hari itu ketika aku berjalan pandangan ku tertuju pada gadis yang merupakan pacar ku tapi dia berjalan dengan pria yang tidak ku kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hitomaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penyesalan dan amarah masa lalu
di lorong rumah sakit melin sedang berdiri menatap mori dengan penuh emosi.
" yang aku dengar dari polisi apa semuanya benar mori? " melin dengan nada tegas menanyakan kebenaran tentang hal yang baru saja dia dengar.
mori hanya menunduk lesu tak keluar jawaban apapun dari mulutnya, mori tak berani menatap wajah melin.
" Jawab!! Mori JAWAB!! " melin membentak mori
" hiks..hiks maaf, aku minta maaf " mori menangis air mata keluar dengan deras membasahi wajahnya.
" jadi alasan kamu putus karena ketahuan selingkuh? Seperti ibu dulu? " melin bertanya kembali kali ini suaranya terdengar lemas.
Mori masih terus menangis dan masih tidak berani menatap muka melin.
Kemudian melin di kursi panjang
" akhir-akhir ini kamu sering jarang pulang karena sedang bermain dengan laki-laki yang bahkan aku gak kenal "
" maaf.. maaf..maaf..maaf " mori terus mengucapkan permintaan maaf tak ada kata lain.
Keadaan semakin hening melin tidak lagi berbicara hanya diam duduk menatap langit langit.
pov mori
Dari kecil aku selalu kalah dalam hal apapun, aku kenal Aidan pertama kali saat kakakku mengajak aku bermain bersama.
Mulai saat itu kami bertiga lebih sering bermain bersama, karena rumah kami dan Aidan bersebelahan terkadang Aidan menginap dirumah kami.
Saat masuk SMP Aidan menyatakan perasaannya kepada ku, aku tidak terlalu mengerti jadi aku menerimanya begitu saja tapi saat melihat ekspresi sedih kakakku saat mendengar kabar kami berpacaran aku seperti mendapat kemenangan pertama kalinya dari kakakku.
Dari situ aku mulai mendekati Aidan dengan lebih berani setiap kali melihat ekspresi kakakku yang kesal membuatku semakin bergairah.
tapi setelah 2 tahun kakakku tidak lagi membuat ekspresi apapun ketika aku menempel ke Aidan dan itu tidak seru.
Saat masuk SMA aku masuk ke sekolah yang berbeda dengan Aidan, di sekolah baru itu hanya satu orang yang aku kenal dia Inda kami tidak begitu dekat.
saat naik kelas 2 SMA aku dikenalkan ke Reval oleh teman sekelas, saat pertama kali Reval aku langsung jatuh cinta padanya, entah kenapa aku selalu bersemangat ketika di dekatnya.
Hari itu aku pertama kali melakukannya dan itu bersama Reval, aku menikmati setiap detik dari momen itu.
Reval memiliki perempuan lain selain diriku tapi itu tak masalah selama aku senang itu tidak akan jadi masalah.
Reval menyuruhku menjual diri aku bingung pada awalnya aku pikir ini adalah sesuatu yang salah tapi melihat Reval terus memohon membuat aku tidak ada pilihan lain.
Aku melakukannya seminggu sekali dengan pria yang bahkan tidak aku kenal, tapi aku akan tetap baik baik saja selama bersamanya.
Ketika aku dan Aidan putus entah kenapa ada perasaan aneh yang mengganjal aku tidak bisa menjelaskannya.
Aku mulai menjauhi orang-orang yang dekat dengan Aidan dan hari-hari ku bersama Reval terus berlanjut tanpa harus sembunyi-sembunyi.
Saat aku bersantai dirumah Reval polisi datang menghampiri kami, takut! aku tidak bisa banyak berbicara Reval mencoba melarikan diri tapi didepan pintu rumahnya banyak sekali polisi dan tetangga yang ikut menonton.
Saat polisi meminta nomor ayahku aku tidak berani aku menolak tapi tidak berhasil.
Ayahku datang aku tidak berani menatapnya, aku tidak berpikir bahwa ayahku akan tahu apa yang kulakukan.
Aku tidak ingin membuatnya kecewa aku tidak ingin membuat ayahku sedih aku minta maaf ayah.
Kemudian polisi menjelaskan apa yang terjadi padaku ayah tidak berteriak ataupun menangis dia menoleh kearah berdiri kemudian menatap wajahku menunggu jawaban.
Aku hanya mengangguk aku tidak ingin melihat ayah sedih aku.
Brak!! Ayah tiba tiba ambruk jatuh tak sadarkan diri.
" ayah bangun aku menyesal aku minta maaf hiks..hiks..hiks "
Menyesal dan mungkin itu semua sudah terlambat.
...****************...
pov Aidan
aku dan kak melin datang berduaan di dalam ruangan ada ayahnya kak melin yang sedang di rawat oleh doctor disampingnya ada polisi dan mori yang wajahnya seperti habis menangis.
" mori apa yang terjadi? " kak melin bertanya kepada mori.
Mori tidak menjawab kemudian polisi perempuan itu menyela pembicaraan.
" soal itu biar saya yang jelaskan kamu ikuti saya "
" aku ikut " aku ingin ikut untuk mendengar apa yang terjadi.
Kami berada di ruangan disebelah om dirawat.
" jadi sebenarnya apa yang terjadi? " melin bertanya
" dari mana ya saya harus mulai penjelasannya " polisi itu tampak ragu untuk lanjut menjelaskan
" adik kamu terlibat kasus prostitusi "
" apa " kak melin terkejut dengan apa yang dia dengar dari polisi itu begitupula aku yang ikut terkejut.
" prostitusi?" aku bergumam sendiri
polisi itu kembali menjelaskan kronologi kejadian.
" kamu tau soal ini Aidan?"
" gak, aku gak tau kalau mori menjual dirinya "
" terus alasan kalian putus karena mori berselingkuh darimu iya? "
" iya "
" kenapa kamu nggak bilang " kak melin terlihat kecewa karena aku tidak langsung memberi tahu alasan aku putus dengan mori.
" aku nggak mau kak melin sedih, aku juga nggak mau hubungan kakak dan mori renggang karena masalah aku "
Setelah aku berbicara melin meninggalkan aku keluar ruangan.
Aku mencoba menyusul tapi melihat kak melin yang sedang berbicara dengan mori aku kembali dan mengobrol dengan polisi.
Setelah cukup lama suara kak melin tidak terdengar lagi aku melihat dari balik jendela aku hanya melihat kak melin yang sedang duduk sendirian.
Aku berniat memberinya selimut karna malam ini sangat dingin.
" ini kak pakai selimutnya "
" terima kasih Aidan "
Aku duduk disampingnya
" maaf, seharusnya aku beritahu kakak lebih awal "
" gak apa-apa kamu gak perlu minta maaf "
kak melin kemudian menyederhanakan kepalanya di bahuku.
" hiks..hiks aku gak tahu, aku harus gimana soal mori "
Kak melin terus menangis di bahuku aku mengusap kepalanya mencoba menenangkan dia.
Tak lama kak melin tertidur, aku melihat mori kembali dia masuk kedalam ruangan ayahnya dirawat.
...****************...
Minggu pagi melin baru bangun dari tidurnya, dia masih berharap kejadian kemarin hanyalah mimpi tapi itu tidak mungkin.
Aidan masih tertidur disampingnya, melin tidak membangunkan Aidan.
Di toilet melin membasuh wajahnya, melin kembali mengingatkan momen ketika ayahnya marah ketika melihat ibunya berjalan dengan laki-laki lain.
Melin waktu itu masih berumur 10 tahun dia sedang bermain dengan mori dan ayahnya, sore hari ayahnya mengajak melin dan mori untuk makan diluar karena ibu mereka sedang ada reuni dengan teman sekelasnya dulu.
saat itu sudah malam bahkan mori sudah tertidur ketika mereka hendak pulang ayahnya tiba tiba memberhentikan langkahnya, saat itu melin masih belum terlalu mengerti.
Ayahnya mengendong melin dan mori bersamaan, setelah kembali kerumah ayahnya langsung menidurkan melin sementara mori sudah tertidur.
melin yang tidak bisa tertidur, dia membuka pintu kamarnya, saat ibunya datang untuk kali pertama melin melihat ayahnya marah.
Mengingat kembali momen itu membuat mori muntah.