Setelah bertahun-tahun pasca kelahiran pangeran dan putri bungsu, mereka tetap berusaha mencari pelaku pembunuh sang ratu. Hidup atau mati! Mereka ingin pelakunya tertangkap dan di hukum gantung!Dapatkah para pangeran dan putri menangkap pelakunya?
*update setiap Minggu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mailani muadzimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misteri Ledakan Sihir
"Kau yakin tidak ada sihir hitam yang dimasukkan ke dalam gelang Arsha dan Jeanette?" tanya Ezra serius.
"Saya sangat yakin, Yang Mulia. Tidak ada sama sekali jejak sihir hitam di gelang itu." jawab Guardian.
"Lalu kenapa bisa ada ledakan sihir di sana? Bukankah ledakan sihir terjadi kalau ada pemicunya?" tanya Ezra lagi.
"Benar, Yang Mulia. Sepertinya ada benda lain yang menjadi media ledakan itu." jawab Guardian.
"Apa medianya?"
Belum sempat Guardian menjawab, pintu ruangan terbuka.
"Brak!" itu Arka.
"Ada apa, Arka? Kenapa kau kelihatan buru-buru? Apa terjadi sesuatu pada Arsha?" tanya Ezra heran.
"Tidak. Aku ingin tahu penyebab terjadinya ledakan sihir itu. Jadi aku datang. Aku belum terlambat 'kan, kakak?" ucap Arka dengan mata berbinar.
"Kami sedang membahasnya. Duduklah, Arka." jawab Ezra.
Arka duduk di samping Liam yang sedang sibuk memberi stempel pada berkas-berkas penting, dia membawa sebagian berkas dari ruang kerja Zayden ke sana.
Mereka semua berkumpul di ruang kerja Raja Finn, sebab Ezra harus menyelesaikan dokumen penyerahan tambang milik keluarga Baron Marshal pada keluarga Count Willow.
"Lanjutkan, Guardian." ucap Ezra sambil memberikan stempel kerajaan pada dokumen lain.
"Saya sudah memeriksa semua benda yang ada di taman, tidak ada satu pun benda yang mencurigakan dan mengandung sihir hitam. Tapi, saya menemukan bunga ini di meja tempat Tuan Putri dan Nona Jeanette berbincang," ucap Guardian.
"Bunga apa ini?" tanya Ezra, dahinya mengernyit.
Bunga yang diberikan Guardian pada Ezra adalah bunga yang sama sekali belum pernah dilihatnya. Bunga itu berwarna ungu gelap, daunnya berwarna hijau tua, setiap daunnya punya sisi yang bergelombang dan kelopak bunganya lebar-lebar. Bunga itu sama sekali tidak cantik menurutnya.
"Itu Bunga Sihir." Liam yang menjawabnya.
"Benar yang dikatakan Pangeran Liam." respon Guardian.
"Darimana kau tahu, Liam?" tanya Ezra.
"Kemarin aku menyuruh Ayri untuk mengikuti kak Zayden berburu Penyihir Agung yang lebih agung daripada Margaretta, Ayri menyampaikan proyeksi bunga itu padaku. Katanya, bunga itu membuat pingsan dua ksatria yang ikut bersama kak Zayden. Untungnya, kak Zayden dan ksatria lainnya selamat karena mereka sempat memakai pelindung jingga." jawab Liam.
Ezra kaget sekali. Demi mendengar kalimat Liam, dia berdiri dan menghampiri Liam.
"Kenapa kau baru cerita pada kakak tentang hal ini?" tanya Ezra sambil mengguncang bahu Liam.
Liam nyengir, "aku merasa tidak enak karena kakak kelihatannya sangat sibuk mengurus berkas yang ditinggalkan Papa. Selain itu, kakak juga sibuk dengan ujian akhir di akademi, 'kan? Aku hanya tidak mau mengganggu," jawab Liam.
Ezra terdiam, Liam benar juga.
"Lalu apalagi yang dilihat Ayri?" tanya Ezra.
"Bunga itu tumbuh di Lembah Sunyi. Dua jam setelah beristirahat di Padang Persik dan Madu, kak Zayden dan para ksatria memasuki Lembah Sunyi. Di sana ada ribuan Bunga Sihir yang tumbuh tidak jauh dari Pohon Batu. Kak Zayden mendapat informasi dari Earl, bahwa di Lembah Sunyi ada gubuk aneh berisi gentong raksasa dengan air ramuan merah yang mirip dengan di Hutan Larangan." jelas Liam.
Ezra menghela napas.
"Apakah itu peternakan Snarfluff lagi?" tanya Ezra serius.
Liam menggeleng, "tidak tahu, bisa jadi. Aku belum dapat informasi apapun dari Ayri," jawab Liam.
Ezra terduduk di sofa yang ada di samping Liam. "Aku pusing," keluhnya.
"Menurutku kakak terlalu memikirkan masalah ini," respon Liam.
"Bagaimana tidak dipikirkan? Semua permasalahan ini sangat rumit. Kita selalu diserang! Belum selesai masalah yang satu, muncul lagi masalah lain." jawab Ezra.
"Aku pikir kita kedatangan penyusup." gumam Liam.
"Ya, kau benar. Tapi seharusnya istana kita aman karena sudah dipasang kubah pelindung jingga." jawab Ezra.
"Omong-omong tentang kubah jingga, tadi saat sedang jalan-jalan, aku lihat kubah di sisi kiri taman berlubang." celetuk Kyrus.
Ezra, Liam, Arka dan Guardian terkejut mendengarnya.
"Apa? Kenapa?" tanya Ezra.
"Itulah yang ingin kutanyakan." jawab Kyrus.
"Tidak mungkin!" seru Guardian.
Ezra memijit kepalanya yang pening. Apa lagi sekarang?
"Yang Mulia, saya akan memeriksa kubah yang berlubang itu." ucap Guardian dan langsung bergegas ke sana tanpa menunggu jawaban Ezra.
"Aku ikut!" seru Ezra.
"Liam, Arka. Kalian di sini saja!" sambungnya.
Ezra berlari menyusul Guardian.
Liam dan Arka saling tatap. Mereka berdua menurut dan tidak ikut menyusul, meski sebenarnya mereka sangat penasaran.
***
Setibanya mereka di sisi kiri taman, benar saja ternyata ada sedikit lubang di kubah.
Guardian menyelidiki lubang itu dan mendapati darah kering di sekitar lubang kubah.
"Orang yang melubangi kubah ini sudah mati," gumam Guardian.
"Apa maksudmu?" tanya Ezra heran.
"Lihat. Di tepian lubang kubah, ada darah yang sudah mengering. Sudah jelas pelakunya tewas. Tidak ada yang bisa menembus kubah jingga, Yang Mulia. Kalau bisa pun, orang itu pasti tewas." jawab Guardian.
"Tapi tidak ada lagi jejak darah selain di lubang kubah. Bagaimana kita bisa tahu kemana orang itu pergi?" tanya Ezra.
"Kita 'kan punya ini, Yang Mulia." ucap Guardian sambil menunjukkan botol kecil. Itu adalah botol Serbuk Suci.
Guardian menaburkan Serbuk Suci di rerumputan yang dekat dengan lubang kubah, seketika muncul bercak darah yang sebelumnya dihilangkan dengan sihir hitam. Sebenarnya bukan dihilangkan, tapi jejaknya ditutupi oleh sihir hitam, menurut Guardian itu adalah trik murahan.
Guardian dan Ezra mengikuti jejak darah itu sampai ke meja tempat Arsha dan Jeanette berbincang. Di meja itu bahkan ada bercak darahnya juga. Di sanalah bunga itu diletakkan.
Lalu, bercak darah itu terus berlanjut sampai ke ujung taman. Di ujung taman, ada labirin kecil. Biasanya labirin itu dijadikan tempat bermain petak umpet oleh Arka dan Arsha, waktu kecil juga Ezra, Zayden dan Liam suka main di sana.
"Apa yang dilakukan penyusup itu di dalam labirin?" tanya Ezra heran.
Guardian dan Ezra masuk ke dalam labirin. Tidak ada seorang pun di sana, namun Guardian tidak mudah terkecoh, dia jelas merasakan sisa sihir hitam di sana.
Sekali lagi, Guardian menaburkan Serbuk Suci di depan gerbang masuk labirin. Mendadak seseorang muncul.
Ezra terperanjat kaget, "Lady Marshal? Jadi dia yang melubangi kubah dan menaruh Bunga Sihir?!" serunya kesal.
Guardian memeriksa Lady Marshal yang sudah tidak sadarkan diri.
"Dia mati." ucap Guardian.
Ezra melongo, dia masih tidak menyangka.
"Di tubuhnya ada bekas sihir hitam. Dia adalah komplotan, Yang Mulia. Bekas sihir hitam yang ada ditubuhnya bukan milik orang lain, tapi miliknya sendiri. Lady Marshal adalah salah satu dari penyihir hitam yang berkeliaran, dia bahkan bisa menggunakan Sihir Penghilang untuk mengaburkan jejak dan tubuhnya meski keadaannya sekarat." jelas Guardian.
"Donovan!" panggil Ezra.
"Saya, Yang Mulia." jawab Donovan yang sejak tadi mengikuti Ezra.
"Bawa pengkhianat ini ke penjara bawah tanah. Lalu bawa seluruh keluarga Marshal beserta anak cucunya ke istana. Aku akan memberikan hukuman yang pantas!" ucap Ezra.
"Baik, Yang Mulia."
Donovan pun membawa jasad Lady Marshal ke penjara bawah tanah dengan segera.
"Yang Mulia, izinkan saya pergi ke Kerajaan Perdu. Di sana ada banyak tetua spirit suci, mungkin mereka punya solusi atas kejadian ini." ucap Guardian.
"Ya, tapi sebelum kau pergi, sebaiknya perbaiki dulu kubah itu. Aku tidak ingin kita kemasukan penyusup lagi," ucap Ezra.
Guardian mengangguk, "Baik, Yang Mulia."
Ezra memantau pekerjaan Guardian sambil berpikir bagaimana kejadian ini bisa terjadi. Masalah ini sungguh membuatnya frustasi.
"Saya akan menambahkan perlindungan baru, Yang Mulia. Ini adalah Kubah Jingga Berduri. Kubah ini adalah lapisan kedua dari Kubah Jingga. Penyusup manapun akan mati jika mencoba merusak kubah ini, bahkan sebelum mereka berhasil melubangi kubahnya." ucap Guardian sambil mengeluarkan kekuatannya. Cahaya berpendar dari jari-jari Guardian.
"Ya, lakukan yang terbaik untuk melindungi istana. Kasihan Arsha dan Liam kalau Penyihir Hitam terus-terusan mengincar Pengendali Spirit." ucap Ezra.
***
Beberapa jam kemudian, pemasangan kubah baru berhasil. Sekarang istana sudah dilindungi dengan dua kubah.
"Terima kasih atas kerjasamanya, Guardian." ucap Ezra.
"Anda tidak perlu berterima kasih, Yang Mulia. Oh, ada yang ingin saya sampaikan tentang kondisi Tuan Putri."
"Apa itu?" tanya Ezra.
"Saya telah memasukkan kekuatan suci kepada Tuan Putri, tapi karena beliau terkena Ledakan Sihir, kekuatan suci yang saya masukkan tidak begitu berefek besar sampai beliau meminum ramuan dari Bunga Bulan. Untuk itu, agar menjaga kondisi Tuan Putri tetap stabil dan tidak memasuki fase kritis lagi, sebaiknya gunakan kekuatan penyembuh. Kalau bisa, Pangeran Liam juga dengan dibantu spirit cahaya, sesekali masukkan saja kekuatan suci ke tubuh Tuan Putri dan Nona Jeanette. Saat ini, kekuatan penyembuh dan spirit cahaya adalah alternatif lain sebelum Bunga Bulan ditemukan. Saya tidak bisa menjamin kondisi keduanya jika hanya mengandalkan obat dari Dokter Cedric. Maaf, saya tidak bermaksud merendahkan Dokter Cedric dan kemampuannya," jelas Guardian.
"Aku mengerti, Guardian. Aku dan Liam hanya perlu menggunakan kekuatan kami agar kondisi Arsha dan Jeanette bisa stabil sampai Bunga Bulan tiba, 'kan?" ucap Ezra.
"Benar, Yang Mulia." jawab Guardian.
"Baiklah. Aku akan mengajak Liam nanti, kami sudah biasa menyembuhkan orang-orang juga. Lagipula ini untuk adik perempuan kami satu-satunya." ucap Ezra sambil tersenyum.
Guardian senang mendengarnya, "kalau begitu saya pamit dulu, Yang Mulia."
Ezra mengangguk.
Guardian melompat, lalu melesat menembus Kubah Jingga Berduri dengan kekuatan spirit angin. Dalam sekejap, Guardian sudah hilang dari pandangan mata.
***
Ezra merangsek masuk ke ruang kerja Raja Finn, di sana masih ada Liam dan Arka, juga Lysander.
"Liam. Tolak semua berkas milik keluarga Marshal, juga yang berhubungan dengan mereka." ucap Ezra sambil mencari berkas itu.
"Kenapa?" tanya Liam polos.
"Keluarga Marshal adalah penyihir hitam. Lady Marshal yang sudah menyabotase kita, dia yang meletakkan Bunga Sihir itu di meja taman dan sengaja menargetkan Arsha." jelas Ezra.
Liam dan Arka terkejut mendengarnya.
"Lalu dimana dia sekarang? Kakak sudah menangkapnya?" tanya Arka.
"Dia sudah mati. Sekarang jasadnya di penjara bawah tanah, aku sudah menyuruh Donovan untuk menyeret keluarga Marshal dan seluruh keturunannya ke istana." ucap Ezra lagi. Wajahnya merah padam, Ezra benar-benar marah sekarang.
"Lalu kemana Guardian?" tanya Liam.
"Dia pergi ke Kerajaan Perdu," jawab Ezra.
Liam ber-oh saja.
"Aku akan memisahkan semua dokumen yang berkaitan dengan keluarga Marshal. Oh, iya, kakak. Aku ingin mereka dihukum yang berat." ucap Liam kemudian.
Ezra mengangguk, "aku memang akan memberi hukuman yang pantas untuk pengkhianat kerajaan."
"Penyihir Hitam itu pasti mengincar Pengendali Spirit. Kita harus membuat pengumuman agar seluruh Pengendali Spirit Dandelion bisa berlindung. Sangat berbahaya jika Pengendali Spirit lainnya terkena serangan ini." sambung Ezra kemudian.
"Kakak benar. Tentang pengumuman itu, sebaiknya diumumkan sembunyi-sembunyi saja. Kalau kita umumkan terang-terangan, bisa bahaya. Penyihir Hitam mungkin punya mata-mata," respon Liam.
"Liam, kau juga harus hati-hati. Kurasa kau juga akan menjadi target mereka," ucap Ezra.
"Iya, aku akan berhati-hati." jawab Liam.
"Lysander." panggil Ezra.
"Saya, Yang Mulia." jawab Lysander.
"Sebarkan perintah untuk berlindung pada seluruh Pengendali Spirit Dandelion. Jangan sebarkan di tengah kota, tapi kirimkan Kertas Serbuk Suci langsung ke orangnya." titah Ezra.
"Baik, Yang Mulia. Akan segera saya laksanakan." jawab Lysander.
Lysander undur diri, dia bergegas menyebarkan Kertas Serbuk Suci pada seluruh Pengendali Spirit di Kerajaan Dandelion.
"Ternyata Pangeran Ezra sudah benar-benar dewasa, siapa sangka anak kecil yang dulu tergila-gila pada ilmu kedokteran itu sekarang sudah sangat bijaksana begini..." gumam Lysander sambil menyeka air mata di sudut matanya. Dia terharu rupanya.
***
Tiba-tiba Donovan masuk ke dalam ruangan.
"Yang Mulia, keluarga Marshal dan seluruh keturunannya sudah tiba. Mereka ada di Aula Penghakiman." lapor Donovan.
"Kerja bagus, Donovan. Aku akan ke sana." ucap Ezra sambil menyeringai.
"Liam, Arka. Kalian berdua jangan ikut. Oh, jangan gunakan spirit untuk mengikutiku juga," sambung Ezra.
"Iya..." jawab Liam dan Arka serempak.
***
"Kakak, untuk apa Guardian ke Kerajaan Perdu?" tanya Arka.
"Mungkin dia ingin membahas tentang kejadian Ledakan Sihir dengan para tetua dari kerajaan lain. Aku pernah dengar dari Lux kalau peristiwa Ledakan Sihir ini dulu pernah terjadi saat Raja Mer memimpin, korbannya juga adalah Putri Raja Mer. Ini adalah sejarah yang terulang." ucap Liam.
"Putri Raja Mer? Maksud kakak Putri Xena? Putri Xena 'kan terkenal dengan kemampuan pengendalian spiritnya yang hebat! Dia bahkan menjadi panutan bagi seluruh pengendali spirit di benua ini." seru Arka.
"Eh, sebentar. Putri Xena dan Arsha, sama-sama anak raja. Mereka berdua sama-sama pengendali spirit, meski Arsha masih kecil dan belum bisa mengendalikan kemampuannya, tapi dia tidak bisa dianggap remeh." sambung Arka lagi.
Liam mengangguk. Semua yang dikatakan Arka benar.
"Bulan lalu dia bahkan menghancurkan Rumah Kaca saat sedang berlatih dengan spirit. Selain itu dia juga pernah meledakkan kamar kami dengan Spirit Cahaya yang dipanggilnya. Kalau diingat lagi, ada banyak kekacauan yang sudah dilakukan Arsha dengan spiritnya itu." ucap Arka sambil bergidik ngeri.
"Jangan lupa dengan ruang makan, dia juga pernah membuat banjir ruangan itu karena tidak sengaja memanggil spirit air." sambung Liam.
Arka mengangguk, itu benar.
***
Sementara itu di Aula Penghakiman, seluruh ruangan terasa mencekam. Tidak ada yang berani menatap Ezra.
tapi curiga deh, kayak ada plot twist gitu dari kematian Jeanette
-Ezra
kurang nyiksa apalagi ? ayolah, thor... kasih napas dikit buat liam /Sob/
zayden kecil ternyata udah melewati kejadian seperti itu, dia dewasa karena keadaan /Sob/ dan lagi, udah jago berpedang di usia 16? itu jenius banget. aku kayaknya usia 16 masih sibuk mikir tugas sekolah /Sob/
btw zayden badas banget, kepribadiannya beneran mencerminkan seorang putra mahkota /Proud/
lanjutkan, thor!