NovelToon NovelToon
You Love Me

You Love Me

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: HeniNurr

Adila Dimitri... Kesucian yang sudah terenggut, tidak mengubahnya menjadi wanita lemah. Mandiri, kuat, berani dan tidak takut dengan apapun, sudah menjadi slogan dalam hidupnya.

"Hidup ini pilihan, apapun yang membuatmu sedih, tinggalkan...!!!
Apapun yang membuatmu tersenyum, pertahankan...!!!"

Aditya Putra Wiriaatmaja... kehilangan cinta karena kondisi yang membuatnya tidak bisa bertahan.

"Aku bukannya tak mau merelakan kepergianmu, aku hanya menyesali kelemahanku memperjuangkanmu untuk tetap disisiku. Aku belajar tulus untuk mencintai meski tak harus memiliki, belajar ikhlas merelakan meski harus kehilangan...!!"

Pertemuan yang diawali dengan drama settingan yang Adila ciptakan, membuat mereka terjebak dalam kondisi yang tidak nyaman, hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali dalam kondisi yang jauh berbeda.

Akankah sifat absurd Adila mampu meluluhkan hati Aditya yang menyukai wanita sederhana dan anggun seperti mantan kekasihnya dulu???

Sequel dari ❤Cinta Yang Hilang❤...
Pantengin terus di semua partnya👌👌
Happy reading💋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam

Sore sudah berganti malam, bulan yang hanya separuh pun mulai menampakan keindahannya walau tak begitu bersinar terang. Sedangkan bintang, memilih bersembunyi di langit hitam yang berselimutkan kegelapan.

Saputangan navy bergaris putih, tak surut dia pandangi, hingga senyuman pun tak terasa menyemburat di bibir merahnya yang ranum berisi.

"Dil...."

Seketika Adila menyembunyikan saputangan itu dibalik bantal yang ia tiduri.

"Kebiasaan deh kalau ke kamar orang nggak ngetuk dulu."

"Kelamaan...," Adila menerobos masuk,".... sekarang kamu cepetan ganti baju, kata Simbok tamunya Mbak Moza udah ada dibawah."

"Itu tamu dia, kenapa gue yang repot."

"Aduh Dil, kita kan harus ikut makan malam bareng mereka, lagian nggak enak kan sama Mbak Moza."

Adila bangun dari tidurnya," Gue pake baju gini aja lah, lagian dirumah ini."

"Ih apaan sih masa pake tanktop, nggak sopan tahu."

Adila berdecak, dengan langkah malas berderap menuju lemari bajunya.

"Berapa orang tamunya?"

"Kata Simbok satu."

"Cowok?"

"Heem."

"Pacar atau temen sih?" Tanyanya lagi sambil memilih-milih baju dan menempelkannya di badan.

"Tadi Mbak Moza bilang kan temen deket."

"Kalau cuma deket nggak mungkin juga dikenalin sama kita."

"Iya juga sih."

Adila berbalik," Calon suaminya kali ya, secara dari muka dia udah dewasa banget, udah pantes punya buntut."

"Hush... tar kedengeran orangnya lagi."

"Emang faktanya kek gitu."

Adila bergegas memakai pakaian yang sudah dia pilih. Dress selutut berwarna navy, berbahan sifon bentuk balon. Entah kenapa dia sangat ingin memakai dress itu yang sangat jarang dia kenakan, terlebih karena warnanya navy, mengingatkan dia pada saputangan Aditya yang sekarang dia sembunyikan dibawah bantal.

"Dil ini punya siapa?"

Adila yang sedang mengucir rambutnya seketika melihat pantulan Adira di cermin mengacungkan saputangan kepadanya.

Adila berdiri dan mengambil saputangan itu.

"Punya gue."

Alis Adira saling bertaut," Sejak kapan kamu suka pakai saputangan, bukannya kata kamu kayak emak-emak ya kalau pake saputangan?"

Adila berbalik, menyembunyikan wajah bohongnya, secara Adira itu titisan Mama Laurent, selalu saja bisa tahu.

"Udah yuk ah... pasti mereka pada nungguin kita." Meninggalkan Adira dengan wajah yang dipenuhi seribu tanya.

Menuruni anak tangga, Adila bisa mendengar jelas obrolan yang sedang mereka bicarakan, penuh sapaan ramah tamah, berbasa basi dan bla..bla..bla...lainnya. Dan yang jelas, Dona lah yang lebih mendominasi pembicaraan itu.

Langkahnya terhenti, memandang lekat siapa yang duduk disamping Moza saat ini. Terkejut, heran, senang, sedih, bergulung-gulung menjadi satu.

"Ah itu mereka." Ucap Dona yang melihat Adila mematung memegangi besi tangga, yang kemudian disusul Adira dibelakangnya.

Sama halnya dengan Adila, Adira pun sama terkejutnya. Tak menyangka bahwa teman dekat yang dimaksud Moza itu ternyata adalah Aditya, Presdirnya di kantor.

"Dil ayuk kok malah diem disini." Bisiknya sambil menarik jari telunjuk Adila.

*D*ingin banget, apa dia masih sakit gara-gara kejadian tadi...??? Batin Adira.

Mata yang saling mengunci, Aditya melihat Adila yang berjalan semakin mendekat. Namun saat itu juga Adila membuang pandangannya.

"Selamat malam Pak Aditya." Sapa Adira.

"Malam." Ucapnya dengan wajah yang menyiratkan banyak pertanyaan.

Adira menyikut Adila yang hanya diam tidak ikut menyapa.

Adila terhenyak, dengan sedikit melengkungkan bibir, Adila kembali melihat Aditya," Selamat malam Pak."

"Malam." Jawabnya pelan.

Moza melihat mereka bergantian," Jadi kalian saling kenal?"

"Iya Mbak, aku magang di perusahaannya Pak Aditya."

"Jadi Nak Aditya ini pimpinan Wirrbel itu?" Dimitri menegakan badannya, tak percaya mendapat tamu kehormatan yang tidak dia sangka-sangka sebelumnya.

"Iya Om, Aditya ini Presdirnya Wirrbel."

"Ah maaf Nak Aditya, saya tidak tahu... saya sudah sering mendengar berita tentang kemajuan pesat perusahaan Wirrbel di bawah kepemimpinan Nak Aditya. Ternyata Wirrbel memiliki seorang pemimpin yang masih sangat muda dan juga hebat." Sanjung Dimitri.

"Bapak terlalu berlebihan, saya masih harus banyak belajar."

Adira menarik tangan Adila untuk duduk bersama mereka, dan dengan patuhnya ia pun duduk disamping Adira tanpa membuka sedikitpun mulutnya.

Adila menghela nafas berulang kali, ada batu kecil yang menganjal hatinya, sedikit sakit saat melihat Moza yang begitu ceria duduk berdampingan dengan teman dekatnya, Aditya.

Moza menceritakan panjang lebar tentang keterikatannya dengan perusahaan Wirrbel, dimana sekarang dia akan menjadi desain grafis yang akan membantu Aditya mendesain bangunan perusahaan Wirrbel di Yogyakarta.

Tak tertarik dengan obrolan mereka, Adila menyibukan diri dengan tali pita yang terjalit di dressnya, menggulung, melipat dan mengurainya kembali, begitu seterusnya.

"Permisi... makan malamnya sudah siap." Ucap Mbok Karni dengan merengkuhkan badannya.

"Makasih Mbok." Jawab Dona.

"Ayuk kita makan dulu Nak Adit, Moza loh yang masak... masakannya enak banget."Dustanya.

"Jangan didenger Dit, Tante suka berlebihan... nanti kamu bisa coba sendiri masakan aku enak atau enggaknya, oke." Moza merendah.

Klop sudah drama makhluk keturunan misteri gunung merapi, Mak Lampir dan Si Grandong, Gumam Adila.

Satu persatu mereka meninggalkan ruang tamu menuju meja makan. Dan yang terakhir tentunya Adila, yang begitu enggan karena nafsu makannya yang sedari tadi menguap, hilang entah kemana.

"Dil kamu sakit?" Tanya Adira sembari menunggu Adila yang berjalan dibelakangnya.

Adila menggeleng.

"Terus kenapa kamu diem aja dari tadi?"

Adila mengedikan bahu.

"Kok nggak jawab?"

"Sekali-kali jadi tembok kayak kamu." Jawabnya ketus.

"Ish..."

Tepat didepan Aditya, sekarang ini dia berada. Terhalang meja oval yang terbentang panjang dengan deretan menu makanan yang menggiurkan lidah untuk tidak bergoyang.

Tak sedikitpun Adila melihat Aditya yang ada disebrangnya saat ini. Menyuapkan sedikit makanan yang terasa pahit ketika dia mengunyahnya.

"Sejak kapan kalian saling mengenal?" Telusur Dona.

"Sejak SMA, kebetulan kami satu kelas." Jawab Aditya.

"Cuma kita pisah pas aku ikut Papah ke Menado, Tan." Tambah Moza.

Jadi yang di Rooftop bersama Aditya itu adalah Moza, tebakan yang seratus persen benar. Adila mengumpulkan nasi yang berceceran dipiringnya.

"Oh... jadi sejak itu kalian lost kontak?" Tanya Dona sambil menyuapkan nasi kemulutnya.

"Iya Tan, hampir lima tahun kita nggak pernah komunikasi, jadi pas kita ketemu rasanya seneng banget, nggak nyangka sedikitpun kita bisa ketemu lagi."

Cinta lama tersambung kembali, mungkin itu yang tepat untuk mewakili apa yang dikatakan Moza. Adila semakin sibuk dengan nasi yang dibuatnya menggunung.

"Setelah itu?" Tanya Dona yang sepertinya semakin penasaran mendengar cerita Moza tentang bagaimana awal mula mereka kembali bertemu.

"Ya itu yang Moza ceritakan tadi, Takdir mempertemukan kita kembali setelah perusahaan tempat aku bekerja memenangkan tender di perusahaan Aditya untuk proyeknya yang di Yogyakarta."

"Memang jodoh tidak akan kemana ya?"

Adila tersedak, tenggorokannya sakit saat makanan yang sedari tadi dia kunyah, tak mau juga turun saat dia telan.

"Dil pelan-pelan." Adira menepuk-nepuk tengkuk Adila.

Adila menyambar gelas air minumnya, meneguk sampai habis.

"Kamu nggak papa?"

Adila mengangguk seraya mengacungkan tangannya agar Adira berhenti menepuk-nepuk tengkuknya.

"Aku bawakan minum lagi ya?"

Adila menggeleng," Nggak usah."

"Maaf aku duluan, aku sudah kenyang." Lanjutnya dengan mendorong kursi yang dia duduki.

"Loh sayang, kamu belum mencoba makanan penutupnya." Seru Dona yang sama sekali tidak Adila hiraukan.

"Sudah Mi, mungkin benar dia sudah kenyang." Ujar Dimitri.

"Tapi makanannya juga masih banyak Pah, apa jangan-jangan Dila sakit ya?" Jawabnya dengan wajah yang dibuatnya sedih.

"Mungkin Dila sedang banyak pekerjaan, jadi tidak nafsu makan."

Dona menghela nafas, mengiyakan perkataan Dimitri.

"Maaf ya Nak Aditya, ayo dilanjut lagi makannya."

Aditya tersenyum dan kembali menekuri makanannya dengan mencuri pandang memperhatikan Adila yang berjalan menuju sebuah pintu di sudut rumah.

"Dit kamu mau tambah lagi." Tawar Moza.

"Tidak terima kasih, aku sudah kenyang."

Tiba-tiba lampu mati, seluruh ruangan menjadi sangat gelap.

"Aduh Tan ini mati lampu yah?"

"Sepertinya begitu.... Mbok bawa lilin kemari!" Seru Dona.

Tergopoh-gopoh Mbok Karni membawa lilin yang menyala ditangannya dan beberapa lilin lain dalam genggamannya.

Sampai dimeja makan, Adira mengambil satu lilin dari tangan Mbok Karni dan segera menyulutnya.

"Semuanya.... maaf Dira ke kamar Dila dulu sebentar."

"Ya silahkan." Jawab Aditya tanpa ada jawaban dari siapapun lagi.

Aditya melihat kepergian Adira yang terburu-buru, wajah yang memperlihatkan kekhawatiran yang sama saat dikantornya tadi. Tapi kenapa hanya Adira yang mengkhawatirkan Adila, yang lain?

"Sepertinya konsleting listrik lagi Tuan, karena beberapa minggu terakhir sering seperti ini." Tutur Mbok Karni seraya menyalakan semua lilin yang dia bawa.

"Kalau gitu Papah panggil dulu satpam biar dia bisa memperbaikinya." Ucap Dimitri pada Dona.

"Mami temenin Pah, Mami takut Papah jatuh."

Kesempatan yang tidak Aditya sia-sia kan.

"Za... toilet sebelah mana?"

"Kamu lurus aja, nah Toiletnya ada disudut sebelah kiri... aku anter aja ya?"

"Nggak usah, aku sendiri saja."

"Kalau gitu kamu bawa lilin nih."

"Pakai senter ponsel aja." tolaknya.

Aditya meninggalkan Moza dengan berjalan ke bagian sudut rumah, tidak berbelok ke kiri melainkan ke sebelah kanan.

1
Solehatun Rayhan
bagus ceritanya aku kasih bintang 🌟 5
Solehatun Rayhan
Thor boleh ga aku ngakak 😄😄😄😄😄
Solehatun Rayhan
Angelina Jolie 🤣🤣🤣🤣🤣 astaghfirullah sorry molen ups 🤣🤣
Solehatun Rayhan
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Solehatun Rayhan
ya Allah aku ngakak Thor 🤣🤣🤣🤣🤣
Solehatun Rayhan
assalamualaikum Thor ternyata othor ada juga di NT selain di paizo aku lg bc karya mu (cinta yg hilang,you love me, pilih aku Aruna) apalagi si Adila Adira dasar somplak🤣🤣🤣
Arin
sykurlh klo si kembar ngga suka sm stu orng yg sama...☺️
Arin
dasar kucing garong...bilng cinta tpi msih celup sana sni
Sumzumi
bagus
Julius Pius
Salah satu karya favorit dan bakal direkomendasi buat semua pembaca2 lainnya..
Julius Pius
Aduh.. benar2 sebuah jalan cerita yg menarik.. kayak bukan di dunia halu aja ya.. bg aq tu ini salah satu novel yg bakal aq rekomendasi dan jadiin favorit deh.. Nah ini aq sudah kasi like,vote dan beberapa kuntum bunga ya.. salam buat othornya deh.. Akan ku baca ulang karya othor ini kerana ianya cukup seru bg aq..
HeniNurr (IG_heninurr88): Uh ternyta dri negeri sebrang, oke Ka Nidar happy reading... slm bwt upin ipin yupzzz😅😘😘
total 3 replies
Deistya Nur
keren, sukses sllu ka buat novel terbarunya 👍
Yayoek Rahayu
boleh tuh kalo dibuat kisahnya mas Cool...dingin dingin sedep...mak nyesss😃😃😃 piss kak hennn
Umi Salsabilla
segitu amat ngidamx ,,, ngakak aku bacax 😅😅😅
Umi Salsabilla
segitu lugux Adira ,,, sampai senyum2 sendiribacax thort
Umi Salsabilla
cembokar bilang Bosss 😀
Kasmawati S. Smaroni
OMG hello adira,
Kasmawati S. Smaroni
wanita seperti adila dan adira emang pantas di lecehkan,masalahmya ayahnya sendiri gak tau kehidupan anak kandungmya.terus si kembar gak ada satupun yg punya sikap dan sifat yg tegas yg bisa menaikkan derajatnya.
Kasmawati S. Smaroni
masa dari dulu di jajah dan dzolimi ma tirinya tapi kok adila mau terima.aja di gituin.gak ngelawan gitu padahal adila kan bisa hidupi diri sendiri
Kasmawati S. Smaroni
gak suka sm dila,gaknpunya sikap yg tegas mala kesannya terlalu murahan gitu,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!