Kerajaan Zorvath, sebuah negeri yang megah dan agung, dipimpin oleh Raja Reynold Arcturus Zorvath dan Ratu Aurelia Elyse Zorvath. Mereka telah mengikat janji suci selama 20 tahun, namun takdir masih belum memperkenankan mereka untuk memiliki penerus. Empat musim berganti, dari panasnya matahari hingga dinginnya salju, namun harapan akan kehadiran pewaris tahta masih belum terwujud.
Zorvath, sebuah kerajaan yang dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggi, menjadi saksi bisu atas perjuangan pasangan kerajaan ini. Desakan dari berbagai pihak semakin kuat, menguji kesabaran dan cinta mereka. Namun, Raja Reynold dan Ratu Aurelia tetap teguh, memegang erat janji mereka untuk menjaga kerajaan dan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chas_chos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
“Ada satu berkas medis yang tidak seharusnya bocor.” bisik Valencia.
Elara menoleh tajam dengan dahi berkerut.
“Tentang Ratu Zorvath.”
-----------
"Apa itu," tanya Elara sedikit penasaran.
"Rumornya sih Ratu Zorvath itu tidak bisa punya keturunan, tetapi setelah berkas itu di temukan, kepastian nya sudah hampir terbukti," bisik Valencia.
"Dan lebih gilanya lagi. Jika Raja tidak mau mengangkat selir, para bangsawan itu akan meninggalkan kerajaan ini," lanjut Valencia.
"Hah, sampai segitunya," balas Elara
Valencia menganggukkan kepalanya
"Iya, katanya mereka sudah muak di pimpin Ratu yang berasal dari rakyat jelata," jawab Valencia.
Tanpa sadar, Elara mengepalkan tangannya.
"Kamu tau informasi ini dari mana," tanya Elara sedikit sinis.
"Dari dokter bangsawan songong itu, tidak sengaja aku dengar waktu mereka bergosip dengan circle mereka itu," jawab Valencia.
"Tapi bukankah itu terlalu ekstrim ya," jawab Elara.
"Menurut ku ya El, nggak juga, kamu lihat deh kondisi disini," ujar Valencia.
"Apa yang mau di ambil manfaatnya," lanjutnya
"Maksudmu," tanya Elara binggung.
Dengan gemas Valencia memukul pelan pundak Elara.
"Makanya jangan terlalu fokus sama pekerjaan, sekali kali lihat lah di sekeliling mu," omel Valencia.
"Sakit Val," ucap Elara sambil mengelus pundaknya yang sedikit nyeri.
"Gemes tau gak aku sama kamu El, pengobatan saja pinter tapi kalau masalah sosial, kayaknya lebih bagusan anak 5 tahun," dumel Valencia.
" Orang kan ada plus minus nya,"gerutu Elara sambil memutar matanya.
"Ihs. . . Kamu itu pinter banget ngelesnya," ujar Valencia.
"Aish. . . Sudahlah, lagi pula itu bukan urusan kita, kita mah apa," cibir Elara.
"Butiran krikil diantara batu berlian mewah," jawab Valencia lesu.
"Ya sudah, yuk kita kembali ke penginapan saja, badan ku sakit semua," lanjut Valencia.
Mereka berdiri dan berjalan meninggalkan Akademi Howard dengan pikiran yang bercabang kemana mana.
----------
Di kamarnya, Elara tidak bisa beristirahat dengan tenang. Perkataan Valencia terus berputar di kepalanya. Dengan rasa penasaran yang tinggi, ia mencari informasi tentang Raja dan Ratu Zorvath.
"Lah, kupikir mereka sudah punya banyak anak," gumam Elara setelah membaca berita jika di Zorvath belum ada pewaris.
"Mereka nggak menua kah," bolak balik Elara melihat foto-fotonya tetapi semakin lama semakin tampan dan cantik yang ia lihat, padahal itu dari foto lama hingga terbaru.
"Peresmian pameran,"
"Penggalangan dana,"
"Santunan penderita kanker,"
"Mendirikan sekolah rakyat, walaupun akhirnya tutup,"
"Pengobatan gratis, pasti gagal. Dokternya saja seperti itu,"
"Masih banyak lagi, walaupun di kenal berasal dari rakyat jelata. Tetapi prestasi nya tidak main-main lo. Bangsawan itu benar-benar tidak tau terimakasih," sinis Elara.
Kepala, Elara semakin sakit memikirkan itu semua, ia memutuskan untuk beristirahat saja malam ini.
----------
Valencia dan Elara berdiri di tepi jalan pagi ini, menunggu bus datang.
Sambil menguap Elara, meregangkan tubuhnya yang terasa sedikit kaku karena sehabis bagun tidur.
"Pagi-pagi itu yang semangat dong El," ujar Valencia dengan menghirup udara pagi yang masih sedikit dingin.
Plak.
"Aduh, sakit El," gerutu Valencia mengusap tangannya yang terasa panas.
"Sakit kan, itu juga posisi ku waktu kamu bangunin paksa pake segayung air," ujar Elara.
" Habis kamu di bangunin susah sekali, aku teriak pun kamu gak bangun," bela Valencia.
Sebelum Elara sempat menimpali, bus yang mereka tunggu tiba. Di sepanjang jalan yang mereka lewati pemandangannya cukup bagus.
"Kita mau kemana Val," tanya Elara di sela perjalanan.
"Nanti kamu juga tahu, nih roti buat sarapan," balas Valencia.
Elara mengambilnya lalu memakan roti itu sambil melihat aktivitas rakyat zorvath. Pemandangan nya tidak jauh berbeda saat ia baru pertama datang, lumayan banyak anak kecil yang meminta tetapi sepertinya dari kalangan bawah. Dari kalangan bangsawan, maupun rakyat menengah atas masih mendapatkan pendidikan yang bagus, serta kehidupan yang sepertinya layak.
Tidak beberapa lama kemudian, bus berhenti di taman kota. Elara dan Valencia pun turun.
"Yuk,"
Valencia menarik tangan elara ke jalan kecil di samping taman kota. Mungkin jalan itu hanya bisa di lewati satu sepeda saja. Di sepanjang jalan yang mereka lewati banyak orang yang sedang memasak, memberi makan hewan ternak, mengobrol. Semua aktivitas itu mereka lakukan di sepanjang jalan, bukan di halaman ataupun pekarangan rumah. Karena pekarangan rumah pun mereka tidak punya. Semakin masuk ke dalam, jalan yang mereka lewati semakin sempit, cahaya matahari sudah tidak bisa masuk lagi karena tertutup bangunan.
"Val," gumam Elara merasa tidak nyaman dengan kondisi ini.
"it. . . tu" gagap Elara melihat di sampingnya, banyak orang yang tinggal seperti di kandang hewan. Ruangan yang berukuran kecil dengan pintu besi. Mereka melakukan aktivitas seperti biasa, termasuk hal-hal pribadi yang seharusnya dilakukan secara tertutup.
Hingga mereka berhenti di pinggir sungai, dada Elara semakin sesak melihatnya. Banyak anak kecil bermain lumpur. Rumah berjejer yang hanya seadanya, bukan bangunan permanen tetapi cuma bangunan yang di bentuk seadanya dari sisa spanduk.
"Beginilah El, sisi kerajaan zorvath yang jarang orang peduli," gumam Valencia.
Elara hanya mampu menghela napas melihat semua itu, karena ia baru pertama kali melihatnya.
"Val, apa kita tidak keterlaluan ya," gumam Elara.
"Maksudnya," balas Valencia merasa bingung.
"Kita ke sini tidak membawa apapun, apa tidak lebih baik kita bantu mereka walaupun cuma sedikit," balas Elara.
"Benar juga sih, ya udah kita ke mall yang ada di dekat taman saja," balas Valencia.
Mereka pun segera keluar dari sana dan menuju ke mall terbesar di kerjaan zorvath.
----------
"El, kamu gila ya," ujar Valencia terkejut melihat Elara.
"Aku nggak gila kok," balas Elara cuek.
"Nggak gila gimana, itu kamu borong semua toko lo, buat apa," ujar Valencia.
"Ya buat bantu mereka tadi Val," jawab Elara dengan entengnya.
"Tapi gak harus borong dua puluh toko, El," gumam Valencia ingin menangis melihat tingkah Elara.
Belum sempat Elara menjawab, suara sepatu hak tinggi datang menghampiri mereka dari samping. Ia dokter Melisa - anak Lord Torvan. Dengan muka yang sebal, Melisa mendatangi Elara dan Valencia.
"Kalian benar-benar kampungan ya," ujar Melisa sinis karena ia ingin berbelanja tetapi semua stok yang ingin di beli sudah di borong semua oleh Elara.
"Apa maksudmu," balas Valencia tak kalah sinis.
"Mentang-mentang gaji kalian tinggi, kalian dengan seenaknya memborong semua yang ada di mall," jawab Melisa.
"Terserah kita dong, uang kita sendiri. Nggak minta ke kamu," balas Valencia.
Melisa hanya tersenyum miring dengan pandangan yang merendahkan.
"Kalian itu ya, lucu sekali. Baru juga punya uang sedikit, sudah berlagak paling Kaya," ujar Melisa.
"Kamu. . . ," Jawab Elara dengan tangan sedikit mengepal.
"Barang itu pasti kalian bagi ke rakyat rendahan itu kan, sama seperti kalian, sama -sama rendahan," ujar Melisa sinis.
"Jaga omongan mu Melisa!" Ujar Valencia geram.
"Dasar kalian kaum rendahan tidak mengerti tata krama, mulut mu itu terlalu kotor untuk menyebut namaku. Kalian itu dari kaum rendahan, walaupun tubuh kalian mengunakan pakaian mewah, otak kalian pintar, kalian kaya raya. Tetapi darah kalian tidak akan menipu, kalian tetap rendahan, sama seperti orang tua kalian yang rendahan yang hanya pantas jadi babu bagi kami para kaum bangsawan," jawab Melisa kasar sambil menunjuk jari tengahnya di depan muka Valencia.
Plak!
_
_
_
29 Januari 2026