NovelToon NovelToon
Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anime / Fantasi Isekai / Tamat
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: Saiful Bachri

Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.

Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.

Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teratasi dengan Mudah

Lolongan panjang serigala bersahutan dari arah perbukitan rimba, suaranya membelah keheningan malam Desa Veria. Namun, di balik dinding rumah keluarga berambut merah itu, suasana terasa jauh lebih senyap.

Hening merajai. Tak ada satu pun kata yang terucap, seolah semua orang sedang menahan napas, tenggelam dalam pekatnya larut malam.

Tiga pasang mata di ruangan itu terkunci pada satu titik. Tubuh Takahiro. Di bawah pendar api lilin meja yang menari liar dipermainkan angin sepoi, tubuh pemuda asing itu kini perlahan ditangani. Luka-lukanya telah diolesi salep herbal oleh sang tabib.

Dari posisinya, Cate berdiri membeku. Matanya nyaris tak berkedip, memendam takjub melihat kelincahan tangan Cole.

Pergelangan tangan pria paruh baya itu menari lincah, menusukkan dan menarik jarum dengan presisi mematikan untuk menjahit luka robek yang menganga di kulit Takahiro.

Kekaguman gadis itu memuncak di detik-detik terakhir. Begitu jahitan penutup selesai disimpul, jemari Cole melakukan manuver kilat.

Sring!

Ia memutus benang itu dengan sebuah pisau kecil begitu cepat, sampai-sampai pergerakannya nyaris tak bisa ditangkap oleh mata telanjang.

Ujung bibir Cate sudah terbuka untuk melontarkan pujian, tapi segera ia urungkan. Ia sadar batas kewajaran. Ini bukan momen yang pas untuk bersorak kagum. Terdorong oleh insting untuk berguna, ia refleks menawarkan diri.

"Cole-san," panggilnya lembut memecah keheningan. "Apa ada yang bisa saya bantu?"

Cole menoleh sepintas. Ia membiarkan jeda mengudara selama beberapa detik, memusatkan fokusnya kembali, sebelum akhirnya menjawab dengan nada datar.

"Tolong ambilkan kain kecil berwarna putih di dalam tasku."

Tanpa perlu disuruh dua kali, Cate berlari kecil menghampiri tas medis yang tergeletak di dekat pilar bambu. Tangannya merogoh cepat dan menarik benda yang diminta.

"Ini dia!" Cate mengangkat kain itu ke udara.

"Bagus! Cepat bawa kemari, Nak."

Cate bergegas menyerahkan gulungan kain itu. Di dalam genggaman tangannya yang mungil, kain putih itu tampak seperti secarik perban biasa, tak ada yang istimewa.

Namun, semua berubah ketika Cole mengambil alih dan mengibaskan ujungnya. Lipatan kain itu terurai tak masuk akal.

Seratnya mendadak memanjang dengan sendirinya, merentang nyaris menyamai jarak antara tubuh Takahiro hingga ke pilar utama rumah. Mulut Cate sedikit terbuka melihatnya.

"Joe... tolong angkat badan dia."

Joe mengangguk kaku, menuruti perintah sang tabib tanpa banyak tanya. Ia menyusupkan lengannya ke punggung Takahiro, menarik dan menahan tubuh berat pemuda itu agar berada dalam posisi duduk.

Selagi Joe menahan beban, tangan Cole kembali beraksi. Di bawah keremangan malam, gulungan kain putih itu melilit tubuh Takahiro bagai gasing yang ditarik tali.

Sangat elegan dan presisi. Hanya butuh beberapa detik saja, seketika seluruh bagian atas tubuh Takahiro telah terbungkus perban putih dengan sangat rapi.

Kata 'Hebat!' menjerit di dalam dada Cate, namun tak mampu ia utarakan untuk memuji keahlian Cole. Ia hanya bisa berdiri tertegun di samping ayahnya yang perlahan membaringkan kembali tubuh Takahiro ke atas tikar.

"Semua luka sudah selesai aku obati," kata Cole santai, sambil mengelap sisa noda di tangannya. "Tapi, ada sesuatu yang mengganjal."

'Mengganjal?!' batin Cate mengulang kata itu dengan kening berkerut.

"Kenapa, apa ada masalah lain pada tubuh pemuda ini, Cole-san?" tanya Joe, raut wajahnya mendadak tegang.

Cole mengabaikan pertanyaan itu. Perhatiannya malah beralih untuk merapikan peralatan medisnya yang berserakan. Melihat itu, Cate berniat maju untuk membantu membereskan.

Namun, belum sempat tangannya menyentuh tas, Cole mengangkat sebelah tangan, memberi isyarat penolakan mutlak agar gadis itu diam di tempat.

Mendapat respons dingin tersebut, Cate mundur selangkah. Saat itulah, pandangannya tak sengaja bergeser dan menangkap sosok sang ibu.

Di sudut ruangan, Bellinda yang masih duduk menahan ngilu di dadanya memaksakan sebuah senyum keibuan. Wanita paruh baya itu memberikan lambaian tangan kecil ke arah sang putri.

Cate membalasnya dengan senyum tipis dan lambaian pelan. Meski jarak mereka cukup dekat, dalam hatinya terlintas, 'Tak ada salahnya jika membalas,' demi menenangkan hati ibunya.

Usai memasukkan alat terakhir ke dalam tas, Cole menyampirkannya ke bahu. Barulah ia memecah teka-teki yang sengaja ia gantung tadi.

"Sebelum aku mengobati lukanya, aku melihat ada cairan gel bening di tubuh pemuda itu," jelasnya tenang.

'Cairan gel bening?' ulang Cate pelan, nyaris hanya terdengar oleh dirinya sendiri.

"Aku tidak tahu siapa yang mengolesinya," lanjut tabib itu. Langkah kakinya mulai bergerak pelan menuju ambang pintu kayu. "Tapi, berkat gel bening itu... luka lembap yang sulit aku obati tadi terasa cukup mudah."

Tepat di bingkai pintu, Cole berhenti. Ia menoleh dari sudut bahunya, melirik Joe dan Cate bergantian.

"Orang yang mengolesi gel bening itu nampak seperti sudah ahli dalam dunia pengobatan. Tolong sampaikan 'Terima kasih' dariku padanya. Jika tanpa bantuan darinya, mungkin pekerjaanku tidak akan selesai secepat ini."

Suasana seketika membeku. Joe dan Cate mematung di tempat. Dua pasang bola mata itu hanya bisa berkedip cepat, sama-sama kebingungan mencerna penjelasan Cole. Mereka sama sekali tak tahu menahu siapa sosok yang dimaksud.

Tanpa menunggu balasan dari tuan rumah yang masih tercengang, Cole melangkah keluar meninggalkan rumah keluarga Joe. Ia berjalan menembus pekatnya malam, sebelah tangannya melambai ke udara tanpa menoleh ke belakang lagi.

Di dalam, Joe dan Cate serempak menundukkan kepala. Sebuah penghormatan bisu atas dedikasi dan kerja keras yang diberikan sang tabib malam ini.

Begitu punggung Cole sepenuhnya tertelan kabut malam, kesunyian absolut kembali menguasai rumah tersebut. Desir angin yang menerobos celah ventilasi berpadu dengan lolongan serigala di kejauhan, menjadi musik latar penutup malam.

Satu masalah berhasil diatasi, namun satu misteri baru justru terbuka. Kini, ayah dan anak itu harus memutar otak mencari tahu sendiri. Siapa sebenarnya sosok misterius yang telah mengoleskan gel bening itu ke tubuh Takahiro?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!