Arjuna Baskoro adalah ketua Geng Petir yang tampan, kaya, dan berpengaruh di SMA Cendekia. Ia dikenal sebagai pemuda yang suka bersenang-senang dan menganggap hubungan dengan wanita hanya sebatas hiburan semata. Semua berubah saat ia bertemu Laila Arsyila-siswi berprestasi, sederhana, mandiri, dan harus bekerja paruh waktu untuk membantu kehidupan keluarganya.
Awalnya Arjuna hanya iseng mengganggu Laila, karena gadis itu satu-satunya yang tidak terpesona dan selalu berani melawannya. Namun rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi cinta yang tulus untuk pertama kalinya. Sementara Laila yang awalnya kesal dan menolak, mulai melihat sisi baik Arjuna di balik sikap nakalnya.
Dengan latar belakang kehidupan yang sangat berbeda, keduanya harus menghadapi berbagai rintangan mulai dari kecemburuan orang lain, pandangan lingkungan, hingga tantangan untuk saling memahami. Mampukah cinta mereka menyatukan dua dunia yang terasa begitu jauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Gegana
Malam itu, Laila bersiap meninggalkan tempat kerjanya lebih awal. Kafe tempatnya bekerja hari ini memutuskan tutup cepat karena pelanggan yang sepi sepanjang hari.
Ia berjalan menuju area parkir. Sebenarnya motor miliknya sudah diantar ke rumah oleh salah satu anak buah Arjuna tadi siang, jadi kali ini ia tak perlu bersusah payah menunggu angkutan umum seperti saat pulang sekolah. Begitu naik ke atas motor, Laila melajukannya dengan kecepatan sedang. Pikirannya melayang kembali pada kejadian siang tadi di kelas.
FLASHBACK ON
Saat Laila sudah duduk tenang di bangkunya setelah diantar Rian, baru saja hendak membuka buku, dua teman sekelasnya yang juga sesama penerima beasiswa langsung menghampirinya.
" La lu ko beruntung banget sih bisa deket sama Arjuna, sampai dia bela belain ngelabrak si ratu bully yang berkedok primadona sekolah itu."ucap Nada kagum.
" iya...lu bener-bener beruntung deket sama Arjuna yang gantengnya ngga ada obat, kalo gue jadi lu sih... gue pepet terus si Juna nya." timpal Kirana dengan nada sedikit centil.
Laila mengerutkan kening bingung. "bentar bentar... maksud lu ngelabrak apa? Arjuna ngelabrak Salsabila gitu? kok bisa?"
"ya bisa lah, dan lu mau tau ngga? si Juna kelihatan marah banget sama Salsabila sampai tuh cewek di tabok pipinya dua kali sampai lebam tuh bibir."cerita Nada dengan semangat."gue yakin sih, pasti si ratu bully itu nahan malu."
Kirana pun mengangguk mantap."bener banget tuh La. terus ya La sebelum Arjuna pergi dari kantin dia sempet ngomong begini." Ia berdeham sejenak lalu meniru ekspresi dan suara Arjuna dengan serius. “‘Dengar baik-baik kalian semua! Siapa pun yang berani mengganggu Laila… berarti berurusan langsung sama gue!’”
Kirana kembali tersenyum berkhayal. "beuuh La... kalo yang di sebut nama gue mah, udah klepek klepek banget. terus langsung gue peluk di tempat itu juga."
Nada langsung menyenggol bahu temannya. “Ngga usah mimpi lu. Kita kan cuma remahan rengginang, beda sama Laila yang remahan rengginangnya limitided edition.”
Keduanya tertawa terbahak-bahak, sementara Laila hanya bisa menggelengkan kepala pelan melihat tingkah mereka yang lucu.
FLASHBACK OFF
Sesampainya di rumah, Laila langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur kecilnya. Ia menghela napas panjang.
" huh... masa sih Arjuna ngelakuin itu buat gue? padahal gue kan udah ngomong kasar ke dia. duh jadi ngga enak hati jadinya." gumamnya pelan. Perlakuan Arjuna yang tulus justru membuatnya makin bimbang dan merasa bersalah.
...----------------...
Di tempat lain, Arjuna sedang terbaring lesu di sofa ruang tengah markas Geng Petir, tampak sangat galau.
Gibran yang hendak bergegas pulang menjadi bingung melihatnya. “Jun, kok nggak pulang? Biasanya jam sembilan Nyokap lu udah nelponin berkali-kali.”
Arjuna menjawab dengan suara lesu. “Gue pulang bareng lu aja ya, kan searah.”
“Lho motor lu mana?” tanya Gibran heran.
“Ada kok, tapi gue lagi malas bawa nya. Jadi nebeng lu aja, sekalian juga besok berangkat sekolah nebeng lagi ,” jawabnya sambil duduk malas.
“Tumben banget. Ya udah ayo balik,” kata Gibran pasrah.
Ia sudah menyalakan mesin motor sport-nya, tapi perjalanannya tertunda karena tingkah Arjuna. "Jun lepas napa pelukan lu, geli gue. nanti di kira jeruk makan jeruk."protes Gibran sambil mencoba melepaskan tangan Arjuna yang melingkar erat di pinggangnya.
" Ah elah bantu gue kek, gue ngga ada tenaga buat duduk di motor." jawab Arjuna santai sambil tetap menyandarkan kepalanya di bahu Gibran. Anggota geng yang masih ada di markas hanya terkikik geli melihat tingkah ketua mereka yang biasanya garang.
“Cih, ya udah, ya udah. Sial banget gue kasih tumpangan,” gumam Gibran pelan agar tak didengar Arjuna.
Baru melaju beberapa meter, Arjuna kembali berulah hingga motor itu oleng ke kanan dan ke kiri. “JUN! TANGAN LU JUN!” teriak Gibran panik saat tangan Arjuna iseng mendarat di area yang terlarang dan sedikit meremas.
Arjuna tertawa jahil. “Gue cuma mau cek aja, gedean lu atau gue,” candanya santai.
“GUE TABOK YA NYET!” geram Gibran kesal.
Arjuna justru tertawa makin keras mendengarnya. Setidaknya, hari ini ia mendapat hiburan gratis yang lumayan untuk mengusir rasa sedihnya.