Apakah persahabatan laki-laki dan perempuan itu ada? Apa akan semurni persahabatan sesama perempuan? Bagaimana kalau setiap persahabatan yang ditawarkan memiliki tujuan terselubung demi kebaikan diri sendiri? Apakah Kamidia mampu menebarkan kehangatan hatinya pada setiap orang yang telah memanfaatkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Tok...Tok...
"Boleh masuk Mbak?" Nani tersenyum di depan pintu kamar Ami.
Ami yang sedang asyik membaca majalah Aneka mengangkat wajahnya. "Eh Nani... Masuk sini." Ami bangun dan menepuk sisi sebelah tempat tidurnya yang kosong.
"Baca jangan sambil tiduran Neng. Bisa rusak mata lo." Nani pun duduk di tempat yang Ami tepuk barusan.
"Iya Bu Guru." Ami melipat majalahnya dan menaruhnya asal di atas tempat tidur.
"Tumben malam minggu lo gak jalan sama pacar lo yang guanteng itu. Si Bagas ya kalo gak salah namanya." Ami memang beberapa kali berpapasan di jalan dengan Nani saat hendak pergi menemani Bagas deketin Melisa.
"Bukan pacar itu mah cuma temen. Udah break hubungan gue sama Dia. Sekarang malam minggu gue di rumah aja gak kemana-mana. Ayo kita nyanyi-nyanyi dan main gitar, oke?" Ami mengambil gitar miliknya yang di letakkan di samping lemari.
Nani yang nyanyi dan Ami yang memainkan gitarnya. Gak buruk juga loh habisin waktu bermalam minggu tanpa cowok.
"Ni, setelah lulus kuliah nanti lo gimana?" tanya Ami setelah mereka selesai memainkan satu buah lagu.
"Gimana apanya? Ya nyari kerjalah. Siapa juga yang bakalan biayain gue kuliah. Lo tau sendiri kondisi keuangan orang tua gue gimana. Kalo lo mah enak ya pasti lanjut kuliah deh."
Ami menatap Nani dengan pandangan kosong. Kuliah? Dirinya? Apa diijinkan?
"Gue belum siap kerja Ni. Mental gue belum siap. Gue masih mau belajar, tapi lo tau sendiri Bokap gue gak bakal biayain gue. Ada Akbar yang menjadi prioritas mereka. Apalah gue ini...."
"Jangan gitu Mi. Lo kan belum nyoba minta sama orang tua lo. Gue yakin kok mereka mau biayain lo kuliah. Niat lo kan mau belajar. Coba aja dulu ngomongin baik-baik sama Bokap lo."
Ami terus merenungkan perkataan Nani yang dipikirnya ada benarnya juga. Selama ini dirinya berpikir kalau tidak akan mungkin Pak Budi mau membiayai kuliahnya, karena Ia belum coba bertanya. Ya, Ami akan usaha dulu, siapa tahu Pak Budi mau biayai sekolahnya.
******
Pak Budi sedang asyik menikmati sarapan paginya yakni ikan asin gabus dan tempe goreng. Dicuil-cuilnya sedikit demi sedikit ikan asin yang seingat Ami sudah 3 hari tapi masih belum habis juga.
"Gak lembur Pak?" Ami ikut bergabung menikmati segelas susu cokelat milik Ibu Budi yang dengan tanpa dosa Ia seruput. Ibu Budi hanya mendelik melihat kelakuan anak bungsunya. Akhirnya Ia membuat lagi susu cokelat yang baru.
"Lagi gak ada lemburan. Tumben kamu bangun pagi Mi. Biasanya juga adzan dzuhur baru bangun." sindir Pak Budi. Anak gadisnya ini memang hobby bangun siang kalau libur sekolah.
"Pak." Ami agak ragu melanjutkan perkataannya. Ia tahu bicara masalah uang saat Pak Budi sedang makan sama saja dengan menyiram bensin ke atas api.
"Kenapa? Mau minta uang jajan? Minta sama ibu kamu sana." Pak Budi tahu kemana arah pembicaraan Ami.
"Bukan mau minta uang jajan Pak. Ami..... Ami mau kuliah Pak. Boleh?" tanya Ami dengan takut-takut.
Sebenarnya Bapak Budi tidak semenyeramkan seperti bapak-bapak killer pada umumnya. Seumur hidup Ami tidak pernah dipukul oleh Bapaknya. Hanya dengan dipelototi Bapak Budi saja Ami sudah takut dan langsung menurut. Tapi kali ini Ami terpaksa melakukannya. Ia harus ngomong sekarang kalau tidak akan telat nantinya.
Pak Budi meneguk teh manis hangat yang Ibu Budi sediakan. Ibu Budi hanya diam saja berpura-pura sedang menyapu ruang tamu padahal diam-diam Ia menguping pembicaraan Ami dan suaminya.
"Buat apa kamu kuliah Mi? Kamu kan anak perempuan. Ngapain sekolah tinggi-tinggi? Nanti kan kamu ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga kayak kakak kamu. Kalau kamu mau uang jajan lebih nanti Bapak kasih. Gak usah kuliahlah." Bapak Budi melanjutkan lagi makannya. Ia diam-diam memperhatikan perubahan raut wajah Ami yang menjadi murung.
Ami menundukkan wajahnya. Air matanya tak kuasa Ia tahan. Ia sedih. Kenapa hanya karena Ia perempuan makanya Ia tidak perlu kuliah? Apa salahnya kalau perempuan mau maju? Apa salahnya kalau perempuan juga ingin berkarir dan mencari uang sendiri? Apa kuliah hanya berdasarkan gender saja?
"Memangnya Ami gak boleh kuliah Pak? Ami pengen kuliah kayak cewek-cewek lain." kata Ami dengan suara yang bergetar menahan kesedihannya.
"Ah paling kamu cuma pengen kuliah karena kampusnya deket sama Mall kan? Biar bisa jalan-jalan ke Mall? Kan Bapak bilang kalau kamu mau jajan buat ke Mall nanti uangnya Bapak kasih. Terserah kamu mau jajan apa. Gak perlu sampai kuliah segala." Pak Budi bukan tidak mengerti keinginan Ami, hanya saja menurut pemikiran Pak Budi, Ami tidak perlu bersusah payah kuliah, Ia yang akan membiayai uang jajannya.
Namun pemikiran Ami berbeda. Ia ingin mandiri. Ami merasa ilmu yang Ami peroleh di sekolah kurang banyak. Meskipun Ami pintar tapi Ami masih haus akan ilmu pengetahuan.
"Pokoknya Ami mau kuliah. Titik!" Ami pun meninggalkan meja makan dan masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu kamar. Ia pun mengunci pintu dan menangis di dalamnya.
Seharian Ami ngambek tidak keluar kamar. Ia hanya keluar untuk pipis dan minum air putih saja. Pokoknya Ia harus mengajukan protes pada Pak Budi.
Selama ini Ami berpikir kalau Pak Budi itu berbeda dibanding Ibu Budi. Ibu Budi memang tidak perlu menutupi kalau Ia memang pilih kasih pada Akbar. Ami pikir Bapak Budi tidak seperti itu. Tapi ternyata? Bapak Budi juga memperlakukan Ami sama saja.
Memang apa salah Ami kalau Ia terlahir sebagai perempuan? Apa Ami yang menginginkannya? Ini bukan salahnya sampai Ia terlahir sebagai seorang perempuan. Namun kenapa di mata kedua orang tuanya terlahir sebagai perempuan bisa diperlakukan dengan tidak adil?
Apa kurang cukup dengan membedakan perlakuan antara dirinya dengan Akbar? Ami membiasakan dirinya tidak iri dengan segala yang Akbar miliki, karena apa? Karena Ami tidak mau hatinya menjadi keruh dengan sifat iri dan dengki yang nantinya hanya membuatnya sakit hati.
Sekali saja.... Hanya sekali saja... Ijinkan Ami mewujudkan keinginannya. Ia ingin bisa bekerja di salah satu gedung bertingkat di daerah Sudirman Jakarta. Bekerja dengan memakai rok dan blazer di salah satu perusahaan besar. Dengan ijazah SMK nya paling Ia hanya bisa jadi kasir atau admin di perusahaan kecil, itu pun hanya sebagai karyawan outsourcing. Kalau Ia kuliah dan menjadi sarjana kan Ia bisa mewujudkan mimpinya. Tidak salah kan?
Ami menghapus air matanya yang sejak tadi tidak berhenti mengalir. Perutnya mulai mual. Ia pun segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Ya, Ami akan muntah jika kelamaan menangis.
Suara Ami yang sedang muntah di dengar oleh Pak Budi yang sedang membaca koran Poskota di depan TV Toshiba layar cembungnya yanh masih ada konde do belakangnya. Pak Budi sudah tidak konsentrasi membaca koran lagi. Pikirannya kini bercabang, memutuskan akan mengijinkan Ami kuliah atau tidak.
awas, nti aku hrs dpt royalti loh thor 😁😁