Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Napas Berbagi & Tahta Monolit
Asap kuning kehijauan itu bergulung-gulung keluar dari celah dinding bagaikan monster kelaparan yang terlepas dari kurungannya. Bau amonia dan belerang yang sangat pekat langsung membakar rongga hidung, menjanjikan kematian karena asfiksia (kekurangan oksigen) dalam hitungan menit.
Karet dingin dari masker gas taktis menutupi separuh wajah Lyra dengan paksa. Kolonel Rayyan Askara menarik tali pengamannya ke belakang kepala Lyra hingga kedap udara. Suara napas Lyra seketika terdengar menggema secara mekanis dari dalam tabung filter respirator.
Mata Lyra membelalak panik di balik kacamata dan kaca pelindung masker. Ia menatap wajah Rayyan yang sama sekali tidak terlindungi. Pria itu tidak memiliki masker cadangan. Jati dan Dito di belakang mereka sudah memakai milik mereka sendiri dengan cekatan.
“Kau gila?!” Teriak Lyra, suaranya teredam oleh karet masker. Tangan mungilnya meronta, berusaha menarik lepas masker itu dari wajahnya untuk mengembalikannya pada Rayyan. “Pakai ini! Paru-parumu akan hancur, Rayyan!”
“Tahan tanganmu, Lyra!” Geram Rayyan menahan kedua pergelangan tangan Lyra dengan satu tangannya yang besar.
Dengan tangan yang bebas, Rayyan menarik shemagh (kain tebal pelindung leher) taktisnya hingga menutupi hidung dan mulut. Ia merogoh kantong air minumnya, menyiramkan air ke kain tersebut untuk menciptakan filter darurat dari debu racun. Namun, ia dan Lyra sama-sama tahu, kain basah tidak akan menghentikan hidrogen sulfida pekat menyusup ke aliran darah.
“Lari! Tembus lorong ini!” Raung Rayyan dengan suara tertahan dari balik kain basahnya, matanya mulai memerah akibat iritasi gas beracun.
Jati dan Dito melesat maju menembus kabut kuning. Rayyan menarik Lyra berlari disampingnya. Namun baru sepuluh meter mereka berlari, langkah Rayyan mulai goyah. Gas purba itu merampas oksigen dari udara dengan sangat agresif. Otot-otot besar sang komandan, yang membutuhkan banyak pasokan oksigen untuk memompa darah, mulai menjerit kelaparan.
Napas Rayyan berubah menjadi tarikan-tarikan serak dan pendek. Pandangannya mulai berkabut.
Lyra menyadari cengkeraman tangan Rayyan di lengannya melemah. Gadis itu menghentikan langkahnya secara paksa, mengabaikan tarikan Rayyan. Otaknya yang jenius dan keras kepala menolak untuk tunduk pada ego militer sang kolonel.
“Berhenti!” Jerit Lyra dari balik masker.
Tanpa mempedulikan protes Rayyan, Lyra menggunakan kedua tangannya untuk meregangkan karet pengaman maskernya, menarik benda itu menjauh dari wajahnya. Ia menarik napas dalam-dalam dari udara yang masih tersisa di dalam tabung, menahan napasnya, lalu menjejalkan masker itu dengan paksa ke wajah Rayyan.
“Tarik napas, Askara! Sekarang!” Perintah Lyra dengan mata melotot, menahan masker di wajah pria yang jauh lebih besar darinya.
Rayyan membelalak. Logika militernya berteriak untuk mendorong gadis itu menjauh dan mengembalikan maskernya, tetapi refleks paru-parunya yang terbakar tidak bisa menolak. Rayyan menarik napas dalam, menghirup udara murni yang disaring oleh respirator selama tiga detik penuh. Oksigen kembali menyengat otaknya, menyingkirkan kabut beracun.
Rayyan langsung merenggut masker itu dari wajahnya dan menempelkannya kembali ke wajah Lyra. “Pakai ini, bodoh!” Desisnya marah.
Lyra menghirup udara bersih, lalu menatap Rayyan dengan keputusasaan yang membakar. “Kita melakukan buddy breathing (bernapas bergantian)! Tiga detik untukmu, tiga detik untukku! Jika kau menolak, aku akan membuang masker ini ke lantai dan kita berdua mati di sini! Pilih, Rayyan!”
Mata tajam Rayyan berkilat antara amarah dan penuh kekaguman. Gadis ini benar-benar tidak mengenal rasa takut jika menyangkut nyawa orang yang ia cintai.
Rayyan mengangguk patah-patah. “Tiga detik. Jangan lepaskan kontak mata.”
Mereka kembali berlari. Di tengah kabut kuning yang membutakan, ritme mereka berubah menjadi sebuah tarian bertahan hidup yang luar biasa intim.
Setiap lima langkah, Lyra akan menarik maskernya dan menempelkannya ke wajah Rayyan. Tangan Rayyan yang besar akan menangkup tangan Lyra yang memegang masker, menahannya erat-erat saat ia menghirup udara, matanya terkunci pada mata cokelat gadis itu. Lalu Rayyan akan menempelkan masker itu kembali ke wajah Lyra, memastikan bibir gadis itu aman dari racun, sementara ia sendiri menahan napasnya melintasi kabut mematikan.
Debu batu, keringat, dan ketegangan melebur menjadi satu. Dunia mereka menyusut seukuran jarak di antara wajah mereka yang saling berbagi napas.
“Sinar! Ada cahaya di depan!” Teriak Jati dari balik maskernya.
Di ujung lorong, puing-puing batu berserakan akibat ledakan C4. Dari celah reruntuhan itu, memancar cahaya lampu halogen.
Rayyan mengambil napas terakhir dari masker Lyra, lalu mendorong gadis itu agar memakai maskernya secara penuh. “Tetap di belakangku. Waktunya menagih nyawa.”
Rayyan menendang sisa reruntuhan batu dengan sepatu botnya, menerobos masuk ke dalam ruangan utama piramida.
Ruangan itu masif, berukuran setara lapangan sepak bola, dengan langit-langit setinggi dua puluh meter. Beruntung bagi mereka, ledakan C4 musuh tidak hanya menghancurkan pintu masuk, tetapi juga meretakkan bagian atas kubah piramida, menciptakan semacam cerobong ventilasi alami. Gas kuning kehijauan itu tersedot ke atas, menyisakan udara di lantai dasar yang cukup bersih untuk dihirup, meski dipenuhi debu andesit yang berterbangan.
Di tengah ruangan, sekitar sepuluh tentara bayaran sedang terbatuk-batuk parah, disorientasi akibat ledakan dan sebagian kecil gas yang sempat mereka hirup. Mereka sedang berusaha memasang masker gas cadangan mereka.
Itu adalah kesalahan yang sangat fatal jika berhadapan dengan Kolonel Rayyan Aksara.
Rayyan tidak ragu satu milidetik pun. Ia menjatuhkan shemagh basahnya dari wajah, mengangkat senapan serbunya ke bahu, dan mulai menembak.
TAT-TAT! TAT-TAT!
Teknik double-tap (dua tembakan beruntun ke titik vital) membelah ruangan. Tiga musuh tumbang seketika sebelum sisa kelompok itu menyadari bahwa kematian telah menyusul mereka dari balik kabut.
“Sandi Kala! Eksekusi!” Raung Jati, menyebar ke sayap kanan bersama Dito.
Baku tembak jarak dekat pecah. Namun ini bukanlah pertempuran yang seimbang. Para tentara bayaran itu kehilangan formasi dan masih buta oleh debu ledakan mereka sendiri, sementara Tim Alpha adalah hantu yang sudah terbiasa membunuh di dalam kegelapan.
Seorang musuh berbadan besar mencoba mengarahkan peluncur granat ke arah Rayyan. Rayyan berlari menyamping, meluncur di atas lantai batu dengan kedua lututnya, dan menembakkan tiga peluru besi yang menembus helm kevlar pria itu.
Musuh terakhir, yang menyadari pelurunya habis, menarik pisau belati dan menerjang ke arah Lyra yang sedang bersembunyi di balik pilar batu yang runtuh.
Mata Rayyan menangkap gerakan itu. Amarahnya meledak. Ia melepaskan senapannya yang kehabisan peluru, berlari memotong jalur musuh tersebut layaknya harimau Sumatera. Rayyan menghantamkan bahunya tepat ke dada pria itu hingga terdengar bunyi retakan tulang rusuk. Sebelum musuh itu jatuh ke tanah, Rayyan mencabut pisau Ka-Bar miliknya dan melumpuhkan pria itu dalam satu gerakan mematikan.
Keheningan kembali turun secara tiba-tiba di ruangan purba itu. Hanya terdengar bunyi denting selongsong peluru kosong yang berjatuhan ke lantai batu, dan dengungan pelan dari lampu halogen musuh.
“Area clear,” lapor Jati terengah-engah, senapannya masih menyapu sudut-sudut ruangan.
Rayyan berdiri perlahan. Adrenalin yang menopangnya selama sepuluh menit terakhir perlahan menguap, digantikan oleh efek samping gas beracun yang sempat ia hirup.
Rayyan terhuyung. Senapan serbunya terlepas dari tangannya, berdebum ke lantai batu. Pria yang tak tertembus peluru itu jatuh bertumpu pada satu lutut, mencengkeram dadanya, dan mulai terbatuk-batuk hebat hingga urat lehernya menonjol. Darah segar bercampur empedu menetes dari sudut bibirnya, hasil dari iritasi keras paru-parunya.
“Rayyan!”
Lyra menjerit ngeri. Ia melepas masker gasnya secara kasar, melemparnya ke lantai, dan berlari menghampiri Sang Komandan. Ia menjatuhkan diri berlutut di hadapan Rayyan, tangannya yang bergetar menangkup rahang pria itu yang dipenuhi keringat dingin.
“Medis! Dito, bawa P3K!” Lyra berteriak panik, suaranya pecah oleh isakan. Ia menyeka darah dari sudut bibir Rayyan dengan lengan kemejanya. Matanya yang cokelat dipenuhi air mata keputusasaan. “Tarik napas, Rayyan. Kumohon, pelan-pelan. Kau tidak boleh mati karena gas bodoh ini.”
Rayyan memejamkan matanya, berusaha mengatur napas yang terdengar seperti suara kertas diamplas. Ia merasakan tangan mungil Lyra yang gemetar di wajahnya, sentuhan lembut yang menariknya kembali dari jurang ketidaksadaran.
Dengan sisa tenaga, tangan besar Rayyan naik, menggenggam pergelangan tangan Lyra yang berada di pipinya. Pria itu membuka matanya. Obsidian miliknya yang memerah akibat iritasi gas, menatap Lyra dengan pandangan yang meluluhkan hati.
Rayyan memaksakan sebuah senyum miring, meski darah mewarnai giginya.
“Aku sudah bilang… padamu, Dr. Andini,” suara Rayyan serak dan patah-patah, ibu jarinya mengusap air mata yang jatuh dari pelupuk mata Lyra. “Aku tidak akan membiarkan… sebuah batu tua membunuhku… selama kau masih berutang kencan kedua padaku.”
Lyra mengeluarkan suara antara isak tangis dan tawa kecil yang putus asa. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menempelkan dahinya ke dahi Rayyan, membiarkan air matanya jatuh membasahi pipi pria itu.
“Komandan bodoh,” bisik Lyra parau. “Kau adalah pria paling bodoh dan paling keras kepala yang pernah kutemui.”
“Tapi aku Komandanmu,” balas Rayyan pelan, menyandarkan berat kepalanya pada dahi Lyra, mencari kekuatan dari detak jantung gadis itu yang berpacu tepat di depannya.
Dito berlari mendekat, segera menyuntikkan dexamethasone dan antropine dosis darurat ke bahu Rayyan untuk melebarkan jalan napas dan melawan efek racun gas. Dalam beberapa menit, napas Rayyan mulai terdengar lebih teratur, meski ia masih harus bersandar pada pilar batu dengan wajah pucat pasi.
Saat kepanikan mulai mereda, Lyra mendongak, menyeka air matanya. Pandangannya kini menyapu ruangan utama piramida megalitikum tersebut.
Ruangan itu sangat berbeda dari Candi Dieng. Tidak ada altar lingga-yoni.
Di tengah ruangan raksasa itu, terdapat sebuah undakan batu yang disusun membentuk piramida terbalik, menurun ke bawah seperti sebuah kawah buatan. Dan melayang tepat di tengah kawah batu tersebut, di atas sebuah pilar obsidian hitam legam yang tampak seperti singgasana purba… adalah benda yang menjadi alasan semua pertumpahan darah ini.
Benda itu bukan kristal seukuran kepalan tangan.
Itu adalah sebuah monolit raksasa. Berbentuk prisma segi enam vertikal, tingginya mencapai tiga meter, terbuat dari material metalik hitam pekat yang sama dengan kristal Dieng. Urat-urat di monolit itu tidak memancarkan warna biru cyan, melainkan emas terang yang berdenyut lambat, mengirimkan dengungan bass yang menggetarkan isi perut setiap orang diruangan tersebut.
“Ya Tuhan…” bisik Lyra, perlahan berdiri dan melangkah mendekati bibir kawah batu tersebut seperti terhipnotis.
Monolit raksasa itu melayang tanpa penyangga, berputar sangat lambat. Cahaya emasnya menerangi ribuan garis geometris yang terpahat di seluruh dinding ruangan piramida.
Jati dan Dito berdiri terpaku dengan mulut terbuka di samping Rayyan. “Kolonel… jika benda seukuran kepalan tangan saja bisa menghasilkan gelombang EMP yang menggoreng semua alat kita… apa yang bisa dilakukan oleh benda sebesar bus ini?”
Rayyan memaksakan diri untuk berdiri, menolak dibantu oleh Dito. Ia berjalan dengan langkah pelan namun mantap, menyusul Lyra dan berdiri di samping gadis itu. Tatapan militernya mengukur ukuran dan potensi daya ledak benda di hadapannya.
“Ini bukan perpustakaan atau penyimpanan data, Lyra,” ucap Rayyan rendah, matanya menyipit akibat pendaran emas monolit tersebut. “Pilar obsidian di bawahnya itu bukan penyangga. Itu jangkar penahan. Benda ini… ini adalah inti reaktor.”
Lyra mengangguk pelan, otaknya berpacu. “Orang-orang kuno di Sumatera tidak menyembah benda ini. Mereka menguburnya di dalam piramida terbalik untuk meredam kekuatannya. Monolit ini menyerap energi geotermal bumi selama ribuan tahun tanpa henti.
Tiba-tiba, suara derak statis memecah dengungan monolit.
Radio komunikasi di bahu Letnan Jati—yang sebelumnya mati total akibat efek EMP di Dieng—mendadak menyala dengan sendirinya, mengeluarkan suara desisan keras.
“… panggilan darurat… Satgas Sandi Kala… ulangi… Jenderal Haris memanggil Alpha…”
Suara Panglima Komando Intelijen dari markas besar di Jakarta terdengar putus-putus.
Jati membelalak. Ia buru-buru menekan tombol radionya. “Alpha mendengar! Jenderal, radio kami hidup kembali! Kami berada di dalam situs megalitikum.”
“Jati! Syukurlah!” Suara Jenderal Haris terdengar tegang. “Dengarkan baik-baik. Satelit kami mendeteksi anomali termal masif dari bawah posisi kalian. Sindikat yang kalian hadapi tidak berniat mencuri apa pun dari dalam sana. Intelijen baru kami mengonfirmasi bahwa mereka adalah sel teroris ekokimia. Tujuan mereka adalah membebani inti benda itu dengan detonator kejut hingga memicu reaksi berantai.”
Darah Rayyan berdesir dingin. Ia segera berbalik menatap mayat-mayat tentara bayaran di belakang mereka. Di salah satu ransel yang tergeletak di lantai, sebuah perangkat berbentuk tabung dengan lampu LED berkedip kuning menyala terang. Itu bukan C4. Itu detonator pemecah frekuensi suara—alat yang dirancang khusus untuk mengacaukan resonansi kristal.
Dan alat itu sudah diaktifkan.
“Jika monolit itu meledak,” lanjut Jenderal Haris, suaranya diiringi statis. “Ledakannya tidak akan menghancurkan gunung. Ia akan menembakkan gelombang kejut frekuensi yang akan merangsang magma di seluruh patahan lempeng Bukit Barisan. Sumatera akan mengalami letusan vulkanik berantai dari ujung ke ujung. Kalian harus mematikan alat itu sekarang!”
Radio kembali mati total, meninggalkan keheningan yang kini terasa seperti bom waktu.
Lampu LED di tabung detonator musuh berubah dari kuning menjadi merah berkedip. Dan seketika, dengungan bass dari monolit raksasa di tengah ruangan mulai berubah nada, melengking tinggi dengan kecepatan yang mengerikan, sementara cahaya emasnya mulai berkedip liar.
Tahta monolit telah terbangun, dan ia bersiap untuk menghancurkan segalanya.