Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Diskusi
Ruang diskusi di NDU hari itu terasa lebih ramai dari biasanya, beberapa mahasiswa dari program S2 George Washington University hadir sebagai tamu.
Topik yang dibahas cukup serius tentang bagaimana demokrasi terkadang berbenturan dengan sistem komando dalam militer.
Di salah satu sisi ruangan, Damar duduk tenang matanya fokus pada bahan diskusi di tangannya.
Namun sesekali pandangannya terangkat dan berhenti di satu titik, Kirana. dia duduk bersama kelompoknya terlihat santai.
Namun ketika berbicara suaranya tegas argumennya tajam.
“Dalam sistem demokrasi,” ucap Kirana dalam bahasa inggris “kontrol sipil terhadap militer itu penting tanpa itu, kekuasaan bisa terlalu terpusat.”
Salah satu peserta dari pihak militer menanggapi,
“Tapi dalam kondisi tertentu, keputusan harus cepat, tidak semua bisa melalui proses panjang seperti dalam sistem demokrasi.” Dalam bahasa inggris
Kirana tersenyum tipis mendengarkan pendapat lawan diskusinya itu.
“Setuju tapi justru di situlah tantangannya.bagaimana menjaga efisiensi tanpa mengorbankan akuntabilitas.”
Ruangan mulai hidup perdebatan berjalan terarah. Namun cukup panas Damar memperhatikan cara Kirana berbicara cara dia menyusun argumen dan cara dia tetap tenang di tengah tekanan.
“Benar-benar darah politisi…” gumam Damar pelan tanpa sadar sudut bibirnya terangkat dan diskusi akhirnya selesai.
Peserta mulai berdiri, berbincang santai. Damar masih duduk di tempatnya, namun seseorang menepuk bahunya Arif Muhammad rekannya dari Malaysia.
“Kau kenal dia,?” bisik Arif sambil menatap ke arah Kirana dari kejauhan, "Dia dari Indonesia," Sambung Arif lagi masih menatap Kearah Kirana.
Damar mengikuti arah pandang itu lalu tersenyum tipis.
“Iya saya kenal, Kirana.” Sahut Damar mencoba bersikap wajar Arif tersenyum tampak antusias.
“Dia cerdas dan cantik.” Arif memuji Kirana masih memperhatikannya dari jauh Damar tidak menanggapi namun rahangnya sedikit menegang.
“Bisa kau kenalkan aku sama dia?” lanjut Arif santai.
Beberapa detik Damar diam, entah kenapa dia merasa tidak senang mendengarnya Damar tidak suka dengan permintaan itu.
Dan yang keluar dari mulutnya justru penolakan dan kebohongan.
“Tidak bisa.” Jawab Damar dingin Arif mengernyit.
“Kenapa?” Arif masih penasaran ingin mendengar penjelasannya.
Damar menjawab cepat. “Dia sudah punya pacar.”
Kalimat itu keluar begitu saja tanpa dipikir panjang bahkan dirinya sendiri terkejut. Arif mengangkat alis sedikit kecewa
“Serius?”
Damar hanya mengangguk singkat. “Iya.”
Arif menghela napas kecil. “Sayang sekali.”
Lalu dia menepuk bahu Damar pelan sambil berlalu
“Padahal aku tertarik.”
Damar hanya tersenyum tipis, Damar sendiri bingung.
Kenapa aku harus bilang begitu pikirnya.
Tak lama kemudian Kirana berjalan melintas bersama beberapa rekannya kebanyakan laki-laki asing mereka tertawa berbicara ringan dan terlihat seru.
Salah satu dari mereka bahkan terlihat cukup dekat berjalan di samping Kirana entah apa yang laki-laki itu katakan hingga membuat Kirana tertawa.
Damar memperhatikan dari jauh dalam diam.
Ada sesuatu yang muncul di dadanya rasa tidak nyaman. Ditambah ketika Kirana hanya melewatinya tanpa menyapa.
"Dia nggak nyapa, bahkan nggak senyum sama sekali," Gerutu Damar tampak kesal, padahal beberapa hari lalu Damar sendiri yang menolak Kirana.
Damar yang menarik jarak namun sekarang melihat Kirana tidak lagi fokus padanya justru semua itu terasa mengganggunya.
Damar mengalihkan pandangannya menghela napas panjang.
“Aku kenapa sih” gumamnya pelan, namun dia tidak menemukan jawaban, hanya satu hal yang semakin jelas perasaannya terhadap Kirana tidak sesederhana yang dia pikirkan. Dan itu mulai di luar kendalinya.