Park Soo-jin, siswi baru yang pindah ke SMA Haneul di Seoul, menghadapi beban berat: biaya sekolah dan pengobatan ayah yang terus menumpuk. Saat kehabisan pilihan, ia menemukan sebuah lowongan dengan bayaran tinggi—namun tugasnya tak terduga: menjadi pemburu hantu sekolah.
Di siang hari, ia adalah siswi biasa yang berusaha mengikuti pelajaran. Di malam hari, ia menyusuri koridor sepi, ruang kelas terbengkalai, dan lorong gelap untuk menenangkan arwah yang belum tenang. Awalnya hanya demi uang, perlahan Soo-jin menyadari tugas ini mengajarkannya lebih dari sekadar keberanian: setiap bayang memiliki kisah, dan setiap perjuangan punya makna.
Akankah ia mampu bertahan menyeimbangkan kehidupan sekolah dan rahasia kelam yang tersembunyi di balik tembok sekolahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan yang Terasa
Di dalam kelas, Soo-jin sudah duduk di tempatnya sejak sepuluh menit yang lalu. Matanya sesekali melirik ke arah pintu, lalu menunduk melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah bergerak mendekati waktu masuk pelajaran, tapi sosok yang ditunggunya belum juga terlihat.
“Apa Min-woo terlambat? Biasanya dia selalu datang lebih awal. Kenapa sampai sekarang belum terlihat?” gumamnya pelan dalam hati, merasa sedikit cemas.
Belum sempat ia memikirkan kemungkinan apa pun, terdengar langkah kaki mendekat dan suara guru masuk ke dalam kelas.
“Selamat pagi, anak-anak.”
“Pagi, Bu,” jawab seluruh siswa serempak.
“Baiklah, silakan buka buku pelajaran Matematika kalian di halaman dua puluh tiga,” perintah guru itu sambil meletakkan tasnya di atas meja depan.
Tepat saat semua siswa mulai meraih buku, terdengar suara ketukan di pintu kelas.
Tok… tok… tok…
“Masuk!” seru guru itu.
Pintu terbuka perlahan, dan terlihat Min-woo berdiri di ambang pintu dengan tas punggungnya tergantung di satu bahu.
“Min-woo, kau terlambat hari ini,” ujar guru itu dengan nada menegur ringan.
“Maaf, Bu. Tadi ban sepeda motorku kempes di tengah jalan, jadi harus mendorongnya agak jauh,” jawab Min-woo dengan nada datar dan sopan.
“Ooh, begitu. Baiklah, silakan duduk.”
“Terima kasih, Bu.”
Min-woo melangkah masuk melewati barisan bangku menuju tempat duduknya di belakang. Soo-jin menatapnya dengan seksama, dan segera menyadari ada sesuatu yang berbeda. Wajahnya terlihat lebih dingin dari biasanya, matanya tampak sayu dan tidak bersemangat.
Saat melewati bangku Soo-jin, Min-woo hanya menunduk sedikit, tidak tersenyum sama sekali—bahkan tidak menoleh atau sekadar melirik ke arahnya seolah-olah tidak ada yang terjadi di antara mereka.
Hati Soo-jin terasa sedikit aneh. Ia hanya bisa menatap punggung Min-woo yang terus berjalan menjauh, bertanya-tanya dalam hati: Ada apa dengan dia hari ini? Kenapa sikapnya berubah tiba-tiba?
Bel tanda jam istirahat berbunyi nyaring, membuat suasana kelas langsung riuh. Para siswa berbondong-bondong keluar menuju kantin.
Soo-jin segera melangkah menuju kantin, matanya langsung mencari sosok Min-woo. Ia melihatnya duduk sendirian di meja paling pojok, hanya menunduk memandang makanannya tanpa menyentuhnya terlebih dahulu. Dengan niat ingin menghampiri dan menanyakan keadaannya, Soo-jin mulai melangkah mendekat—tiba-tiba lengannya ditahan pelan oleh Seung-hyun yang baru datang dari belakang.
Seung-hyun menggelengkan kepalanya perlahan, memberi isyarat agar Soo-jin tidak mendekat.
“Ikutlah denganku, kita duduk di sana saja,” bisik Seung-hyun sambil menunjuk meja lain yang agak jauh tapi masih bisa melihat Min-woo.
Soo-jin mengerutkan dahi, merasa sangat heran, tapi ia tetap mengikuti langkah Seung-hyun. Keduanya duduk, dan Soo-jin terus melirik ke arah Min-woo yang masih duduk diam sendirian.
“Kenapa kita tidak bergabung saja dengannya?” tanya Soo-jin akhirnya.
Seung-hyun menghela napas pendek, matanya tetap tertuju pada sosok di meja pojok itu. “Dia ingin sendiri untuk sementara waktu. Jadi lebih baik jangan dekati dia dulu.”
“Kenapa? Apakah dia sedang ada masalah besar?” tanya Soo-jin lagi dengan nada khawatir.
“Maaf, aku belum bisa memberitahumu secara rinci sekarang,” jawab Seung-hyun dengan nada lembut namun tegas.
“Ooh… baiklah. Tapi apakah dia baik-baik saja?”
Seung-hyun menoleh sebentar, lalu menjawab dengan tenang: “Dia sudah terbiasa seperti ini. Jadi kalau nanti kamu melihat dia tidak menyapamu duluan, jangan coba mendekat atau menyapanya secara paksa. Itu tandanya dia sedang menata perasaannya sendiri dan ingin menyendiri.”
Soo-jin mengangguk perlahan, memahami situasinya. “Ooh… begitu. Baiklah, aku mengerti.”
Mereka pun makan sambil sesekali melirik ke arah Min-woo. Di meja itu, Min-woo akhirnya mulai menyantap makanannya perlahan, tatapannya kosong seolah pikirannya melayang jauh ke tempat lain yang hanya dia yang tahu.
Saat Soo-jin dan Seung-hyun masih duduk mengamati Min-woo, tiba-tiba seorang siswi perempuan menghampiri meja mereka sambil tersenyum ramah. Namanya Ji-eun, teman sekelas Soo-jin yang sudah cukup akrab sejak Soo-jin pindah ke sekolah itu.
“Soo-jin, nanti setelah makan selesai, tolong bantu aku di ruang musik ya, oke?” pinta Ji-eun dengan nada santai.
Soo-jin menoleh, sedikit terkejut mendengar permintaan itu. “Ada apa di ruang musik?”
“Ibu Mery menyuruh kita untuk merapihkan dan membersihkan ruangan itu, karena besok ruangannya akan dipakai untuk latihan paduan suara,” jelas Ji-eun sambil menunjuk ke arah gedung sebelah.
Soo-jin berpikir sejenak, lalu mengangguk setuju. “Bisa kok. Kita kerjakan saja setelah jam pelajaran selesai nanti.”
“Baiklah, terima kasih ya!” jawab Ji-eun senang. “Nanti aku tunggu di depan ruang musik.”
“Oke,” balas Soo-jin singkat.
Ji-eun pun melambaikan tangan dan berjalan pergi menuju meja temannya yang lain.
Sementara itu, mendengar kata “ruang musik”, Seung-hyun yang duduk di sampingnya langsung menegang. Ia menoleh cepat ke arah Soo-jin dengan tatapan yang terasa sedikit waspada, seolah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Soo-jin melihat perubahan raut wajah Seung-hyun dan bertanya pelan, “Ada apa? Kenapa kau terlihat seperti itu?”
Seung-hyun menggeleng pelan, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya. “Tidak… tidak ada apa-apa. Hanya saja ruang musik itu… tempat yang agak sepi dan jarang dikunjungi orang di luar jam pelajaran. Hati-hati saja nanti.”
Soo-jin hanya mengangguk, meski merasa ada yang disembunyikan, tapi ia tidak mau menekan Seung-hyun lebih jauh. Ia kembali melirik ke arah Min-woo yang masih duduk sendirian, tanpa sadar merasakan ada kaitan yang tidak terlihat antara suasana hati Min-woo dan tempat yang akan ia datangi nanti sore.
Jam pelajaran akhirnya selesai. Setelah menyelesaikan urusan kecil di kelas, Soo-jin langsung melangkah menuju ruang musik. Tepat di depan pintu, ia melihat Ji-eun sudah menunggu dengan kunci di tangan.
“Akhirnya kamu datang!” ucap Ji-eun dengan senyum, seolah tidak menyadari apa yang akan terjadi.
Soo-jin hanya tersenyum balik, lalu mengikuti Ji-eun yang mulai membuka pintu dengan kunci.
Begitu pintu terbuka, kegelapan langsung menyambut mereka. “Gelap sekali ya,” gumam Soo-jin sambil mengedipkan mata untuk menyesuaikan pandangan.
Ji-eun segera mencari sakelar lampu di dinding dan menyalakannya. Cahaya terang dari lampu langit-langit menyinari seluruh ruangan dan tepat pada saat itu, Soo-jin melihat sesuatu yang membuatnya terkejut hingga berteriak.
“AAAAHHH!”
“Soo-jin, ada apa?!” teriak Ji-eun kaget melihat reaksi teman sekelasnya.