Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bijih Emas
Dua hari telah berlalu sejak Brom, sang pandai besi yang terusir dari peradaban, menetap di desa kecil milik Haruto. Luka-luka di tubuhnya, yang dulunya menganga dan penuh nanah akibat sabetan cakaran monster di hutan, kini telah mengering dengan baik berkat kompres daun obat racikan Kaelin dan Hana. Meski secara fisik ia masih perlu memulihkan kekuatan, jiwa seorang pengrajin dalam diri Brom tidak bisa tinggal diam. Ia adalah sosok yang merasa cemas jika tangannya tidak memegang peralatan kerja.
Setiap pagi, bahkan sebelum cahaya matahari mampu menembus rimbunnya dedaunan Hutan Kematian, Brom sudah terbangun. Ia tidak menunggu instruksi atau ajakan dari Haruto. Begitu keluar dari pintu rumah, ia langsung memindai kondisi sekelilingnya dengan mata seorang ahli. Ia memperbaiki pagar kayu yang mulai miring karena struktur tanah yang lembek akibat hujan malam sebelumnya, mengganti pasak-pasak kayu yang longgar dengan teknik penguncian yang ia pelajari dari pengalaman bertahun-tahun di bengkel kerajaannya dulu, hingga menghaluskan gagang kapak batu milik Haruto agar tidak melukai telapak tangan penggunanya.
Haruto, yang baru saja keluar dari rumah untuk memulai rutinitas hariannya, hanya memperhatikan dari kejauhan. Ia tidak merasa perlu menegur atau memberikan perintah. Bagi Haruto, desa ini adalah rumah bagi siapa saja yang ingin hidup dengan tenang. Jika Brom merasa nyaman membantu, ia akan membiarkannya. Jika besok pagi Brom memutuskan untuk pergi mencari peruntungan lain, Haruto pun tidak akan menahannya. Namun, Brom terus berada di sana, seolah-olah ia telah menemukan tempat di mana keterampilannya tidak lagi digunakan untuk memproduksi senjata pembunuh, melainkan untuk membangun sebuah kehidupan.
Pada pagi hari kedelapan setelah masa tanam, Haruto berdiri cukup lama di depan hamparan sawah. Angin berhembus pelan, membelai permukaan bulir-bulir padi yang kini telah berubah warna menjadi kuning keemasan, kontras dengan latar belakang hutan yang hijau pekat. Lautan padi itu bergoyang dengan irama yang tenang, menciptakan suara gemerisik lembut yang menenangkan jiwa. Haruto menarik napas dalam-dalam, aroma tanah dan kehidupan menyelimuti indranya. Ia tersenyum kecil, sebuah senyuman yang sudah lama sekali tidak ia rasakan—senyuman kepuasan setelah melalui kerja keras.
"Akhirnya," bisik Haruto pelan.
Luna, yang sedari tadi memperhatikan perubahan ekspresi Haruto, mendekat dengan rasa penasaran. "Haruto? Kenapa wajahmu terlihat seperti itu?"
Haruto menoleh pada Luna, matanya berbinar. "Sudah waktunya panen."
Dalam waktu singkat, seluruh anggota Ras Kelinci berkumpul di pinggir petak sawah. Bagi mereka, ini adalah pemandangan yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Mereka memang mengenal tanaman yang tumbuh di alam liar, namun mereka belum pernah melihat tanaman yang dibudidayakan secara khusus hingga seragam dan sesubur ini. Batang-batangnya yang pendek namun kuat menopang bulir-bulir yang padat, berbeda dengan gandum liar yang pernah mereka lihat di pinggiran daerah manusia.
Haruto mulai mengajari mereka cara memanen. Ia menggunakan sabit yang manifestasikan dari bayangannya—tajam, presisi, dan sangat efisien. Mereka bekerja dalam sebuah tim yang solid; Mira dan Fira yang gesit memotong batang padi dengan cepat, Fina dan Luna dengan cekatan mengikat hasil panen menjadi berkas-berkas rapi, sementara Kaelin dan Hana membawa berkas-berkas itu ke halaman luas di depan lumbung. Elara berdiri di tengah, mencatat jumlah hasil panen dengan teliti di buku catatannya yang sederhana.
Brom hanya berdiri di tepi lapangan, mengamati kerja kelompok itu dengan mata yang menyipit. "Semua orang di sini punya tugas," gumamnya. Ia merasa takjub melihat bagaimana manusia dan sekumpulan Ras Kelinci bisa berkoordinasi tanpa perlu teriakan instruksi atau paksaan.
Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, Haruto mengumpulkan mereka kembali di halaman rumah. Ia menjelaskan langkah selanjutnya. "Ini belum bisa langsung dimakan. Gabah ini harus dijemur hingga benar-benar kering, lalu dipisahkan dari batangnya, dan ditumbuk agar kulit luarnya terlepas."
"Wah, ribet sekali ternyata!" seru Fira sambil mengelap keringat di dahinya.
Haruto tertawa kecil. "Tapi percaya padaku, hasilnya sepadan dengan usahanya." Mereka pun mulai menghamparkan gabah di atas kain tenun yang lebar di halaman, menjemurnya di bawah sisa cahaya sore.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Menjelang siang, saat mereka sedang sibuk membalikkan gabah agar kering merata, Mira yang sedari tadi berjaga di atas dahan pohon tinggi tiba-tiba meloncat turun. Wajahnya yang ceria berubah drastis menjadi sangat serius.
"Elara," suaranya tertahan, namun cukup jelas untuk menghentikan semua aktivitas. "Ada sesuatu yang mendekat."
Semua orang langsung berhenti bekerja. Brom secara naluriah menarik kapak batu yang selalu ia bawa di pinggangnya. Mira menunjuk ke arah kedalaman hutan dengan jari yang sedikit gemetar. "Dari baunya... ini besar sekali."
Suasana mendadak hening. Hanya suara burung hutan yang mendadak berhenti berkicau yang terdengar. Detik demi detik berlalu, hingga akhirnya semak-semak di ujung area desa mulai bergoyang hebat. Suara dedaunan yang patah terdengar seperti langkah kaki raksasa yang tidak berniat menyembunyikan kehadirannya.
Seekor ular raksasa muncul dari balik pepohonan. Panjangnya hampir lima belas meter, dengan tubuh yang diameternya setara dengan batang pohon tua yang sudah tumbuh selama puluhan tahun. Sisik hijau gelapnya memantulkan cahaya matahari dengan kilau yang menjijikkan, sementara matanya yang berwarna kuning terang menatap ke arah desa dengan aura predator yang dominan. Lidah bercabangnya menjulur panjang, mencicipi udara, mencari mangsa.
Haruto memiringkan kepalanya, menatap makhluk itu tanpa rasa takut, seolah ia sedang melihat seekor hewan ternak yang tersesat. "Itu apa?" tanyanya datar.
Elara berdiri di samping Haruto, matanya tertuju pada pola sisik ular tersebut. "Itu Nidhra. Salah satu predator paling ditakuti di Hutan Kematian. Ia tidak hanya mengandalkan racun, tapi juga kekuatan otot yang bisa meremukkan batang pohon besar dalam satu lilitan."
Brom menggenggam kapaknya dengan lebih kuat, buku jarinya memutih. "Aku pernah melihat jejak-jejaknya saat pelarian, tapi tidak pernah membayangkan ada yang sebesar ini. Ini adalah ancaman kelas atas."
Nidhra mulai merayap maju, gerakan tubuhnya yang sangat besar namun sangat halus menunjukkan betapa mematikannya ia sebagai pemburu. Anggota Ras Kelinci segera mengambil posisi bertahan, namun Haruto justru berjalan maju satu langkah.
"Bisa dimakan?" tanya Haruto santai.
Semua orang tertegun. Elara bahkan sempat mengerjapkan matanya sebelum menjawab dengan suara pelan, "Bisa. Dagingnya terkenal sangat lembut, meski harus dimasak dengan benar untuk menetralisir kelenjar racunnya."
Haruto mengangguk puas. "Kalau begitu, sayang sekali kalau dilewatkan."
Tanpa peringatan, bayangan di bawah kaki Haruto mulai memanjang dengan cepat, merayap naik menutupi lengan kanannya hingga membentuk sebuah tombak hitam pekat yang berkilau seolah terbuat dari kegelapan yang dipadatkan. Brom menahan napas, matanya membelalak melihat manifestasi kekuatan yang tidak masuk akal itu. Ia adalah seorang pandai besi, ia tahu kualitas logam, dan apa yang ia lihat sekarang bukanlah logam, tapi sesuatu yang melampaui itu.
Haruto tidak mengambil ancang-ancang yang rumit. Tidak ada teriakan perang, tidak ada jurus-jurus yang memakan waktu. Ia hanya mengayunkan tangannya dengan satu gerakan lemparan biasa, seperti melempar tombak kayu saat berburu ikan di sungai.
WHOOOOSHHH!
Tombak hitam itu melesat membelah udara dengan suara yang tajam, hampir tak terlihat oleh mata manusia biasa. Sesaat kemudian—BRAK! Kepala sang predator raksasa itu lenyap dalam sekejap, tercabut dari tubuhnya oleh kekuatan yang luar biasa. Tubuh raksasa Nidhra masih meluncur beberapa meter ke depan karena momentumnya sendiri sebelum akhirnya roboh ke tanah dengan suara dentuman yang membuat dedaunan di sekitar desa berguguran.
Hening. Tidak ada suara lagi selain embusan napas anggota Ras Kelinci yang terkejut.
Haruto berjalan mendekat ke arah bangkai ular itu. Tombak hitam di tangannya perlahan mencair, kembali menjadi bayangan yang menyatu dengan tubuhnya. Ia menatap bangkai tersebut dengan perasaan lega. "Untung tidak rusak semua bagian dagingnya," gumamnya tenang.
Brom masih mematung, kapak batunya terjatuh ke tanah tanpa ia sadari. Dalam pikirannya, ia hanya bisa terus mengulang satu kalimat: Dia membunuh Nidhra... predator puncak Hutan Kematian... dengan sekali lempar.
Persiapan untuk pesta besar pun dimulai. Karena ukuran Nidhra yang terlalu besar, semua orang ikut membantu memotong dagingnya. Kaelin dengan teliti memisahkan bagian yang mengandung kelenjar racun dari daging yang aman untuk dikonsumsi. Hana menyiapkan bumbu-bumbu yang ia petik dari kebun, mulai dari bawang putih hutan, cabai liar yang pedas, hingga daun bawang yang segar. Haruto mengasapi sebagian besar daging itu di rak pengasapan untuk stok lumbung, sementara sisanya dipanggang langsung di atas api unggun besar untuk makan malam.
Beberapa hari kemudian, setelah gabah hasil panen benar-benar kering di bawah terik matahari, Haruto membuat sebuah lesung sederhana dari batang kayu besar yang dilubangi di tengahnya. Ia mengajari Brom dan para anggota Ras Kelinci cara menumbuk gabah agar sekamnya terlepas. Awalnya, hasil tumbukan mereka berantakan—banyak bulir yang pecah menjadi tepung, atau sekam yang masih melekat kuat. Namun, setelah beberapa jam mencoba, mereka mulai menemukan ritme yang pas.
Saat sekam-sekam itu dipisahkan dengan bantuan tiupan angin, bulir-bulir putih bersih mulai terlihat. Luna memegang satu bulir di telapak tangannya, menatapnya dengan kekaguman yang tulus. "Cantik sekali..."
Haruto tersenyum tipis. "Itu namanya beras. Inilah hasil dari kerja keras kita dengan proses yang ribet itu."
Malam itu, mereka mengadakan pesta kecil. Haruto memasak nasi di panci batu besar—sebuah pengalaman baru bagi semua orang di sana. Saat tutup panci dibuka, uap putih yang hangat dan aroma nasi yang manis segera memenuhi dapur kayu yang sederhana. Haruto menarik napas panjang, aroma itu membawanya kembali ke kenangan masa kecilnya di Jepang, meski hanya sesaat. Ia segera menepis rasa melankolis itu dan tersenyum lagi.
Mereka makan bersama dengan lahap. Nasi hangat, sup sayuran segar, dan potongan daging Nidhra panggang yang berbumbu rempah-rempah hutan. Suasana menjadi hening karena semua orang terlalu sibuk menikmati rasa makanan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Luna bahkan meminta tambah berkali-kali, sementara Fira dan Fina berebut potongan daging terbaik dengan tawa kecil.
Brom makan perlahan, menikmati setiap butir nasi yang terasa sangat berbeda dari bubur gandum hambar yang biasa ia temukan di kota-kota manusia. Ia meletakkan sendok kayunya, menatap api unggun dengan pandangan jauh, sebelum akhirnya berucap pelan, "Sudah lama sekali rasanya... aku tidak makan setenang ini."
Setelah makan malam selesai, semua orang duduk mengelilingi api unggun. Brom akhirnya berdiri, menatap Haruto dan seluruh anggota Ras Kelinci satu per satu. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian yang selama ini tertahan di tenggorokannya.
"Aku..." suaranya bergetar sedikit. "Aku tidak punya tempat untuk kembali. Aku juga tidak punya tujuan hidup lagi setelah semua yang terjadi di kerajaan."
Ia mengangkat kepalanya, menatap Haruto dengan tatapan yang penuh kejujuran. "Kalau kalian tidak keberatan, kalau kalian mengizinkan... bolehkah aku tinggal di sini?"
Haruto tidak langsung memberikan jawaban. Ia menatap Brom dengan tenang, mencoba melihat ke dalam jiwa sang Dwarf. "Kau keberatan bekerja? Di sini tidak ada yang bisa duduk diam hanya untuk makan."
Brom menggeleng dengan cepat. "Itu justru satu-satunya hal yang masih bisa kulakukan. Pekerjaan adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa masih hidup."
Haruto tersenyum kecil. "Kalau begitu, selamat datang di desa."
Tidak ada upacara resmi, tidak ada sumpah setia, tidak ada kontrak tertulis. Namun, sejak malam itu, desa kecil di Hutan Kematian tersebut memiliki penghuni kesembilan. Kehidupan yang awalnya hanya sekadar bertahan hidup kini telah berkembang menjadi sebuah komunitas. Haruto tahu bahwa ke depannya, tantangan akan semakin besar, terutama dengan keberadaan Brom yang merupakan buronan kerajaan. Namun, di bawah bintang-bintang Hutan Kematian, untuk pertama kalinya setelah dipanggil ke dunia ini, Haruto merasa ia benar-benar memiliki sesuatu yang bisa ia sebut sebagai masa depan.
Keesokan harinya, Haruto dan Brom menghabiskan waktu bersama di area bengkel darurat. Brom dengan cekatan mulai memperbaiki beberapa peralatan pertanian yang rusak, menggunakan teknik yang belum pernah dilihat Haruto sebelumnya. Haruto, di sisi lain, mulai menanam benih-benih baru dari memori masa lalunya—kedelai, sayuran musim dingin, dan beberapa rempah yang ia harap akan menambah keberagaman rasa di meja makan mereka.
Brom mulai terbiasa dengan kehidupan di sini. Ia menemukan bahwa di dalam Hutan Kematian, meskipun monster mengintai di luar, kedamaian di dalam pagar kayu mereka adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan emas mana pun di kerajaan. Ia mulai belajar membedakan tanaman obat dari Hana dan Kaelin, dan ia mulai terbiasa dengan keributan si kembar Fira dan Fina saat berburu.
Haruto sendiri merasa terbantu dengan kehadiran Brom. Selain karena keahlian teknis sang Dwarf, kehadiran seseorang yang memahami kompleksitas dunia luar membuatnya lebih waspada. Ia mulai menyadari bahwa apa yang ia bangun di Hutan Kematian ini mungkin akan menarik perhatian pihak-pihak yang tidak diinginkan di kemudian hari. Namun, untuk saat ini, ia lebih memilih untuk fokus pada sawah yang sudah mulai mengeluarkan tunas-tunas baru untuk musim tanam berikutnya.
Matahari terbenam di balik pohon-pohon raksasa, memberikan semburat warna oranye ke seluruh desa. Haruto duduk di beranda rumahnya, memperhatikan Brom yang sedang menajamkan bilah kapak di dekat tungku api. Ia tahu bahwa ketenangan ini hanyalah awal. Di luar sana, di luar Hutan Kematian, dunia sedang berperang, dan pahlawan-pahlawan sedang dibentuk. Haruto tidak peduli dengan perang itu. Ia hanya ingin menjaga agar desa kecilnya tetap berdiri, tetap tumbuh, dan tetap memberikan tempat bagi mereka yang tidak memiliki tempat untuk pulang. Dan bagi Haruto, itu sudah lebih dari cukup.