Anya seorang perempuan kaya yang harus meninggalkan semuanya yang dia miliki karena sakit hati yang dia punya kepada Adi. Dia memilih menghilang dari kehidupan masa lalunya dan memulai segala sesuatunya dari nol. Akankah dia bertemu dengan kekasih baru dan mempunyai kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia Arinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bermain-main
Tok tok tok
"Masuk".
Rara masuk ke dalam ruangan Pak Budi. Dia langsung duduk di kursi depan meja Pak Budi.
"Tuan ada yang ingin saya bicarakan", kata Rara ragu ragu melihat tuannya sedang sibuk dengan dokumennya.
"Ada apa Nak? Sepertinya ada sesuatu yang penting", Pak Budi menutup dokumen di depannya dan memasukkan dalam map.
"Ini tentang Adi. Tapi saya takut ketika saya memberitahu Tuan dan Nyonya, nanti kesehatan Nyonya akan memburuk lagi. Ini ada kaitannya dengan Nona Anya", Rara menunduk tidak berani melihat ke arah Pak Budi.
"Tenang saja Nak, Bapak dan Ibu sudah yakin Anya baik baik saja. Kami yakin anak kami itu anak yang kuat, mungkin disuatu tempat entah dimana dia kini berada, dia mengalami kesulitan. Tapi kami dan kamu juga pasti tahu, sesulit apapun itu Anya pasti akan menghadapinya", Pak Budi tersenyum menatap Rara yang masih tertunduk. "Ceritakan saja Nak apa yang kamu tahu tentang Adi dan Anya".
Rara mengangkat kepalanya dan menatap wajah Pak Budi. Lalu diambilnya HP di saku blazernya. Dia memegang sebentar HPnya seperti mencari sesuatu.
"Ini Tuan", Rara menyodorkan HP nya kepada Pak Budi. Pak Budi menerima HP tersebut, ia menggeserkan layar HP beberapa kali dan seketika sorot matanya berubah menjadi penuh amarah.
"Tolong jelaskan ini Ra", kata Pak Budi dengan menahan amarah.
"Dua hari yang lalu saat kita akan meeting dengan client untuk proyek baru kita di restoran hotel, apa Tuan mengingatnya?", Pak Budi mengangguk. Rara menghela nafas panjang sebelum bercerita lagi.
"Saat itu saya meminta ijin Tuan untuk mendapatkan bukti baru tentang masalah yang dihadapi Nona Anya. Saat itu saya melihat Adi di meja resepsionis bersama perempuan itu. Perempuan yang sama dengan foto beberapa waktu lalu. Kemudian saya mengajak beberapa bodyguard Tuan untuk membantu saya. Kami lalu mencari tahu di kamar berapa mereka berada. Kami ke lantai dimana mereka berada, kami menunggu agak lama sampai akhirnya kami memutuskan untuk mendatangi kamar tersebut", Rara menghentikan ceritanya. Dilihatnya raut wajah Pak Budi semakin merah menahan amarah.
"Ketika kami masuk, mereka baru saja selesai melakukannya Tuan", Rara menundukkan wajahnya takut melihat tangan Pak Budi yang sudah mengepal, amarah seolah sudah menguasainya.
"Perempuan itu bernama Bella, teman kuliah Adi. Dia mengaku sebagai pacar Adi tetapi Adi tidak mengakuinya. Kemungkinan Nona Anya pergi dari rumah karena tahu hubungan Adi dengan perempuan tersebut", Rara mengakhiri ceritanya.
"Cari bukti lebih banyak lagi Ra. Cari tahu sejauh apa hubungan mereka dan sejauh apa keluarga mereka terlibat dalam hubungan mereka. Aku ingin membuat perhitungan kepada mereka", Pak Budi mengepalkan tangannya kembali. "Mereka tidak tahu diri sekali setelah apa yang Anya lakukan pada keluarga mereka".
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi", Pak Budi mengangguk. Rara berdiri dan keluar dari ruangan direktur. Rara mengambil ponsel dan menelpon seseorang.
"Cari lagi bukti lainnya. Jangan ada yang terlewat". Rara lalu menutup ponselnya.
**
Anya pergi ke ruang HRD setelah sebelumnya bertanya ke Cindy tentang absensi fingerprint. Anya masuk dan mencari Bu Hilda yang mengurusi absensi karyawan. Namun ternyata Bu Hilda sedang keluar. Nisa yang tahu Anya sedang mencari Bu Hilda akhirnya mempunyai rencana licik.
"Sini aku bantu buat absensi", kata Nisa melihat Anya hendak keluar.
"Terimakasih, nanti saja kalau Bu Hilda sudah kembali", kata Anya.
"Bu Hilda sedang cuti hamil, kamu mau menunggu 2 bulan lagi. Dan selama 2 bulan kamu tidak mau dibayar?", Nisa tersenyum licik.
Anya berfikir sejenak dan menyetujui usulan Nisa tanpa berfikiran macam macam. Anya pun melakukan rekaman sidik jari untuk absensi. Setelah selesai Anya pergi, Nisa tersenyum senang melihat rencananya berhasil.
Anya kembali ke ruangannya, banyak dokumen yang harus dia selesaikan. Sesekali dia memanggil karyawan yang lain jika dia butuh bantuan atau butuh dokumen lain yang mendukungnya. Cindy juga beberapa kali keluar masuk ruangan Anya. Tanpa terasa jam kerja sudah selesai.
"Bu Anya sudah waktunya pulang. Bu Anya tidak pulang?", Cindy masuk ke ruangan Anya untuk memberikan laporan hasil analisisnya.
"Bentar lagi Cin, nanggung ni. Oh ya panggil Anya aja kalau lagi berdua. Kita umurnya gak jauh beda lho", kata Anya tersenyum.
"Memang umur Bu Anya berapa?", tanya Cindy heran.
"23 tahun"
"Sama dong", Cindy keceplosan lalu menutup mulutnya.
" Makanya panggil Anya aja kalau lagi berdua gini", Anya tersenyum. "Aku pengen kamu jadi temenku. Aku gak ada temen di kantor ini".
"Baiklah kalau itu mau Bu Anya, eh maksudku Anya", Cindy pun ikut tersenyum.
" Akhirnya selesai juga", Anya lalu mematikan laptop di depannya. "Ayo pulang bareng Cin".
"Baiklah", mereka pun turun bersama. Sebelum keluar departemen marketing mereka absen pulang dulu.
" Anya, kok punyamu keterangannya visitor", kata Cindy melihat ada yang aneh pada keterangan data karyawan milik Anya.
"Benarkah?". Anya lalu mencoba lagi dan ternyata benar. " Cindy kamu punya HP? Tolong fotokan ini sebagai bukti. Besok aku urus".
"Nisa, kau mau bermain-main denganku? Kamu salah pilih lawan", gumam Anya dalam hati.
______________
jangan lupa vote, like dan share nya teman teman. jadikan juga sebagai salah satu novel favorit semua pembaca.
terimakasih semuanya.
follow IG : @widiaarinta
sukses
semangat
keren dan mantap