Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.
Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.
Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.
Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.
Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.
Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mabuk
Mata Tisha terbelalak saat pandangannya jatuh pada tangan Willie. Ada banyak darah di sela-sela jari lelaki itu.
“Pak, tangan Anda kenapa?” tanyanya panik.
Namun Willie tak menjawab. Ia hanya menatap Tisha tanpa berkedip, seolah dunia sekitarnya perlahan menghilang.
Ratih baru muncul. Begitu melihat keadaan Willie, wajahnya langsung pucat.
“Astaga, Tuan…”
Tanpa membuang waktu, Tisha meraih lengan Willie dan berusaha memapahnya menuju sofa. Tubuh lelaki itu terasa berat, membuat langkah Tisha hampir oleng.
Ratih segera menyusul dan membantu menyangga dari sisi lain. Akhirnya Willie didudukkan di sofa.
“Bi, tolong ambilkan kotak P3K,” ucap Tisha cepat sambil tetap menahan tubuh Willie agar tak jatuh.
Tisha menoleh lagi, dahinya mengerut mencium bau menyengat dari napas lelaki itu.
“Sekalian, tolong siapkan air madu, ya.”
“Baik, Bu,” jawab Ratih lalu bergegas.
Tisha berlutut di hadapan Willie, memperhatikan telapak tangan itu dengan saksama. Ada serpihan kaca kecil yang masih menempel, kulitnya robek dan memerah.
“Apa yang Anda lakukan?” tanyanya gelisah.
Willie tetap diam. Tatapannya justru kian lekat pada wajah Tisha. Ujung bibirnya melengkung senyum samar. Ia menikmati perhatian dari gadis itu yang sedikit menenangkan baginya.
Tisha membersihkan darah perlahan dengan kapas basah,menyingkirkan potongan kaca, lalu menekan luka itu dengan lembut sebelum membalutnya.
Ratih kembali membawa segelas air madu.
“Ini air madunya, Bu.”
Tisha menyelesaikan balutan di tangan Willie, lalu mengambil gelas tersebut dan menyodorkannya. Willie memalingkan wajahnya, jelas menolak.
“Pak, minum dulu. Supaya pengarnya berkurang,” bujuk Tisha.
Namun Willie terus menghindar setiap kali Tisha mendekatkan gelas. Kesabaran Tisha akhirnya menipis. Ia meraih wajah Willie dengan kedua tangannya, menahannya agar tak berpaling lagi.
“Minum,” ucapnya lebih tegas.
Ia mendekatkan tepi gelas ke bibir Willie. Beberapa detik kemudian, Willie menyerah. Ia meneguk air madu itu meski sedikit tak sampai setengah gelas.
Willie menghela napas panjang dan memijit pelipisnya. Lalu ia berdiri dengan langkah lunglai dan berjalan ke arah tangga.
“Aku mau tidur,” gumamnya.
Namun baru menginjak anak tangga pertama, tubuhnya oleng. Dalam sekejap, Willie ambruk.
“Tuan!” seru Ratih panik.
Tisha refleks mendekat. Ia bersama Ratih berusaha menopang tubuh Willie yang berat. Dengan susah payah, keduanya membantu pria itu menaiki tangga dan membawanya ke kamar.
Sesampainya di kamar Willie, Tisha perlahan merebahkan Willie ke atas ranjang dan merapikan posisinya. Ratih juga membantu melepaskan sepatu Willie.
“Bu, apa perlu saya bawakan minuman tadi ke sini?” tanya Ratih.
“Iya, Bi. Tolong ya."
Ratih pun melangkah keluar kamar. Tisha menyalakan pendingin ruangan, lalu menyelimutkan Willie hingga dada.
Tiba-tiba mata Willie terbuka.
“Ah..” Tisha refleks mundur setengah langkah.
Willie bangkit dan duduk dengan gerakan mendadak. “Sayang…” ucapnya lirih.
Deg. Jantung Tisha berdegup keras.
“Pak, istirahat saja. Anda masih mabuk,” ujarnya berusaha tenang.
Namun Willie seolah tak mendengar. Dengan gerak cepat, ia meraih pergelangan tangan Tisha, lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
“Pak, sadar, Pak!” Tisha meronta.
Willie justru menguatkan cengkeramannya. Tangannya naik, meraih wajah Tisha, mendekatkan jarak mereka.
Tisha mendorong dadanya keras. “Lepaskan saya!”
Alih-alih mundur, Willie justru menekan tubuh Tisha hingga terdorong ke ranjang. Dalam hitungan detik, gadis itu tertindih di bawah tubuhnya.
“Apa yang Anda lakukan? Lepaskan saya!” ronta Tisha.
Ia mencengkeram otot lengan Willie sekuat tenaga dan mencakarnya. Namun pria itu nyaris tak bergeming.
Willie sempat mengecup pipinya sekali. Entah bagaimana kerudung Tisha ikut tersibak, sehingga leher jenjangnya pun terlihat. Desahan nafas Willie menyentuh tipis leher gadis itu, membuatnya semakin gusar dan ngeri.
"Sadarlah, ku mohon..." pinta Tisha.
Willie berhenti. Ia mengangkat wajahnya, menatap Tisha dengan sorot mata yang kabur namun penuh perasaan.
“Vira…” gumamnya.
Tisha membeku. 'Dia melakukan ini karena mengira aku istri aslinya?'
Willie kembali mendekatkan wajahnya dan hampir menyentuh bibir Tisha.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Willie. Pria itu refleks menyentuh wajahnya sendiri. Cengkeramannya jadi melemah.
Tisha tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia mendorong tubuh Willie sekuat tenaga.
Bruk. Willie terjatuh kembali ke ranjang. Kali ini tubuhnya benar-benar terkulai, ia tak bergerak lagi sedikit pun. Lalu tampak tertidur pulas karena pengaruh alkohol.
Tisha terduduk dengan badan yang gemetar, napasnya terengah. Dadanya masih naik turun menahan sisa ketakutan yang masih memburu.
Beberapa saat kemudian, Ratih masuk membawa gelas air madu yang kini terisi penuh, lalu meletakkannya di meja kecil di samping ranjang. Ia sama sekali tak menyadari apa yang baru saja terjadi pada mereka.
Tisha buru-buru berdiri. Napasnya masih belum sepenuhnya teratur. Sekilas ia melirik ke sisi pipi Willie, terlihat garis goresan tipis disana. Mungkin itu bekas terkena cincin di jarinya saat tamparan tadi.
Dadanya terasa sesak. Tanpa berkata apa pun, ia memberi isyarat pada Ratih. Keduanya segera melangkah keluar dari kamar itu.
Saat Tisha hendak menutup pintu, tangannya tertahan sesaat. Ia menoleh sekali lagi, menatap ke arah dinding kamar.
Disana terpampang bingkai besar foto pernikahan Willie dan Vira. Wajah sang pria tersenyum bahagia di samping perempuan yang kini hanya tinggal kenangan.
Tisha menatap foto itu datar, tak ada iri, tak ada rasa sedih, hanya kesadaran dingin tentang posisinya sendiri.
Lalu ia menutup pintu kamar itu perlahan. Dan malam kembali sunyi, menyimpan luka yang tak terucap di hatinya atas perlakuan Willie barusan.
Tisha menahan langkahnya, lalu menoleh pada Ratih.
“Bi, apa Pak Willie memang sering mabuk?”
Ratih langsung menggeleng. “Tidak, Bu. Jarang sekali. Beliau biasanya hanya minum sedikit kalau ada pertemuan dengan rekan bisnisnya.”
Jawaban itu justru membuat dahi Tisha berkerut. Penampilan Willie tadi terlihat santai, tak ada tanda-tanda khusus seperti sehabis bertemu dengan rekan bisnis.
Willie pun tadi bertindak terlalu sembarangan untuk sekadar minum biasa. Ia mabuk parah dengan luka di tangannya, tatapan matanya terlihat kehilangan fokus, dan jelas ia seperti baru saja meluapkan amarah pada sesuatu.
Ada banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan. Namun saat melihat Ratih menguap kecil dan memijat tengkuknya, Tisha menahan diri.
“Bibi istirahat saja,” ucapnya akhirnya.
Ratih mengangguk. “Ibu juga. Saya permisi.”
Langkah perempuan itu menjauh.
Tisha berdiri seorang diri. Pandangannya terangkat lagi ke arah kamar di lantai atas. Rasa kesal tadi belum juga reda.
“Berani sekali ia menyentuhku begitu.” dengusnya.