Angin siang itu berhembus cukup kencang, memainkan helai rambut panjang milik Jelita yang sedang duduk santai di selasar universitas. Bagi Jelita, dunia hanya sebatas apa yang bisa dilihat oleh mata dan logika. Baginya, cerita hantu hanyalah dongeng pengantar tidur untuk orang-orang penakut.
"Hari ini kita nggak ada kelas! Gimana kalau kita ke gedung kosong sebelah," Ajak salah satu teman Jelita yang bernama Dinda. Matanya berkilat penuh rencana tersembunyi.
Jelita mengangkat alisnya sebelah, menatap Dinda dengan tatapan remeh.
"Buat apa kita kesana? Kamu mau ngajak mojok ya?" selidik Jelita sambil tersenyum tipis.
"Kamu kan nggak pernah takut dan nggak pernah percaya hal kaya gitu. Kita mau tantang kamu kesana untuk uji nyali," Kata Dinda tegas.
"Bener juga! Lumayan hiburan di saat lagi kelas kosong," sambung Ira yang tiba-tiba bergabung, memberikan dorongan ekstra agar Jelita terpojok.
Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan.
Oke, Siapa Takut? Ayok
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 BUNGA DI PAGI HARI
Cahaya matahari menembus celah gorden, memaksa Jelita untuk membuka matanya. Ia menguap lebar, merasakan tubuhnya sedikit lebih segar meski semalam ia merasa sangat gelisah.
Ia menoleh ke samping, memastikan bahwa tidak ada sosok pria pucat yang berbaring di sana.
"Kosong. Kan, benar kata aku, itu cuma mimpi buruk karena terlalu terbawa suasana di gedung tua." gumamnya sambil tersenyum puas.
Namun, senyum itu lenyap seketika saat ia hendak turun dari ranjang. Di atas bantal tepat di samping kepalanya, tergeletak setangkai bunga mawar putih yang masih segar, lengkap dengan tetesan embun di kelopaknya.
Harumnya sangat kuat bahkan aroma pinus dan melati yang sama dengan sosok Arjuna.
Ia tertegun, jantungnya kembali berdegup kencang.
"Nggak mungkin... Siapa yang naruh ini di sini? Ayah? Ibu? Nggak mungkin mereka masuk tanpa suara pintu."
Dengan pikiran yang berkelana, ia memutuskan untuk bersiap-siap terlebih dulu untuk berangkat ke kampus.
Lima belas menit berlalu setelah selesai. Ia membawa langkah kakinya menuju ruang makan dengan perasaan campur aduk. Di sana, ayah dan ibunya sedang menikmati sarapan sambil berbincang ringan.
"Pagi, Sayang. Tumben sudah rapi. Kamu tadi malam tidur jam berapa? Ibu lihat lampu kamarmu kedip-kedip terus." tanya ibunya Jelita, Diana, yang kini sedang mengoleskan selai ke roti.
Jelita menarik kursi lalu duduk dengan lemas.
"Lampu kamar rusak mungkin, Bu. Oh iya, apa tadi pagi Ayah atau Ibu masuk ke kamarku dan menaruh bunga?"
Ayah Jelita mengernyitkan dahi sambil menurunkan koran yang sedang dibacanya. "Bunga? Ayah bahkan belum sempat ke taman pagi ini. Kenapa? Ada cowok iseng yang masuk lewat jendela?" goda ayah Jelita, Burhan.
Ia terbata-bata saat mendengar godaan sang ayah.
"Ng-gak ada, Yah. Apaan sih, mungkin cuma perasaanku saja."
"Ini pasti prank dari Dinda dan Ira! Mereka pasti kerja sama dengan seseorang untuk menakut-nakutiku." batin Jelita mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini masih bagian dari rencana teman-temannya.
Setelah selesai sarapan, ia memutuskan untuk berangkat ke kampus.
"Aku berangkat dulu ya! Ayah, Ibu, sampai nanti." pamit Jelita.
"Hati-hati ya, Sayang." jawab kedua orang tuanya.
Kini Jelita sedang mengendarai sepeda motornya, pikirannya semakin kalut tentang setangkai bunga itu. Kenapa bisa berada di kamarnya, sementara kedua orang tuanya tidak memasuki kamarnya?
"Stop mikir negatif! Sebaiknya aku tanya Dinda dan Ira, mungkin memang mereka sedang mencoba menakutiku." batin Jelita.
Ia sudah berada di depan gerbang kampus. Ia sempat memikirkan tentang janji itu. Sesuai janji di gedung tua kemarin, Arjuna memintanya kembali menemuinya.
Namun, Jelita yang keras kepala justru memutuskan untuk sama sekali tidak mendekati gedung angker itu. Baginya, menepati janji kepada halusinasi adalah hal paling konyol yang bisa dilakukan seorang mahasiswi seperti dirinya.
Di kampus, ia berusaha bersikap normal. Ia tertawa bersama teman-temannya dan mengikuti jadwal kuliah dengan padat.
"Jel, kamu nggak mau ke gedung sebelah lagi? Siapa tahu ketemu Pangeran kamu lagi." ledek Dinda sambil menyikut lengan sahabatnya di kantin.
Jelita tertawa sinis. "Kalian gagal menakutiku dengan bunga mawar itu, jadi! Nggak usah sok misterius. Aku Nggak akan pernah ke sana lagi. Buang-buang waktu." celetuk Jelita.
Kedua sahabatnya kebingungan.
"Maksud kamu apa Jel! Bunga apa?"
"Bunga mawar putih yang kalian taruh semalam di kamarku, kalian berniat menakut-nakutiku kan." selidik Jelita.
Ia terpaku di kursi kantin. Tawanya yang sinis perlahan memudar, tergantikan oleh rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke tengkuknya.
Ia menatap mata Dinda dan Ira secara bergantian, mencari tanda-tanda kebohongan di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah wajah kebingungan yang jujur.
"Bunga apa? Kamu ini konyol banget sih, Jel! Sejak kapan kita ke rumah kamu, apalagi cuma buat taruh bunga. Kamu tahu sendiri kan semalam hujan deras? Aku malas keluar rumah." ujar Ira sambil menyeruput es tehnya.
Dinda mengangguk setuju, wajahnya berubah menjadi sedikit cemas.
"Iya, Jel. Kita memang suka menantang kamu, tapi kita nggak pernah masuk ke kamar kamu diam-diam. Itu sih namanya kriminal, bukan prank. Kamu... kamu beneran nemuin mawar putih?"
Jelita merasa dunianya sedikit berputar. Jika bukan mereka, dan bukan orang tuanya, lalu siapa? Bayangan wajah Arjuna yang memiliki rahang tegas dan senyuman menggoda kembali menari-nari di benaknya.
"Ah, sudahlah! Mungkin aku cuma salah ingat. Mungkin itu bunga dari tetangga yang jatuh." elak Jelita dengan suara bergetar.
Ia berusaha keras membentengi logikanya, meski jantungnya kini berdegup semakin tidak karuan.
Namun, seolah ingin membuktikan keberadaannya, suhu di sekitar meja kantin tiba-tiba berubah. Jelita merasakan sesuatu yang berat menumpu di bahunya, seperti sebuah rangkulan posesif dari belakang. Aroma pinus dan melati yang segar tiba-tiba merebak, menutup bau makanan di kantin.
"Kau berbohong, Sayang... Dan kau tidak datang menemuiku di gedung itu." bisik sebuah suara berat tepat di daun telinga Jelita.
Jelita tersentak hingga menumpahkan sedikit minumannya. Ia menoleh ke belakang dengan cepat, namun hanya ada barisan kursi yang diisi beberapa mahasiswa dan mahasiswi lain yang berlalu lalang.
"Jelita! Kamu kenapa sih? Kok kayak orang kesurupan?" tanya Dinda sambil memegang tangan Jelita yang dingin.
"Nggak... gak apa-apa. Aku mau ke kamar mandi sebentar." pamit Jelita sambil berlari kecil meninggalkan teman-temannya.
Di depan cermin kamar mandi yang sepi, Jelita membasuh wajahnya. Ia menarik napas dalam-dalam.
"Itu cuma halusinasi. Arjuna itu Nggak ada. Dia cuma pikiran kosongku." ucapnya pada pantulan dirinya sendiri di cermin.
Tiba-tiba, uap dingin muncul di permukaan kaca cermin yang tadi bersih. Sebuah tulisan tergores secara perlahan di atas kaca yang berembun itu, seolah ada jari yang sedang menulis:
"AKU SELALU ADA DI BELAKANGMU, JELITA."
Ia mematung, matanya membelalak tidak percaya. Belum sempat ia berteriak, ia merasakan sepasang tangan kokoh dan dingin melingkar erat di pinggangnya dari belakang.
Di dalam cermin, meskipun sosok itu tidak terlihat sepenuhnya, ia bisa melihat bayangan samar pria berpostur gagah dengan kemeja putih yang terbuka kancing atasnya, sedang menyandarkan dagu di bahunya.
"Kenapa kau begitu keras kepala, Cantik?" bisik Arjuna. Kali ini suaranya terdengar lebih nyata dan bergetar di kulit leher Jelita.
"Kau melanggar janji untuk menemuiku, maka sekarang aku yang akan menemanimu kuliah. Sepanjang hari. Tanpa henti."
Jelita bisa merasakan kecupan dingin mendarat di pundaknya, menembus kain kaos yang ia kenakan. Sensasi itu begitu nyata, membuat seluruh tubuhnya lemas sekaligus meremang.
"Pergi... tolong pergi!" teriak Jelita.
Arjuna tertawa rendah, sebuah tawa yang sangat seksi namun mengintimidasi.
"Aku tidak akan pergi sampai kau mengakui bahwa aku nyata. Dan sampai kau merasakan bahwa sentuhanku... jauh lebih menarik daripada lelaki manusia manapun di kampus ini."
Tangan Arjuna mulai bergerak nakal, mengusap garis rahang Jelita dengan ibu jarinya.
Tatapan Arjuna yang intens melalui pantulan cermin membuat Jelita kehilangan kata-kata.
Sifat mesum Arjuna yang terang-terangan namun elegan mulai mengikis benteng pertahanan logika gadis berusia 20 tahun itu.
Plus Ira & si berisik Dinda. Kombinasi maaaauuut... 🤣🤣🤣
Tiba2 ke inget lagu ini... Kesian jg si Arjuna. Tapi ya itulah hdp. 2 alam tidak mungkin bersatu...
Semangat ya Thor. Tuyulku ngikut nih. 🤣