No Plagiat ❌
Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.
Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.
Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan sang nenek
“Pagi tadi, telah terjadi kecelakaan beruntun di jalan raya menuju kawasan pegunungan.”
Valerie membeku.
“Dalam kejadian tersebut, Kedua orang tuamu ikut menjadi korban diantara tujuh orang yang meninggal.”
Wajah Valerie perlahan kehilangan warna.
“Apa...?” bisiknya lirih.
Petugas itu melanjutkan dengan hati-hati.
“Setelah kecelakaan terjadi, kedua orang tuamu sebenarnya berhasil selamat. Namun, mereka memilih turun untuk membantu para korban lain yang masih terjebak di dalam kendaraan yang terperosok ke jurang. Mereka menolong satu per satu korban yang masih bisa diselamatkan, hingga pada akhirnya mobil yang mereka tolong meledak dan jatuh kejurang.”
“Kami berhasil turun kebawah jurang untuk mengevakuasi para korban.”
“Tetapi...”
Suara petugas itu terdengar semakin jauh di telinga Valerie.
“Pada akhirnya, Mereka semua tidak berhasil diselamatkan.”
“Mereka meninggal dunia di lokasi kejadian.”
Dunia Valerie seakan berhenti berputar, ia hanya menatap kosong ke depan.
“Tidak.”
“Kalian pasti salah orang.”
Gumamnya berusaha menyangkal informasi yang ia Terima.
Polisi menyerahkan kartu tanda penduduk kedua orang tuanya. Tangannya gemetar melihat kedua kartu tanda penduduk itu, terlihat jelas foto kedua orang tuanya.
Baru beberapa jam yang lalu mereka tertawa bersama. Beberapa jam yang lalu Ayah memberinya liontin emas, dan ibunya memakaikan gelang giok di pergelangan tangannya. Mereka mengatakan bahwa dirinya adalah pelengkap kebahagiaan dalam pernikahan mereka.
“Bagaimana mungkin...”
“Bagaimana mungkin mereka tidak selamat?”
Air mata mulai mengalir tanpa bisa dibendung. Tubuh Valerie melemah, tangannya gemetar hebat. Dengan tatapan kosong, Valerie mengikuti mobil polisi meninggalkan kampus menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan, pikirannya kosong, namun ia tidak dapat membendung air matanya.
Beberapa jam yang lalu, ia masih tertawa bersama kedua orang tuanya, menikmati sarapan yayang lezat, menerima hadiah peringatan hari pernikahan kedua orang tuanya, bahkan berpamitan sebelum memasuki kampus. Namun kini, seketika semua berubah.
Sesampainya di rumah sakit, langkah Valerie terasa begitu berat. Tangis pilu memenuhi lorong rumah sakit. Beberapa keluarga korban terduduk lemas, sementara yang lain menangis histeris memanggil nama orang-orang yang mereka cintai.
Ketika pandangannya tertuju pada dua peti jenazah yang terletak berdampingan, tubuh Valerie seketika melemah.
“Ayah!... Ibu!...”
Suara itu keluar lirih sebelum berubah menjadi tangisan yang pecah tak terkendali. Ia berlutut di hadapan kedua peti itu, menggenggam erat tepinya sambil menangis sesenggukan.
“Aku pasti sedang bermimpi, ini tidak nyata kan?”
“Kita baru saja tertawa bersama, dan kalian mengantarku ke kampus...”
“Bagaimana mungkin kalian pergi meninggalkan aku secepat ini?”
Valerie ingin melihat wajah kedua orang tuanya untuk terakhir kali, ingin memastikan bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk. Namun petugas rumah sakit menjelaskan dengan lembut bahwa kondisi jenazah tidak memungkinkan untuk diperlihatkan.
Mendengar hal itu, Valerie semakin hancur. Tangannya meremas liontin emas pemberian ayahnya dan gelang giok dari ibunya, hadiah terakhir yang kini menjadi kenangan paling berharga yang tersisa.
Di tengah kesedihannya, seorang wanita lanjut usia berjalan mendekatinya. Meski matanya sembab karena menangis, wanita itu tetap terlihat anggun dan berwibawa. Rambutnya yang memutih tersanggul rapi, sementara pakaian hitam yang dikenakannya memperlihatkan kesedihan yang mendalam.
Wanita itu berhenti di hadapan Valerie, air mata wanita itu kembali jatuh.
“Nak...” suaranya bergetar.
Valerie mengangkat kepalanya perlahan.
“Aku berutang nyawa pada kedua orang tuamu.”
Valerie menatap wanita itu dengan mata merah dan bengkak.
Nenek itu mengusap air matanya sebelum melanjutkan.
“Saat kecelakaan beruntun terjadi, mobil yang kutumpangi bersama anak dan menantuku terperosok ke jurang.”
“Kami terjebak di dalam kendaraan, lalu orang tuamu datang menolong kami.”
“Mereka berhasil mengeluarkanku.”
Suara wanita itu mulai pecah.
“Namun saat mereka berdua berusaha mengeluarkan anak dan menantuku, mobil kami meledak dan jatuh kejurang membawa mereka semua.”
Tangis wanita itu semakin keras.
“Mereka menyelamatkan orang lain, tanpa memikirkan keselamatannya sendiri.”
Wanita itu menutup wajahnya sambil menangis.
“Maafkan aku nak...”
“Karena aku masih hidup sementara kedua orang tuamu tidak selamat.”
Valerie tak mampu berkata apa pun, dadanya terasa sesak. Ia menggigit bibirnya, air matanya kembali mengalir deras.
Wanita itu kemudian memeluk Valerie erat, keduanya menangis bersama. Dua orang asing yang dipersatukan oleh kehilangan.
“Maafkan aku nak.” ujar wanita itu lirih.
“Kedua orang tuamu adalah orang-orang baik, mereka pasti mendapat tempat peristirahatan yang paling indah.”
Valerie menatap dia peti yang berjejer dihadapannya, hatinya remuk redam melihat kedua orang tuanya kini sudah tiada.
•●✿●•
Beberapa hari kemudian, pemakaman dilaksanakan. Langit terlihat gelap berkelabu seakan turut berduka.
Valerie berdiri mematung di depan dua pusara yang baru saja ditutup tanah. Di sebelah makam kedua orang tuanya terdapat makam anak dan menantu wanita tua itu. Tiga keluarga yang sebelumnya tidak saling mengenal kini dipersatukan oleh tragedi yang sama.
Valerie menggenggam liontin emas di dadanya, air matanya kembali jatuh.
“Ayah... Ibu...”
“Aku di sini, mengantar kalian ketempat istirahat keabadian.”
“Maaf, aku tidak sempat mengucapkan happy anniversary pernikahan kalian.”
“Maaf, aku tidak sempat memberikan hadiah kepada kalian.”
“Maaf kan aku Ayah Ibu, aku belum sempat membanggakan kalian.”
“Kalian jangan khawatir, aku akan baik-baik saja.”
Meski jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa sebagian dirinya telah ikut terkubur bersama kedua orang tuanya.
Setelah semua selesai, Valerie kembali ke rumahnya. Rumah yang biasanya dipenuhi tawa, aroma masakan ibunya, dan candaan ayahnya kini terasa sunyi dan dingin.
Ia melangkah perlahan memasuki ruang makan, meja tempat mereka sarapan bersama pagi itu masih terlihat rapi. Kursi ayahnya kosong, kursi ibunya juga kosong. Tidak ada lagi suara lembut yang menyuruhnya sarapan, tidak ada lagi sosok yang mengantarnya ke kampus.
Valerie akhirnya terperosok kelantai, air matanya kembali jatuh tanpa henti. Ia merasa sendirian dalam rumahnya. Rumah yang selama ini menjadi tempat terhangat baginya kini hanya dipenuhi kenangan.
Dan malam itu, Valerie kembali menangis hingga tertidur, memeluk liontin emas pemberian ayahnya dan gelang giok dari ibunya. Air mata masih membasahi pipinya ketika kesadarannya perlahan tenggelam ke dalam mimpi yang telah menemaninya sejak kecil.
Ia kembali berada di taman bunga yang luas itu.
“Hazel!”
“Kamu dimana?”
“Hazel datanglah?!”
Suara Valerie pecah oleh tangisan. Ia menoleh ke segala arah, mencari sosok yang selama ini selalu menjadi tempatnya berbagi cerita.
“Hazel...!”
Air matanya jatuh tanpa henti. Tak jauh dari sana, di bawah pohon besar tempat ayunan mereka berada, Hazel tampak berdiri di sana. Meski wajahnya masih tersembunyi di balik kabut, Valerie tahu itu adalah dirinya.
Tanpa berpikir panjang, Valerie berlari sekencang mungkin. Begitu sampai di hadapannya, ia langsung memeluk tubuh Hazel erat sambil menangis histeris.
Hazel sedikit terkejut, tetapi perlahan ia membalas pelukan itu. Tangannya mengusap lembut kepala Valerie, membiarkannya meluapkan seluruh kesedihan yang selama ini ditahannya.
“Ayah dan Ibuku meninggalkanku.” isak Valerie. “Aku kehilangan duniaku Hazel...”
“Kenapa mereka meninggalkanku secepat ini, aku tidak bisa hidup tanpa mereka.”
Hazel terdiam, ia hanya mendengarkan setiap tangisan Valerie. Kemudian, dengan suara yang lembut dan menenangkan, ia berkata,
“Aku mengerti perasaanmu, kamu saat ini sangat terluka.”
“Aku tahu kamu merasa dunia sangat jahat.”
Hazel mencoba menenangkan Valerie.
“Tapi, Violet...”
Hazel menggenggam kedua tangan Valerie.
“Kamu tidak sendirian, ada aku disini yang akan menemanimu.”
“Aku tidak akan meninggalkanmu sampai kapanpun, aku berjanji.”
Valerie mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.
“Tapi Hazel, dunia kita berbeda.”
Hazel mengangguk pelan.
“Perbedaan tidak akan menghalangi pertemuan kita, jadi kamu tidak perlu khawatir lagi.”
Meski hanya dalam mimpi, kehadiran Hazel selalu mampu membuat hatinya tenang.
•●✿●•
Beberapa hari setelah pemakaman, suara bel rumah kembali terdengar. Valerie yang masih berduka berjalan perlahan menuju pintu. Saat membukanya, ia melihat wanita lanjut usia yang ditemuinya di rumah sakit berdiri di sana bersama beberapa anggota keluarganya.
Wanita itu tersenyum lembut.
“Maaf kami datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu.”
Valerie menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa nyonya, silakan masuk.”
Rombongan keluarga itu masuk kedalam rumahnya lalu duduk disofa, Valerie menyuguhkan minuman dan cemilan.
Wanita itu kemudian memperkenalkan dirinya.
“Namaku Margaretha Robert, panggil saja aku Nenek.”
“Kita sudah pernah bertemu sebelumnya, namun belum sempat memperkenalkan diri.”
Mata Valerie kembali berkaca-kaca, Nenek Margaretha menggenggam tangannya dengan hangat.
“Ayah dan ibumu meninggal demi menyelamatkan anakku.”
“Sampai kapanpun aku tetap berhutang nyawa dengan mereka.”
Suara wanita itu mulai bergetar.
“Aku tidak akan membiarkanmu hidup sendirian.”
“Aku akan bertanggung jawab atas hidupmu saat ini.”
Valerie menatapnya dengan bingung, namun kalimat berikutnya membuat tubuhnya membeku.
Nenek Margaretha tersenyum tipis sebelum berkata,
“Menikahlah dengan cucuku, Damian Robert.”
Valerie terdiam, matanya membelalak. Sejenak ia mengira dirinya salah dengar.
“Apa...?”