Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.
Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.
Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Penggoda
Hari itu tepat menandai sepuluh tahun perjalanan pernikahan Arslan dan Zulfa. Sepuluh tahun yang tidak selalu mudah, tetapi selalu berhasil mereka lalui bersama. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Arslan kembali menyiapkan kejutan kecil untuk wanita yang masih menjadi pusat dunianya hingga hari ini.
Bukan pesta mewah, bukan pula hadiah fantastis yang bisa membuat orang lain berdecak kagum. Arslan tahu betul bahwa kebahagiaan Zulfa tidak pernah diukur dari kemewahan semata. Karena itu, setiap malam peringatan hari pernikahan mereka, ia selalu mengajak istrinya makan malam di restoran favorit yang menyimpan begitu banyak kenangan.
Sederhana. Namun selalu berkesan. Sebab ada satu tradisi yang tidak pernah Arslan lewatkan selama sepuluh tahun terakhir. Menyanyikan lagu khusus untuk Zulfa, lagu yang terkadang berbeda setiap tahun. Lagu yang liriknya seolah menceritakan perjalanan mereka. Lagu yang selalu berhasil membuat mata Zulfa berkaca-kaca sebelum malam berakhir.
Tak banyak orang yang mengetahui sisi lain dari seorang Arslan. Di balik sosok pengusaha sukses yang dikenal tegas dan berwibawa, tersimpan bakat yang bahkan membuat banyak orang terkejut saat pertama kali mendengarnya.
Arslan memiliki suara yang luar biasa indah. Suara bariton yang dalam, hangat, dan berkarakter. Setiap kali ia bernyanyi, nada demi nada mengalun begitu sempurna seolah musik memang telah menjadi bagian dari dirinya sejak lama.
Kini, panggung-panggung sekolah berganti menjadi ruang rapat dan meja negosiasi. Sorak sorai penonton berganti dengan laporan keuangan dan target perusahaan. Lambat laun, Arslan meninggalkan hobinya itu. Bahkan kini ia hampir tidak pernah lagi bernyanyi di depan banyak orang.
Jika ada satu-satunya orang yang masih beruntung mendengar suara emasnya secara langsung, maka orang itu adalah Zulfa. Karena bagi Arslan, tidak ada penonton yang lebih penting daripada istrinya sendiri. Tidak ada tepuk tangan yang lebih berarti daripada senyum wanita yang telah menemaninya selama sepuluh tahun terakhir.
Dan tidak ada panggung yang lebih ia sukai selain duduk berdua dengan Zulfa, lalu menyanyikan lagu cinta yang hanya ditujukan untuk satu orang. Kadang-kadang Zulfa juga berpikir hal yang sama seperti kebanyakan orang. Untung saja suaminya tidak lagi gemar tampil di depan publik.
Sebab jika Arslan masih aktif bernyanyi seperti dulu, mungkin jumlah perempuan yang diam-diam mengaguminya akan jauh lebih banyak dari sekarang. Bagaimana tidak? Suara pria itu memiliki daya tarik yang sulit dijelaskan. Dalam, hangat, dan maskulin. Bahkan ketika sedang berbicara saja, suaranya begitu enak di dengar. Apalagi saat ia mulai menyanyikan lagu-lagu cinta dengan tatapan yang tak pernah lepas dari wajah istrinya.
Dan seperti setiap tahun yang telah mereka lewati bersama, malam ini pun Zulfa tahu bahwa Arslan akan kembali menyanyikan sebuah lagu. Lagu yang mungkin sederhana. Namun selalu berhasil mengingatkannya pada satu hal. Bahwa setelah sepuluh tahun berlalu, ia masih menjadi perempuan yang sama di mata suaminya. Perempuan yang tetap dicintai dengan utuh, seperti hari pertama mereka mengucapkan janji suci di hadapan Tuhan.
Untuk perayaan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-10 kali ini, Arslan tidak ingin malam istimewa itu terasa seperti perayaan-perayaan sebelumnya. Ia ingin menciptakan sesuatu yang lebih berkesan. Sesuatu yang akan terus diingat oleh Zulfa bertahun-tahun kemudian.
Karena itu, jauh-jauh hari Arslan telah menyewa jasa seorang party planner profesional untuk menyiapkan seluruh rangkaian acara makan malam mereka. Ia memilih salah satu hotel bintang lima paling prestisius di ibu kota sebagai lokasi perayaan. Restoran yang dipilih berada di lantai paling atas gedung, sebuah area rooftop eksklusif yang menawarkan pemandangan gemerlap lampu kota dari segala arah.
Pada malam hari, tempat itu terlihat begitu memukau. Langit malam menjadi atapnya. Bintang-bintang menjadi penghiasnya. Sementara lautan cahaya kota membentang sejauh mata memandang. Arslan bahkan menyewa seluruh area outdoor restoran tersebut agar acara mereka berlangsung secara privat.
Seluruh area malam itu hanya diperuntukkan bagi dirinya dan Zulfa. Para tamu hotel yang hendak menikmati makan malam di restoran tersebut pun telah diarahkan ke restoran lain yang tersedia di dalam hotel.
Untungnya, hotel mewah itu memiliki beberapa pilihan restoran sehingga kebijakan tersebut tidak menimbulkan masalah berarti. Setelah seluruh konsep acara disepakati, Arslan menyerahkan urusan dekorasi dan pelaksanaannya kepada tim party planner yang telah ia pilih.
Harga yang dibayarkannya memang tidak murah. Namun Arslan percaya hasilnya akan sepadan.Lagi pula, ia tidak ingin menghabiskan terlalu banyak waktu mengurus detail acara karena masih memiliki segudang pekerjaan yang menantinya.
Dan benar saja. Beberapa hari menjelang perayaan, jadwalnya kembali padat. Pagi itu Arslan baru saja menyelesaikan kunjungan ke salah satu pabrik milik perusahaannya bersama jajaran manajemen dan orang-orang kepercayaannya.
Sesampainya di gedung kantor pusat, ia langsung melangkah menuju lift khusus eksekutif. Pintu lift terbuka tepat di lantai sepuluh, lantai yang seluruh areanya digunakan sebagai kantor direksi. Arslan berjalan melewati koridor dengan langkah mantap.
Para karyawan yang berpapasan segera menyapa dengan hormat.
"Selamat siang, Tuan Arslan."
Arslan hanya membalas dengan anggukan singkat sebelum melanjutkan langkah menuju ruang kerjanya. Tak lama kemudian, ia memasuki ruangan luas yang didominasi nuansa modern dan elegan. Dinding kaca membentang dari lantai hingga langit-langit, memperlihatkan panorama kota yang sibuk dari ketinggian.
Di belakang meja kerjanya yang besar, berdiri Vania, sekretaris pribadinya, yang sedari tadi sudah menunggu sambil membawa tablet berisi jadwal kegiatan serta beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangan.
"Selamat siang, Tuan"
"Siang."
Arslan meletakkan jasnya di sandaran kursi lalu duduk di kursi kerja yang menjadi simbol otoritasnya sebagai pemimpin perusahaan. Vania segera mulai menjelaskan agenda yang harus ia hadiri hari itu. Namun sebelum wanita itu selesai berbicara, perhatian Arslan sempat teralihkan.
Keningnya berkerut tipis, matanya menelusuri penampilan sang sekretaris dari atas hingga bawah. Profesional memang, tetapi menurut standar Arslan, pakaian yang dikenakan Vania hari itu sudah berada di batas yang tidak pantas untuk lingkungan kerja formal.
Potongan roknya terlalu ketat, blus yang dikenakan juga lebih cocok untuk menghadiri acara sosial dibandingkan rapat bisnis. Padahal hari itu beberapa rekan bisnis penting dijadwalkan datang ke kantor. Arslan mengembuskan napas pelan. Ia sebenarnya tidak suka mencampuri urusan pribadi karyawannya.
Namun sebagai pimpinan perusahaan, ia juga memiliki tanggung jawab menjaga citra profesional di lingkungan kerja. Terlebih lagi, ini bukan pertama kalinya ia memperhatikan hal serupa. Mungkin sudah saatnya ia berbicara langsung dengan sekretarisnya itu. Bukan sebagai pria kepada wanita, melainkan sebagai atasan kepada bawahannya. Arslan meletakkan pulpen yang sedari tadi digunakannya untuk menandatangani beberapa dokumen lalu mulai menegur Vania.
"Vania, apa kamu nggak bisa berpenampilan lebih sopan sedikit kalau ke kantor? Apa kamu nggak risih sama penampilan kamu yang seperti itu?"
"Loh, memangnya ada yang salah dengan pakaian saya, Pak? Saya sudah pakai rok selutut dan blouse lengan panjang. Bukannya ini masih termasuk sopan?" Vania nampak kebingungan dengan ucapan atasannya itu.
"Sopan katamu!! Apa kamu nggak merasa sesak dengan pakaian seketat itu?" Arslan menghela napas pelan, Tatapannya mengarah pada penampilan sang sekretaris.
"Pakaian kerja seharusnya bisa buat orang fokus ngelihat kinerjamu, bukan ngelihat bentuk tubuhmu. Atau lebih baik kamu pakai jilbab aja sekalian aja, biar keliatan lebih sopan!"
Vania memang memakai pakaian panjang tetapi pakaian itu begitu memperhatikan lekuk tubuhnya apalagi dada yang besar dan bulat itu begitu tercetak jelas. Bukannya membuat Arslan tergoda tetapi justru membuat Arslan merasa jijik dengan perempuan seperti itu.
"Kalau nanti saya pakai jilbab, Bapak malah tertarik jadiin saya istri kedua."
Kedua mata Arslan membeliak mendengar celotehan sekretarisnya yang terlalu frontal dengan ucapannya. Pulpen yang berada di tangan Arslan pun langsung berhenti bergerak. Ruangan yang semula tenang mendadak terasa dingin. Arslan mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan tajam itu membuat Vania langsung menyesal telah membuka mulut. Arslan tahu kalau sekretarisnya itu suka bercanda tapi untuk kali ini, candaannya tidak terdengar lucu malah membuat Arslan naik pitam.
"Bisa-bisanya kamu bicara kayak gitu, Apa kamu nggak sadar sama apa yang kamu ucapkan barusan?" Mata Arslan mendelik tajam lalu kembali melanjutkan ucapannya.
"Kalau kamu masih mau kerja disini jangan pernah menciptakan perang badar di rumah tangga saya! Kamu tau sendiri kan kalau istri saya galak!!"
Arslan tidak ingin citra perusahaannya tercoreng hanya karena perilaku karyawan yang gagal menjaga batas profesional di lingkungan kerja. Baginya, kantor adalah tempat untuk bekerja, membangun karier, dan menjaga reputasi perusahaan, bukan tempat untuk mencari perhatian dengan cara yang dapat menimbulkan kesalahpahaman.
Ia tidak peduli bagaimana seseorang menjalani kehidupan pribadinya di luar kantor. Selama tidak melanggar hukum dan tidak merugikan orang lain, itu bukan urusannya. Namun begitu memasuki lingkungan kerja, semua orang wajib mematuhi standar profesional yang ada. Dan sebagai seorang direktur, Arslan tidak akan membiarkan siapa pun melewati batas tersebut.
"Maaf ya pak. Bapak kan tahu saya suka bercanda. Tolong jangan marah, saya janji mulai besok akan berpakaian lebih sopan. Tapi kalau soal berhijab, saya benar-benar belum siap." Vania langsung mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Kenapa harus nunggu besok!! Kalau bisa sekarang kamu pulang dan ganti pakaianmu!!" potong Arslan tanpa memberi kesempatan Vania melanjutkan alasannya.
"Tapi kan rumah saya jauh, Pak!!" bukannya takut kalau atasannya semakin marah Vania justru memasang wajah memelas seolah minta belas kasih.
"Saya nggak peduli!! Di depan kantor ada toko baju, silahkan kamu masuk toko itu dan beli baju yang lebih sopan!! Pokoknya saya nggak mau lihat kamu pake pakaian itu di depan tamu saya!!" perintah Arslan. Kali ini Vania benar-benar tidak berani membantah, wajahnya mulai pucat. Ia sadar atasannya sudah berada di batas kesabarannya.
"Iya Pak, maafkan saya." Vania tertunduk, wajahnya pucat pasi.
"Kalau begitu, sekarang keluar dari ruangan saya."
"Baik, Pak."
Tanpa berani menambah satu kata pun, ia segera meraih tablet dan berkas yang dibawanya lalu melangkah keluar. Begitu pintu tertutup, napas yang sejak tadi ditahannya akhirnya keluar perlahan.
Jujur saja, ia ketakutan, bukan karena dimarahi. Melainkan karena takut kehilangan pekerjaannya. Vania masih memiliki banyak tanggungan yang harus dipenuhi. Belum lagi cicilan mobil baru yang baru beberapa bulan terakhir ia ambil.
Ia sama sekali tidak berniat membuat situasi menjadi sebesar ini. Baginya, ucapan tentang istri kedua tadi hanyalah candaan spontan. Namun ia terlambat menyadari bahwa tidak semua orang menganggap hal itu lucu. Terutama Arslan. Apalagi belakangan ini, topik tentang poligami memang menjadi sesuatu yang sangat sensitif baginya.
Sementara itu, di dalam ruangan, Arslan mengembuskan napas panjang lalu kembali membuka berkas yang sempat tertunda. Rasa kesalnya memang belum sepenuhnya hilang. Namun di balik semua itu, ia tidak pernah berniat memecat Vania. Terlepas dari sifatnya yang terkadang terlalu ceplas-ceplos, Vania adalah salah satu sekretaris terbaik yang pernah bekerja dengannya.
Ia cekatan, teliti, mampu mengatur jadwal yang rumit, dan hampir selalu bisa diandalkan dalam berbagai situasi. Karena itulah Arslan memilih menegur dan memperingatkannya dengan tegas. Baginya, karyawan yang baik masih layak diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Selama orang tersebut mau belajar dan memahami batasannya.
Tak berapa lama kemudian, Vania yang baru saja duduk di kursinya tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran wanita paru baya dengan penampilan modisnya.
"Arslan ada di dalam?" tanya wanita paruh baya itu sambil melirik ke arah pintu ruang direktur.
"Iya, Nyonya. Tuan Arslan ada di ruangannya."
Vania berdiri dari kursinya dan menjawab dengan sopan. Wanita itu mengangguk pelan. Namun alih-alih langsung masuk, ia justru mendekat beberapa langkah lalu menurunkan suaranya.
"Gimana sudah berhasil menggoda dia?" tanya wanita itu lagi dengan nada berbisik. Vania yang terlihat khawatir menoleh ke kanan dan kiri memastikan tak ada orang yang mendengar percakapan mereka.
"Maaf nyonya saya sudah tidak berani menggoda Pak Arslan lagi. Istrinya galak, beliau juga mulai galak sama saya... " bahkan terlalu galak, lanjut Vania dalam hati. Baru saja ia dimarahi habis-habisan beberapa menit yang lalu. Mendengar jawaban itu, wanita tersebut langsung menghela napas panjang penuh kekecewaan.
"Haduh ... Kamu ini payah banget, punya wajah cantik tapi nggak guna!! Godain suami orang aja nggak bisa!! Memangnya kamu nggak tergiur sama uang yang saya tawarkan?"
Pertanyaan itu membuat Vania menggigit bibir bawahnya. Tentu saja ia tergiur. Uang yang ditawarkan wanita itu tidak sedikit. Bahkan bisa memenuhi gaya hidupnya yang selangit. Namun Vania menyadari bahwa sebuah tawaran itu mengandung resiko yang besar, dan Vania takut jika sampai ia salah mengambil langkah.
"Maaf nyonya saya lebih takut kehilangan pekerjaan saya."
Untuk pertama kalinya ia mengatakannya dengan jujur. Karena kenyataannya memang begitu. Gaji, tunjangan, dan posisi yang dimilikinya sekarang jauh lebih berharga daripada imbalan sesaat. Tatapan wanita itu langsung berubah dingin. Senyumnya menghilang. Yang tersisa hanyalah sorot mata tajam yang membuat Vania merinding. Wanita itu melangkah mendekat.
"Kalau begitu kamu harus tutup mulut, jangan sampai ada yang tau kalau saya pernah nyuruh kamu menggoda Arslan. Karna saya juga bisa bikin kamu kehilangan pekerjaan ini!!"
Darah Vania seolah membeku. Jantungnya berdetak semakin cepat mendengar ancaman itu. Sementara itu, wanita tersebut tampak puas melihat reaksi Vania di hadapannya. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berbalik dan melangkah menuju ruang kerja Arslan.
Hak tinggi yang dikenakannya beradu dengan lantai marmer, menghasilkan bunyi yang terdengar nyaring di tengah keheningan kantor. Vania hanya bisa memandangi punggungnya yang semakin menjauh. Tangannya mengepal pelan di atas meja.
Di satu sisi dia tidak mau kehilangan pekerjaanya. Di sisi lain ada seseorang yang menekannya dengan ancaman. Dan yang paling membuatnya takut...
Wanita itu adalah ibu dari atasannya sendiri.
***