Trauma sang Letnan akan masa lalunya bersama seorang wanita untuk kesekian kalinya, membuatnya tidak ingin lagi berurusan dengan makhluk berjenis wanita.
Rasa sakit di hatinya membuatnya betah 'melajang', bahkan sampai rekan letting dan juniornya banyak yang memiliki momongan.
Namun, cara Tuhan mempertemukan manusia dengan jodohnya memang sangatlah adil. Ia sangat tidak menyukai gadis ini tapi.............
KONFLIK TINGKAT TINGGI. SKIP bagi yang tidak bisa membaca alur cerita berkonflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Selesai, mati rasa.
Bang Ali menatap Bang Rinto yang masih menggelinjang menahan rasa sakitnya. Seniornya itu nyaris meregang nyawa karena patah hati. Tapi, apapun itu segala masalah harus di hadapi dan di selesaikan dengan baik.
"Aku membencimu, Anye..!!!" Pekiknya hingga kemudian Bang Rinto tidak sadarkan diri.
...
Bang Ali menengadah, sekelebat rasa bersalah begitu menekan perasaan, tapi masalah hati bukan sebuah permainan. Ia harus kuat menghadapi segala prahara yang terjadi dalam rumah tangganya.
Tak lama Bang Ronald menghampirinya dan mengajaknya bicara.
"Ijin, apakah menurut Abang tindakan saya salah?" Tanya Bang Ali.
"Tidak bisa di bilang salah juga. Semua orang memandang kamu adalah suaminya Anye, sementara dulu.. Pandangan orang tentang hubungan Rinto dan Anye memang sudah goyang. Saat pengajuan nikah itu, Anye di nyatakan hamil. Kami pun tidak tau kalau Rinto sudah menikahi Anye." Jawab Bang Ronald dengan tenang. "Untuk permasalahan ini, Abang tidak bisa banyak komentar, hanya meminta kamu sedikit sabar. Masalah hati ada perkara yang cukup rumit. Sekarang, kita tunggu bagaimana kondisi kesehatan Rinto dam setelah itu kita rundingkan lagi bersama."
Dari jauh Bang Rico mendengar setiap kata yang terucap dari mulut juniornya. Ia paham masalah ini bukanlah hal ringan yang bisa selesai dalam waktu beberapa menit saja. Flashback masa lalunya atas cinta segitiga antara dirinya, Ronald dan Kinan adalah lembaran buruk yang pernah terjadi dalam hidupnya. Ia memejamkan mata sekuatnya, menepis ingatan buruk yang tiba-tiba saja membuat perasaannya campur aduk.
ddrrtt..
Dering ponsel membuyarkan pikirannya yang tidak karuan.
"Paaa.. anaknya nyari nih." Kata suara di seberang sana.
"Ya sudah, tunggu ya..!! Papa pulang sekarang..!!" Jawab Bang Rico saat Kinan menghubunginya.
-_-_-_-_-_-
Malam tiba. Bang Rinto sudah sadar meskipun jarum infus dan oksigen masih membantu jalan hidupnya.
Kini duduk di sana, Bang Ronald, Bang Ali dan Bang Rico di temani Bang Rama sebagai mediator khusus dari Markas dalam pendampingan Pak Harta yang kini sudah hadir. Tak lupa disana di hadirkan pula Anye untuk ikut dalam pembicaraan secara kekeluargaan tersebut.
"Sebelum memulainya, saya akan meminta status riwayat kesehatan Rinto untuk memperjelas masalah ini." Kata Bang Rama sebelum pertemuan tersebut di mulai.
"Ijin, Bang.. Tidak perlu. Saya sudah sadar diri dengan keadaan saya saat ini." Sambar Bang Rinto membuat semua menoleh ke arahnya. "Saya tidak bisa punya anak, itu faktanya. Penyelesaian masalah ini juga sudah cukup jelas arahnya. Saya salah, tanpa pikir panjang sudah mendekati istri orang dan melakukan tindak asusila. Sekarang Anye sedang mengandung, jadi tak perlu di pertanyakan lagi siapa ayahnya. Saya tau mungkin permohonan maaf pun tidak akan pernah cukup untuk menebus tindakan b****b saya."
Bang Rinto kembali meremas dadanya, semakin di rasa, dadanya semakin terasa nyeri tapi masalah ini harus segera usai.
"Jika kamu ingin menuntut saya hingga PTDH, atau kamu ingin membunuh saya sekarang, silakan..!! Saya akan menerimanya." Imbuh Bang Rinto.
Sungguh saat itu Bang Ali terkejut mendengarnya, jemarinya mengepal kuat namun rasanya tidak sebanding jika harus melawan seorang pria yang sedang lemah pada titik terendah tanpa daya, tapi saat itu banyak pertimbangan yang membuatnya tidak lantas meluapkan emosi.
Pak Harra menepuk pundak Letnan Ali kemudian mengijinkannya untuk bicara setelah dirasa semua sudah siap.
"Saya..... Mengikhlaskan yang sudah terjadi, saya memahami posisi Abang. Saya pun memohon maaf, sudah mengambil alih Anyelir dari Abang. Sungguh sebenarnya tidak pernah ada niat saya untuk merebutnya dari Abang, tapi.........."
"Saya paham, tidak apa-apa." Jawab Bang Rinto kini sudah lebih tenang namun air matanya yang menggenang sempat menetes.
"Baiklah, kalau begitu sekarang saya juga angkat bicara." Sambung Pak Harra. "Letnan Rinto dan Anyelir memang sudah menikah, saya saksinya dan Almarhum Pak Herliz sendiri yang menikahkan. Anyelir ada disana tapi dengan kepolosannya, dia mungkin tidak menyangka kalau yang terjadi saat itu adalah sah nya sebuah pernikahan. Kehamilan yang terjadi pada Anye juga sangat aman, tanpa masalah."
Anye terus menunduk tapi air matanya meleleh deras. Semua terasa sangat berliku untuk masuk dalam pikirannya.
Seisi ruangan terdiam, suasana hening, hanya terdengar hela nafas berat.
Semua saksi baru memperhatikan dengan jelas saat mereka menyadari ucapan Bang Rinto yang sama sekali tidak mengarahkan pandang matanya untuk melihat Anyelir, bahkan melirik pun tidak.
"Di hadapan semua orang, saya Rinto... memutuskan, membatalkan dan menjatuhkan talak.. pada Anyelir. Mulai saat ini tidak ada hubungan apapun lagi di antara kita." Ucap Bang Rinto tegas dan jelas.
Mendengar hal itu tangis Anye terdengar sesak terisak hingga akhirnya tak sadarkan diri. Dengan cepat Bang Ali menahan tubuh sang istri.
Bang Rinto pun memejamkan matanya, air matanya meleleh meskipun ia berusaha menahannya, jemarinya terkepal kuat.
"Bawa dia keluar, jaga istrimu baik-baik..!!" Ucap Bang Rinto dengan nada tercekat berat.
"Siap.. Ijin.. Terima kasih, Abang." Segera setelah itu Bang Ali membawa Anye keluar dari ruangan.
Dan sesaat pintu ruang rawat Bang Rinto tertutup, Bang Ronald menghampiri sahabatnya itu.
"Kalau tidak sanggup, lepaskan saja.. Jangan di tahan..!!"
Benar saja, di saat itu tangis Bang Rinto benar-benar tumpah, ia semakin meremas dadanya. "Astaghfirullah..!!" Ucapnya pelan tapi masih bisa terdengar.
\=\=\=
Waktu terus berganti, hari pun berjalan dalam tahap cukup tenang. Letnan Rinto sudah kembali menjalankan tugas. Penampilannya tidak pernah berubah, masih tegap, gagah, dihormati seluruh jajaran anggota sebagai seorang pimpinan. Namun, siapa pun yang melihatnya bisa merasakan perubahan besar dalam diri pria itu, beliau lebih penuh wibawa yang terlihat tajam menonjol.
Para anggota dan sekitarnya tidak pernah melihat senyum Danton satu. Tatap matanya terasa dingin, datar, dan mematikan hingga julukan Black Mamba semakin melekat kuat pada dirinya.
Di setiap harinya Letnan Rinto bekerja dengan sangat disiplin, kaku, dan sangat sulit tersentuh. Ia menutup rapat pintu hatinya, satu-satunya hal yang masih bisa melunakkan hatinya hanyalah sosok Baby Al, meskipun tidak sepenuhnya bisa mengobati segala yang pernah terjadi.
Hingga detik ini, Bang Rinto tidak pernah mau berhadapan langsung dengan Anye atau Bang Ali. Ia meminta Bang Ronald untuk menjadi perantara jika ada hal yang harus berurusan dengan keduanya, utamanya soal nafkah seorang ayah bagi baby Al.
"Ini, Rin. Sepertinya Huda demam setelah imunisasi kemarin. Kasihan anak ini mungkin juga kangen sama Papanya," kata Bang Ronald sambil menyerahkan pria kecil itu di atas pangkuan Bang Rinto.
Bang Rinto memeluk putranya kemudian mencium kening Baby Al cukup lama, matanya berkaca-kaca namun ia menahannya agar tidak tumpah. Hanya beberapa menit saja Bang Rinto memeluknya, ia langsung mengembalikan anak itu lagi pada Ronald sambil menyelipkan uang di dalam saku baju putranya.
"Sudah. Bawa kembali. Jangan biarkan ibunya cemas kamu membawanya kesini terlalu lama." ucapnya dingin, lalu berbalik badan kembali sibuk dengan laptopnya.
Bang Rinto tak lagi melihat ke arah keduanya. Bang Ronald hanya bisa menghela napas panjang melihat sahabatnya yang kini seperti hidup dalam raga tanpa jiwa dan rasa, padahal ia tau ada rindu seorang ayah yang tersimpan disana.
.
.
.
.
memang rumit, percayakan kisah sesuai alur yang diinginkan othornya
semangat Thor.....sukses selalu