"Kamu jadilah ayah dari anakku," ucap Dinia pada stafnya Taran.
🍁🍁🍁
Dinia Kenan, Direktur dari DW Fashion menolak untuk menikah. Hingga dia tanpa sengaja menemukan bayi lelaki yang terbuang. Dinia putuskan membesarkan bayi lelaki itu yang dia beri nama Ditrian.
Dinia mengakui kalau Ditrian adalah anak kandungnya karena tak ingin terpisah dengan anak itu. Hingga waktu berlalu, orang-orang mulai curiga dengan status Dinia yang seorang wanita lajang.
Saingan bisnisnya pun memanfaatkan masalah itu sebagai skandal untuk menghancurkan bisnis Dinia. Untuk menjawab rasa penasaran itu, Dinia meminta salah satu staf kepercayaannya menjadi ayah dari anaknya, Ditrian. Pria bernama Taran yang masa lalunya menjadi misteri.
Meski demi itu semua, Dinia harus pura-pura menikah dengan Taran. Terlebih Taran sangat menyayangi Ditrian seperti anak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elara-murako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. kursi yang meluncur
"Pagi, Taran," sapa salah satu pelayan di rumah Dinia. Taran tersenyum tanda ramah. Dia memang bukan orang yang tegaan.
"Gak usah kecentilan," tiba-tiba Dinia datang dan memberikan respon kesal.
"Saya tidak melakukan apa pun, Nona." Taran heran karena lagi-lagi dia yang disalahkan.
Dinia melihat penampakan Taran dari ujung kaki ke kepala. "Di mana pakaian yang aku belikan kemarin?"
"Akan saya cuci pulang kerja nanti."
Dinia duduk dan menggebrak meja. "Berikan pada pelayan. Biar mereka lakukan sekarang. Aku tidak akan keluar selain dengan kamu yang sudah naik kelas," titahnya.
"Nona, saya sudah lulus sekolah," canda Taran. Dibandingkan mendapatkan wajah emosi sang bos, Taran memilih kabur dari tempat itu untuk mengambil pakaian yang dimaksud.
"Mulai sekarang, Taran akan makan denganku dan Ditrian. Statusnya kini adalah suamiku. Jadi, jangan sampai kalian keceplosan. Ingat, panggil dia Tuan Green." Dinia memberikan wedjangan pada pelayanannya.
"Sesuai dengan perintah Anda, Nona. Kami akan selalu taat dan patuh."
Tak lama Taran datang, membawa satu stel pakaian resmi. "Miss, tolong rapikan, ya? Aku akan berikan tip. Maaf aku menyuruhmu."
"Tidak masalah, Tuan Taran. Kami akan selalu menghargai Anda."
Taran berdiri dengan penuh pertanyaan. Para pelayan itu mendadak berubah kaku. "Anda pasti melakukan sesuatu ya Nona?"
Dinia menaikkan sebelah bahunya. Taran masih berdiri bersama staf lain.
"Itu tempat kamu!" Dinia tunjuk kursi yang berhadapan dengannya.
"Apa perlu ini dilakukan di rumah juga, Nona. Saya apa bedanya dengan staf lain."
Dinia mengeluarkan suara decakan dari mulutnya. "Kamu ini! Anggap sebagai pembiasaan agar kamu tidaj kaku di depan orang lain!"
"Menurut saya ini berlebihan."
Dinia tunjukkan tinjunya. Saat itu Taran lekas duduk. Pelayan membawakan beberapa makanan ke atas meja. Tentu saja Taran tahu table manner, salah satu syarat dia bisa menjadi staf di Kenan Grouph. Hanya saja, di depannya ada nenek sihir paling berbahaya di dunia. Taran bingung apa selama makan mereka tidak perlu membahas apa pun?
"Besok aku akan bertemu dengan Sulivan. Kamu harus temani aku. Aku berikan hak kamu untuk bicara. Sebagai pasangan, anggap aku berikan kepercayaan padamu."
"Baik."
Dinia tahu Taran pandai menempatkan diri. Namun, sarapan kali ini mereka tidak ditemani Ditria. Entah ke mana bayi itu. Memang Ditrian terkenal angkatan siang. Meski dia tidur tepat waktu, tengah malam sudah biasa bangun dan main sendiri. Begitu pagi, matanya seperti dilem.
"Saya mendapatkan email dari salah satu produsen kain. Mereka dulu sangat terkenal di Emertown. Katanya tahun depan kain wol akan populer. Apa lebih baik kita stok dan mulai perkenalan, Nona Dinia?"
Dinia mengambil gelas air putih. "Kamu sungguh sangat cepat sekali mendapatkan kabar. Itu kampung halaman ibuku. Nanti aku akan tanya beliau bagaimana pabrik itu."
"Sesuatu menjadi legendaris tentu ada alasannya, Nona. Salah satunya pertahanan kualitas yang tidak pernah berubah. Saya pikir ini sesuai dengan deskripsi mereka. Hanya ide Anda pun jauh lebih baik."
Baru selalu berbincang, Ditrian datang sambil menguap. "Mama, mau makan dalagon," pinta anak itu.
"Kamu ini ada-ada aja. Emang bisa makan daging dragon, wujudnya saja belum ada yang jelas melihat." Dinia mengusap kepalanya.
"Ian mimpi tadi. Akek makan dalagon," ungkap anak itu. Taran bantu menaikkan Ditrian ke atas kursi.
"Masa iya, Kakek Dira makan naga. Gimana caranya?" Dinia malah menganggap mimpi Ditrian serius.
"Sepertinya yang Tuan Muda maksud bukan itu." Taran dengan mudah menerka. Dia usap rambut Ditrian. "Apa itu dalagon?"
"Minum manis," jawab Ditrian.
"Jadi tidak dimakan?" Taran kembali bertanya.
"Makan uga. Macuk mulut, kan?" Ditrian pikir semua yang diminum dan dimakan maknanya sama.
"Minum itu berupa air, makan itu lebih ke sesuatu yang bisa dikunyah," jelas Taran.
"Minum cup?" Ditrian masih gagal paham. Sup di Heren berupa kuah kaldu kental. Isinya tentu tidak ada, jadi terkesan hanya diminum dengan cara diseruput.
"Ditrian gak salah. Kamu jelasinnya yang gak tempat," ledek Dinia.
"Mana dalagon?" Ditrian masih berharap pada apa yang Dinia dan Taran pun tidak tahu.
Ujungnya mereka kepikiran bahkan saat berangkat ke kantor. Sengaja Dinia turun di depan lobi. Wartawan datang dan mengerubungi. Taran masih menggendong Ditrian di belakang.
"Apa benar Anda suami sah Nona Dinia?" Salah satunya langsung menanyai ke bagian inti.
Mereka sudah sepakat akan saling diam. Hal ini dilakukan agar wartawan semakin penasaran. Jika langsung mengaku, bukannya terlalu kentara.
"Bagaimana menurut Anda tentang dokumen yang tersebar?"
"Maaf, tidak bisakah kalian jangan langsung percaya pada rumor yang ada? Biarkan hidup kami tenang," pinta Dinia lalu masuk menuntun Taran.
"Sudah berapa lama kalian bersama?"
Seluruh pertanyaan itu tidak ada yang diindahkan. Orang-orang suruhan Dinia akan memberikan bukti selanjutnya di media sosial. Fungsi utama selain membuat natural, tapi juga menaikkan saham perusahaan secara bertahap.
Sampai di kantor, Dinia melompat-lompat girang. "Finally, mereka semua kena jebakan!"
Perempuan itu mengeluarkan kursi dari belakang meja. Dia naiki dan terus digerakkan melunjur ke sisi kanan dan kiri kantor. Awalnya semua baik-baik saja, hingga Dinia tidak bisa lagi mengendalikan laju kursi. Dia berteriak ketakutan.
"Taran, tolong!" pintanya.
Dinia hanpir membentur keras ke tembok. Taran sigap mengejar, menarik kursi dan menahannya. Harusnya semua membaik, tapi saking takutnya Dinia malah menarik bahu Taran. Alhasil wajah Taran condong ke depan tak terkendali hingga bibirnya pun ikut mendarat di bibir Dinia.
Tiga detik pertama, mereka masih memantung. Hingga hitungan ke sepuluh, Taran dorong tubuh Dinia. Wanita itu meluncur mundur, untung masih bisa ditahan. Taran lari ke kamar mandi.
"Tunggu! Ciumanku yang dicuri, gimana bisa malah dia yang ngucek bibir?" Dinia jadi naik pitam. Dia berdiri dan menyusul Taran ke kamar mandi.
Benar saja, Taran membasuh bibirnya yang sudah diberi sabun.
"Green! Kamu pikir bibirku mengandung bakteri apa?" Dinia tidak terima. Dalam adegan novel manapun, hanya perempuan yang berhak melakukan adegan itu.
"Lipstik Anda menempel. Saya tidak ingin orang salah paham," jelas Taran. Saat hendak keluar, Dinia menghalangi pintu.
"Cukup! Kamu sudah sekian kali menganggapku seperti.... Saking sakitnya aku gak bisa jelasin. Dimulai bukan tipe, tidak disuka san sekarang kamu anggap ciumanku racun?"
"Aku tidak tahu kalau Nona suka dengan ciuman tadi." Taran kembali membuat wajah Dinia memerah hingga urat-uratnya terlihat jelas.
"Keluar dari kantorku sekarang! Lebih baik kamu asuh Ditrian saja sana! Gak peka, kaku, beku, dingin! AKU BENCI SAMA KAMU!" Dinia ambil tas dan pergi keluar dari kantor.
"Segala hal dengan Nona Dinia memang selalu bermasalah," keluh Taran.
🍁🍁🍁
. d luar galak d dalamnya keras... wah... takut ngajak debatnya juga..🤭😁😁