JUARA 1 LOMBA MENULIS HOROR TAHUN 2023
Prequel dari Rumah di tengah Sawah.
Pada tahun 1958, seorang dukun dikeroyok oleh warga desa hingga kehilangan nyawa. Setelah dukun itu tiada, barulah warga desa menyadari ada sosok perempuan yang tinggal di rumah sang dukun.
Namanya Narsih. Kulitnya putih bersih, berparas ayu, bersuara merdu. Tapi, siapa sebenarnya Narsih? Kehadirannya di desa Karang akankah membawa kebaikan atau malah sebaliknya?
Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama, tempat, dan kejadian hanya kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalihlikur
Kemarin datang hujan, sedangkan pagi ini sinar matahari terasa cukup menyengat. Begitulah kehidupan, sempurna dengan caranya. Hujan datang untuk meredakan gerah. Sedangkan sinar matahari ada untuk mencairkan embun yang beku. Tidak ada alasan bagi manusia untuk mengeluh. Baik hujan ataupun terik, semua adalah anugerah.
Narsih menggeliat di ranjang empuknya. Setelah kedinginan berendam di air sungai semalam, Narsih tidur dengan nyenyak di kamar pengantin. Pagi ini dia terbangun dan tidak menemukan Wira di sisinya.
Sepulang dari tempuran sungai, Narsih dan Wira diantarkan ke kamar khusus pengantin oleh Mbok Ginah. Mereka menempati bilik kamar paling depan, dekat dengan ruang tamu di rumah Ki Mangun. Dan malam pertama sebagai pasangan suami istri dilewati Narsih tanpa berbincang dengan suaminya. Baik Narsih maupun Wira sama-sama lelah semalam dan langsung tidur. Wira sama sekali belum menyentuh istrinya.
Narsih menatap cermin yang tergantung di dinding dekat tempat tidur. Memastikan penampilannya tidak semrawut, berusaha terlihat cantik sebagai pengantin baru. Dia tidak ingin Wira nanti melihat dirinya yang acak-acakan. Narsih maunya selalu terlihat anggun.
Setelah memastikan penampilannya baik-baik saja, Narsih pun keluar kamar. Dia hendak mencari sang suami. Hati perempuan itu berdebar-debar. Ingin bermanja-manja, ingin berdua bercengkerama. Bukankah pengantin baru wajar menginginkannya? Menjadi raja dan ratu selama beberapa waktu.
Terdengar suara orang berbincang dari ruang belakang. Semoga itu Wira, harap Narsih dalam benaknya. Dia berlari-lari kecil menyusuri lorong yang penuh dengan keris tergantung di dinding. Dan sampailah dia di depan pintu dapur.
Narsih melihat Wira yang duduk di kursi memunggunginya. Sementara Mbok Ginah terlihat sibuk memotong nangka muda di depan tungku yang menyala. Beberapa ekor kucing mengendus-ngendus kaki Mbok Ginah, bermanja di hadapan sang majikan.
"Yang sabar Lee. Bapakmu kan selalu berprinsip urip iku urup. Kamu harus bisa berguna untuk orang banyak." Terdengar suara Mbok Ginah menasehati Wira.
"Berguna itu ada banyak cara Mbok. Aku sekolah, terpelajar. Aku bisa berguna bagi warga desa dengan mengajarkan ilmu yang kudapatkan pada anak-anak. Tidak dengan cara aneh seperti ini." Wira terlihat memprotes Si Mbok nya.
"Kalau seperti ini, aku mengorbankan masa depanku namanya," lanjut Wira.
Mbok Ginah hendak membalas ucapan Wira, namun kemudian menyadari kehadiran Narsih yang berdiri di ambang pintu. Untuk sesaat Mbok Ginah nampak terkejut, salah tingkah. Namun detik berikutnya sudah menunjukkan sebuah senyuman pada Narsih.
"Nduk Narsih, sedang apa disitu? Sini sini," ucap Mbok Ginah. Wira menoleh, terlihat bola matanya membulat untuk sekejap.
"Mbok sama Mas Wira sedang membahas apa?" tanya Narsih ragu-ragu.
"Oh itu. . ." Mbok Ginah menghela nafas. Dia terlihat kebingungan.
"Aku sebenarnya ingin jadi guru di desa ini. Tapi nyatanya, aku mendapat tugas baru sebagai Bayan di desa," sahut Wira menyela. Suaranya terdengar tenang, dengan ekspresi datar.
"Iya kah?" Narsih mengambil duduk di dekat Mbok Ginah. Membantu merajang sayuran.
"Iya. Kata Sugeng, semalam diadakan musyawarah dan pemilihan Bayan di balai desa. Dan entah bagaimana aku yang terpilih. Beban berat rasanya dijatuhkan pada pundakku," jawab Wira sembari meneguk teh di atas meja.
"Jangan dianggap sebagai beban Mas. Tapi sebuah tanggungjawab baru," tutur Narsih lembut.
"Memberikan tugas dan tanggungjawab pada orang yang tidak menguasai bidang tersebut sangat tidak benar Narsih. Seperti halnya pengemudi andong yang menutup mata. Bagaimana jika mereka terperosok ke jurang?" protes Wira. Narsih terdiam. Dia mengamati ekspresi suaminya itu. Narsih menyadari Wira pagi ini terasa sangat emosional. Kenapa hari pertama sebagai pengantin baru sudah dimulai dengan sebuah perdebatan?
"Sudahlah, apa yang kalian perdebatkan? Wira, ajak Narsih ke tempat Sugeng untuk melihat apa sudah selesai pemotongan daging kambing," sela Mbok Ginah. Perempuan itu sedikit melotot pada Wira.
Wira menghabiskan tehnya. Kemudian beranjak dari duduk dan mengulurkan tangan pada Narsih.
"Ayuk, ikut aku," ucap Wira singkat. Narsih menerima uluran tangan Wira. Dia berdiri dan berjalan beriringan dengan suaminya. Mbok Ginah memandangi punggung anak dan menantunya itu dengan tatapan penuh arti. Tangannya mengayunkan parang sekuat tenaga hingga nangka muda terbelah menjadi dua.
Dengan postur Wira yang tinggi menjulang dan langkah kaki yang cepat membuat Narsih kesulitan berjalan sejajar dengan suaminya itu.
"Bahkan setelah aku menjadi istrimu pun, hanya untuk berjalan sejajar denganmu sangat sulit," gerutu Narsih kesal. Dia merasa sangat jengkel dengan sikap Wira pagi ini. Padahal saat baru bangun tidur tadi, Narsih ingin bermanja-manja dengan Wira. Namun nyatanya laki-laki itu bersikap acuh pada Narsih.
Wira menghentikan langkah. Dia menghela nafas dan menoleh. Menatap Narsih dengan tajam, yang membuat perempuan itu salah tingkah.
"Kenapa aku sangat menyukaimu? Sekesal-kesalnya aku padamu, hanya dengan menatap bola matamu saja hatiku luluh," ucap Narsih tertunduk.
Wira meraih tangan Narsih sekali lagi. Mereka kembali melangkah, namun kali ini dengan bergandengan tangan. Tidak ada kata yang terucap dari bibir Wira. Laki-laki itu tetap bersikap dingin.
Sambil terus melangkah, sesekali Narsih menoleh memperhatikan suaminya. Dia merasa jatuh cinta dengan sebenar-benarnya. Tidak masalah Narsih lupa dengan masa lalu, lupa jati dirinya, baginya sekarang yang penting bisa hidup bersama laki-laki yang sudah menolong hidupnya.
Narsih dan Wira sampai di tempat Sugeng. Di halaman depan, terlihat Tarno dan Sugeng tengah menguliti seekor kambing. Aroma prengus sedikit mengganggu segarnya udara pagi.
"Nanti sore setiap kepala keluarga akan diundang ke balai desa, untuk makan gulai kambing bersama. Bapak mengadakan syukuran atas terpilihnya aku sebagai Bayan," ucap Wira sembari menghela nafas. Jelas terlihat, laki-laki itu tertekan dengan jabatan barunya.
"Pengantin baru, kemarilah!" teriak Tarno saat menyadari kedatangan Narsih dan Wira.
"Apakah tiga ekor kambing cukup untuk makan bersama nanti?" tanya Wira.
"Cukup kok. Malah jerohan dan kuah 'gajihnya' nanti bisa dibungkus dibawakan pulang sepertinya," jawab Sugeng tanpa menoleh. Dia sibuk menarik jerohan kambing yang lengket dengan lemak.
"Tangannya mbok dilepas. Gandengan terus nggak capek to," seloroh Tarno cengengesan. Wira buru-buru melepas genggaman tangannya. Narsih tersipu menahan malu.
"Nanti siapa yang akan masak gulainya?" tanya Narsih kemudian.
"Si Mbok dan para tetangga. Jadi daging ini nanti akan dibawa ke balai desa. Dimasak di kuali besar untuk dihidangkan sore hari," jelas Wira.
"Aku mau ikut membantu," sahut Narsih cepat.
"Tidak boleh!" sanggah Wira cepat.
"Kenapa?"
"Kita akan didandani hari ini. Kamu akan diperkenalkan sebagai menantu Ki Mangun nanti sore. Kamu dilarang melakukan hal-hal yang bisa membuat kelelahan. Itu perintah Bapak," jawab Wira.
"Ngomong-ngomong, aku tidak melihat Ki Mangun pagi ini," sahut Narsih.
"Yah, laki-laki itu meski terlihat renta tapi langkahnya lebih cepat dari siapapun. Bisa saja dia tiba-tiba berdiri di sebelahmu tanpa kamu sadari," balas Wira setengah bergurau.
Sementara itu pada saat yang sama, Ki Mangun berdiri memegang tongkatnya memandangi dipan bambu kuning yang ada di rumah Darso. Dipan tempat tidur Narsih.
"Siapa sebenarnya kamu Nduk? Kehidupan seperti apa yang kamu jalani, hingga Darso memilihmu?" gumam Ki Mangun dengan tatapan sayu.
Bersambung___