NovelToon NovelToon
Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Horror Thriller-Horror / Epik Petualangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Thinkziam

Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...

----

~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Suara itu datang lagi. Kali ini lebih dekat.

Arka sudah berada di depan pintu terowongan sejak sepuluh menit yang lalu, pistol di tangan, napas ditahan. Di sampingnya, Pratama berdiri dengan senjata yang sama, matanya menyipit ke arah panel kayu yang menutup lorong.

Di balik panel itu, terowongan membentang gelap. Di ujungnya, perangkap yang mereka pasang kemarin. Dan di antara perangkap dan pintu stasiun, sesuatu bergerak.

“Dua orang,” bisik Pratama. “Mungkin tiga.”

Arka mengangguk. Dia mendengar juga. Langkah kaki yang mencoba pelan, tapi tidak bisa sepenuhnya sunyi di lorong sempit berdinding tanah.

Tiba-tiba, suara letupan kering menggema dari dalam terowongan. Diikuti pekik pendek yang langsung diredam.

Perangkap pertama aktif.

Pratama menghitung dalam hati. “Satu kena. Yang lain mundur.”

Arka membuka panel kayu perlahan. Udara dingin menyusup. Dari dalam terowongan, tercium bau gas dan sesuatu yang terbakar. Senter di tangan Pratama menyorot ke depan. Di tikungan pertama, sekitar sepuluh meter dari pintu, sesosok tubuh tergeletak di tanah. Tidak bergerak.

“Jangan mendekat dulu,” kata Pratama. “Bisa ada yang lain.”

Mereka menunggu. Lima menit. Sepuluh. Tidak ada suara lagi. Hanya angin tipis yang membawa bau asap.

Arka maju perlahan. Pratama mengikuti, pistol terangkat. Senter menyorot ke sudut-sudut gelap, ke langit-langit kayu, ke dinding-dinding yang lembap.

Pria itu tergeletak miring, kaki kirinya terjerat tali pemicu. Tabung gas di sampingnya sudah menganga, isinya meledak tepat di dekat betisnya. Celana jaketnya robek, kulit di bawahnya melepuh merah. Dia tidak sadar. Atau pingsan karena rasa sakit. Atau mungkin sudah mati.

Arka berjongkok. Dua jari menyentuh leher pria itu. Denyut. Lemah, tapi ada.

“Masih hidup,” katanya.

Pratama mendekat. “Yang lain pergi. Mereka tahu ini jebakan.”

“Bawa dia ke bunker.”

“Mas, ini risiko. Bisa saja dia pura-pura.”

“Kalau dia pura-pura, kita akan tahu. Kita ikat.”

Pratama tidak membantah. Mereka mengangkat pria itu bersama-sama, membawanya ke bunker. Di pintu, Dewi sudah menunggu dengan wajah waspada. Umar berdiri di belakangnya, memegang obeng.

“Ada yang terluka?” tanya Dewi.

“Dia,” kata Arka. “Bukan dari kita.”

Mereka membaringkan pria itu di lantai ruang utama. Pratama mengikat tangan dan kakinya dengan tali nilon. Dewi memeriksa lukanya dengan cepat. “Luka bakar. Cukup dalam, tapi tidak mengancam nyawa. Dia akan sadar sebentar lagi.”

Arka mengangguk. Dia berdiri di samping, menunggu.

Pria itu membuka mata sekitar sepuluh menit kemudian. Matanya liar, mencoba melihat sekeliling. Saat sadar tangannya terikat, dia berusaha meronta.

“Jangan buang energi,” kata Arka. “Kamu tidak kemana-mana.”

Pria itu berhenti. Matanya menatap Arka, lalu Pratama, lalu orang-orang di sekitarnya. Napasnya tersengal, sebagian karena sakit, sebagian karena takut.

“Kalian... kalian yang di bunker?”

“Iya. Dan kamu yang mencoba masuk ke tempat kami.”

Pria itu tidak menjawab. Matanya beralih ke lukanya yang sudah dibalut. “Kalian obati aku?”

“Kami tidak membiarkan orang mati di lantai kami. Tapi itu tidak berarti kami percaya padamu.”

Pria itu terdiam. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipis.

“Siapa namamu?” tanya Arka.

“Joko.”

“Joko, ceritakan tentang kelompokmu.”

Joko menunduk. “Aku tidak tahu apa-apa.”

“Tadi ada dua orang bersamamu. Satu lari. Kamu tertinggal. Mereka tidak kembali untukmu. Itu sudah cerita.”

Heri menggigit bibir. Arka tidak mendesak. Dia duduk di kursi di hadapan pria itu, menunggu.

“Aku baru ikut dua minggu,” kata Heri akhirnya. Suarara parau. “Aku tidak punya pilihan. Di atas sana, tidak ada makanan. Tidak ada air. Kelompok lain sudah mati semua. Hanya mereka yang masih punya persediaan.”

“Siapa pemimpin kalian?”

“Komandan. Kami panggil Komandan. Aku tidak tahu nama aslinya. Dulu tentara. Dia punya stok senjata dari gudang TNI. Dia menguasai gedung BNI, dari lantai dua puluh ke atas. Anak buahnya sekitar tiga puluh. Mungkin lebih. Yang ikut terus bertambah karena orang-orang datang minta perlindungan.”

“Perlindungan, atau jadi budak?”

Joko tidak menjawab.

“Apa yang dia perintahkan kepada kalian?” tanya Arka.

“Cari makanan. Cari obat. Cari senjata. Cari... orang.”

“Orang untuk apa?”

“Untuk kerja. Untuk... kadang ada yang tidak kembali.”

Suaranya mengecil di akhir kalimat. Arka tidak perlu bertanya lebih. Dia sudah tahu.

“Berapa banyak yang kalian kirim ke sini?”

“Hari ini kami bertiga. Sebelumnya, yang cek pintu darurat dua orang. Mereka lapor ada bunker. Komandan mau lihat sendiri, tapi belum datang. Kata dia, kita cari tahu dulu berapa banyak orang di sini, apa yang mereka punya.”

“Kapan Komandan akan datang?”

Joko menggeleng. “Aku tidak tahu. Dia tidak pernah bilang. Tiba-tiba ada perintah. Tiba-tiba suruh gerak.”

Arka menatap Pratama. Pria itu mengangguk tipis. Informasi ini cukup. Tiga puluh orang. Markas di BNI. Pemimpin mantan tentara. Dan mereka akan datang, cepat atau lambat.

“Kita lepaskan dia,” kata Arka.

Pratama mengerjap. “Mas?”

“Dia tidak akan kembali ke kelompoknya. Mereka sudah meninggalkannya. Dan dia tahu kita tidak membunuhnya. Itu lebih berharga daripada menyimpannya di sini.”

Heri menatap Arka dengan mata membelalak. “Kamu... sungguh?”

“Kami tidak seperti Komandanmu. Tapi kalau kamu kembali dengan membawa teman, kami tidak akan dua kali memberi kesempatan.”

Pratama membuka ikatan. Joko duduk dengan susah payah, kakinya masih sakit. Dewi memberinya perban tambahan dan sebotol air.

“Minum. Lalu pergi.”

Heri meminum air itu dengan rakus, seperti orang yang sudah lama tidak minum bersih. Setelah habis, dia berdiri, terhuyung.

“Di mana pintu keluar?”

Pratama menunjuk ke arah terowongan. “Lewat situ. Perangkap kami sudah matikan. Sampaikan ke Komandanmu: bunker ini tidak berisi apa yang dia cari. Datang ke sini hanya akan kehilangan anak buah.”

Heri tidak menjawab. Dia berjalan pelan menuju pintu terowongan, sekali-kali menoleh, seperti tidak percaya bahwa dia benar-benar dibebaskan. Kemudian dia menghilang ke dalam gelap.

Setelah pintu terowongan tertutup, Umar angkat bicara. “Dia akan lapor ke bosnya. Mereka akan tahu kita lemah.”

“Kita tidak lemah,” kata Arka. “Mereka sudah tahu kita punya perangkap. Mereka sudah tahu kita tidak takut. Dan mereka kehilangan satu orang hari ini. Itu pelajaran.”

“Tapi mereka tetap akan datang,” kata Pratama. “Tiga puluh orang. Dengan senjata.”

Arka menatap peta Jakarta di dinding. “Kita punya dua keuntungan. Mereka tidak tahu persis bunker kita. Dan mereka harus melewati terowongan sempit untuk sampai ke sini. Itu medan yang tidak menguntungkan bagi kelompok besar.”

“Kita butuh lebih banyak amunisi,” kata Wawan. “Dan senjata yang lebih berat.”

“Kita akan cari. Tapi tidak hari ini. Hari ini kita lihat dulu apakah mereka kembali.”

Di ruang medis, Dewi membereskan peralatan. Di tangannya, sisa perban yang digunakan untuk joko. “Dia akan mati di luar,” katanya pelan. “Lukanya butuh perawatan lebih. Dan kelompoknya tidak akan mau menerima orang yang gagal.”

Arka mendekat. “Kamu kasihan padanya?”

Dewi menggeleng. “Bukan kasihan. Tapi aku ingat, mereka juga manusia. Yang putus asa. Yang tidak punya pilihan.”

“Setiap orang punya pilihan,” kata Arka. “Dia memilih bergabung dengan pemburu. Dia memilih datang ke sini.”

“Apakah kita punya pilihan, Mas?” Dewi menatap Arka. “Kita di sini, di bawah tanah, bersembunyi dari orang-orang yang mau membunuh kita. Apakah itu pilihan?”

Arka tidak menjawab. Dia hanya berkata, “Besok kita latihan lagi. Semua harus bisa memegang senjata. Tidak hanya Pratama dan aku.”

Dewi mengangguk. Tidak bertanya lagi.

Malam itu—atau apa pun yang disebut malam di dalam bunker tanpa jendela—Arka duduk di ruang kontrol. Di depannya, catatan Herman terbuka di halaman terakhir. Kata-kata itu sudah dia hafal, tapi masih dia baca ulang.

Jangan percaya pada kebaikan. Dunia ini sudah mati.

Dia menutup buku. Di monitor, kamera pintu belakang hotel menampilkan putih yang sunyi. Tidak ada gerakan. Tidak ada bayangan.

Tapi di dalam kepalanya, bayangan itu terus bergerak. Tiga puluh orang. Senjata. Komandan mantan tentara. Mereka akan datang. Mereka pasti akan datang.

Arka menyalakan radio. Statis. Dia memutar frekuensi, mencoba mencari sesuatu.

“...siapa pun yang mendengar, tolong... kami butuh bantuan... di Kebayoran... ada anak-anak...”

Suara itu putus. Statis lagi.

Arka mematikan radio. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk orang-orang di luar sana. Mereka sendiri sedang berjuang untuk bertahan.

Pintu ruang kontrol terbuka. Pratama masuk dengan dua cangkir kopi instan.

“Umar dan Wawan sudah selesai periksa perangkap. Dua masih utuh. Yang pertama sudah meledak, perlu diperbaiki.”

“Besok.”

Pratama duduk di kursi sebelah. Mereka berdua diam, menyesap kopi yang pahit.

“Mas,” kata Pratama akhirnya, “kita tidak bisa hanya bertahan. Mereka punya lebih banyak orang. Cepat atau lambat, mereka akan temukan cara masuk.”

“Apa usulmu?”

“Kita serang lebih dulu. Bukan bunker mereka. Tapi jalur suplai. Mereka butuh makanan dan obat sama seperti kita. Jika kita bisa mengganggu itu, mereka akan sibuk bertahan, bukan menyerang.”

Arka memikirkan itu. Risiko besar. Tapi jika berhasil, mereka bisa membeli waktu. Waktu untuk mempersiapkan diri lebih baik.

“Kita pikirkan,” kata Arka. “Tidak sekarang. Belum.”

Pratama mengangguk. Dia menghabiskan kopinya, lalu berdiri.

“Istirahat, Mas. Besok kita perkuat pertahanan.”

Arka tidak menjawab. Pratama keluar, meninggalkannya sendirian di ruangan yang sunyi.

Di monitor, salju masih turun. Di kejauhan, di antara putih yang tak berujung, mungkin ada orang-orang yang sedang bergerak. Mendekat. Merencanakan.

Arka mematikan layar. Gelap. Hanya suara mesin ventilasi yang setia menemani.

Dia berbaring di ranjang, pistol di samping bantal. Tidak tidur. Hanya mendengarkan. Mendengarkan suara yang mungkin datang dari terowongan. Dari pintu. Dari luar.

Tidak ada suara.

Tapi ketenangan itu, dia tahu, tidak akan bertahan lama.

1
Nadja 🎀
hm... seru jg tp ulang² ttg bunker ? tp gpp semangat ya nulisnya!
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Gak bisa tidur... 😁
Jack Strom
Hmmm 🤔
Jack Strom
Tikus² got... 😁
Jack Strom
Ih... Ngeri aku!!! 😁
Jack Strom
Wow... 😁
Jack Strom
Waduh... Mengerikan!!! 😁
Jack Strom
Wow... Mulai merinding nih... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Seru cok!!! 😁
Jack Strom
Semangat... Cemangat!!! 😁
Jack Strom
Oh... Gitu!!! 😁
Jack Strom
🤔 Jika fisik Arka lebih kuat, Jika Arka punya skill bertahan hidup, jika Arka secepatnya menikahi Sari, jika Sari tidak kelaparan, jika Andre dan Toni tidak jumpa dengan Sari... Mungkin ceritanya beda, mungkin Sari tidak mengkhianati Arka... Mungkin!!? 🤔
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁
Jack Strom
Jika statnya beda, mungkin kejadiannya berbeda juga... 😁
Jack Strom
💪💪💪 SEMANGAT!!! 😁
Jack Strom
Jejak di atas salju tertinggal... 😁
erlang2402
macam kenal alur nya
Thinkziam: Hmm.. novel/manga sejenis emng banyak.. kk.
total 1 replies
Mauizatul Hasanah
coba dulu
alan32439
manarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!