Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.
Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deg!
Di kamar tidur utama yang luas namun terasa begitu sunyi dan dingin, terbaring tubuh tua renta Wiguna Adiyaksa. Selang infus menancap kuat di punggung tangannya, menjadi saksi bahwa raja bisnis yang dulu ditakuti itu kini tak berdaya, menunggu ajal menjemputnya sendirian.
Ia benar-benar sendiri.
Tidak ada lagi tangan hangat yang merawatnya, tidak ada lagi suara yang menasihatinya. Istrinya, Angel, sudah tiada.
Bukan karena sakit atau usia tua, tapi karena keputusannya sendiri.
Angel memilih mengakhiri hidupnya dengan tangan sendiri saat ia mengetahui kebenaran yang mengerikan. Ia tahu dalang sebenarnya di balik pembunuhan kejam Hendra, dan ia juga tahu siapa yang berniat mencelakai cucu perempuannya sendiri, Gladys.
Hati wanita itu hancur berkeping-keping. Ia muak hidup di tengah keluarga yang penuh darah dan dosa.
Angel berpikir panjang. Jika ia hanya kabur atau meninggalkan Wiguna, ia yakin pria itu akan terus mencarinya sampai ke ujung dunia. Dengan kekuasaan dan uang yang dimiliki suaminya, tidak ada tempat yang aman baginya untuk bersembunyi.
Maka dari itu, satu-satunya cara untuk benar-benar bebas dan lepas dari cengkeraman pria itu adalah... mati.
Angel memilih jalan terakhir itu, lebih baik ia tamatkan riwayatnya sendiri daripada harus terus hidup melihat kejahatan yang dilakukan oleh orang yang ia cintai.
Pintu kamar terbuka pelan. Seorang pria berjas rapi masuk dengan langkah hati-hati. Ia membungkuk hormat di hadapan ranjang sang majikan. Dialah Aldi, tangan kanan dan asisten paling setia Wiguna Adiyaksa.
" Tuan..." Aldi mulai melapor dengan nada rendah. "Kami sudah lacak jejaknya. Bayi itu... ternyata masih hidup. Kabar terakhir yang kami dapat, dia dijual oleh orang tua angkatnya sendiri hanya untuk melunasi hutang judi."
Wajah tua itu tidak berubah sedikitpun. Tidak ada keterkejutan, tidak ada rasa iba. Hanya tatapan dingin nan membunuh.
"Cari dia..." titah Wiguna pelan namun tegas. "Dan habisi. Jangan biarkan dia hidup dan tumbuh besar. Aku tidak mau ada saksi atau warisan dari keluarga Hendra yang masih bernapas."
"Siap, Tuan," jawab Aldi singkat. Ia mengangguk patuh, lalu perlahan berbalik badan dan meninggalkan ruangan itu untuk menjalankan perintah kejam tersebut.
Di dalam kamar itu, Wiguna tetap terbaring tenang.
Tidak ada rasa takut menghantui, tidak ada sedikit pun penyesalan terbesit di hati tuanya. Baginya, nyawa manusia hanyalah angka yang bisa dihapus kapan saja jika sudah mengganggu kepentingannya.
Sesaat setelah Aldi melangkah pergi meninggalkan kediaman Wiguna, bayangan hitam bergerak keluar dari balik pilar besar yang menjadi tempat persembunyian mereka.
Anin dan Fajar muncul dengan wajah pucat pasi. Napas Anin memburu hebat, tangannya menggenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih karena menahan emosi yang meledak-ledak.
Fajar merasakan tangan itu semakin erat mencengkeram lengannya. Dengan lembut ia mencoba melepaskan genggaman itu, takut kulit halus Anin akan terluka atau berdarah karena tertusuk kukunya sendiri yang panjang dan runcing.
"Tenangkan dirimu," bujuk Fajar berbisik cepat. "Kita harus bergerak lebih cepat dari mereka. Itu saja. Sekarang yang paling penting... berdoa saja. Berdoa semoga Gladys baik-baik saja dan aman dari jangkauan mereka."
Memang benar, awalnya mereka berniat berangkat ke kantor seperti biasa. Namun saat sampai di halaman, mata tajam Fajar menangkap sebuah mobil hitam mewah yang sangat dikenali mobil milik Aldi, sekretaris pribadi Wiguna sedang parkir di depan.
Mereka berdua langsung saling pandang dan memutuskan untuk tidak pergi. Mereka mengurungkan niatnya, lalu diam-diam mengendap-endap kembali, bersembunyi di balik dinding tebal untuk menguping percakapan di dalam.
Dan apa yang mereka dengar... sungguh di luar nalar manusia.
Ayahnya sendiri, Wiguna Adiyaksa, dengan dingin memerintahkan Aldi untuk mencari cucunya sendiri, bukan untuk dipeluk atau diasuh, tapi untuk dihabisi.
Hati Anin hancur lebur mendengarnya. Kakinya lemas seolah tak bertulang. Ia tak bisa melakukan apa-apa saat ini, tak bisa menerobos masuk dan melawan, tak bisa berteriak. Ia hanya bisa membekap mulutnya sendiri agar tidak menangis keras.
"Tuhan ku mohon lindungi anakku..." isak Anin dalam hati, air mata mengalir deras membasahi pipi.
"Berikan dia pertolongan yang paling kuat. Kirimkan malaikat pelindung agar dia tidak sampai di tangan orang-orang jahat ini. Tolong selamatkan putriku..."
****
Sinar matahari sore menyinari hamparan pasir putih yang bersih dan indah. Gadis duduk anggun di sana, mengenakan pakaian yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang seksi dan memikat. Ia tersenyum manis sambil memposisikan diri dengan gaya yang sangat cantik, menjadi model sempurna bagi sang fotografer.
Sementara itu, Langit sibuk bergerak kesana kemari, memegang kamera profesionalnya, mencari sudut pandang terbaik untuk mengabadikan kecantikan wanita yang sangat ia cintai itu.
Namun...
Deg!
Tiba-tiba sebuah rasa sakit yang luar biasa menyerang dada Gadis secara mendadak. Rasanya seperti ditimpa batu karang yang sangat berat, sesak, dan nyeri menusuk hingga ke ulu hati.
Gadis memegangi dadanya erat-erat, napasnya tersengal hebat, wajahnya berubah pucat seketika.
Langit yang melihat itu langsung panik setengah mati. Ia melempar kameranya begitu saja dan berlari secepat kilat mendekati Gadis.
"Kenapa?! Kenapa Sayang?!" tanya Langit dengan suara bergetar, tangannya memegang bahu gadis itu cemas.
"Dadaku... sakit banget," ucap Gadis terbata-bata, matanya berkaca-kaca menahan sakit.
Tak butuh waktu lama, Charlie pun datang berlari membawa sebotol air mineral dingin. Ia menyerahkannya pada Langit dengan sigap.
Langit langsung menerima botol itu, membuka tutupnya dengan cepat lalu menawarkannya pada Gadis.
"Minum dulu pelan-pelan," perintahnya lembut namun panik.
Gadis meneguk air itu sedikit demi sedikit. Perlahan namun pasti, rasa sakit yang menyiksa itu mulai mereda dan menghilang, seolah tak pernah ada apa-apa.
Meskipun Gadis sudah tersenyum dan bilang sudah tidak sakit, namun rasa khawatir masih sangat besar menghinggapi hati Langit.
"Ayo kita pulang," ucap Langit tegas. "Kamu pasti kecapekan."
Tanpa menunggu jawaban, Langit langsung menggendong tubuh mungil itu dengan mudah, membawa Gadis pergi meninggalkan pantai itu.
Siapa ya yang duluan baka nemuin Gadis? Aldi atau Fajar? Atau mungkin Bagas?