IG : Srt_tika92
Adrian Putra Haidar adalah Pria tampan berprofesi sebagai sutradara terkenal, dia pria yang memiliki banyak kekasih. Tidak sedikit wanita yang mengejarnya demi popularitas.
Dunianya berubah saat menikahi gadis cantik akan kesederhanaan nya yaitu Elsa yang baru di kenalnya. Pernikahannya terjadi karena suatu kesalahan.
Akankah pernikahan mereka berjalan semestinya?
Apakah cinta akan tumbuh di antara mereka?
Ini karya ke 2 ku
Baca juga karya pertama ku yang berjudul Cinta Pertama Ceo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon susi sartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerumah Umar
Sesampainya di cafe, Karin tidak menemukan Umar, ternyata hari ini Umar ijin tidak masuk kerja. Tidak ingin menyerah, Karin menanyakan alamat rumah Umar pada salah satu karyawan yang telah lama mengenal Umar.
Dengan berbekal nekat, Karin memberanikan diri berkunjung ke rumah Umar, padahal belum tentu Umar masih mengenalnya, karena mereka baru satu kali bertemu, itu pun dalam waktu yang sangat singkat.
Karin menghentikan mobilnya di depan rumah yang sederhana namun sangat asri di pandang.
Karin memberanikan diri untuk mengetuk pintu, " Permisi... Assalamualaikum... " ucap Karin.
" Waalaikumsalam.. " muncul seorang gadis yang telah membukakan pintu.
Karin sejenak terdiam, " Siapa gadis ini? apa dia pacarnya Umar? " batin Karin.
" Mbak, ada yang bisa saya bantu. " ucap gadis itu membuyarkan lamunan Karin.
" Eh.. benar ini rumahnya Umar? "
" Oh iya benar, mbak temennya mas Umar yah? "
Karin tersenyum lalu mengangguk.
Gadis itu memperhatikan Karin dari atas sampai kebawah, " Cantik sekali temannya mas Umar, kaya artis. "
" Mari masuk.. " gadis itu mempersilahkan Karin untuk duduk di ruang tamu.
" Emm.. Umar nya ada? " tanya Karin.
" Ada, mas Umar nya lagi sakit.. lagi istirahat di kamar nya. "
" Kamu siapa nya mas Umar? " tanya Karin yang penasaran pada gadis di depannya.
" Saya Nisa, adiknya mas Umar.. "
" Oh.. adiknya... kirain... " Karin tersenyum lebar setelah tau gadis di depannya adalah adik dari Umar.
" Bentar ya mbak, Nisa bikinin minum dulu. "
" Nggak usah Nis, " Karin mencegah Nisa yang hendak membuatkan minum untuknya, " Nggak usah repot - repot. "
" Nggak repot kok mbak cuma bikin minum doang mah, " Nisa tersenyum manis.
" Beneran gak usah, aku cuma mau ketemu Umar, boleh? " tanya Karin.
" Boleh lah mbak, mari Nisa antar.."
Karin pun mengekori Nisa menuju kamar Umar.
Ceklek... pintu kamar terbuka. Terlihat Umar sedang membaringkan tubuhnya.
" Mbak, masuk aja, Nisa mau ke dapur dulu. " Nisa pun meninggalkan Karin.
Karin duduk di tepi ranjang, " Umar, " panggil Karin sembari mengecek suhu tubuhnya di kening Umar.
Umar yang merasa ada yang mengusik tidurnya, perlahan membuka matanya. " Karin.. "
Karin tersenyum, senang sekali hatinya ketika Umar masih mengingat namanya.
" Kamu sakit Mar? "
Umar yang merasa canggung seketika mendudukan tubuhnya dan bersandar. " Karin, kenapa kamu bisa ada di sini? " Umar masih tidak menyangka Karin bisa ada di rumahnya.
" Tadi aku ke cafe, tapi temen kamu bilang kamu ijin kerja, jadi aku kerumah mu, eh ternyata kamu sakit. " jelas Karin.
Hati Umar bertanya - tanya, ada apa Karin ingin menemuinya? terasa aneh bagi Umar, apalagi mereka baru saling kenal.
" Oh.. ada apa kamu manemuiku? " Umar.
" Emm.. hanya ingin bertemu saja. "
" Astaghfirullah... " Umar baru sadar Karin tengah duduk di tepi ranjang dengan rok mininya yang sedikit terangkat memperlihatkan pahha putih mulusnya.
Dengan segera Umar meraih selimutnya dan menutupi bagian pahha Karin, " Pakai ini. "
Karin memicingkan sebelah alisnya ketika mendapat perlakuan Umar, merasa heran dengan tingkah Umar.
" Takut masuk angin. " sambung Umar.
Karin pun hanya mengangguk mengerti.
Nisa kembali ke kamar Umar dengan membawa nampan. " Mas Umar, makan dulu buburnya nanti minum obat. "
" Nis, sini biar aku aja yang nyuapin Umar, " Karin.
" Uhuk.. uhukk.. " Umar terkejut.
Karin mulai menyuapi Umar.
" Rin, biar aku makan sendiri aja. " Umar mencoba menolak suapan dari Karin.
" Udah makan aja, kamu kan lagi sakit. " Karin kekeh ingin menyuapi Umar, mau tidak mau Umar pun menurutinya.
" Nisa kamu udah gak sekolah? udah kerja? " tanya Karin sembari menyuapi Umar.
" Aku masih sekolah mbak, hari ini sengaja libur jagain mas Umar. " Nisa.
" Oh kelas berapa? " Karin.
" 2 SMA mbak. "
" Mmm.. besok kamu sekolah aja, nanti biar aku yang jagain Umar. "
" Uhuk.. Uhukk.. " Umar kembali tersedak dengan ucapan Karin. " Gak usah Rin, besok aku udah agak mendingan kok, gak udah di temenin. Takut ngrepotin kamu. "
" Aku gak ngrasa di repotin kok, aku senang nemenin kamu. "
Nisa pun pamit keluar, merasa menjadi obat nyamuk diantara Umar dan Karin.
" Nih tinggal sesuap lagi, ayo aaa.. " Karin.
Sebenarnya Umar sangat canggung menerima perlakuan Karin. Umar baru pertama kalinya di perlakukan oleh seorang wanita seperti ini.
Cukup lama Karin berada di rumah Umar, hingga sore hari Karin pun pamit untuk pulang.
" Mas, mbak Karin cantik ya? " ucap Nisa pada mas Umar.
Sedangkan Umar hanya diam saja.
" Mas, kayanya mbak Karin naksir tuh sama mas Umar. "
" Kamu ini ngomong apa sih, "
" Iih beneran mas,dia perhatian banget sama mas Umar, Nisa setuju kalo Umar jadian sama mbak Karin. "
" Udahlah mas mau istirahat.. " Umar membaringkan tubuhnya, tidak mau mendengar celotehan adiknya.
" Mas, mbak Karin itu cantik loh mas, kaya artis, ntar nyesel loh kalo mbak Karin berpaling. "
" Brisik.. anak kecil tau apa kamu. "
*
*
*
Bye.. bye...