Jingga seorang gadis cantik yang hidupnya berubah drastis ketika keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang justru menjadi orang pertama yang melemparkannya keluar dari hidup mereoka. Dibuang oleh ayah kandungnya sendiri karena fitnah ibu tiri dan adik tirinya, Jingga harus belajar bertahan di dunia yang tiba-tiba terasa begitu dingin.
Awalnya, hidup Jingga penuh warna. Ia tumbuh di rumah yang hangat bersama ibu dan ayah yang penuh kasih. Namun setelah sang ibu meninggal, Ayah menikahi Ratna, wanita yang perlahan menghapus keberadaan Jingga dari kehidupan keluarga. Davin, adik tirinya, turut memperkeruh keadaan dengan sikap kasar dan iri.
Bagaimanakan kehidupan Jingga kedepannya?
Akankan badai dan hujannya reda ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan malam membuka fakta
Jauh dari kampung tempat tinggal Jingga sekarang,tepatnya di Kota asal kelahiran Jingga.Rumah besar yang dulunya pernah menjadi tempat berlindung seorang Jingga.
Lampu-lampu kristal bergantung megah di langit-langit rumah besar itu. Rumah yang sudah lama menjadi simbol kesuksesan Rian Permana Mahardika,ayah kandung Jingga. Malam itu, halaman luas dipenuhi mobil-mobil mewah. Para tamu berdatangan dengan setelan rapi, senyum profesional, dan obrolan yang terdengar penuh kepentingan.
Jamuan makan malam ini bukan sekadar acara biasa.
Ini adalah malam pengumuman.
Di ruang tamu yang disulap menjadi seperti ruang pesta, Rian berdiri dengan jas hitam elegan. Di sampingnya, seorang perempuan bergaun marun Ratna tersenyum anggun, seolah semua ini adalah kebanggaan yang pantas dirayakan. Di sisi lain, berdiri seorang pemuda dengan postur tegap, wajah tampan, dan tatapan percaya diri.
Davin.
Putra yang akan diperkenalkan sebagai penerus.
“Pak Mahardika, selamat ya. Akhirnya Davin diperkenalkan juga,” ujar salah satu kolega sambil menjabat tangan Rian.
Rian tersenyum puas. “Sudah waktunya. Anak muda harus mulai tampil.”
Ratna menimpali, “Davin memang sudah kami persiapkan lama.”
Tak ada satu pun kursi kosong di ruang makan panjang itu. Hidangan tersaji rapi, mahal, dan menggugah selera. Namun bagi sebagian orang, malam ini bukan tentang makanan melainkan tentang posisi, kekuasaan, dan masa depan.
Di antara para undangan, Arjuna melangkah masuk dengan setelan sederhana tapi rapi. Ia hadir sebagai kolega sekaligus konsultan riset untuk salah satu proyek yang melibatkan perusahaan Mahardika. Undangan itu datang mendadak dua hari lalu.
Arjuna tidak menaruh curiga apa pun.Sampai ia mendengar nama itu disebut.
“Ini Davin, putra saya,” ucap Rian lantang saat semua tamu sudah duduk. “Ke depannya, dia akan mulai terlibat dalam urusan perusahaan.”
Tepuk tangan menggema.
Arjuna ikut bertepuk tangan pelan. Wajahnya tetap tenang, tapi ada sesuatu yang mengusik di dalam kepalanya.
Putra.
Arjuna memperhatikan Davin lebih saksama. Pemuda itu terlihat sebaya dengan adiknya, terlihat lebih muda. Tatapannya percaya diri, gesturnya terlatih jelas bukan baru disiapkan kemarin sore.
“Terima kasih atas kepercayaan Ayah,” ujar Davin. “Saya masih harus banyak belajar, tapi saya akan berusaha sebaik mungkin.”
Ayah.
Arjuna tidak menaruh curiga,namun entah kenapa ia teringat Jingga.
Cara Jingga selalu menghindari cerita tentang ayah kandungnya. Cara matanya meredup setiap kali kata “keluarga” disebut. Cara ia bilang, “Aku cuma punya Kake Arga.”
Arjuna mencoba mengusir pikiran itu.Tidak mungkin, katanya dalam hati.
Makan malam berlangsung lancar. Obrolan bisnis mengalir, tawa terdengar di sana-sini. Namun Arjuna semakin gelisah ketika seorang kolega mendekat dan berbisik santai.
“Pak Rian hebat ya. Dua anak, satu disiapkan di perusahaan, satu lagi katanya sekolah di luar negeri.”
Arjuna refleks menoleh. “Dua anak?”
“Oh iya,” kolega itu tertawa kecil. “Anak perempuannya. Tapi jarang dibicarakan. Katanya sekolah lama di luar, jadi nggak ikut acara keluarga.”
Jantung Arjuna seperti berhenti sesaat.
“Anak perempuan?” ulangnya pelan.Kenapa firasatnya menuju pada Jingga,ia mengingat-ingat kembali dan nama lengkap Jingga terlintas di otaknya. MAHARDIKA...JINGGA ARUNIKA MAHARDIKA.
“Iya. Dari pernikahan pertama, kalau nggak salah. Tapi ya… sekarang kan fokus ke Davin.”
Arjuna kehilangan selera makan.
Ia menatap meja panjang itu. Rian tertawa lepas. Ratna tampak bangga. Davin berbincang percaya diri dengan para tamu. Tidak ada satu pun tanda kehilangan. Tidak ada satu pun ruang kosong yang disisakan.
Kalau Jingga benar-benar anaknya…
Arjuna tidak berani melanjutkan kalimat itu.
Setelah makan malam, para tamu berpindah ke ruang keluarga besar. Minuman disajikan, obrolan menjadi lebih santai. Arjuna berdiri di dekat jendela, menatap taman yang diterangi lampu-lampu kecil.
Ponselnya bergetar nama Jingga sang pujaan hati memenuhi layarnya.
✉️ Kak… kamu lagi sibuk ya?
Arjuna menatap layar lama. Dadanya terasa sesak.
✉️ Iya, ada acara. Kamu kenapa?
Balasan Jingga datang cepat.
✉️ Aku cuma kepikiran Bunda. Tadi lihat foto lama.Aku tiba-tiba ngerasa… aneh.
Arjuna menutup mata.
Jingga… kalau kamu tahu kamu sedang disembunyikan malam ini.
Ia mengetik dengan hati-hati.
✉️ Kamu jangan mikir yang berat-berat dulu ya.Aku di sini, kapan pun kamu mau cerita.
Ia ingin menelepon. Ingin mendengar suara Jingga. Tapi ia tahu, ini bukan tempat yang aman untuk bicara.
Tak lama kemudian, Rian berdiri dan mengetuk gelas.
“Sebelum acara selesai, saya ingin menyampaikan satu hal,” katanya. “Saya harap ke depan, Davin bisa menjadi wajah baru perusahaan kami.”
Tepuk tangan kembali terdengar.Arjuna berdiri kaku di tempatnya.
Ia akhirnya memberanikan diri mendekat ketika acara mulai cair. Ia berdiri di depan Hendra, menunggu momen yang tepat.
“Pak Mahardika,” sapa Arjuna sopan. “Terima kasih atas undangannya.”
Hendra tersenyum profesional. “Ah, Nak Arjuna anda Putra Pak.Wisnu dari Wisnutama . Senang bisa bertemu anda.”
Arjuna ragu sejenak, lalu bertanya dengan nada netral, “Tadi saya dengar… Bapak punya anak perempuan juga?”
Senyum Rian sedikit mengeras. Hanya sedikit, tapi Arjuna menangkapnya.
“Oh. Itu…” Rian berdehem. “Dia sedang sekolah di luar negeri. Sudah lama.”
Ratna menyela cepat, “Iya, anak itu memang lebih suka hidup mandiri.”
Anak itu.
Arjuna menahan napas. “Oh begitu.”
Rian mengangguk singkat. “Tidak terlalu penting untuk urusan bisnis.”
Kalimat itu seperti tamparan.Arjuna mengangguk sopan, lalu mundur. Tangannya mengepal pelan di sisi tubuh.
Tidak penting.
Ia teringat Jingga yang menahan tangis di depan rumah Kake Arga. Jingga yang bilang dirinya hanya numpang hidup. Jingga yang bahkan tidak pernah menyebut kata Ayah tanpa suara bergetar.
Dan sekarang…
Ia tahu kenapa.
Malam semakin larut. Acara mulai bubar.Arjuna pamit lebih cepat dengan alasan pekerjaan.
Begitu masuk ke mobil, ia langsung mengunci pintu dan menghembuskan napas panjang.
“Ya Allah…” gumamnya.
Tangannya gemetar saat mengambil ponsel. Ia ingin langsung menelepon Jingga, tapi ragu. Apa yang harus ia katakan?
Halo, Jingga. Ayahmu barusan bilang kamu tidak penting.
Tidak. Ia tidak sanggup.
Mobil melaju di jalanan kota yang basah oleh sisa hujan. Lampu-lampu jalan memantul di kaca depan, membuat pandangannya sedikit kabur.
Arjuna merasa marah.
Bagaimana mungkin seorang ayah menyembunyikan anaknya sendiri? Menghapus keberadaannya hanya demi citra? Mengganti kata anak dengan sedang sekolah di luar negeri?
Arjuna memukul setir pelan.
“Jingga… kamu seharusnya ada di sana.”
Sesampainya di rumah, Arjuna tidak langsung masuk. Ia duduk di mobil beberapa menit, mencoba menenangkan diri. Akhirnya, ia keluar dan masuk kedalam rumah.
Begitu pintu tertutup, ia langsung bersandar dan menutup wajah.Ia mengambil ponsel.
Kali ini, ia menelepon.
Nada sambung terdengar lama sebelum akhirnya tersambung.
“Halooo…” suara Jingga terdengar pelan, sedikit mengantuk.
Arjuna menelan ludah. “Jingga…”
“Kak? Ada apa? Suara Kakak beda.”
Arjuna duduk di tepi kasur. “Kamu lagi di mana?”
“Di kamar. Kake sudah tidur.”
Hening sejenak.
“Jingga,” suara Arjuna menurun, serius. “Aku mau tanya… ayah mu pernah menghubungi mu atau mencari mu?"
Di seberang, Jingga terdiam lama.
“Nggak,” jawabnya akhirnya. “Kenapa, Kak?”
Arjuna memejamkan mata. “Aku barusan… menghadiri acara keluarga seorang pengusaha.”
“Oh…” Jingga terdengar bingung.
“Dan dia punya anak laki-laki yang diperkenalkan sebagai penerus. Lalu… orang-orang bilang dia juga punya anak perempuan. Tapi katanya… sedang disembunyikan. Alasannya sekolah di luar negeri.”
Hening.
Arjuna mendengar napas Jingga yang sedikit berubah.
“Kak…” suara Jingga bergetar. “Maksud Kakak… apa?”
Arjuna menghela napas panjang. “Aku belum bisa pastikan apa pun. Tapi… nama ayah itu sama dengan nama ayah kamu.”
Sunyi.
Beberapa detik terasa seperti menit.
Lalu, terdengar suara Jingga yang hampir seperti bisikan.
“Jadi… aku memang disembunyikan?”
Arjuna menutup mata. “Aku belum mau kamu menyimpulkan sendiri. Tapi satu hal yang pasti…”
“Apa?”
“Kalau pun mereka menyembunyikan kamu, itu bukan karena kamu tidak berharga.”
Air mata Jingga akhirnya jatuh. Arjuna bisa mendengarnya dari cara napasnya tersengal.
“Aku cuma… capek, Kak,” katanya lirih. “Kenapa selalu aku yang harus disembunyikan?”
Arjuna menggenggam ponsel erat. “Kamu nggak sendirian. Dengar aku. Kamu punya aku. Kamu punya Kake Arga. Dan sekarang… kamu juga punya kebenaran yang mulai muncul.”
Ia menarik napas. “Dan aku nggak akan diam.”
“Kak… jangan bikin masalah karena aku.”
“Ini bukan masalah,” jawab Arjuna tegas. “Ini tanggung jawab.”
Di ujung sana, Jingga terisak kecil. “Aku takut.”
“Aku tahu,” kata Arjuna lembut. “Tapi kamu tidak lagi sendirian menghadapinya.”
Setelah telepon berakhir, Arjuna berdiri dan menatap jendela kamarnya. Kota terbentang luas, dingin, dan penuh rahasia.
Di satu sisi kota, seorang ayah merayakan penerusnya.
Di sisi lain, seorang anak perempuan masih berusaha memahami kenapa keberadaannya harus disembunyikan.
Arjuna mengepalkan tangan.
“Sudah cukup,” gumamnya. “Aku nggak akan biarkan Jingga terus jadi bayangan.”
"Aku akan pastikan dimana posisimu yang seharusnya Jingga "
...🍀🍀🍀...
...🍃Langit Jingga Setelah Hujan🍃...
seiring dgn kebenaran yg coba dihapuskan.
semangat
Arjuna.. Jingga