Di cintai dengan tulus oleh pasangan merupakan impian bagi seseorang yang menjalin hubungan.
Mengisahkan perjuangan cinta anak sekolah antara Nasya dan Aditya. Aditya beberapa kali menyatakan perasaannya, namun di buat menunggu oleh keputusan Nasya untuk tidak menjalin hubungan dekat sampai mereka lulus SMA. Walau begitu, Aditya setia menunggu jawaban Nasya setelah nantinya lulus SMA.
Mereka berdua menjalin persahabatan sejak pertama kali mereka bertemu. Selama bersekolah mereka sangat bahagia dan nyaman satu sama lain sebelum datang wanita yang mengaku kekasih Aditya yang selalu berusaha untuk memisahkan mereka berdua.
Bagaimana kisahnya? Apakah hubungan mereka berjalan dengan mulus atau tidak?
Selamat Membaca 💫
Dukung karya ini dengan ➡️ Like, Subscribe, vote, dan komentar terbaikmu. Terima kasih.
Salam hangat dari Author💫
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vincar:), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 23 Kebenaran terungkap
Nasya dengan yakin Aditya pasti juara dan mengharumkan nama baik sekolah, karena orangnya pintar dan juga rendah hati.
Tiba-tiba terdengar suara pak Leo lewat microphone yang memanggil Nasya untuk segera ke ruangannya.
"Yang bernama Nasya silahkan menuju ke kantor guru secepatnya," ucap pak Leo menggunakan microphone.
Lalu Nasya sesegera mungkin menuju ke kantor. Nasya berpikir pak Leo memanggilnya karena hari ini dia tidak akan mengajar di kelas dan memberi tugas matematika untuk di kerjakan.
"Permisi Pak, ada hal apa Pak Leo memanggil saya?" tanya Nasya.
"Nasya silahkan duduk, ada hal yang bapak bicarakan denganmu," ujar pak Leo.
"Iya Pak," jawab Nasya.
"Nasya, bapak sudah mendapatkan laporan mengenai nilai ujian matematika bagi siswa yang mengikuti Olimpiade kemarin lalu. Bapak melihat lembar jawabanmu tidak ada saat bapak koreksi," jelas pak Leo.
"Apakah kamu sudah menyerahkan lembar jawabanmu saat itu?" tanya Pak Leo.
"Sudah Pak. Saya yakin dengan itu, saya mengumpulkannya bareng Aditya. Jika bapak tidak percaya silahkan tanya ke Aditya," kata Nasya dengan yakin.
"Baiklah, bapak akan mencari tahu. Untuk sementara waktu, silahkan kembali ke kelas. Jika ada titik terang bapak akan memanggilmu kembali. ujar Pak Leo.
"Iya Pak, permisi," sahut Nasya.
****
Lalu Nasya pergi meninggalkan kantor guru. Lalu Nasya mempertanyakan pada diri sendiri tentang pertanyaan pak Leo.
"Kenapa lembar jawabanku tidak ada, padahal waktu itu saya sudah menyerahkannya. Apakah ada yang mengambilnya? lalu siapa yang mempunyai niat seburuk itu?" tanya Nasya dalam hati seakan ingin tahu siapa dalang di balik ini semua.
Lalu Nasya memberitahu masalah ini pada Aditya. Aditya juga yakin bahwa saat itu dia melihat dengan jelas bahwa Nasya sudah menyerahkan lembar jawabannya.
Lalu Aditya memberitahu pada Nasya untuk tetap tenang. Dia akan mengatasi masalah yang telah menimpa Nasya.
"Di sekolah kita kan terdapat cctv, mungkin saya bisa mendapatkan informasi melalui itu."
Lalu Aditya dengan sigap tanpa sepengetahuan Nasya, dia ingin mencari informasi dengan membuka rekaman cctv kemarin lalu.
Dengan tergesa-gesa, Aditya segera memutar rekaman tersebut. Pada jam 10:45 terlihat Intan memasuki ruang guru.
"Kok Intan masih ada di sekolah, padahal saat itu siswa pulang lebih awal?" tanya Aditya dalam hati.
Lalu Aditya kembali melanjutkan rekaman cctv tersebut. Dan 15 menit kemudian, lebih tepatnya pukul 11:00 Intan keluar dari kantor guru dengan membawa kertas dan merobeknya lalu membuang ke tempat sampah.
Akhirnya Aditya mendapatkan informasi mengenai masalah yang menimpa Nasya. Aditya mencurigai Intan bahwa dialah dalang dari semua ini.
Tetapi karena besok merupakan pemberangkatan siswa olimpiade di tingkat nasional ke Surabaya, maka bukti rekaman cctv dia simpan dulu. Dan setelah pulang dari Surabaya Aditya akan mengadukan kepada guru dan membuat Intan mengakui kesalahannya.
"Tenang Nasya ... aku akan membuat Intan mengakui kesalahannya karena kamu di buat kecewa oleh perilakunya," gumam Aditya dalam hati.
****
Keesokan Pagi.
Hari ini adalah pemberangkatan bagi siswa yang lulus dan mengikuti olimpiade tingkat nasional ke Surabaya. Seluruh siswa pun mengiringi kepergian para kontestan lomba olimpiade.
Seluruh siswa bersorak gembira dan mendukung para kontestan. Nasya juga ikut bahagia dan berharap Aditya bisa memenangkan lomba olimpiade tersebut.
"Adi ... semangat!" dukung Nasya.
Lalu Aditya menoleh ke belakang dan melihat Nasya memberi dukungan kepadanya. Aditya langsung mempunyai semangat 45 setelah di semangati oleh Nasya.
"Jika saja Intan tidak melakukan hal itu, mungkin kita bisa pergi bersama mengikuti lomba olimpiade ke Surabaya," kata Aditya dalam hati.
Bus pun berangkat menuju bandar udara Soekarno-Hatta menuju ke bandara udara Juanda, Surabaya.
Setelah Bus berangkat seluruh siswa pun kembali ke kelas masing-masing.
"Nes, aku masih bingung kenapa lembar jawabanku tidak ada saat pak Leo periksa?" tanya Nasya kebingungan.
"Apakah kamu sudah pastikan lembar jawabanmu di taruh ke tempat yang di tentukan panitia waktu itu?" selidik Agnes.
"Sudah ... saya menaruhnya berbarengan dengan Aditya saat itu," lirih Nasya.
"Coba tanya sama pak Leo. Setelah dia mengoreksi dan menyerahkan lembar jawaban ke panitia, apa ada orang yang memegang lembar jawaban selain dia?" tanya Agnes yang mulai penasaran.
"Oh iya, kenapa aku tidak kepikiran ya?" tanya Nasya.
"Ayo segera kita ke ruangan pak Leo!" ajak Agnes seraya menari tangan Nasya.
Mereka pun menuju ke ruangan guru dan menemui pak Leo. Di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan Sitta. Sitta ingin sekali mengerjai Nasya, namun karena ada Agnes dia pun mengurungkan niatnya untuk mengerjai Nasya.
Bagaimana tidak, waktu di kantin Agnes sangat marah dan ingin sekali menjambak rambutnya. Saat Nasya dan Agnes lewat, Sitta pun hanya memandang mereka dengan senyuman smrik.
"Jangan di hiraukan Cya. Jika dia melihatmu dengan tatapan sinis tersebut mending gak usah di sapa," jelas Nasya seraya memberi tatapan tajam pada Sitta.
Sesampainya di depan pintu kantor guru, tiba-tiba Nasya menghentikan langkahnya seraya menarik tangan Agnes.
"Eh ... ada apa Cya?" tanya Agnes.
"Nes, pak Leo kan ikut rombongan peserta kontestan ke Surabaya. Jadi, pak Leo pasti tidak ada di kantor sekarang," ujar Nasya.
"Benarkah? jadi kita gak bisa dapat informasi hari ini," keluh Agnes.
"Tidak apa-apa Cya, Tuhan tahu semuanya. Cepat atau lambat kebenaran pasti terungkap," ucap Nasya.
"Iya deh Cya. Tapi saya yakin bahwa Intan pasti ada di balik ini semua," ujar Agnes.
"Gak boleh gitu Cya. Jangan asal nuduh orang, dosa tahu," kata Nasya.
Tiba-tiba terdengar suara Mira dan Priskila yang memanggil mereka. Lalu mereka menghampiri Nasya dan Agnes.
"Ternyata kalian di sini?" tanya Mira.
"Iya, dari tadi kami sedang mencari kalian," ucap Priskila.
"Oh, kami tadi hendak menemui pak Leo dan hendak bertanya soal lembar jawaban Nasya yang hilang," cetus Agnes.
"Sudah, sudah ... mending kita ke kantin," ajak Nasya.
"Ta-tapi Cya," ucap Agnes yang terputus-putus.
"Sudah gak usah di pikirin," kata Nasya seraya menarik tangan Agnes.
Lalu mereka berempat menuju ke kantin. Mereka memesan beberapa cemilan seraya melontarkan candaan terhadap sesama.
"Guys ... kucing, kucing apa yang kuno?" ucap Mira.
"Kucing kuno, apa itu?" penasaran Nasya.
"Kucinggalan zaman," jawab Mira seraya tertawa.
"Bisa gitu ya," ucap Priskila.
"Aku juga deh. Hewan apa yang nyari bapaknya terus?" tanya Agnes.
"Ayam," tebak Nasya.
"Kucing," tebak Priskila.
"Salah. Jawabannya kambing, soalnya bunyi pasti bee bee bee."
Mereka pun tertawa terbahak-bahak dengan tebakan yang lucu dari Agnes.
Tiba-tiba Intan dan Sitta melewati mereka dengan muka sinis. Tatapan tajam itu hanya tertuju pada Nasya.
"Ih ... pengen aku ceburin Intan itu ke laut," ujar Mira.
"Iya nih, tangan saya gatal banget," ucap Agnes.
Nasya dan Priskila yang melihat kelakuanku Agnes dan Mira hanya menggelengkan kepala.
"Tet ... tet ... tet ..." Bel berbunyi pertanda seluruh siswa masuk ke dalam kelas.
Lalu mereka pun beranjak dan mengutip sampah serta membuangnya pada tempatnya. Mereka berempat pun langsung menuju ke ruangan kelas.
Bersambung...
Ikutin terus ya...
Semoga harimu menyenangkan:)
Aku masih pegang Adit Nasya nih. Tapi kalau Arman lebih gentle keknya bisa kali 😏😏😏
Coba Rafa jadi alim dikit
Berasa nyewa di sini