Raden Syailendra Atmajaya, pria kota dengan kehidupan yang liar, terpaksa menikah dengan Sahara, gadis desa yang cantik dan baik, karena perintah dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sisile, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 23
Sahara dan teman-temannya sedang duduk di taman kampus, sementara Raden dan rombongannya juga duduk tak jauh dari sana. Raden melirik Sahara dari kejauhan, Terkadang tanpa orang tahu Raden dan Sahara saling lempar senyum dan curi pandang.
Sahara membuka ponselnya lalu mengirim pesan kepada Raden.
“Kak mau minta tolong dong.”
Raden yang mendengar notifikasi langsung membuka ponselnya.
“Apa sayang?"
“Beliin pembalut dong."
Raden terkejut saat membaca pesan dari Sahara.
“Aku malu sayang belinya."
Sahara tidak membalasnya, tapi raut wajahnya langsung terlihat marah. Dari kejauhan Raden bisa melihat raut Sahara yang kesal.
“Iya sayang aku dibeliin deh, tunggu yah..udah bibirnya jangan manyun gituh,jadi pengen nyium hehehe.."
Sahara tersenyum membaca pesan Raden.
“Makasih sayang!!! mau nyium ya? sini aja kalo berani..."
Raden terkekeh membaca tantangan dari istri kecilnya itu.
"Ohh nantangin ya…nanti yah di rumah liat aja...kamu bakal aku bikin ayang capek sampai gak bisa jalan.”
“Gak takut… (emotikon mengejek) aku tunggu ya sayang.”
“Ya udah, kalo gitu aku pergi dulu beli pembalut buat kamu."
Devon yang melihat tingkah Raden yang aneh hanya bisa menggelengkan kepala. Ia tahu betul bahwa sahabatnya itu tengah dilanda kasmaran.
“Gue pergi dulu ya.”
“Kemana?”
“Ke luar bentar”
Raden meninggalkan Devon dan Rizki.
Raden masuk ke dalam sebuah mini market yang berada di deket kampus. Dia menuju ke rak yang memajang pembalut dengan berbagai jenis. Raden berfikir sejenak, ia bingung memilih yang cocok untuk Sahara. Tidak mau pikir panjang, Raden akhirnya mengambil beberapa kotak dengan berbagai model dan ukuran. Raden juga mengambil beberapa cemilan dan minuman, juga minuman pereda nyeri dan sebungkus rokok lalu membawanya ke meja kasir.
“Banyak amat mas beli pembalutnya,” ujar kasir laki-laki yang terlihat gemulai.
“Iya…”
“Buat siapa mas?”
“Buat gue,”
“Ah mas bisa aja, emang mas haid juga ya, hehe.”
“Ah kepo lo, udah buruan itungin berapa?”
Setelah kasir menyebutkan nominalnya, Raden langsung membayar dan keluar dari minimarket.
“Aduhh ganteng amat sih mas, tapi sombong,” ujar si kasir yang kagum.
Saat Raden keluar dari mini market, ia berpapasan dengan Angel.
“Hai Den, nyari apa?”
“Nyari rokok Gel.”
Angel lalu melirik ke arah plastik yang ada di tangan Raden. Karena bahannya transparan, ia bisa dengan jelas melihat isinya yang berupa pembalut dan juga minuman pereda nyari haid.
“Hah, Raden beli pembalut, buat siapa? Apa Raden udah punya cewek, tapi siapa?” tanya Angel dalam hati.
“Ya udah Gel, gue duluan ya.”
“Iya.”
Raden berlalu meninggalkan mini market itu. Angel terus menatap punggung Raden yang berjalan menjauh darinya za
"Raden sekarang udah gak pernah keluar malem lagi, apalagi clubing, terus pagi-pagi beli bubur dua bungkus, dan tadi beli pembalut. Sebenernya ada apa yah, apa emang bener dia punya pacar tapi siapa?"
Angel kesal memikirkan itu, ia tidak jadi masuk ke dalam minimarket dan kembali ke kampus. Sesampainya di kampus Angel langsung bertemu dengan temannya Bella.
“Bel tau gak, tadi di mini market gue ketemu sama Raden.”
“Raden juga baru saja beberapa menit yang lalu nyampe sini.”
“Maksud lo Raden kesini?”
“Iya, lagian apa yang aneh sih, ini kan kampus tempat dia kuliah.”
“Kalo itu gue ngerti, tapi masalahnya dia tadi beli pembalut berarti langsung datang kesini.”
Bella terkejut mendengar ucapan Anggel.”
“Apa, Raden beli pembalut, buat siapa?”
“Itu yang bikin gue penasaran, gue mikirnya dia punya cewek dan masih anak kampus kita juga, tapi siapa ya Bel kira-kira?”
Sementara itu di tempat lain, Raden menghampiri teman-temannya dengan membawa kantong belanjaan.
“Nih makanan sama minuman,” Raden meletakkannya di atas meja.
Teman-temannya langsung mengambilnya. Devon membuka plastik namun ia bingung ketika melihat pembalut. Sembari mengangkat pembalut itu dia bicara dengan penuh rasa penasaran,
"Ini makanan apa Den?”
Yang lain langsung tertawa
“Anjir, pembalut buat siapa tuh?”
Riyan langsung mengambilnya dan menaruhnya kembali ke dalam plastik.
“Jangan berisik anj*ng, malu tau.”
“Itu gak mungkin buat lo kan? Jangan bilang buat bini lo.”
“Yaa iya lah, buat siapa lagi, masa buat gue. Udah ah, gue pergi dulu.”
Sahara sudah menunggu Raden di depan toilet kampus, mereka membuat janji disana. Setelah berapa saat kemudian, Raden akhirnya datang.
“Udah lama cinta nunggu nya?”
“Iya dari tadi ayang.”
“Nih pembalutnya cinta,” Raden menyodorkan kantong plastik berisi pesanan Sahara.
“Makasih ya sayang.”
“Makasih doang nih, sun nya dong.”
“Ih apaan sih, bentar ah aku masuk toilet dulu.”
Sahara masuk ke dalam toilet dengan membawa pembalut, begitu keluar toilet Sahara tersentak melihat Raden yang berdiri di sana.
“Ayang ini toilet cewek, kenapa masuk?”
“Sepi kok, gak ada orang.”
“Emang kenapa kalo sepi?”
“Mau nagih ucapan terima kasih.”
Sahara langsung mendekat dan mencium pipi Raden.
“Udah sekarang kita keluar.”
Raden tersenyum senang lalu keluar dari toilet, Sahara mengikuti dari belakang, tapi tanpa mereka sadari dari kejauhan Febi dan Diana melihatnya.
“Dian, lo liat kan tadi Sahara sama kak Raden keluar barengan dari toilet cewek?”
“Iya Feb, aku liat kok.”
“Mereka ngapain di toilet cewek, terus ada hubungan apa antara mereka berdua?”
“Udah lah itu urusan mereka, ngapain kita harus ribet?”
Raden dan Sahara sampai dirumah, mereka terlihat begitu letih. Masuk ke dalam rumah, Sahara langsung tiduran di ruang tv. Tidak lama kemudian, Raden ikut berbaring si sebelah Sahara.
“Cape ya cinta?”
“Iya cape banget ayang.”
“Mau dipijitin gak?”
“Enggak ah, entar minta ucapan terima kasih lagi kaya di toilet,” cibir Sahara.
“Tau aja kalo lagi modus.”
Sahara pun tersenyum, kemudian ponsel Raden berdering, ternyata Rizki yang menelpon, Raden mengangkatnya.
“Halo Ki, ada apa?”
“Besok si Nicho ultah, kita mau ngerayain di club tempat biasa, lo dateng ya, kita party bawa bini lo juga.”
“Iya deh, nanti gue pikirin.”
“Usahain dateng lah Den, ini kan ultah si Nicho.”
“Hmm, iya.”
Raden pun menutup telepon.
“Telpon dari siapa kak?”
“Si Rizki, dia ngundang kita ke acara ultahnya si Nicho, acaranya malem di klub.”
“Aku gak usah ikut aja ya kak, aku malu terus belum pernah dateng ke tempat kayak gitu.”
“Kalo gitu aku juga gak dateng.”
“Jangan gitu, Nicho kan temen deket ayang, ya udah kalo gitu aku jadi ikut deh.”
“Nah kalo gitu kan enak.”
“Tapi gimana kalo nanti pada ngeliat kita jalan berdua?”
“Yah paling pada nyangkain kita pacaran.”
“Iya juga sih.”
BERSAMBUNG…