Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.
Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.
Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.
Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.
____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?
kuyyy ikuti kisahnya ya~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Mencoba Memulai
Ruang kerja itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya, hanya deru mesin pendingin yang terdengar pelan di antara riuhnya isi kepala Tamara.
Ia duduk terdiam, membaca ulang semua informasi yang tertera pada dokumen di tangannya.
Matanya melebar untuk yang kedua kalinya, melihat beberapa detail yang membuat jantungnya terhentak:
Letter Of Invitation
4th Global Conference On Psychology
Linacre College, St Cross Road, Oxford
Tangannya membuka lembar berikutnya.
Surat penugasan resmi dengan logo Universitas Bina Bangsa, dengan tanda tangan rektor dan tempel basah.
Nama suaminya tercetak jelas disana, sebagai delegasi khusus perwakilan kampus.
Tamara menarik napas, lalu membaca lebih teliti halaman selanjutnya: lampiran jadwal keberangkatan, round down acara, sampai tanggal kepulangan.
Dadanya terasa sesak. Seminggu? Ke luar negeri? Utusan resmi?
Tangannya sedikit gemetar memegang ujung kertas itu, tubuhnya bersandar pada kursi.
Ini bukan hanya soal 'kenapa ia baru tahu hal ini', tapi karena... timing-nya terlalu jahat.
Baru semalam terjadi kemesraan, dan baru sepanjang hari ini ia berperang dengan hormon.
Terus sekarang, mereka mau LDR?
Tamara mendesah kesal, menatap langit-langit. "Serius... harus sekarang?"
...
Malam datang perlahan, membawa langit gelap menyelimuti kota.
Arvin baru keluar dari kamar. Pakaian sudah berganti kaus rumahan, rambut setengah basah, pandangannya langsung tertuju ke satu arah.
Di ruang santai, Tamara duduk bersandar di sofa.
Tangannya memegang kemasan cokelat batang, sesekali memasukkan pelan ke mulut. Namun, sorot matanya kosong.
Arvin langsung berjalan menghampiri, lalu duduk di sampingnya.
"Kok bengong?" tanyanya.
Tamara menoleh, langsung membenarkan posisi duduknya.
"Mas, kamu ada perjalanan dinas ya?" tanyanya, to the point.
Arvin sedikit kaget. "Iya, ada. Kamu... tahu?"
Tamara meletakkan bungkus cokelat di atas meja kaca.
"Iya, tadi waktu buka laci meja kerja kamu. Aku liat dokumennya," ujarnya.
Ia terdiam sebentar, lalu menatap dengan selidik. "Tapi kok, mendadak?"
Arvin menegakkan bahu. "Aku baru mau bilang. Sebenarnya itu nggak mendadak, sih," suaranya rendah.
Ia menjelaskan dengan pelan. "Persiapannya sudah lama, dan direncanakan dari berbulan-bulan lalu, sebelum kita nikah. Cuma, acaranya memang diadakan bulan ini."
Tamara terdiam. Jujur, ia kesal. Kenapa ia merasa tidak tahu apa-apa tentang rencana dalam hidup suaminya? Kenapa harus sekarang?
Ingin sekali langsung marah, karena merasa ditinggal di saat ia ingin mencoba lebih dekat.
Anehnya amarah itu tidak jadi keluar. Justru digantikan satu kesadaran, yang tiba-tiba datang menghantam dadanya.
Sebelumnya, ia memang tidak pernah peduli.
Ia memang menerima pernikahan karena permintaan papanya.
Satu sisi, ia hanya merasa cocok di atas kertas: mereka sama-sama dewasa, sibuk, dan bisa berjalan di jalur sendiri-sendiri tanpa banyak tuntutan.
Ia tak mau tahu soal kerjaan Arvin. Mau perjalanan dinas keluar kota, sehari, dua hari, Tamara tak masalah dan tidak pernah ambil pusing.
Komunikasi mereka sejauh ini baik-baik saja, walau hanya berupa pertukaran informasi biasa, bukan layaknya pasangan baru yang dilanda kasmaran.
Tapi setelah kejadian semalam...
Sejak kecelakaan itu, sejak ciuman malam itu, segalanya seolah berubah.
Rumah jadi terasa bukan sekadar tempat pulang lagi, tapi ada sesuatu yang entah disadarinya atau tidak.
Sisi dominannya, lenyap.
Tamara mulai melakukan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip lamanya.
Ia jadi peduli, merasa bergantung, dan mulai berharap.
Lebih parahnya, ia mulai ingin tahu arti hubungan sebenarnya, yang dulu selalu ia anggap omong kosong belaka.
Tamara menatap suaminya. "Itu pasti penting buat kamu ya?"
Hanya kalimat itu yang akhirnya, malah keluar dari mulutnya.
Arvin mengangguk. "Bukan hanya buat aku, tapi buat kampus."
Tamara merendahkan suaranya. "Aku tadi lihat isi suratnya... kamu diundang bukan jadi peserta biasa, tapi sebagai perwakilan yang akan presentasi di sana."
Senyum kecil muncul di wajahnya. "Kamu bukan hanya bawa identitas kampus, tapi juga bawa nama negara... dan itu sangat membanggakan."
Arvin membalas tatapan Tamara. "Terima kasih ya, sudah mau mengerti, dan tetap mendukung," ucapnya.
Tamara menarik napas pendek. "Sudah seharusnya begitu."
"Kamu nggak papa, ditinggal dulu?" tanya Arvin.
Tamara pura-pura berpikir. "Hmm... bohong kalau aku bilang 'aku nggak papa'. Pengen sih, egois. Pengen minta kamu jangan pergi... "
Ia menahan ucapannya, membiarkan kalimat itu menggantung dalam satu helaan napas.
" ...tapi aku juga nggak mau jadi orang yang bikin kamu kehilangan sesuatu, yang udah kamu bangun selama bertahun-tahun," lanjutnya.
Arvin masih mendengarkan tanpa memotong, ini pertama kalinya si 'badai' Tamara bicara panjang lebar dengan tenang.
Tamara meneruskan, suaranya pelan dan stabil. "Aku percaya. Itu bukan hanya soal karir kamu, tapi memang sudah jalan hidup kamu, bahwa kamu memang hidup untuk banyak orang."
Arvin terdiam. Wajahnya tetap tenang, tapi hatinya bergetar halus melihat sisi lain dari Tamara.
Ia nyaris tak percaya, perempuan di dekatnya saat ini benar-benar istrinya.
"Mas... " suara Tamara memecah lamunan Arvin.
"Ya?" sahut Arvin, tatapannya tetap fokus.
"Aku rasa, aku mau belajar membangun hubungan," kata Tamara pelan.
Wajahnya memerah. Lenyap sudah semua rasa gengsinya, yang selama ini selalu ia banggakan.
Arvin tersenyum simpul, sorot matanya lebih lembut. "Ya udah, kita sama-sama belajar ya."
Tamara mengangguk, lalu menyandarkan kepala di bahu Arvin.
"Tapi aku nggak janji emosiku bisa selalu stabil," gumamnya.
Tawa kecilnya lalu muncul, tipis dan setengah rapuh. "Kamu tahu sendiri, aku punya 'setelan pabrik' yang kadang bisa bikin orang mau kabur," timpalnya.
Arvin ikut tertawa ringan. "Nggak papa, aku sudah terbiasa."
Tidak ada percakapan tambahan setelahnya.
Hanya ada suasana yang terasa lebih hidup dari biasanya, oleh tawa kecil dua orang yang sama-sama belajar hidup bersama.
Di antara kehangatan itu, Arvin kembali menatap istrinya.
Ia sekarang mulai percaya, satu hal yang selalu menjadi keyakinannya selama ini soal perempuan itu.
Tamara mungkin bukan 'badai' yang berkepanjangan, dia... hanya sedang mencari tempat untuk mereda.
...
Hari berganti.
Arvin mendatangi kediaman orang tuanya, setelah Arman sempat memintanya datang, untuk sarapan bersama sekaligus membahas suatu hal.
Arman yang duduk di seberang meja, meletakkan cangkir teh miliknya.
"Gimana keadaan istri kamu, Vin?" tanya pria itu, ketika mengingat soal menantunya yang sempat mengalami kecelakaan kecil.
"Tamara baik-baik aja, Pa. Hari ini sudah bisa kembali ke kantor. Dia titip salam tadi," kata Arvin.
Arman mengangguk pelan. "Lusa nanti, kamu jadi berangkat?" tanyanya tiba-tiba.
Arvin mengiyakan.
Arman menatap putranya, dengan senyum bangga. "Jangan sia-siakan kesempatan ini, Vin. Ini sangat bagus buat portofolio kamu ke depan."
Arvin hanya tersenyum tipis, wajahnya menunduk sopan.
"Jadi gimana," kata Arman, memulai arah pembicaraan.
"Sudah kamu pertimbangan pembicaraan kita waktu itu? Kamu dapat banyak dukungan loh, Vin."
Arvin menoleh. Ia tahu persis obrolan yang dimaksud, yang pernah mereka diskusikan panjang sebelum-sebelumnya.
"Aku belum bisa memastikan sekarang, Pa," jawabnya.
Ia menarik napas panjang. "Itu bukan hal kecil yang bisa diputuskan tanpa pemikiran matang. Aku juga harus membicarakan ini dulu dengan Tamara, dia belum tahu apa-apa soal ini."
"Betul itu... " suara Elva yang baru bergabung, terdengar sepakat.
Wanita itu duduk di dekan suaminya, lalu ikut menatap sang putra.
" ...karena ini menyangkut karir dan hidup kamu ke depan nantinya, kamu juga harus minta pendapat istri kamu, Vin." Elva menyarankan.
Arvin meraih cangkir teh miliknya. "Makanya aku masih nyari waktu yang tepat, buat ngomong sama Tamara."
Elva tersenyum simpul. Sementara Arman memberi anggukan.
Hingga Elva menanyakan sesuatu yang lain. "Situasi masih terkendali, Vin?"
Arvin yang baru meneguk tehnya, menoleh dengan dahi berkerut halus.
Elva meneruskan dan pembahasan pun bergeser.
"Orang-orang kan sekarang bukan lagi hanya mengenal kamu sebagai akademisi, tapi juga sebagai suaminya Tamara. Kamu nggak terganggu, kan?"
Arvin tak langsung menjawab, ia meletakkan kembali cangkirnya.
"Aku sudah memikirkan risikonya sejak memutuskan menikahinya, Ma," jawabnya.
"Iya, itu bagus. Yang penting hati-hati aja. Netizen itu kadang suka bikin narasi dan spekulasi masing-masing." Elva mengingatkan.
Wanita paruh baya itu lalu tersenyum. Setengah bangga, tapi juga setengah khawatir.
"Kamu sekarang banyak dibicarakan loh, Vin. Bukan hanya di komunitas akademisi, tapi juga di dunia maya. Mama aja sampai kaget, popularitas kamu udah kayak selebriti aja."
Arvin hanya terdiam mendengarkan. Ia tak menyangkal.
Sejak menikahi Tamara, hidupnya memang tambah berisik.
Undangan seminar, wawancara, dan bermacam tawaran berdatangan. Hingga orang-orang yang lebih banyak mendekat dan bersikap lebih ramah.
"Papa nggak bilang ini buruk, Vin." Arman ikut bicara.
"Popularitas itu memang bisa jadi alat. Bisa dipakai buat kebaikan, tapi bisa juga bikin orang terbawa arus sampai lupa arah."
Ia tersenyum tipis, tapi sorot matanya serius. "Papa harap kamu nggak melupakan tujuan hidup kamu. Jangan lupakan alasan kamu, memilih profesi kamu sekarang."
Arvin menunduk sebentar, lalu mengangguk paham.
"Aku akan tetap di jalanku, Pa. Aku juga nggak mau muter di arah yang bukan tujuan hidupku," katanya dengan mantap.
Papanya tersenyum bangga. "Itu sebabnya Papa dan yang lain dukung kamu, buat mempertimbangkan diskusi kita waktu itu."
Arman sedikit mencondongkan tubuh ke arah meja. "Ingat, Vin. Kamu sekarang ada di titik yang nggak bisa dicapai semua orang."
"Makanya aku harus mikir lebih lama, Pa... " Kalimatnya terjeda.
Ponselnya bergetar lama, Arvin segera memeriksanya.
Matanya menumbuk layar beberapa detik, memikirkan sesuatu tentang nomor penelepon yang sudah tidak asing baginya.
Ia kembali menyimpan ponselnya, membiarkan panggilan itu berakhir tanpa jawaban. Kemudian menatap mama dan papanya bergantian.
"...tapi sebelum itu, aku perlu menyelesaikan satu hal lain terlebih dahulu," sambungnya.
BERSAMBUNG...
Ada yang bisa menebak nggak, kira-kira persoalan apa ya yang belum Arvin kasih tahu ke Tata?
Terus, Arvin mau menyelesaikan urusan apa dulu nih?
___
Terima kasih sudah membaca, dan mengikuti sampai sini~
Semoga betah terus mengikuti kelanjutan kisahnya~
See you~