Update setiap hari
"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."
Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.
Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.
Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: MADU DI BALIK SENYUM
Malam itu, langit Jakarta seolah ikut berduka. Gerimis tipis membasahi kaca jendela sebuah rumah megah yang berdiri angkuh di kawasan elite. Di dalam salah satu kamar yang luas namun terasa dingin, Gendis duduk terdiam di tepi ranjang. Gaun kebaya putih sederhana yang ia kenakan terasa mencekik lehernya, bukan karena ukurannya yang sempit, melainkan karena beban kenyataan yang kini resmi ia sandang.
Ia baru saja sah menjadi istri kedua Baskara.
Pernikahan itu berlangsung sangat singkat di sebuah musala kecil, hanya dihadiri oleh penghulu, dua saksi, dan Baskara sendiri. Tanpa pesta, tanpa musik, bahkan tanpa restu yang tulus dari siapa pun. Hanya ada aroma melati yang menusuk hidung dan janji suci yang diucapkan Baskara dengan nada yang datar, seolah-olah ia sedang menandatangani kontrak bisnis biasa.
Gendis meremas jemarinya yang dingin. Matanya menatap pantulan dirinya di cermin besar di depannya. Wajahnya cantik, dengan mata bulat yang selalu terlihat teduh dan bibir yang sering menyunggingkan senyum manis. Namun, di balik binar mata itu, ada kegelapan yang tidak diketahui oleh siapa pun—termasuk Baskara.
"Ayah... Ibu..." bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. "Gendis sudah sampai di sini. Di jantung pertahanan mereka."
Pintu kamar terbuka dengan derit pelan. Gendis tersentak, namun dengan cepat ia mengubah raut wajahnya. Dalam sekejap, tatapan matanya yang tajam berubah menjadi sayu dan penuh kepasrahan. Siasat manisnya telah dimulai.
Baskara melangkah masuk. Pria itu masih mengenakan kemeja putih dengan dasi yang sudah dilonggarkan. Wajahnya tampan, namun garis-garis tegas di keningnya menunjukkan betapa berat beban yang ia pikul. Ia menatap Gendis dengan tatapan yang sulit diartikan—antara rasa bersalah dan keinginan yang tertahan.
"Gendis," panggil Baskara lirih.
Gendis mendongak, lalu memberikan senyum paling tulus yang pernah ia latih di depan cermin selama berbulan-bulan. "Mas Baskara... kamu sudah selesai bicara dengan Mbak Maya?"
Nama itu, Maya, seketika membuat suasana kamar menjadi semakin tegang. Maya adalah istri pertama Baskara, wanita yang konon sangat dicintai Baskara, namun juga wanita yang menjadi alasan mengapa Gendis berada di sini.
Baskara menghela napas panjang, ia duduk di samping Gendis namun memberi jarak sekitar dua jengkal. "Maya sedang mengamuk di kamarnya. Dia belum bisa menerima ini, Gendis. Aku harap kamu mengerti."
Gendis mengangguk pelan, air matanya mulai menggenang di sudut mata—sebuah tangisan yang sangat terkontrol. Ia menyentuh lengan Baskara dengan lembut, seolah ingin memberikan kekuatan.
"Aku mengerti, Mas. Aku tahu posisiku. Aku hanyalah wanita yang datang di tengah kebahagiaan kalian. Kalau pun Mbak Maya ingin memukulku atau mencaciku, aku akan menerimanya. Karena mencintaimu adalah satu-satunya kesalahanku yang paling indah," ucap Gendis dengan nada suara yang bergetar.
Kalimat itu bagaikan sihir. Baskara menatap Gendis dengan rasa iba yang mendalam. Ia menarik Gendis ke dalam pelukannya. Gendis menyandarkan kepalanya di dada bidang Baskara, mendengarkan detak jantung pria itu. Di balik pelukan hangat itu, bibir Gendis menyunggingkan senyum tipis yang dingin.
Satu poin untukku, batin Gendis.
Baskara tidak tahu bahwa di balik kelembutan Gendis, ada ingatan tentang sepuluh tahun lalu. Saat ayahnya dipecat secara tidak hormat dan difitnah oleh keluarga Maya, hingga akhirnya sang ayah depresi dan memilih mengakhiri hidupnya. Ibunya jatuh sakit dan menyusul tak lama kemudian, meninggalkan Gendis yang saat itu masih remaja, sendirian di dunia yang kejam ini.
Gendis bersumpah akan mengambil semuanya dari Maya. Harta, harga diri, dan yang terpenting: cinta Baskara.
"Mas..." Gendis melepaskan pelukannya perlahan, menatap mata Baskara dengan penuh permohonan. "Aku tidak butuh kemewahan. Aku hanya ingin berada di dekatmu. Biarkan aku melayani Mbak Maya juga. Aku ingin dia tahu bahwa aku tidak berniat merebut posisinya."
"Kamu terlalu baik, Gendis," puji Baskara sambil mengusap pipi Gendis. "Maya sangat beruntung memiliki madu sepertimu, meskipun dia belum menyadarinya sekarang."
Beruntung? Gendis hampir tertawa sinis di dalam hati. Dia akan merasa menjadi wanita paling malang di dunia, Mas.
Malam semakin larut. Baskara akhirnya pamit untuk kembali ke kamar utama karena tidak ingin membuat keributan lebih lanjut dengan Maya di malam pernikahan siri ini. Gendis mengantarnya sampai ke pintu kamar dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.
Begitu pintu tertutup dan langkah kaki Baskara menjauh, senyum manis itu luntur seketika. Gendis melangkah menuju jendela, menatap taman luas di bawah sana. Ia melihat bayangan Maya di jendela kamar sebelah, yang tampak mondar-mandir dengan penuh emosi.
"Tangislah sekarang, Maya," gumam Gendis. "Karena air mata yang kau jatuhkan malam ini belum ada apa-apanya dibandingkan air mata ibuku saat kami diusir dari rumah kami dulu."
Gendis membuka laci meja rias, mengambil sebuah foto kecil yang sudah usang. Foto ayah dan ibunya. Ia mencium foto itu dengan takzim.
"Misi ini akan panjang, Ayah. Seratus langkah, seribu siasat. Aku tidak akan berhenti sampai dia merasakan apa itu kehilangan yang sesungguhnya."
Gendis mematikan lampu kamar. Ia berbaring di ranjang yang luas itu sendirian, namun ia tidak merasa kesepian. Dendam di dalam dadanya sudah cukup untuk menemaninya sepanjang malam. Ia memejamkan mata, membayangkan hari esok, saat ia harus menghadapi Maya untuk pertama kalinya sebagai 'madu' di rumah itu.
Ia harus tetap menjadi Gendis yang manis. Gendis yang penurut. Gendis yang penuh air mata. Karena hanya dengan cara itulah, racunnya bisa bekerja tanpa ada yang curiga.