NovelToon NovelToon
Siasat Manis Istri Kedua

Siasat Manis Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Konflik etika / Pelakor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Update setiap hari

"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."

Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.

Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.

Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: PERANG DI BALIK MEJA MAKAN

Pagi pertama di rumah itu terasa seperti berjalan di atas hamparan duri yang disembunyikan di balik karpet beludru. Gendis terbangun saat fajar baru saja menyingsing. Ia tidak membiarkan dirinya terbuai oleh empuknya kasur king size di kamar tamu yang kini menjadi miliknya. Baginya, setiap detik di rumah ini adalah bagian dari strategi.

Ia bergegas mandi, mengenakan setelan gamis berwarna kusam yang sengaja ia pilih. Ia ingin terlihat sederhana, tampak tidak mengancam, dan seolah-olah ia hanyalah seorang wanita malang yang butuh perlindungan. Setelah memoles wajahnya dengan bedak tipis agar terlihat agak pucat, ia melangkah keluar kamar menuju dapur.

Dapur megah itu sudah sibuk. Aroma kopi mahal dan roti panggang memenuhi udara. Beberapa pelayan tampak terkejut melihat kehadiran Gendis di sana.

"Pagi, Bi... Mbak..." sapa Gendis dengan suara yang sangat lembut, hampir seperti bisikan yang merdu. "Boleh saya bantu menyiapkan sarapan? Saya terbiasa bangun pagi."

Seorang pelayan senior bernama Bi Sumi menatap Gendis dengan tatapan ragu. "Aduh, Nyony—eh, Non Gendis... tidak usah. Ini tugas kami. Nyonya Maya bisa marah kalau melihat ada orang lain di dapurnya."

Gendis tersenyum kecil, senyum yang sengaja dibuat terlihat getir. "Saya bukan Nyonya di sini, Bi. Saya hanya Gendis. Tolong biarkan saya membantu, setidaknya membuatkan kopi untuk Mas Baskara. Saya tahu seleranya."

Bi Sumi akhirnya luluh melihat binar mata Gendis yang tampak tulus. Gendis mulai bergerak lincah. Ia tahu persis takaran kopi yang disukai Baskara—pahit dengan sedikit aroma kayu manis. Sambil mengaduk kopi, ingatannya melayang pada ibunya yang dulu sering membuatkan kopi serupa untuk ayahnya sebelum tragedi itu terjadi. Dadanya sesak, namun ia menelannya bulat-bulat. Dendam adalah bahan bakar yang lebih kuat dari kafein pagi ini.

Tepat saat Gendis sedang menata piring-piring porselen di meja makan panjang, suara langkah kaki yang angkuh terdengar dari arah tangga. Tik, tok, tik, tok. Suara stiletto yang tajam menghujam lantai marmer.

Itu Maya.

Wanita itu tampil sempurna dengan daster sutra berwarna merah menyala dan riasan wajah yang sudah rapi meski hari masih pagi. Wajahnya cantik, namun bibirnya yang dipulas lipstik merah tua tampak kaku oleh kemarahan yang tertahan sejak semalam.

"Siapa yang mengizinkan orang asing menyentuh peralatan makanku?" suara Maya menggelegar, memecah kesunyian ruang makan.

Gendis tersentak, menjatuhkan serbet kain yang sedang ia pegang. Ia menunduk dalam, bahunya sedikit bergetar—sebuah akting yang sempurna. "M-maaf, Mbak Maya... saya hanya ingin membantu."

Maya melangkah mendekat, aromanya yang wangi parfum mahal terasa menyesakkan bagi Gendis. Maya mengangkat dagu Gendis dengan ujung jarinya yang berkutek rapi. Mata mereka bertemu. Mata Maya penuh api, sementara mata Gendis penuh air yang siap tumpah.

"Jangan panggil aku Mbak. Kamu bukan saudaraku, apalagi temanku," desis Maya tajam. "Kamu hanya sampah yang dipungut suamiku dari jalanan karena dia merasa kasihan. Ingat itu baik-baik, Gendis."

"Saya tahu, Mbak—maksud saya, Nyonya Maya," suara Gendis serak. "Saya tidak akan pernah berani mengambil posisi Anda. Saya di sini hanya untuk mengabdi pada Mas Baskara... dan jika Anda mengizinkan, saya juga ingin berbakti pada Anda."

"Berbakti?" Maya tertawa sinis, suara tawanya terdengar menyakitkan di telinga. "Berhenti bersandiwara dengan wajah polosmu itu! Aku tahu wanita sepertimu hanya menginginkan harta Baskara. Tapi dengar, di rumah ini, aku adalah ratunya. Kamu hanyalah debu yang bisa aku sapu kapan saja."

Tepat saat itu, Baskara muncul dari ruang kerja dengan kemeja kantor yang sudah rapi. Ia terhenti melihat pemandangan di ruang makan. Wajahnya langsung menegang melihat Gendis yang tampak gemetar di hadapan Maya yang terlihat garang.

"Ada apa ini?" tanya Baskara tegas.

Maya menoleh, mengubah ekspresinya menjadi wanita yang terzalimi. "Mas, lihat! Belum juga sehari dia di sini, dia sudah berani mengatur dapurku. Dia ingin menggeser posisiku, Mas!"

Baskara menatap Gendis. Gendis tidak membela diri. Ia justru mengambil langkah mundur, menunduk semakin dalam, dan membiarkan satu tetes air mata jatuh tepat saat Baskara memperhatikannya.

"Maafkan saya, Mas... Nyonya Maya benar. Saya tidak seharusnya lancang. Saya hanya... saya hanya ingin membuatkan kopi untukmu seperti biasa. Saya akan kembali ke kamar," ucap Gendis dengan suara tersedak, lalu ia berlari kecil menuju kamarnya, meninggalkan suasana yang semakin panas.

"Maya! Dia hanya ingin membantu, kenapa kamu harus sekasar itu?" suara Baskara terdengar meninggi di balik punggung Gendis.

"Kamu membelanya, Mas? Kamu membela wanita itu di depanku?" teriak Maya.

Gendis menutup pintu kamarnya dengan pelan. Begitu pintu terkunci, ia menyandarkan punggungnya di pintu. Napasnya yang tadi tersengal kini menjadi teratur. Ia mengusap air mata di pipinya dengan kasar. Tidak ada kesedihan di sana, yang ada hanyalah kemenangan kecil.

Ia tahu Baskara adalah tipe pria yang sangat benci keributan dan sangat menjunjung tinggi kelembutan. Semakin Maya berteriak, semakin Maya terlihat buruk di mata Baskara. Dan semakin Gendis diam teraniaya, semakin besar rasa bersalah Baskara kepadanya.

Gendis melangkah menuju jendela. Dari sana, ia bisa melihat Baskara keluar rumah menuju mobilnya dengan wajah yang sangat keruh. Tak lama kemudian, terdengar suara benda pecah dari ruang makan—pasti Maya yang meluapkan emosinya.

Gendis tersenyum manis. Benar-benar manis, namun mematikan.

"Baru sarapan pagi saja kau sudah kehilangan akal, Maya," gumam Gendis. "Bagaimana jika nanti aku mulai mengambil mertuamu? Bagaimana jika aku mulai menyentuh bisnismu?"

Gendis duduk di depan meja riasnya. Ia mengambil sisir dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena 'akting' tadi. Ia harus tetap terlihat cantik meskipun menderita. Karena di dunia ini, orang lebih cenderung membela wanita cantik yang tertindas daripada wanita galak yang memegang kebenaran.

Ia teringat ayahnya lagi. Ayahnya dulu dijebak dalam kasus korupsi yang dilakukan oleh ayah Maya. Ayahnya yang jujur tidak tahu cara bersiasat, sehingga ia hancur dalam semalam. Gendis belajar dari kesalahan ayahnya. Kejujuran tidak akan menang di rumah ini, tapi siasat manis akan meruntuhkan segalanya.

Gendis kemudian mengambil ponselnya. Ia membuka aplikasi pesan dan mengirimkan satu baris kalimat pendek kepada Baskara.

“Mas, maafkan aku karena sudah membuat keributan di pagi hari. Aku akan mencoba lebih baik lagi agar Mbak Maya tidak marah. Jangan lupa diminum kopinya di kantor ya, aku tadi memasukkannya ke termos kecilmu. Semangat kerjanya, Mas.”

Gendis meletakkan ponselnya dan menarik napas dalam. Ia tahu, saat ini di kantor nanti, Baskara akan membaca pesan itu dan membandingkan kelembutan Gendis dengan kemarahan Maya tadi pagi. Satu benih lagi telah tertanam.

Siang harinya, Gendis memutuskan untuk memulai fase kedua dari rencana 100 babnya. Ia harus mengambil hati Ibu Mertua—Ibu Rahayu. Wanita tua yang dikenal sangat disiplin, kaku, dan pemilih itu akan segera datang untuk makan siang. Selama ini, Maya selalu kesulitan mengambil hati Ibu Rahayu karena sifat Maya yang egois.

"Ini akan menjadi panggung yang menarik," bisik Gendis pada bayangannya di cermin.

Ia mengganti pakaiannya dengan baju yang lebih sopan lagi, menutup auratnya dengan sempurna, dan menyiapkan ramuan teh herbal yang dulu sering dibuat ibunya untuk meredakan nyeri sendi—penyakit yang diketahui diderita oleh Ibu Rahayu.

Gendis keluar kamar dengan langkah yang anggun namun tetap rendah hati. Ia siap menghadapi badai berikutnya, karena baginya, setiap air mata yang ia keluarkan adalah investasi untuk kehancuran musuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!