NovelToon NovelToon
Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perburuan Ditengah Kegelapan

Episode 13

Keheningan hutan yang tadinya menenangkan kini berubah menjadi sangat mencekam. Tubuh pengikut Bagas yang tergeletak di tanah mulai membiru, sebuah tanda bahwa jarum hitam itu mengandung racun yang sangat mematikan.

"Rian? Rian! Bangun, Bodoh!" Bagas berteriak panik. Ia mengguncang tubuh temannya, namun tidak ada reaksi. Serigala Berduri di sampingnya menggeram gelisah, ekornya terselip di antara kedua kakinya sebuah tanda bahwa binatang itu merasakan predator yang jauh lebih kuat darinya.

"Jangan menyentuhnya, Bagas! Mundur!" teriak Reno dengan suara yang menggelegar.

Bagas tersentak dan melihat ke arah Reno. "Apa yang kau tahu, Sampah?! Lihat temanku! Dia"

"Dia sudah mati," potong Reno dingin. Matanya menyapu dahan-dahan pohon yang rimbun di atas mereka. "Dan kalau kau tidak tutup mulut dan bersiap, kau akan menyusulnya dalam hitungan detik."

Lani segera berdiri di samping Reno, staf kayunya bersinar hijau redup. "Reno, dari mana jarum itu berasal? Aku tidak merasakan energi binatang buas di sekitar sini."

"Itu karena yang menyerang kita bukan binatang," Reno menyipitkan mata. "Nidhogg, kau merasakannya?"

"Dua orang... tidak, tiga orang," bisik Nidhogg di dalam pikiran Reno. "Mereka bersembunyi di balik bayang-bayang pohon ek itu. Baunya sama dengan tikus jubah hitam semalam. Mereka mengincar ku, Reno."

Tiba-tiba, tawa dingin terdengar dari kegelapan hutan.

"Menarik. Seorang murid baru bisa menyadari keberadaan kami," seorang pria dengan jubah hitam mendarat dengan ringan di atas dahan pohon, sekitar lima meter di atas mereka. Ia tidak menutupi wajahnya kali ini. Wajahnya penuh bekas luka bakar, dan matanya hanya satu, yang satunya tertutup kain hitam. "Bocah, serahkan cacing hitam itu, dan aku akan membiarkan gadis dan si gendut itu hidup."

Bagas gemetar hebat. Pedang di tangannya hampir jatuh. "Si..siapa kalian?! Kami adalah murid Akademi Elang Hijau! Jika kalian menyentuh kami, kalian akan diburu oleh kerajaan!"

Pria berjubah hitam itu meludah ke samping. "Kerajaan? Kerajaan tidak akan tahu jika kalian membusuk di sini dan menjadi pupuk bagi pepohonan ini. Gagak Bayangan, keluar!"

Dari balik punggung pria itu, tiga ekor gagak dengan mata merah menyala terbang berputar putar di udara. Setiap kepakan sayap mereka mengeluarkan kabut hitam yang membuat pandangan menjadi kabur.

"Dito, Lani, masuk ke formasi bertahan! Bagas, kalau kau ingin hidup, perintahkan serigala mu untuk menjaga sisi kiri!" perintah Reno.

Bagas yang biasanya sombong kini hanya bisa mengangguk patuh seperti anak kecil yang ketakutan. "Ba..baik! Serigala, gunakan Duri Pelindung!"

Serigala itu mengeluarkan duri-duri panjang dari punggungnya, menciptakan barikade kecil. Lani merapal kan mantra, menciptakan perisai angin transparan yang membungkus tim mereka.

"Hanya itu?" pria berjubah hitam itu menyeringai. "Serang!"

Ketiga gagak itu menukik dengan kecepatan luar biasa. Lani mencoba menangkis dengan sihir anginnya, namun gagak-gagak itu seperti hantu mereka bisa menembus angin dan menyerang langsung ke arah Reno.

"Mereka ingin menangkap ku hidup-hidup, Reno!" Nidhogg berseru. "Biarkan aku keluar dan merobek sayap mereka!"

"Jangan! Terlalu banyak saksi!" balas Reno dalam hati. "Gunakan teknik Arus Bumi ku untuk memperkuat pertahanan fisikku, dan kau... gunakan serangan jarak jauh!"

Reno memasang kuda-kuda rendah. Ia menarik napas dalam, membiarkan energi bumi mengalir dari telapak kakinya ke seluruh tubuh. Saat salah satu gagak mendekat, Reno tidak menghindar. Ia justru menangkap kaki gagak itu dengan tangan kosong!

KRAK!

Berkat penguatan fisik dari teknik Arus Bumi dan energi Nidhogg, tangan Reno sekeras baja. Ia mematahkan kaki gagak itu hanya dengan satu remasan.

"GAKKK!" Gagak itu menjerit kesakitan.

"Nidhogg, sekarang!"

Nidhogg, yang masih melingkar di bahu Reno, membuka mulut kecilnya. Sebuah peluru energi hitam seukuran kelereng melesat keluar.

BOOM!

Peluru itu mengenai gagak kedua tepat di dadanya, membuatnya meledak menjadi kabut hitam.

Pria berjubah hitam di atas pohon terbelalak. "Apa?! Teknik kompresi energi? Dari seekor cacing?!"

Ia mulai menyadari bahwa Reno bukan murid biasa. Ia merogoh sesuatu dari balik jubahnya sebuah seruling tulang. Saat ia meniup seruling itu, suara melengking yang menyakitkan telinga memenuhi hutan.

Auuuoooo!

Raungan serigala hutan terdengar dari segala penjuru. Ternyata mereka tidak hanya membawa gagak, mereka juga mengendalikan binatang liar di hutan ini menggunakan suara seruling tersebut. Lima ekor Serigala Hutan Tingkat Perunggu muncul dari semak-semak, mengepung Reno dan teman temannya.

"Sial... kita dikepung," gumam Dito, kelincinya sekarang pingsan karena ketakutan.

Bagas mulai menangis. "Kita akan mati... ini semua gara-gara kau, Reno! Kalau kau tidak membawa cacing terkutuk itu, mereka tidak akan mengejar kita!"

Reno menoleh ke arah Bagas dengan tatapan yang sangat tajam, membuat Bagas seketika terdiam. "Kalau kau masih punya tenaga untuk mengoceh, gunakan itu untuk mengayunkan pedangmu. Lani, apa kau bisa menahan serigala-serigala itu selama tiga menit?"

Lani menghapus keringat di dahinya. "Aku akan mencoba, Reno. Tapi energiku terbatas!"

"Tiga menit sudah cukup," ucap Reno.

Reno memejamkan mata. Di kehidupannya yang dulu, saat ia dalam posisi terdesak di dunia bisnis, ia selalu mencari titik terlemah lawan. Pria berjubah hitam itu adalah pusatnya. Selama pria itu meniup seruling, serigala-serigala itu akan terus menyerang.

"Nidhogg, kita gunakan teknik itu. Kau tahu kan?"

"Hehe... kau ingin aku menggunakan Shadow Warp?" Nidhogg menyeringai di dalam pikiran Reno. "Itu akan menguras energiku, tapi menyenangkan!"

Reno tiba-tiba berlari kencang menuju ke arah pohon tempat pria itu berada.

"Bodoh! Kau mengantarkan nyawa!" teriak pria berjubah hitam itu. Ia mengarahkan gagak terakhirnya untuk mencegat Reno.

Namun, saat gagak itu hampir mengenai wajah Reno, tubuh Reno tiba-tiba berkedip hitam dan menghilang.

"Apa?!"

Sret!

Reno muncul tepat di belakang pria itu di atas dahan pohon. Reno menggunakan Nidhogg sebagai alat pemicu teleportasi jarak pendek melalui bayangan.

Reno tidak menggunakan pedang. Ia menggunakan tangan kosongnya yang sudah dialiri energi Arus Bumi. Ia memukul punggung pria itu dengan kekuatan penuh.

BRAKKK!

Dahan pohon yang tebal itu patah, dan pria berjubah hitam itu jatuh terjerembap ke tanah dari ketinggian lima meter. Seruling tulangnya hancur berkeping keping.

Seketika, serigala-serigala yang tadi mengamuk menjadi linglung. Pengaruh sihir suara itu hilang.

Reno melompat turun dengan anggun, mendarat di depan pria yang sekarang sedang merintih kesakitan itu. Reno menginjak tangan pria itu yang mencoba meraih pisau di pinggangnya.

"Siapa Tuan Besar mu?" tanya Reno dengan suara dingin yang bisa membuat air membeku.

Pria itu meludahkan darah dan tertawa gila. "Kau... kau tidak tahu apa yang sedang kau hadapi, Bocah. Kau hanyalah wadah sementara bagi fragmen itu. Organisasi Gerhana Hitam akan terus mengejarmu sampai kau..."

Sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba tubuhnya membiru, sama seperti temannya yang terkena jarum tadi.

"Sial! Dia menelan racun bunuh diri!" Reno mencoba membuka mulut pria itu, tapi sudah terlambat. Dalam hitungan detik, pria berjubah hitam itu sudah tidak bernapas.

Reno berdiri, mengatur napasnya. Hutan kembali sunyi, hanya menyisakan bau darah dan kematian.

Bagas, Lani, dan Dito mendekat dengan langkah gemetar. Mereka menatap Reno seolah olah Reno adalah orang asing. Keberanian dan kekuatan yang ditunjukkan Reno barusan jauh melampaui level murid tingkat pertama.

"Reno... kau..." Lani tidak tahu harus berkata apa.

Reno segera merubah ekspresinya menjadi tampak lelah dan gemetar. Ia harus kembali ke perannya. "Uff... untung saja... cacing ku tadi tiba-tiba mengeluarkan energi besar. Aku rasa dia juga panik."

Bagas menatap Reno dengan curiga, namun rasa takutnya jauh lebih besar daripada rasa curiganya. "Tadi... kau menghilang... bagaimana kau bisa pindah tempat secepat itu?"

"Mungkin itu ilusi dari kabut gagak tadi, Bagas," jawab Reno santai sambil memungut Nidhogg dan memasukkannya kembali ke saku. "Yang penting sekarang adalah kita harus pergi dari sini. Bau darah ini akan mengundang predator yang jauh lebih berbahaya dari serigala tadi. Dan kita harus melaporkan ini pada Instruktur Raka."

Dito mengangguk cepat. "Iya! Ayo pergi! Aku tidak mau tinggal di sini sedetik pun lagi!"

Mereka mulai berjalan cepat meninggalkan area pertempuran. Sepanjang jalan, Reno diam-diam berkomunikasi dengan Nidhogg.

"Reno, kau cukup hebat juga untuk ukuran manusia yang lemah," puji Nidhogg. "Tapi fragmen jiwa di dalamku mulai bergejolak lagi. Kita butuh tempat yang sangat tenang setelah ini."

"Aku tahu. Tapi kita punya masalah besar," balas Reno. "Gerhana Hitam... mereka tahu aku yang membawa fragmen itu. Akademi Elang Hijau tidak lagi aman untuk kita."

Reno menatap punggung teman temannya. Ia teringat akan sepuluh istrinya di dunia lama. Dulu ia harus melindungi hartanya dari mereka, sekarang ia harus melindungi nyawanya dari organisasi gelap.

Arka... Reno... sepertinya nasibku memang untuk selalu dikejar kejar, batinnya sambil tersenyum pahit.

Saat mereka hampir sampai di titik pertemuan ujian, Reno melihat sinyal api di langit. Sepertinya bukan hanya kelompok mereka yang diserang. Seluruh Hutan Elang sedang dalam keadaan darurat.

1
Bambang Hartono
lanjutkan
Jack Strom
Tanggung dah... 😁
Jack Strom
Hmmm... 🤔
Jack Strom
Biasa, lawan berlapis... hehehe 😛
Jack Strom
Hajar!!! 😁
Jack Strom
Wow, alasan Raka sangat logis... Tapi, benarkah? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aneh... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Mantap.. 😁
Jack Strom
Waduh, Raka mulai mengancam... 🤔
Jack Strom
Sandiwara satu babak kah dengan Bagas? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, bertarung... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, berpetualang... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aduh, sumber masalah jadi lolos... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!