NovelToon NovelToon
Little Fairy Tale

Little Fairy Tale

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Karir / PSK
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Baginda Bram

Luka.

Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.

Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.

Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.

Luka adalah bukti.

Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.

Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.

Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.

*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tumbal

Seisi kelas mendadak ramai setelah menerima kabar jam kosong dari guru mereka. Meski pengajar tidak dapat hadir, bukan berarti mereka bebas sepenuhnya.

Pak guru sempat menitipkan tugas kepada ketua kelas untuk dikerjakan. Namun, hanya segelintir siswa yang benar-benar mematuhinya.

Sisanya memilih bersabar—menanti longsoran jawaban dari mereka yang mengerjakan. Tanpa disadari, kelas terpisah menjadi dua kubu.

Renata bukan salah satunya. Ia justru berada di kubu netral. Tidak sepenuhnya santai karena sedang mengerjakan tugas, tetapi juga tidak sepenuhnya serius karena sesekali ikut berbincang. Akibatnya fokusnya terbagi dua.

"Eh kalian ada yang kenal Bagas?"

Jari Renata berhenti melenggok di atas kertas. Ia mengangkat pandangan ke arah dua orang yang duduk di depannya.

"Oh yang orangnya tinggi itu 'kan?" Sahut orang di sebelahnya.

"Iya betul. Aku dengar dia masih jomblo lho. Banyak yang bilang dia cuek, makanya sulit untuk didekati."

"Wah sayang banget ya. Padahal orangnya lumayan tampan."

"Setuju sih."

Pandangan Renata kembali turun. Ia tidak heran mendengar anggapan mereka. Kalau tidak tahu rahasianya, ia pasti akan berpikiran persis seperti mereka.

Ia kembali melanjutkan tugas hingga bel istirahat berbunyi.

Saatnya Renata pergi ke kantin bersama dengan teman-temannya. Percakapan mereka tak jauh dari topik yang sedang ramai dibicarakan—umumnya gosip dan laki-laki—terutama teman satu gengnya yang sering putus-nyambung dengan pacar-pacarnya.

Bertolak belakang dengannya, yang tak pernah menjalani hubungan seperti mereka.

Mereka mengantre di depan sebuah kios. Menunggu dengan sabar antrean yang terkikis perlahan. Renata justru menemukan sosok Bagas keluar dari kios yang mereka datangi.

Bagas menenteng makanan di tangannya. Matanya memandang lurus—agar tak perlu bertukar pandang dengan orang-orang—fokus ke meja tempat di mana teman-temannya berada.

Meski harganya ia dicap sebagai lelaki sombong, ia tidak peduli. Hanya cara itulah yang selalu berhasil membantunya menembus lautan tatapan orang-orang.

Namun tidak untuk kali ini.

Di antara barisan antrean, matanya menangkap sosok mungil yang begitu familiar.

Lebih buruknya lagi, gadis itu sedang menatap ke arahnya. Membuat tatapan mereka bertemu.

Bagas dilanda dilema. Ia belum pernah berada di posisi ini. Di saat seseorang bertukar pandang dengannya, ia merasa tidak enak jika mengabaikannya begitu saja. Ia juga tidak bisa berpura-pura tidak melihatnya.

Masalah tak hanya sampai di situ, ia juga belum pernah menyapa seorang gadis pun sebelumnya. Di sisi lain, ia juga khawatir gadis itu akan merasa terganggu.

Meski ia masih memikirkannya, jarak di antara mereka mulai habis. Langkah yang aman untuk diambil adalah berbasa-basi singkat saja,

"Hai, Kak." Sapanya.

Renata sedikit terkejut. Sorot mata lembut dan senyum ramah itu sama sekali tak ia duga.

Tak hanya Renata—teman-temannya pun ikut terkejut. Sosok yang mereka dengar cuek itu ternyata berbeda jauh ketika berdiri di hadapan mereka.

"I-iya... hai." sahut Renata, menyembunyikan rasa kagetnya.

"Mau beli gorengan juga?"

"Iya, aku lumayan suka sama risoles di sini."

"Aku juga. Enak, untuk ukuran jajanan dua ribuan. Selain risoles, roti gorengnya juga enak lho."

"Kalau roti goreng, aku belum pernah coba."

"Mau coba? Aku beri satu punyaku."

"Tidak. Tidak usah. Aku beli sendiri saja nanti."

"Tidak apa-apa. Ambil saja ini." Ucapnya sembari menyodorkan roti goreng yang masih menyembulkan asap.

"Tidak...tidak apa-apa."

Bagas tersenyum tipis. Rasanya seperti dejavu. Percakapan mereka terasa familiar.

"Kalau begitu, aku duluan ya?"

"Iya."

Bagas melanjutkan langkahnya yang tertunda.

"Katanya dia cuek, kok bisa?" bisik seseorang ke gadis di sebelahnya.

"Entahlah, aku juga cuma dengar-dengar." jawab temannya.

"Kamu kenal dia, Ren?"

"Iya, baru-baru ini."

Renata tidak kaget dengan sapaan barusan—melainkan soal pernyataannya soal fobianya. Dengan yang terjadi barusan, ia semakin tidak percaya.

Mana mungkin dia punya penyakit seperti itu.

Apa mungkin... dia sudah sembuh?

...----------------...

Seseorang membawa setumpuk kertas dengan tergopoh. Sesekali ia membetulkan kacamata tebalnya yang beberapa kali hampir terjatuh.

Ia berpindah dari satu kelas ke kelas lainnya agar bisa mengurangi kertas bawaannya. Sedikit demi sedikit.

Ia menyerahkan beberapa lembar juga ke kelas Bagas. Orang-orang melihatnya dengan penasaran, baru sebentar sudah menghela napas berat. Hingga akhirnya kertas itu sampai di tangan ketua kelas dengan cepat.

Selembaran yang asalnya dari OSIS itu mampu mengernyitkan dahi setiap pembacanya.

Isinya soal pemberitahuan untuk mengutus dua orang dari setiap kelas sebagai utusan sekolah agar bisa ikut serta dalam sebuah perayaan.

Perayaan tahunan itu diadakan di sebuah lapangan besar yang dihadiri beberapa pejabat pemerintahan termasuk di antaranya orang nomor satu di kecamatan.

Meski sebuah perayaan, kebanyakan orang enggan untuk andil lantaran waktunya yang bertepatan dengan hari Minggu.

Mereka yang ditunjuk sebagai perwakilan, secara tidak langsung, harus merelakan hari liburnya demi acara itu seharian penuh.

Dengan kata lain, harus ada tumbal demi perayaan itu. Karena itu, kebanyakan orang enggan mengajukan diri.

Ketua kelas pun, mau tidak mau harus memutar otak untuk masalah ini. Jika tidak, ia yang akan jadi sasaran kemarahan guru.

"Ada yang bersedia?" tanyanya di depan kelas.

Satu kelas hening. Mereka seolah kompak menghindari tatapan sang ketua kelas.

Helaan napas keluar dari mulutnya. Ia sudah tahu kalau ujungnya dia sendiri yang harus ikut. Tapi, ia butuh satu orang lagi untuk menggenapinya.

Bagas tak tega dengan keadaan itu. Ia ingin angkat tangan, tapi ia tidak tahu kegiatan apa yang akan ia lakukan disana. Seandainya tidak berhubungan dengan perempuan, tangannya pasti sudah naik sedari tadi.

"Aku mohon! Setidaknya satu orang saja."

Seisi kelas masih bungkam. Beberapa menit berlalu, akhirnya seseorang memecahkan keheningan itu,

"Kalau tidak ada yang mau, biar aku saja." ujar Linda.

Kalimat itu membuat seisi kelas bernafas lega.

"Syukurlah, kalau begitu—"

"Tapi dengan satu syarat!" Potongnya.

"Apa itu, Lin?"

"Aku harus bersama Bagas ke sana. Bagaimana?"

Bagaimana? Jelas aku tidak mau!

Ketua kelas sumringah,

"Bagaimana, Gas?" Tanyanya.

"Aku..."

Bagas ragu untuk menjawab. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, teman-temannya memasang tatapan memelas. Seolah bilang, "please, terima saja. Supaya kami bisa libur."

"Ya sudah deh."

Mereka riang gembira serempak.Terlebih ketua kelas yang terbebas dari tanggung jawabnya. Hanya Bagas yang berwajah lesu.

"Baiklah. Kalau begitu, besok kalian berdua datang ke alun-alun dengan baju olahraga sebelum jam tujuh pagi."

"Oke." sahut Linda cepat.

Ia tidak akan keberatan jika dengan orang lain. Namun, berbeda jika ia diseret paksa seperti tadi.

Terlebih oleh orang yang paling ingin ia hindari. Membuatnya merasakan seperti sedang ditumbalkan.

Dari sekian banyak orang, kenapa malah Linda?

Bagas hanya bisa menumpuk kekesalannya dalam hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!