"Saya mohon menikah lah dengan putri saya! Putri saya sangat mencintai nak Tomi. Waktu saya tidak lama lagi, dan saya akan pergi dengan tenang jika sonia telah menikah." Tangis Sonia semakin pecah mendengar permintaan Daddy-nya sedang kritis di rumah sakit, kepada pria yang sudah setahun terakhir dicintainya secara diam-diam. Ya, diam-diam, sebab Sonia tidak pernah mengutarakan perasaannya terhadap pria itu kepada siapapun, termasuk pada Daddy-nya.
Sonia memang sangat mencintai pria yang merupakan bosnya tersebut, akan tetapi Sonia juga tidak ingin menikah dengan cara seperti itu. Ia ingin berusaha menaklukkan hati Pria bernama Tomi tersebut tanpa permintaan atau paksaan dari pihak manapun. Namun kondisi Daddy-nya yang sedang sekarat membuat Sonia tak tega untuk banyak berkata-kata, apalagi untuk menolak.
Akankah pernikahan Sonia berjalan layaknya pernikahan bahagia pada umumnya, atau justru kandas ditengah jalan, mengingat Tomi tidak memiliki perasaan apapun terhadap Sonia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23.
Dokter telah pamit undur diri, begitu pula dengan Abil dan Yuli yang mengantarkan dokter hingga ke depan, maka saat ini tinggalkanlah Sonia seorang diri di kamarnya. Sonia mengusap perutnya yang masih terlihat rata.
"Jika benar aku sedang hamil, itu artinya sebentar lagi aku dan mas Tomi akan menjadi orang tua." Membayangkan kehidupan mereka kedepannya setelah memiliki seorang anak berhasil membuat Sonia melebarkan senyum dibibirnya. Akan tetapi, senyuman tersebut perlahan surut ketika teringat akan janji sang suami yang hingga detik ini belum kunjung ditunaikan. Ya, Sonia sama sekali tidak tahu jika sudah hampir dua Minggu ini Tomi mengunjungi kediaman Abil, memohon agar bisa dipertemukan dengannya.
"Apa kamu akan datang menjemput ku atau kamu justru bahagia jika aku tidak berada di sisimu, mas?." Gumam Sonia. Tanpa terasa senyuman Sonia tadi berganti dengan linangan air mata.
Mungkin karena lelah menangis, akhirnya Sonia tertidur.
*
Malam harinya.
"Apa anda yakin akan melakukannya, tuan? Ini terlalu berbahaya untuk anda. Apa tidak sebaiknya kita mencari cara lain saja!." Kata asisten Azam saat melihat tembok yang menjulang tinggi dihadapan mereka.
"Tidak ada pilihan lain, saya akan tetap melakukannya. Si keras kepala Abil pasti akan tetap menghalangiku untuk menemui istriku dengan cara baik-baik." Jawab Tomi.
Asisten Azam hanya bisa menghela napas pasrah. Ia tak lagi dapat mencegah tuannya itu.
"Baiklah kalau memang anda sudah yakin ingin melakukannya, tuan." Selain membantu tindakan gila tuannya itu tak ada lagi yang dapat dilakukan oleh asisten Azam.
Sebuah tangga lipat dikeluarkan oleh asisten Azam dari dalam bagasi mobil.
"Cepatlah! Jangan sampai keburu Abil kembali!." Siang tadi Tomi mencari tahu kegiatan Abil untuk malam ini. Rupanya malam ini sahabatnya itu akan menghadiri acara resepsi pernikahan salah seorang rekan bisnisnya. Tentunya kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Tomi. Jika ditanya mengapa Tomi tidak masuk lewat akses yang semestinya padahal Abil sedang tak ada di rumah, tentu saja itu karena Abil melarang petugas keamanan mempersilahkan Tomi masuk di saat ia sedang tidak ada di rumah.
Tomi sengaja mengenakan pakaian serba hitam, celana jeans berwarna hitam serta kaos berwarna hitam dan tak lupa menggunakan masker serta topi yang juga berwarna hitam untuk menutupi sebagian wajahnya.
Setelah hampir dua puluh menit berjuang, akhirnya Tomi berhasil naik ke lantai dua, di mana kamar sang istri berada.
Dari balik jendela kaca yang gordennya masih terbuka Tomi melihat istrinya sedang duduk bersandar pada headboard ranjang. Mata Sonia terlihat sembab, dan Tomi meyakini bahwa istrinya itu pasti habis menangis.
"Maafkan mas karena datang terlambat, sayang." Gumam Tomi hendak mengetuk kaca jendela. Hendak mengetuk kaca jendela, namun Tomi justru mendapati jendela tidak terkunci. Nampaknya alam sedang berpihak pada Tomi. Pria itu langsung mendorong jendela.
Mendengar suara-suara, Sonia lantas menoleh ke arah jendela.
"Siapa di sana?." Sonia mulai ketakutan. Ia bangkit dari tempat tidur hendak memastikan suara apa yang baru saja didengarnya. Betapa terkejutnya Sonia menyaksikan seseorang melompat masuk dari arah luar jendela.
Sonia hendak berteriak namun mulutnya langsung di bekap oleh Tomi.
"Jangan berteriak! Ini mas, Sonia." Tomi membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya.
"Mas Tomi...". Sonia terkejut sekaligus bingung. Mengapa suaminya memilih menemuinya dengan cara seperti ini? Apa mungkin Abil menutup akses untuk Tomi menemui dirinya, sehingga suaminya itu melakukan tindakan ekstrim seperti ini? Begitu banyak pertanyaan yang kini ada di benak Sonia.
Setelah melepaskan bekapan tangannya pada mulut Sonia, Tomi merentangkan tangannya agar Sonia masuk ke dalam pelukannya.
"Maaf jika kedatangan mas mengejutkan kamu, sayang!." Ujar Tomi setelah tubuh Sonia berada di pelukannya.
"Hiks .....Hiks ....hiks ...." Menyadari Isak tangis istrinya, Tomi pun memberi jarak agar dapat menatap wajah cantik yang begitu dirindukannya tersebut.
"Jangan menangis, sayang!." Tomi mengusap jejak air mata di pipi sang istri.
"Tadinya Aku sempat berpikir bahwa kita tidak akan pernah lagi bertemu, dan aku juga berpikir akan melahirkan anak kita tanpa kehadiran mas Tomi."
"Tunggu....! Kamu bilang apa barusan, Anak kita?." Tomi baru menyadari kata-kata Sonia. "Apa kamu sedang hamil, Sonia?." Tomi menggenggam kedua lengan Sonia, menatap manik mata indah milik sang istri dengan tatapan dalam. Tak sabar menunggu jawaban Sonia.
"Kata dokter, besar kemungkinan saat ini aku sedang hamil, mas." Jawab Sonia.
Tomi tak kuasa membendung air mata haru. Jika benar saat ini istrinya sedang mengandung, maka Abil tidak boleh terus-menerus bersikap seperti itu padanya. Abil tidak boleh terus memisahkan ia dan Sonia.
Sebenarnya bisa saja Tomi menjadikan calon anaknya sebagai senjata untuk membawa paksa Sonia dari kediaman tersebut, akan tetapi Tomi masih menggunakan akal sehatnya sehingga tidak berniat melakukannya. Menurut Tomi selagi masih ada cara baik-baik, mengapa harus menempuh jalan yang bisa saja merusak persahabatan nya dengan Abil.
"Bersabarlah! Mas akan mencari cara agar bisa membawamu kembali pada mas, sayang!." Dari perkataan suaminya, Sonia jadi berpikir bahwa alasan Tomi baru datang menemuinya sekarang adalah Abil. Kakak sepupunya tersebut pasti menyulitkan Tomi saat ingin bertemu dengan dirinya.
"Jangan banyak pikiran, dan jangan pernah berpikir mas macam-macam dengan wanita lain diluar sana, terkhusus si Cili itu! Satu hal penting yang perlu kamu tahu, bahwa wanita itu sudah tidak lagi terikat kontrak kerjasama dengan Andrean Group." Tutur Tomi.
Sonia cukup terkejut dengan pengakuan suaminya. Ia tidak menyangka Tomi akan mengambil resiko sebesar itu. Ya, Sonia tahu betul bahwa memutuskan kontrak kerjasama secara sepihak pasti sangat beresiko.
"I love you, Soniaku sayang."
Deg
Tubuh Sonia terpaku mendengar ungkapan cinta dari Tomi untuknya. Saking tidak percayanya, Sonia sampai mencubit lengannya untuk meyakinkan bahwa ini bukan mimpi.
Merasakan sakit pada lengannya, Sonia pun sadar bahwa ini bukanlah mimpi. Tomi benar-benar mengungkapkan cinta kepadanya. Belum sempat Sonia membalas ungkapan rasa cinta sang suami, ia tiba-tiba mendengar suara deru mesin mobil di halaman depan. Nampaknya ada yang datang. Sonia dan Tomi beranjak ke arah jendela untuk memastikan siapa yang datang. Rupanya mobil Abil yang baru saja datang.
"Mas Abil sudah kembali, mas harus segera pergi. Jaga dirimu dan calon anak kita dengan baik, Sayang!." Pesan Tomi seraya mengelus lembut perut Sonia. Sebelum berlalu, Tomi menghujani wajah istrinya dengan kecupan sayang.
Bug.
"Suara apa barusan?." Abil yang hendak memasuki pintu utama bersama sang istri, mendengar suara gedebuk dari arah depan. Yakin dengan pendengarannya, Abil pun segera beranjak untuk memastikan suara apa yang didengarnya barusan.
Mendengar suara langkah kaki, Tomi lantas bersembunyi di balik pot bunga. Bukannya takut menghadapi Abil, hanya saja Tomi tidak ingin sampai Abil bertindak lebih jauh lagi jika sampai mengetahui tindakannya, dengan mengirim Sonia ke luar negeri misalnya. Maka dari itu Tomi memilih bersembunyi ketimbang ribut dengan sahabatnya itu.
Jika ditanya mengapa Tomi memilih melompat dari lantai dua, tidak menggunakan tangga seperti yang dilakukannya saat naik ke lantai dua tadi? Jawabannya karena si kutu kupret asisten Azam telah menghilangkan tangga tersebut setelah tuannya berhasil naik ke lantai dua. Pikir asisten Azam, dengan bantuan sang istri, tuannya itu bisa keluar menggunakan akses yang semestinya, pintu, sehingga tangga tadi tak lagi diperlukan. Namun ternyata dugaan pria itu meleset, hingga akhirnya Tomi harus nekat melompat dari lantai dua. Untungnya tidak ada tulang Tomi yang patah, kalau sampai ada bagian tulang Tomi yang patah, bisa dipastikan pria itu akan mendapat hukuman yang setimpal atas keteledorannya.