tidak mengalihkan pandangan. Tatapannya tetap tajam, sama sekali tidak terlihat gentar.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Akhirnya Genta bersuara.
“Kamu nekat.”
Genesis mendengus kecil. “Kalau cuma nekat, gue nggak bakal sampai sini.”
Genta mengangguk pelan, seolah mengakui itu. “Masuk ke villa saya, nyamar, terus tiba-tiba muncul terang-terangan. Itu bukan tindakan orang bodoh.”
“Bagus kalau lo sadar,” balas Genesis cepat.
Genta sedikit menyipitkan mata. “Tapi juga bukan tindakan orang yang mikir panjang.”
Genesis mencondongkan tubuhnya ke depan, siku bertumpu di meja. “Kalau gue mikir panjang, dia udah jadi istri lo sekarang tanpa gue sempet ngapa-ngapain.”
Kalimat itu langsung menancap.
Hening lagi.
Genta tidak langsung membalas. Ia menatap Genesis lebih dalam kali ini, bukan sekadar menilai—tapi mencoba memahami.
“Sejak kapan?” tanyanya akhirnya.
Genesis mengernyit. “Apa?”
“Sejak kapan kamu kenal dia?”
Genesis tertawa kecil, tapi pahit. “Pertanyaan lo salah.”
Genta mengangkat alis tipis. “Oh ya?”
“Harusnya lo tanya… sejak kapan gue nggak bisa lepas dari dia.”
Jawaban itu membuat Genta diam sejenak.
Ada sesuatu di nada suara itu. Sesuatu yang tidak dibuat-buat.
“Dan kamu yakin dia sama?” tanya Genta lagi, kali ini lebih pelan.
Genesis tidak ragu. “Lebih dari yakin.”
Genta menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia menatap langit-langit sebentar, lalu kembali ke Genesis.
“Dia akan menikah dengan saya,” ucapnya tenang.
Genesis langsung menatap tajam. “Itu kalau dia mau.”
“Dia tidak punya banyak pilihan.”
Genesis tersenyum tipis, kali ini lebih dingin. “Semua orang punya pilihan. Tinggal berani atau enggak.”
Genta memperhatikan senyum itu. Lama.
“Dan kamu?” tanyanya. “Seberapa berani kamu?”
Genesis tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia hanya menatap balik.
Tapi jawabannya sudah jelas.
Genta menghela napas pelan. Tangannya bertaut di atas meja.
“Ada banyak cara untuk menghentikan kamu,” katanya. “Mulai dari yang paling halus… sampai yang paling ekstrem.”
Genesis tidak bereaksi. “Silakan.”
Genta memiringkan kepala sedikit. “Kamu tidak takut?”
Genesis menggeleng. “Takut itu udah lewat dari dulu.”
Jawaban itu lagi.
Tenang. Tapi berat.
Genta terdiam lebih lama kali ini. Ia menatap wajah Genesis tanpa berkedip, seolah mencoba menemukan sesuatu yang tidak terlihat di permukaan.
Dan entah kenapa… semakin lama ia melihat, semakin ada perasaan aneh yang muncul.
Familiar.
Mengganggu.
Sulit dijelaskan.
Ia berdiri perlahan dari kursinya.
“Untuk malam ini… kamu tidak akan kemana-mana,” ucapnya.
Genesis tidak kaget. “Udah gue duga.”
“Tapi kamu juga tidak akan disentuh,” lanjut Genta.
Genesis menyipitkan mata. “Kenapa?”
Genta tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju pintu, lalu berhenti sebentar tanpa menoleh.
“…Karena saya masih ingin tahu,” katanya pelan.
Pintu dibuka.
Sebelum keluar, Genta sempat melirik sedikit ke belakang.
Tatapan mereka bertemu lagi.
Dan untuk sepersekian detik itu—tidak ada status, tidak ada kekuasaan, tidak ada perbedaan dunia.
Hanya dua orang… dengan sesuatu yang belum mereka pahami.
Pintu tertutup.
Klik.
Genesis tetap duduk di kursinya. Tangannya mengepal pelan di atas meja. Napasnya ditarik dalam, lalu dilepas perlahan.
“Gue nggak bakal berhenti…” gumamnya pelan.
Di luar ruangan, Genta berdiri diam beberapa detik. Tangannya masih di gagang pintu, tapi pikirannya jelas tidak lagi di sana.
“Aneh…” bisiknya lagi.
Kali ini lebih dalam.
“Kenapa… rasanya kayak… gue lagi lihat diri gue sendiri…”