NovelToon NovelToon
AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:380.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Fifie

Kisah cinta segitiga antara Dika, Ranti dan Vika. Semua berawal dari ketidaksengajaan hingga menjadi cerita cinta yang cukup pelik. Menguras airmata dan juga emosi Ranti yang akhirnya mengetahuinya setelah hubungan rumah tangganya dengan Dika telah menginjak tahun kelima dengan dikaruniai buah hati cantik berusia 2 tahun. Sementara Vika adalah sahabat baiknya semasa SMA. Semua rasa dihatinya bercampur aduk, bergejolak membuatnya dilema antara menjaga keutuhan rumahtangganya dan juga mempertahankan harga dirinya sebagai wanita yang selalu menjunjung tinggi cinta dan kesetiaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fifie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PANGGILAN TIBA-TIBA

"Hallo, selamat siang! Dengan saudara Dika Dewantara?"

"Selamat siang! Ya betul, dengan saya sendiri. Dengan siapa ini saya bicara?"

"Kami dari Kepolisian Polsek Tamansari, meminta saudara Dika untuk segera datang karena Saudari Vika Amalia saat ini sedang kami amankan di polsek Tamansari. Beliau menunjuk anda sebagai walinya."

"Maaf, pak! Kalau boleh saya tahu atas kasus apa ya?"

"Saudari Vika Amalia kami amankan beserta beberapa orang lagi karena keributan dimuka umum. Untuk itu kami harap saudara segera datang untuk mengurusnya!"

"Baik, pak! Terimakasih konfirmasinya. Saya usahakan segera kesana sekarang**!"

....

Aku terpekur. Bagai petir disiang bolong, panggilan tiba-tiba dari pihak Kepolisian membuat jantungku berdetak cepat.

Setelah membuat izin pulang ke kantor tempatku bekerja, aku bergegas ke Polsek Tamansari. Vika disana menungguku.

"Mas!" Vika memanggilku ketika ia melihatku masuk ke dalam ruangan setelah seorang polisi jaga mengantarku.

Kuucapkan salam, menyalami beberapa polisi yang tengah duduk. Kuedarkan pandangan. Vika, dua orang bodyguard yang kupekerjakan untuk menjaga Vika dan satu orang lagi yakni Arif.

Mata Arif menatapku tajam. Seolah ia menyimpan bara api yang siap dilontarkan padaku.

"Silahkan duduk saudara Dika Dewantara."

"Ya, terima kasih!"

"Begini,... saudari Vika Amalia beserta saudara Jaka dan saudara Bondan Prakoso dengan saudara Arifin Borne melakukan keributan dijalan umum. Setelah kami amankan ternyata semua ini adalah permasalahan keluarga. Untuk itu, ada beberapa pertanyaan yang akan kami ajukan kepada saudara. Mohon dijawab dengan sejujur-jujurnya demi kelancaran penyelesaian masalah ini."

"Sebentar, pak! Orang inilah yang membawa kabur istri saya dari Batam ke Jakarta. Saya yakin sekali. Saya ingat betul wajahnya."

"Saudara Arifin kami mohon untuk menunggu pemeriksaan kami. Dan kami harap kerjasamanya."

Aku menatap Arif lalu menatap Vika yang mulai berlinang. Hhh.... Aku lupa, ini murni permasalahan rumah tangga mereka.

"Saudara Dika Dewantara. Apakah benar mengenal saudari Vika Amalia?"

"Ya, saya mengenalnya."

"Sejak kapan?"

"Tepatnya sejak di Batam itu sekitar 8 bulan yang lalu."

"Apa benar, saudari Vika ikut saudara ke Jakarta sewaktu saudara ada urusan pekerjaan di Batam waktu itu?"

"Iya."

"Apa saudara yang mengajaknya atau saudari Vika yang meminta anda untuk membawanya?"

"Vika yang memohon agar saya membawanya serta ke Jakarta. Ada saksi lain juga yang mengetahui itu, asisten saya yang saat itu ikut mendampingi saya."

"Apa saudara tahu, kalau saudari Vika memiliki suami?"

"Iya saya tahu."

"Lantas kenapa saudara membawa saudari Vika yang notebene-nya memiliki suami dan keluarga?"

"Waktu itu selain Vika yang memohon, saya juga yang menyaksikan Vika terbaring diruang IGD rumah sakit Batam karena perlakuan kasar suaminya. Saya juga yang mengurus semua biaya administrasi di rumah sakit itu."

"Kenapa saudara tidak melaporkan kejadian kekerasan itu ke polsek terdekat tapi malah membawa saudari Vika pergi meninggalkan Batam tanpa seizin suaminya?"

"Mas Dika sudah menyarankan saya terus untuk buat visum dan lapor Polisi. Tapi saya terlalu takut untuk bertemu dia lagi, pak! Saya yang memaksa mas Dika. Jadi ini murni kesalahan saya. Mas Dika hanya menolong saya, pak! Beliau sama sekali tidak bersalah dalam hal ini." Vika ikut menjelaskan dengan tegas.

"Kami mohon saudari Vika untuk tenang. Kami sedang mengajukan pertanyaan kepada saudara Dika."

"Maaf!"

"Itu karena kamu sudah terpengaruh lelaki ini. Kamu tega meninggalkan aku disaat aku sedang diposisi diambang kehancuran karena bangkrut dan banyak hutang."

"Bohong! Kaulah biang keladinya. Kau siksa aku selama 4 tahun di Batam, lahir bathin jasmani dan rohani aku. Bahkan kamu tega menjual aku kepada teman-temanmu bila kamu kalah berjudi."

"Vika! Kejam sekali kamu fitnah aku gara-gara cinta gila kamu sama lelaki itu!"

"Cukup, cukup! Ini kantor Polisi. Diharap semua tenang dan menghargai kami."

Aku hanya terdiam. Tersadarkan dari posisiku yang terjepit. Tapi aku bukan lelaki pengecut. Aku akan pertanggungjawabkan kesalahanku karena rasa ibaku pada Vika.

"Saudara Dika Dewantara. Saudara bisa digugat dengan pasal penculikan dan perusak rumah tangga orang lain dan bisa dijebloskan ke tahanan bila terbukti melakukan semua itu. Apa saudara tidak berfikir jernih ketika

menolong membawa pergi saudari Vika dari Batam ke Jakarta?"

"Waktu itu saya berfikir jernih. Saya bahkan menyuruh Vika untuk buat visum dan buat laporan KDRT serta cerai dengan baik-baik. Tapi Vika terlihat begitu rapuh bahkan sampai gemetar keringat dingin saking takutnya bertemu suaminya. Saya turut prihatin atas luka luar dan mentalnya juga. Tapi Vika bilang kalau suaminya sudah menjadi iblis. Mereka tidak punya buku nikah jadi tidak perlu lagi bertatap muka karena Vika takut suaminya akan menjualnya lagi ke club malam di Batam. Saya sebagai seorang lelaki yang melihat seorang perempuan rapuh dianiaya begitu sadis oleh suaminya sendiri jadi terenyuh. Makanya dengan terpaksa dan rasa kemanusiaan, saya membelikannya tiket pesawat juga untuk ke Jakarta."

"Urusan kalian sudah selesai saat ini. Kami minta kalian menyelesaikan masalah rumah tangga dengan baik-baik dan dengan jalur yang benar. Bilamana diantara kalian kurang puas atau ada yang masih merasa ada ganjalan yang memang harus diurus pihak kepolisian, kalian bisa melaporkan dengan segala bukti yang cukup dan kongkret. Kami bisa memprosesnya ke jalur hukum sesuai prosedur yang berlaku. Sekali lagi, kami harap tidak ada lagi keributan dimuka umum yang mengganggu kepentingan orang lain."

Setelah urusan kami selesai, kami pun diizinkan pergi meninggalkan kantor polsek Tamansari.

"Dengar! Aku ga akan melepaskan kalian begitu saja! Vika.... tunggu aku, dan kau... lihat pembalasanku!" ucap Arif digerbang polsek dengan suara pelan tapi jelas. Vika menghambur ke belakangku.

"Ini masih diwilayah kantor polisi! Aku bisa saja buat laporan atas ancamanmu itu, ********!" Aku tak gentar dengan ucapannya.

"Hei,... jangan kuatir! Aku akan mengambil kembali apa yang memang seharusnya jadi milikku. Kau tak perlu sinis padaku! Tunggu saja, aku bisa saja membuatmu mendekam beberapa tahun di sel! Jangan anggap remeh aku, jagoan kesiangan!"

Arif pergi berlalu meninggalkan aku dan Vika.

"Aku akan urus perceraian kita secepatnya. Biar kamu bisa bebas melakukan apapun dengan wanita lain!" ujar Vika agak berteriak. Beberapa perwira polisi menengok kearah kami.

Hhh.. Aku hanya bisa menarik nafas panjang. Pening kepalaku terasa. Vika menggandeng tanganku. Ia lalu mengajakku ke kedai minuman yang terletak disamping kantor polisi. Aku mengikutinya.

"Maaf, mas! Kamu jadi ikut terseret kedalam masalahku." katanya dengan mata tertunduk. Aku hanya menghela nafas. Merenung dalam diam.

"Katamu kalian hanya menikah siri?" tanyaku mengingat ucapannya tempo hari.

"Sebenarnya kami nikah resmi. Tapi waktu di Batam, ia membakar buku nikah kami sehingga aku tidak bisa melaporkannya dan memintanya cerai. Itu katanya. Makanya kupikir, percuma aku melaporkannya sedang buku nikah kami sudah tidak ada."

"Kalian tetap resmi dan tercatat di kantor urusan agama. Jadi kalian tetap harus menjalankan prosedur perceraian dengan benar meskipun buku nikah itu sudah tidak ada karena nama kalian masih tercatat sebagai pasangan suami istri, Vika!"

"Maaf mas, sungguh aku ga tau kalau seperti itu kebenarannya."

"Kamu tau khan sifat jahat Arif. Pria itu pasti akan terus melakukan sesuatu yang ia inginkan. Tak peduli kamu menerimanya atau tidak. Intinya saat ini, kita harus siap dengan segala tindakannya pada kita nanti. Dan aku rasa, orang itu tidak akan main-main dengan ancamannya."

"Lalu kita harus gimana, mas?" Vika ketakutan menggenggam erat kedua jemariku dengan tangan penuh keringat.

Aku membalasnya. Mengalirkan rasa kenyamanan dan kepercayaan padanya. Aku sudah terlanjur terjebur bersamanya. Tak baik melarikan diri dan mencuci tangan. Vika butuh perlindungan dariku.

"Mari kita lawan bersama-sama!"

Vika menangis mendekat tanganku diwajahnya. Ada rasa bahagia dimatanya. Ia memintaku menemaninya hari ini dirumahnya. Aku mengiyakannya. Meminta mas Manto dan Ciko untuk istirahat hingga pukul 8 malam. Sementara aku membawa Vika pulang ke rumah Griya.

Pak Iksan kaget melihat Vika digendonganku. Sejak hampir seminggu ia memang ditugaskan dirumah, sementara Vika bekerja dikaeal mas Manto dan Ciko merangkap menjadi sopir.

"Nona kenapa, mas?" tanya pak Iksan kuatir sekali. Ia buru-buru membukakan pintu kamar Vika.

"Kami dari kantor Polisi, pak! Arif hampir mencelakakan Vika. Untung mas Manto dan Ciko saat ini saya perbantukan menjaga Vika."

"Masya Allah!! Emang orang itu! Ga ada jiwa manusianya sama sekali. Kenapa orang gila itu harus datang dan menyusahkan non Vika lagi!" Pak Iksan emosi sekali mendengarnya. Ia lebih tahu Arif banyak ketimbang aku. Bahkan kehidupan Vika dan keluarganya hancur karena Arif.

"Maaf ya, pak. Saya harus nenangin Vika dulu!" Pak Iksan mengangguk tanda mengerti. Ia pergi meninggalkanku dengan Vika dan menutup kamar Vika segera.

Aku hanya bisa mengusap wajah Vika yang bersimbah keringat. Wajah cantiknya terlihat pucat. Kuambil tissue basah diatas meja riasnya. Membersihkan perlahan wajahnya dari make up. Matanya masih tertutup. Vika begitu kelelahan hingga tertidur pulas. Walau sesekali ia menggeliat dan bergumam seperti mengigau. Itu mungkin karena rasa depresi yang menekan kesedihannya.

Kuganti pakaiannya dengan baju tidur yang lebih nyaman. Jantungku berdegub melihat pemandangan indah dihadapanku. Vika begitu memukau. Sungguh sempurna Allah menciptakannya dengan keindahan pahatan-pahatan cantik raganya.

Tapi aku tidak ingin seperti binatang buas. Aku memang begitu tergoda. Tapi saat ini, Vika bukanlah barang mainan boneka pemuas sex ku saja. Wanita ini butuh penghiburan. Ia begitu rapuh dengan ketidakpercayaan dirinya ditengah banyaknya kelebihan yang Tuhan beri padanya.

Akhirnya kusadari, tak ada kesempurnaan yang hakiki didunia ini. Semua telah Allah beri sesuai takar dan porsinya.

Seperti wanita cantik yang terbaring lemah dihadapanku ini. Ia kaya sejak lahir. Penuh cinta dari orangtua dan orang sekitarnya. Cantik dan baik juga. Bahkan termasuk tipikal perempuan yang tidak sombong dan pilih-pilih dalam pergaulan. Tapi ternyata cobaannya bisa lebih berat dari aku dan Ranti. Ia jatuh cinta pertama pada orang yang salah. Ia hanya jadi tambang emas dan bahkan tak dinilai sama sekali meskipun seluruh harta kekayaan, harga diri bahkan kedua orangtuanya dirampas darinya.

Ia begitu menyedihkan, mengkhawatirkan hingga alam bawah sadarku tertarik untuk menolongnya keluar dari jeratan kepedihan yang berkepanjangan. Sayangnya aku lupa, jerat itu adalah rumput hidup yang terus hidup menjalar. Dan akhirnya menarik kami kembali terjerat rumput liar yang jahanam itu. Harusnya sejak awal kutebas mati hingga tak lagi bisa menjerat kami berdua kedalam pusarannya.

Aku lupa, tindakanku menolongnya menjadi bumerang untukku sendiri dan Vika pada akhirnya. Betapa bodohnya aku melupakan semua itu. Kami terlalu terlena dengan cinta. Satu kata yang seharusnya tidak membuat kami lupa diri. Hhhhh.. .

1
Lailatul Fadjariyah
bnyak hikmah yg BS kita ambil drcerita ini.bhwa kehidupan spti roda yg berputar..,tp semua tetap akan kembali kpd sang Halik.🙏🙏
Nanik Ismawati
Ranti yg skrg tambh bijak Krn didewasakan oleh pengalaman dan keadaan...skrg Dika yg tambh menyesal
YuWie
yaelahhh..malah salah2 an. laki2 mah klo zina istri yg di salahkan..yg sdh gak seksi lah, yg sdh gak perhatian lah, yg gak dilayani lah... apalagi lg merasa diri mapan..beuhhh
YuWie
dika kie nangisan ough
YuWie
trus klo Vika muncul ntar goyah lagi kamu Dika
YuWie
lagi membayangkan 2 laki2 dewasa yg gagah perkasa menangis...ya opo kuwi suasanane..
ika
byk pelajaran dari crita ini...
hidup bkn hny melulu seneng, tp jg ada sedihnya...
smoga Dika tenang disisiNya...
ika
rasain...
jd laki koq gitu amat...
sapa coba yg g sakit hatinya...
dari awal baca udah greget ma sikap Dika..
ika
karyanya bagus
ika
sakit rasanya...
Cusrita Bachri
sukurin deh...kesel sm laki² model bgini
Rani Ummi
krrennn ranti
‼️n
Walah....pelakot....njengkelke.....nghrrhetke😡😡😡😡
Dep queen
Bom like kU meluncur bubun🥰🥰👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏
Beast Writer
tamat
Fira Ummu Arfi
lanjuttttttt
Fira Ummu Arfi
semangatttt
Kd Aswini Putra
biar Ranti balikan sama mantan suaminya ,demi jingga thor
Kd Aswini Putra
biar Ranti balikan sama mantan suaminya ,demi jingga thor
Kd Aswini Putra
biar Ranti balikan sama mantan suaminya ,demi jingga thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!