Firdha diusir dengan kejam oleh Ibu mertuanya 2 hari setelah dia melahirkan bayinya. Dirasa tidak berguna lagi, Firdha diperlakukan seperti sampah.
Di sisi lain, ada Arman yang pusing mencari Ibu Susu untuk bayinya, tak disangka takdir malah mempertemukannya dengan Firdha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Puber Kedua
"Kamu harus tetap tenang, jangan pernah gentar sedikit pun kalau dia sampai berani mengancammu. Tenang saja, orang seperti itu sangat mudah untuk diatasi. Yang harus kita lakukan sekarang hanyalah mengumpulkan bukti kejahatannya," kata Arman kepada Firda yang duduk tepat di sampingnya. Saat itu mobil Arman sudah berada di parkiran resto tempat Pras yang mengaku sebagai Seno janjian untuk bertemu. Firda mengangguk mengerti mendengar instruksi dari Arman.
"Dan kamu Pak Seno, kalau nyonya Risma belum menyerahkan cek 1 miliarnya, jangan pernah mau pergi apalagi menyerahkan Firda padanya," tambah Arman kepada pria paruh baya yang merupakan suami Bi Mina sekaligus tukang kebun di rumahnya.
"Baik, Tuan." Pria paruh baya berambut putih yang duduk di jok depan bersama Pras tersebut mengangguk mengerti. Daripada uang imbalan itu hangus begitu saja jika Firda muncul sendirian di hadapan ibu mertuanya, lebih baik diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan.
"Pras, bagaimana? Apa dia sudah ada di dalam?"
"Belum, Bos. Beberapa menit lalu dia mengabariku, katanya akan tiba 5 menit lagi," jawab Pras.
"Ya sudah, tunggu dia datang dulu baru kalian masuk."
Hanya berselang 1 menit kemudian, sebuah mobil sedan merah mengkilap melaju pelan memasuki kawasan restoran, mobil itu lantas terparkir tidak jauh dari mobil Arman. Seorang wanita paruh baya dengan dandanan menor dan pakaian agak terbuka keluar dari dalamnya, disusul oleh seorang pria yang usianya kira-kira awal 30-an.
"Siapa laki-laki itu? Apa kamu mengenalnya?" Arman bertanya pada Firda, sambil terus memantau 2 manusia beda generasi yang berjalan bergandengan memasuki restoran.
Firda menggeleng. "Saya tidak tahu, Tuan. Ini pertama kalinya saya melihat orang itu."
"Itu pacarnya, Bos," celetuk Pras di balik kemudi. "Dulu, saat tuan Kusnandar masih hidup, laki-laki itu adalah simpanan nyonya Risma, tapi karena sekarang suaminya sudah meninggal, jadilah mereka mulai terang-terangan berhubungan di depan publik."
Firda langsung menutup mulut tak menyangka. Kelakuan ibu tiri mendiang suaminya itu benar-benar lebih keterlaluan dari yang dia pikirkan selama ini.
Selang beberapa menit kemudian, ponsel Pras bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk di sana. "Sudah waktunya untuk masuk. Mereka sudah menunggu di ruang VIP nomor 3 di lantai 2."
Firda mengangguk mengerti. Dulu, dia dan suaminya sering datang ke restoran tersebut, jadi dia tahu seluk beluk tempat itu.
"Kalau begitu saya dan Pak Seno masuk dulu, Tuan." Firda membuka pintu mobil. Niatnya yang ingin keluar langsung dicegah oleh Arman yang menahan tangannya.
Firda terkejut. Selama beberapa saat wanita itu menatap jemari Arman yang kini melingkar di pergelangan tangannya. "Tuan ... ada apa?" tanya Firda. Dia dan Arman saling adu tatapan.
Arman tak menjawab, justru malah menikmati momen saling adu pandang tersebut. Dia baru sadar ketika Pras yang memperhatikan interaksi mereka lewat cermin tengah pura-pura terbatuk-batuk.
"Uhhuk uhhuk. Ekhem! Tenggorokanku kenapa gatal sekali ya?" Pras bicara sendiri seraya melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya. "Siang ini kenapa cuacanya panas sekali? Apa jangan-jangan matahari sudah bocor, Pak Seno?"
Pak Seno tertawa mendengar celetuk asal-asalan Pras. "Tidak panas sama sekali, Den Pras. Kan AC mobilnya menyala."
"Berarti perasaanku saja ya, Pak," kata Pras lalu kembali berdehem lebih keras dari sebelumnya.
Arman yang baru menyadari kalau Pras sepertinya sedang menyindir dirinya dan Firda pun langsung melepaskan tangan wanita itu.
"Aku ... aku hanya ingin mengatakan, apa pun yang terjadi, jangan pernah lupakan Akira. Di rumah, dia pasti akan langsung mencarimu ketika bangun tidur nanti."
"Jangan khawatir, Tuan." Firda tersenyum hangat. "Mana mungkin saya bisa melupakan Akira. Sekarang, dia itu satu-satunya penyemangat hidup yang saya punya. Kalau pun putri saya benar-benar masih hidup, kasih sayang saya terhadap Akira akan tetap sama, tidak akan berubah. Bahkan jika seandainya Tuhan mengizinkan saya merawat keduanya bersamaan."
Arman tersenyum. "Aku senang mendengarnya."
Firda dan Pak Seno kemudian masuk bersama, sementara Arman dan Pras memilih untuk tetap menunggu di dalam mobil. Arman memegang transmitter kecil di tangannya—sebuah kotak hitam dengan antena pendek yang mencuat keluar. Dia menekan tombol kecil di samping dan berbicara dengan suara rendah, "Firda, kamu bisa mendengarku?"
"Ya, bisa, Tuan," jawab Firda melalui anting kecil di telinganya. Anting itu dilengkapi dengan penerima suara yang hampir tak terdengar. Hanya Firda yang bisa mendengar suara Arman, sedangkan orang lain tidak bisa.
"Bagus," kata Arman. Dia kemudian memantau situasi di dalam restoran melalui monitor kecil di dashboard mobilnya. Rekaman video itu diambil dari kamera tersembunyi yang terpasang di liontin kalung yang dikenakan Firda. Pras duduk di sebelahnya, mata mereka terpaku pada layar monitor, sigap membantu jika sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
...****************...
Di dalam ruangan VIP restoran, Nyonya Risma masih diliputi rasa was-was. Dua kali kena tipu akibat iming-iming hadiah besar yang dia sebarkan sendiri, membuatnya kehilangan uang yang tidak sedikit. Terakhir kali, dia ditipu dengan cara yang sangat licik, video rekayasa dengan bantuan AI yang menampilkan Firda seolah-olah disekap oleh seorang pria bertopeng, lalu meminta uang tebusan sebesar separuh dari hadiah yang dijanjikan jika dia ingin Firda diserahkan padanya. Setelah uang dikirim, penipu itu menghilang tanpa bisa dilacak keberadaannya. Sekarang, Risma tidak mau ambil risiko lagi. Dia tidak akan memberikan imbalan sepeser pun jika Firda belum diserahkan langsung ke hadapannya.
"Ric, kamu yakin kali ini bukan tipuan?" Nyonya Risma bertanya pada brondongnya.
Pria bernama Eric itu meraih dan menggenggam tangan Risma. "Jangan khawatir, Tan. Aku yakin, kali ini sungguhan. Orang bernama Seno itu akan membawa wanita itu ke sini segera. Aku baru saja mengirim pesan padanya," katanya, lalu mencium punggung tangan sugar mommy–nya dengan lembut. Sebelah tangannya tidak dibiarkan menganggur, bergerak dengan gerakan pelan namun tepat sasaran di antara kedua paha kekasihnya yang terekspos.
Plak. Risma langsung memukul tangan Eric, sambil tertawa kecil. "Jangan nakal ah. Tahu tempat sedikit."
"Habis goyangan Tante hebat banget tadi pagi, aku jadi ketagihan mau lagi dan lagi," bisik Eric, lalu menggigit pelan daun telinga Risma. Wanita berusia 50 tahun itu tersipu. Wajahnya merona.
"Masa sih?" bisiknya malu-malu. "Tante tidak percaya."
Eric meraih tangan Risma, lalu meletakkan di atas ritsleting celananya seraya berkata, "Kalau Tante tidak percaya, pegang ini."
Risma terkekeh saat tangannya menyentuh sesuatu yang keras bersembunyi di dalam sana.
"Sekarang Tante percaya, 'kan?" tanya Eric, tersenyum genit dan menaik-turunkan alisnya.
"Iya deh, iya, Tante percaya. Nanti sepulang dari sini Tante servis kamu."
"Yes!" Eric tertawa girang. "Serius ya, Tante?"
"Iya, Sayang. Tante serius." Risma tersenyum sambil membelai pipi brondongnya dengan lembut, lalu keduanya saling memangut.
Di ambang pintu, Firda bergidik melihat pemandangan di hadapannya. "Puber kedua ternyata semenggelikan itu. Terlihat sangat tidak pantas," batinnya.
"Ehem." Suara deheman Pak Seno membuat aktivitas dua orang di dalam sana langsung terhenti.
tp kan Firda gk tau....jd gk bisa jg melampiaskan amarah ke dia nya dong..