Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Di tiga perempat malam yang akhir itu, suasana di kediaman Bu Broto benar-benar jauh dari kekhusyukan ibadah. Alih-alih dihabiskan untuk bersujud memohon ampunan, rumah itu justru memanas oleh perdebatan sengit antara Aris, ibunya, dan Linda yang masih terisak di sudut sofa.
Bu Broto berjalan mondar-mandir di ruang tamu dengan napas memburu, wajah tuanya merah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Dia berhenti tepat di depan Aris, lalu memukul lengan putranya dengan kasar.
"Kamu itu benar-benar bodoh, Aris! Bodoh dan sembrono!" amuk Bu Broto, suaranya melengking tertahan. "Bagaimana bisa kamu bertindak seceroboh itu dengan bercinta di ruang tamu?! Otakmu itu ditaruh di mana, hah?!"
Aris menggaruk kepalanya dengan frustrasi, wajahnya kusut masai. "Ibu, tolong jangan menyudutkanku terus. Aku juga tidak menyangka kalau Rena akan terbangun di tengah malam dan memergoki kami! Biasanya dia itu kalau sudah tidur seperti orang mati!"
"Tapi kenapa harus di ruang tamu, Aris?!" Bu Broto beralih menatap Linda dengan pandangan murka, tidak lagi manis seperti beberapa jam lalu. "Dan kamu juga, Linda! Kenapa kamu begitu tidak sabaran dan tidak bisa mengendalikan nafsumu?! Kalian berdua ini seperti hewan yang tidak punya akal!"
Linda yang hanya mengenakan daster pinjaman milik Siska langsung menangis sesenggukan. "Ibu... maafkan aku. Kami tadi mengira Mbak Rena sudah tidur nyenyak di kamar Dio. Kami juga tidak bisa melakukannya di kamar yang aku tempati karena ada Amel. A...Aku kira Rena hanya akan terpuruk saat melihat kami, aku tidak tahu kalau dia akan memanggil warga dan melebar sampai digerebek warga seperti ini... "
"Maaf tidak akan membersihkan nama kita besok pagi!" potong Bu Broto sengit. Dia mengepalkan tangannya ke meja. "Kini nama baik keluarga kita dipertaruhkan besok di depan Pak RT dan seluruh warga. Mau ditaruh di mana muka Ibu disini saat, saat ibu belanja, arisan dan di pertemuan kampung nanti?!"
Aris terduduk lemas di sofa, meremas rambutnya sendiri. "Lalu sekarang kita harus bagaimana, Bu? Rena pergi membawa tas dan anak itu ke rumah Pak RT. Aku yakin dia pasti akan mengadu yang tidak-tidak."
Bu Broto mendengus, matanya menyipit penuh intrik. "Besok pagi di balai RT, kita harus kompak. Katakan saja kalau Linda ini memang sepupumu dan kalian tadi hanya... hanya tidak sengaja bertabrakan atau apa! Kita harus memutarbalikkan fakta agar si Rena yang terlihat seperti istri durhaka yang cemburuan!"
Aris dan Linda saling menatap lalu mengangguk mantap setuju dengan rencana Bu Broto.
Sementara itu, suasana yang bertolak belakang terjadi di rumah Pak RT. Di dalam rumah yang sederhana namun terasa hangat itu, Rena dan Dio dipersilahkan tidur di ruang tamu. Karena kamar di rumah Pak RT hanya ada dua dan sudah terisi penuh oleh anak-anak mereka, Bu RT dengan cekatan menggelar karpet tebal dan kasur lantai yang empuk untuk mereka berdua.
"Maaf ya, Mbak Rena, tempatnya seadanya begini. Hanya ini yang bisa kami siapkan dadakan," ucap Bu RT dengan nada penuh rasa bersalah sembari menata bantal.
Rena langsung menggeleng cepat, seulas senyum tulus terbit di bibirnya yang pucat. "Aduh, Bu RT, jangan berkata seperti itu. Saya sama sekali tidak keberatan. Malah, saya sangat bersyukur dan berterima kasih karena sudah diselamatkan dari keluarga itu dan akhirnya bisa keluar dari rumah itu malam ini."
Pak RT duduk di kursi kayu tak jauh dari sana, melipat tangannya di dada dengan raut wajah serius. "Mbak Rena, sekarang situasinya sudah tenang. Jika Mbak Rena sudah siap bercerita, tolong jelaskan kepada saya apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tangga kalian akhir-akhir ini? Biar besok saya punya dasar untuk menyidang Aris."
Rena menarik napas dalam-dalam, menepuk pelan paha Dio yang sudah kembali terlelap di atas kasur lantai. Dia kemudian merogoh ponselnya dari saku jaket.
"Pernikahan kami sudah lama hancur, Pak RT. Selama ini saya ditindas dan dibohongi soal keuangan. Tapi yang paling parah adalah ini," ujar Rena datar, membuka chat di ponselnya lalu menyerahkannya kepada Pak RT. "Ini adalah bukti chat dari istri manajer kantor Mas Aris yang kebetulan adalah majikan saya bekerja."
Rena menghembuskan nafasnya, lalu mulai bercerita. "Beberapa hari lalu beliau menegur saya karena saya tidak fokus dalam bekerja dan menanyakan apa yang terjadi. Lalu saya sedikit menceritakan keadaan rumah tangga kami, saat saya dia bertanya tempat kerja mas Aris, ternyata sama dengan tempat suaminya bekerja. Dan malamnya saya mendapatkan pesan seperti itu. Beliau mengatakan bahwa Mas Aris sudah naik jabatan jadi supervisor dan sengaja menyembunyikan gajinya demi membiayai wanita itu."
Pak RT memakai kacamata bacanya, meneliti baris demi baris pesan singkat tersebut dengan kening berkerut dalam. "Jadi... wanita yang tadi itu bukan sepupunya?"
"Bukan, Pak RT. Ini ada pesan suara dari ibu mertua saya yang secara tidak sengaja membuktikan kalau dia sudah tahu perselingkuhan anaknya sejak empat tahun lalu," lanjut Rena, memutar rekaman audio yang diambilnya siang tadi. Suara Bu Broto yang memuji-muji Linda langsung terdengar jelas di ruang tamu yang sunyi itu.
Bu RT yang ikut mendengarkan langsung beristigfar berkali-kali. "Astagfirullahaladzim... Tega sekali Bu Broto. Di depan warga gayanya alim, ternyata menyembunyikan bangkai di dalam rumahnya sendiri!"
"Dan yang terakhir, Pak..." Rena menggeser layar ponselnya, memperlihatkan cuplikan video yang diambilnya satu jam yang lalu. "Ini adalah video yang saya rekam sendiri saat mereka melakukan perbuatan menjijikkan di ruang tamu tadi."
Pak RT hanya melihat beberapa detik sebelum langsung memalingkan wajah, merasa risi sekaligus geram. Dia mengembalikan ponsel itu kepada Rena dengan tangan yang sedikit gemetar karena menahan amarah sebagai pemimpin lingkungan.
"Ya Allah, mbak Rena, kamu kuat sekali melihat mereka seperti itu. Kalau saya mungkin sudah kena serangan jantung " ujar Bu RT saat melihat sekilas video asusila itu.
"Mungkin karena saya sudah mati rasa bu. Jadi sudah tidak ada rasa sakit hati sama sekali. " jawab Rena dingin datar.
"Bukti-bukti ini sudah lebih dari cukup, Mbak Rena. Ini bahkan sangat menyudutkan pihak Aris dan tidak akan memberi mereka celah untuk mengelak besok pagi, ataupun bukti di persidangan kalau mbak Rena mau menggugat cerai Aris." tegas Pak RT, melepas kacamata bacanya. Dia berdiri dari kursi dan menatap Rena dengan pandangan kebapakan. "Sekarang, sudah hampir jam tiga pagi. Mbak Rena dan Dio lebih baik istirahat dulu, tidurlah yang nyenyak. Karena besok pagi, kita semua harus bersiap menghadapi sidang warga yang sesungguhnya."
Rena mengangguk patuh, menyimpan kembali ponselnya dengan perasaan yang jauh lebih ringan. "Baik, Pak RT. Terima kasih banyak atas perlindungannya."
aku pikir sampai Rena menikah lagi