Kalau kau tidak mencintaiku kenapa kau menikahi ku gus ?
Kenapa kau tak merelakan aku bersama teman mu yang mencintaiku ?
Kau mengikat ku dalam hubungan yang menyakitkan !
Anisa Az-Zahra seorang gadis biasa yang terpana dengan bahu seorang laki-laki saat hari terakhir OSPEK, dia memendam rasa pada laki-laki tersebut yang kemudian ia mengetahui namanya yaitu Muhammad Ali Haidar yang merupakan seorang gus besar.
Sampai akhirnya Zahra menikah dengan Ali, tapi kehidupan setelah menikah tak seindah yang Zahra bayangkan karena dalam hati Ali terdapat nama wanita lain yaitu Selly bahkan nama Zahra pun tak tertera dalam hati Ali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfi Syafa'ati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 BARU TERASA !
Setelah semua situasi yang memanas ini mereda, Umi mengajakku duduk di sofa ruang tamu.
"sayang maafin Umi ya, gara-gara keinginan Umi ini kamu terikat dalam hubungan yang menyakiti kamu" kata Umi sambil menggenggam tangan ku
"Iya Umi, ini semua bukan salah Umi kok, ini semua memang sudah kehendak Allah" ucapku
"Iya sayang, sekali lagi maafkan Umi harus memisahkan kamu dengan Ali untuk sementara waktu ini" kata Umi
"Iya Umi Ra ikhlas, Ra sama sekali nggak keberatan kok, kalau itu untuk kebaikan Mas Ali" jawabku
"Iya sayang terima kasih, telah sabar menghadapi semua rasa sakit yang Ali berikan kepada mu" ucap Umi
"Iya Umi, oh ya ngomong-ngomong tadi Umi sudah berapa lama mendengar percakapan Ra sama Mas Ali" tanya ku pada Umi
"Dari awal sayang, tadi mobil kita berpapasan dengan mobil Selly, Umi sudah punya firasat kalau ada Selly pasti akan ada sesuatu yang akan terjadi, kemudian Abah tadi nyuruh supir untuk lebih cepat melajukan mobil dan benar saja, Allah menyayangi kamu sayang sehingga Allah menunjukkan itu semua kepada Abah dan Umi, rasanya Umi masih tidak percaya dengan semua yang Umi lihat tapi memang itu yang terjadi, Umi hanya bisa mendoakan untuk kebahagiaan dan kebaikan kalian" ucap Umi
..
Malam ini aku membereskan sebagian barang-barang ku untuk ku bawa ke rumah Bunda, ya mungkin aku hanya akan membawa beberapa baju karena di rumah Bunda masih ada sebagian baju di lemari kamarku.
Ketika aku sibuk mempersiapkan semua itu Mas Ali datang, kulihat wajahnya masih terpuruk dengan kejadian tadi, jujur aku tidak tega meninggalkan Mas Ali dalam keadaan seperti ini, tapi apalah daya ku, aku tak mungkin tidak menuruti perintah Umi.
"Ra .. " panggilnya
"Iya Mas, Mas masih sakit ? “ tanyaku khawatir
"Rasa sakit ku tak seberapa dengan rasa sakit mu Ra" katanya
"Sudah Mas jangan di ungkit-ungkit lagi, sekarang waktunya kita saling memperbaiki diri, saling intropeksi diri, saling memantaskan satu sama lain, jadi sudah ya" kataku pada Mas Ali
"Jujur Ra sebaik ini kamu sama aku, tapi aku memang belum mencintai mu, beri aku waktu satu kali lagi untuk belajar mencintai mu, belajar mencintai mu walau kau tak disamping ku" ujar Mas Ali
"Iya Mas, aku tidak memberi batasan untuk itu, aku selalu memberi kesempatan pada mu" kataku
"Entah aku juga tak mengerti dengan diriku sendiri, memang aku belum mencintai mu Ra, tapi kenapa aku sulit untuk berpisah dengan mu, jikalau ini bukan perintah Umi pasti tak ku izinkan kau pergi" ucap Mas Ali
"Mas ingsyaallah apa yang di putuskan Umi itu tidak salah, kadang kita akan merasakan pentingnya kehadiran seseorang di samping kita setelah seseorang tersebut pergi dari samping kita" jelas ku pada Mas Ali.
"Iya Ra, sekali lagi maafkan aku, dan berdoalah semoga aku dapat secepatnya mencintai mu" ucap Mas Ali
"Aamiin akan selalu aku doakan Mas" kataku
Setelah perbincangan itu aku dan Mas Ali memutuskan untuk tidur.
"Mas kamu tidur di ranjang dulu ya agar kamu segera pulih, biar aku tidur di sofa malam ini" kataku pada Mas Ali
"Nggak usah di sofa itu tidak nyaman Ra biar aku saja yang tidur di situ" kata Mas Ali
"Nggak papa Mas, Mas aja bisa tidur di sini masak Ra nggak bisa" jawabku
"Ya udah kalau itu mau mu, maaf aku selalu merepotkan mu" kata Mas Ali yang ku jawab hanya dengan anggukan dan senyuman
Tak lama kemudian aku sudah terlelap dalam mimpiku, tapi tiba-tiba aku merasakan sesuatu berada di kepalaku.
"Maafkan aku yang telah memberi duka padamu, ketika menikah ku doakan agar kamu sabar dalam menghadapi ku, namun kamu terlalu sabar, sabar mu melebihi apa yang aku bayangkan" kata Mas Ali yang ternyata tangannya mengelus-elus kepalaku
Rasanya aku mau terbang waktu itu, pipiku sudah mulai memerah dan jantungku sudah berdetak begitu cepatnya, semoga Mas Ali tak mendengarnya.
..
Pagi harinya aku bersiap-siap menuju rumah Bunda, sebelum kita berangkat aku berpamitan dengan Mas Ali dan ku kecup punggung tangannya kemudian ku ucapkan kata salam, setelah Mas Ali menjawabnya aku berangkat menuju rumah Bunda.
Di dalam mobil aku melihat Mas Ali berdiri menyaksikan kepergian ku, rasanya hatiku menolak untuk berpisah dengan Mas Ali seperti ini. Tak terasa air mata ku menetes.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Umi
"Nggak papa kok Umi" jawabku
"Jangan disembunyiin, Umi tau kamu sedih kan harus pisah dengan Ali, sabar sayang ini cuma untuk sementara biar dia sadar dengan kelakuannya" ucap Umi memenangkan ku
"Iya Umi" kataku
..
Setelah beberapa jam perjalanan, aku Abah dan Umi sampai dirumah Bunda dan Ayah, tampaknya Bunda dan Ayah sudah menantiku.
"Assalamu'allaikum Bunda Ayah" kataku sambil memeluk Bunda dan Ayah
"Waalaikumsallam sayang" jawab mereka bersamaan
"Ra kangen banget sama Ayah dan Bunda" kataku
"Iya Ayah dan Bunda juga kangen banget sama kamu," kata Bunda
"Tapi udah dong meluknya, nggak malu tu dilihatin mertua kamu?, udah punya suami tapi kelakuannya masih kaya anak-anak" ucap Ayah
"Ya kan Ra kangen Yah" jawab ku dengan melepaskan pelukan ku pada Ayah dan Bunda
"Asslamu'allaikum Mas Mbak" salam Umi dan Abah pada Ayah dan Bunda
"Waalaikumsallam Mbak, ayo silahkan masuk Mas Mbak, nggak enak kalau diluar kaya gini" jawab Ayah dan Bunda dan mempersilahkan Abah dan Umi masuk
"Iya Mbak terima kasih" jawab Umi
Kami duduk ngobrol-ngobrol diruang tamu, Umi dan Abah menjelaskan semua yang terjadi pada ku juga Mas Ali. Respon pertama Ayah dan Bunda memang terkejut tapi setelah Umi menjelaskan semuanya dengan rinci Ayah dan Bunda memahaminya dan mencernanya, Setelah lumayan lama ngobrol Abah dan Umi berpamitan untuk pulang.
..
Saat Abah dan Umi sudah sampai di rumah mas Ali tampak tak sabar ingin bertanya tentang respon Ayah dan Bunda.
"Umi Abah, capek ya" tanyanya
"Iya lumayan capek" jawab Umi
"Umi bagaimana respon Ayah dan Bunda, apa mereka mau menerima permintaan maaf Ali? " tanyanya
"Iya mereka memaklumi semua itu Al, tapi kekecewaan pastinya tidak bisa mereka ingkari" kata Umi
"Iya Umi Ali paham itu" ucapnya
..
Keesokan harinya seperti biasa Mas Ali mandi dan bersiap untuk mengisi ngaji pagi dengan para santri, tapi terjadi kebingungan di situ.
"Aduh dimana sih baju koko ku, celana dalam ku juga nggak ada, dimana Zahra menyimpannya" gerutunya
"Ahh biasanya kalau setelah mandi Zahra sudah menyiapkannya untuk ku tapi sekarang dia sedang si rumah Ayah dan Bunda" katanya sambil mengingat-ingat setiap kali aku menyiapkan baju ganti untuknya
"Ehh ngapain sih dari tadi aku inget-inget Zahra terus" katanya yang dengan sadar Mas Ali ucapkan
Setelah beberapa saat Mas Ali mencari pakaiannya, akhirnya ketemu juga. Kemudian Mas Ali berjalan menuju ruang makan untuk sarapan.
"Kamu kenapa Al" tanya Umi yang sadar dengan wajah besungutnya Mas Ali
"Bad mood Mi, dari tadi cari baju ganti nggak ketemu-ketemu" kata Mas Ali
"Lah itu baru aja ketemu padahal waktunya mepet banget mau ngajar ngaji pagi" jelas Mas Ali
"Lah kamu juga aneh kok orang baju sendiri nggak tau dimana naruhnya" kata Umi
"Orang Ali tu nggak pernah ambil baju sendiri Umi, biasanya udah disiapin Zahra, Ali tinggal pakai aja" jawab Mas Ali tanpa sadar yang membuat Abah dan Umi saling bertatapan dan tersenyum penuh makna
"Ya udah cepet sarapan kasian nanti santri-santri kelamaan nunggu kamu" ujar Umi
Mas Ali mengambil nasi dan beberapa lauk yang disediakan di atas meja makan, sepertinya nafsu makannya tinggi setelah capek mencari baju tadi sehingga Mas Ali mengambil porsi yang cukup banyak.
"Emmm kok rasanya aneh sih Mi.. nggak kaya biasanya" kata Mas Ali
"Iya itu masakan mbak-mbak pondok, kalau biasanya masakannya enak itu karena Zahra ya masak" kata Umi yang membuat Mas Ali sedikit tersedak kemudian ia sembuhkan dengan air minum, Mas Ali memutuskan untuk mengakhiri sarapannya dan berjalan menuju aula untuk mengajar ngaji.
entah q ny yg bapran ato novel ny yg bnyk bwang