Starla, putri kandung seorang pengusaha kaya yang tidak disayang memutuskan menerima tawaran seorang pria untuk dijadikan simpanan. Setelah empat tahun berlalu, Starla pun memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak diantara mereka lagi. Starla meninggalkan Nino begitu saja. Hingga pada akhirnya, Nino ternyata berhasil menemukannya dan mulai terus membayanginya dengan cara mendekati Kanaya, kakak tiri Starla. Nino, pria yang terbiasa dipuja-puja oleh banyak wanita, jelas tidak terima dengan perbuatan Starla. Seharusnya, dia yang meninggalkan wanita itu. Namun, justru malah Starla yang meninggalkannya.
Berbekal dendam itu, Nino awalnya berniat untuk mempersulit Starla. Siapa sangka, di tengah rencananya mendekati Kanaya, Nino menemukan sebuah fakta bahwa selama ini Starla tak pernah merasakan bahagia. Sedari kecil, hidupnya selalu dirundung kesusahan. Hak-haknya bahkan direbut.
Berawal dari rasa penasaran, Nino justru mendapati bahwa perasaannya terhadap Starla ternyata sudah berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Om-om jelek
Nino buru-buru melepaskan pinggang Starla begitu akal sehatnya berhasil kembali setelah mendengar teguran dari perempuan itu.
Starla tampak tersenyum miring. Dia sangat mengenal Nino. Selama Starla bersikap seperti perempuan penggoda, maka Nino pasti akan langsung jatuh ke dalam pelukannya tanpa syarat.
"Ka-kamu tidak apa-apa?" tanya Nino dengan wajah memerah.
Tubuhnya ternyata masih bereaksi sama. Dia masih begitu tergila-gila pada Starla.
"Tidak apa-apa. Terima kasih," ucap Starla sambil tersenyum manis ke arah Nino.
Nino berusaha menghindari kontak mata diantara mereka. Penampilan Starla terlalu cantik. Pria itu takut kehilangan kendali didepan banyak orang jika harus menatap wajah itu lebih lama lagi.
"Lain kali, hati-hati! Aku pergi dulu!" pamit Nino.
"Kakak ipar tidak mau menemani ku mengobrol sebentar? Aku kesepian. Aku tidak mengenal siapapun di sini," kata Starla yang membuat Nino reflek menghentikan langkahnya.
"Tidak," tolak pria itu dengan nada dingin.
Separuh hati Nino masih merasa sakit saat mengingat ucapan Starla yang mengatainya menjijikkan. Dan, tentu saja Nino tak semudah itu untuk dibujuk.
Hanya bermodalkan senyum dan rengekan manja, jangan harap Nino akan langsung luluh.
"Cih, sok jual mahal," desis Starla saat Nino beranjak pergi meninggalkannya.
Dia meminum minumannya hingga habis kemudian berjalan mendekati sang Ayah yang sedang berbincang dengan keluarga baru serta calon menantunya.
"Papa..." panggil Starla.
Arlo menoleh. Dia langsung melepaskan pelukan Grace dari lengannya lalu datang menghampiri Starla.
"Ada apa? Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Arlo penuh perhatian.
Dia menyesali perbuatannya. Saat tahu bahwa putrinya nyaris meninggal gara-gara bunuh diri, Arlo menjadi tidak bisa tenang.
Hampir setiap hari, dia bangun dengan perasaan was-was. Lelaki paruh baya itu takut jika sang putri akan mencoba untuk bunuh diri lagi.
"Aku tidak suka di sini," jawab Starla dengan ekspresi yang begitu polos dan tampak benar-benar kesepian.
"Kenapa? Apa ada orang yang menyinggung mu?"
Starla menggeleng pelan. "Aku hanya merasa seperti orang asing. Di sini..." pandangannya mengitari seluruh ruangan. "... Tidak satu pun orang yang aku kenal."
"Kemarilah! Ikut Papa! Papa akan memperkenalkan kamu pada teman-teman serta klien Papa!"
Starla mengangguk setuju. Dia menggandeng lengan sang Ayah kemudian dibawa berkeliling untuk berkenalan dengan orang-orang.
"Om Arlo!"
Seorang pemuda tampan tiba-tiba menghampiri Arlo.
"Oh, Rendi?" Arlo balas menyapa setelah mencoba mengingat nama pemuda itu selama beberapa saat.
Pemuda itu terus mencuri pandang ke arah Starla. Jujur saja, dia sudah terpikat dengan kecantikan perempuan itu semenjak Starla memasuki ruangan dengan langkah anggun dan sangat percaya diri.
"Selamat ulang tahun, Om!" kata pemuda itu sembari menyerahkan hadiahnya kepada Arlo.
"Terimakasih," timpal Arlo sambil tertawa senang.
Lagi, Rendi menatap ke arah Starla. Gadis itu benar-benar cantik. Dia seperti mawar yang sangat indah namun tidak bisa sembarang dipegang. Ada duri yang ia gunakan untuk melindungi diri.
"Dia..."
"Starla. Putri kandung ku," potong Arlo dengan cepat.
Rendi mengangguk kemudian mengulurkan tangan untuk mengajak Starla berkenalan.
"Halo, Starla! Perkenalkan, namaku Rendi Sadewa," sapa pemuda itu dengan bersemangat.
Starla tersenyum. Dia balas menjabat tangan Rendi dengan ramah.
"Senang berkenalan dengan Anda," ucap Starla.
"Ehm, boleh aku minta nomormu?" tanya Rendi lagi.
Starla tak sengaja melihat ekspresi Nino yang berjalan mendekat bersama Kanaya. Seketika, gadis itu langsung tersenyum senang.
Ya, Nino cemburu. Tatapannya mengatakan seperti itu.
"Tentu saja boleh," jawabnya sambil membiarkan Rendi memindai kode QR aplikasi WA miliknya.
"Apa aku boleh menghubungi mu jika sedang tidak sibuk?" tanya Rendi lagi.
Jantungnya hampir meledak. Melihat senyum Starla dari dekat, bagai melihat bidadari surga yang turun dari langit.
"Ya," angguk Starla. "Kamu boleh menghubungi aku kapan saja."
Melihat interaksi antara Rendi dan putrinya, Arlo menarik kesimpulan sendiri bahwa sepasang muda-mudi itu sama-sama tertarik satu sama lain.
"Rendi anak yang baik. Apa kamu tidak berniat untuk mengenalnya lebih jauh?" tanya Arlo saat Rendi akhirnya pamit untuk segera pergi.
"Aku..."
"Tidak," celetuk Nino dengan suara tegas.
Kanaya yang berjalan di sisinya cukup terkejut saat pria itu tiba-tiba mengatakan hal tersebut. Perasaan tak enak langsung menghampiri. Dia takut, tunangannya akan direbut oleh sang adik tiri yang memang sangat cantik.
"Tidak?" ulang Arlo sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Apa maksud Kakak ipar?" tanya Starla. "Kenapa Kakak ipar seperti tidak suka dengan Rendi?" lanjutnya mencecar.
"Rendi adalah anak haram keluarga Sadewa. Dia mendekati Starla pasti ada sebabnya. Pria itu hanya ingin memanfaatkan Starla saja. Menjadikannya batu loncatan untuk mendapatkan posisi yang tinggi di perusahaan keluarganya," terang Nino panjang lebar.
Ia mengambil napas sedikit lama untuk memenuhi paru-paru yang tiba-tiba tidak mendapatkan asupan oksigen sedikit pun karena melihat betapa manisnya senyum Starla saat berkenalan dengan Rendi tadi.
"Menurut mu begitu?" tanya Arlo kepada Nino.
"Tentu saja," angguk Nino menjawab. "Kalau bukan karena ingin memanfaatkan Starla, memangnya dia punya alasan apa lagi untuk mendekati Starla?"
Starla sedikit kesal mendengar ucapan Nino. Seolah-olah, Starla adalah perempuan yang tidak bisa mengandalkan apa-apa selain latar belakangnya sebagai putri kandung seorang Arlo Alexander.
"Aku ini sangat cantik. Bentuk tubuhku juga sempurna. Wajar, jika Rendi menyukaiku. Kalaupun ada laki-laki yang tidak tergoda dengan ku, maka laki-laki itu pasti tidak normal," balas Starla sambil tersenyum mengejek.
"Ya, adik benar," celetuk Kanaya. "Dia memang sangat cantik. Aku dengar dari teman yang pernah kuliah di kampus yang sama dengan adik, kalau adik ternyata sangat populer."
Starla mengangguk. Dia membenarkan ucapan Kanaya.
"Tapi, adik..." lanjut Kanaya ragu-ragu.
Namun, di sinilah letak gongnya. Starla tahu, sang kakak tiri pasti berniat memfitnahnya lagi.
"... Aku juga dengar kalau kamu jadi simpanan seorang Om-om jelek. Apa itu benar?"
Kanaya bertanya sambil tersenyum sinis. Dia berhasil memancing perhatian semua orang dengan suaranya yang sengaja dibuat besar. Dia sangat ingin mempermalukan Starla.
"Om-om jelek?" tanya Starla. Dia reflek menatap ke arah Nino sambil tertawa.
Menyadari jika tunangannya sedang dilirik oleh sang adik, Kanaya langsung maju dan melindungi Nino dari tatapan licik Starla.
"Kakak ipar, ada yang memanggil mu om-om jelek. Apa kamu terima?" tanya Starla kepada Nino yang sedang berdiri mematung.
Buang laki² yang demi gengsi & ego tinggi hanya untuk merendahkan dirimu😠
Nino pikir di dunia hanya ada dia saja tanpa ada orang lain yang masih baik untuk menolongmu Starla 💪
Starla bangkit & cari kebahagianmu tanpa Arlo & Nino, masih banyak orang yang baik padamu Starla 💪