Menceritakan soal pemuda bernama Lucien yang dulu dikenal sebagai Ash van Astoria, pangeran keempat yang dibuang karena dianggap gagal. Tidak punya sihir, dihina keluarganya sendiri, lalu dijatuhkan ke jurang demi menjaga "harga diri" kerajaan.
Tapi bukannya mati, ia justru dipilih oleh konstelasi kuno, Ophiuchus.
Sejak saat itu, hidupnya berubah.
Lucien mendapatkan kekuatan langka, kemampuan untuk memanggil dan mewarisi kekuatan dari para rasi bintang. Namun setiap konstelasi hanya akan memberikan kekuatannya kepada orang yang mereka akui.
Ditemani Chiron dari Konstelasi Centaurus, Lucien memulai perjalanan untuk menjadi lebih kuat, menaklukkan ujian para bintang, dan membuktikan kalau "sampah" yang dibuang kerajaan… bisa bersinar paling terang.
Dan ini baru permulaan.
Karena suatu hari nanti, 88 konstelasi akan menjadi kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trial Of Columba: The Flood's End #3
Lautan yang sebelumnya bergolak kini kembali tenang.
Permukaan air memantulkan langit malam yang dipenuhi bintang, sementara perahu kecil yang ditumpangi Luc mengapung perlahan tanpa tujuan yang jelas.
Luc berdiri diam di atasnya.
Dadanya masih terasa sesak. Pipinya masih basah oleh air mata yang belum sempat ia sadari.
Ia menatap kedua tangannya sendiri untuk beberapa saat sebelum perlahan mengepalkannya.
"Aku benci mereka," gumamnya pelan sambil menundukkan kepala. "Aku benci apa yang mereka lakuin."
Suaranya terdengar serak.
"Aku nggak bisa pura-pura bilang semuanya baik-baik aja."
Ia mengangkat wajahnya dan menatap konstelasi Columba yang bersinar lembut di atas langit.
"Aku juga nggak tahu apa aku bisa memaafkan mereka suatu hari nanti."
Luc tertawa kecil, meski tawanya terdengar getir.
"Tapi..."
Ia menarik napas panjang.
"Aku nggak mau hidup cuma buat membenci mereka."
Pandangannya beralih ke permukaan laut yang tenang.
"Aku udah kehilangan banyak hal gara-gara mereka."
"Aku nggak mau kehilangan diriku sendiri juga."
Keheningan menyelimuti dunia itu.
Tidak ada ombak besar.
Tidak ada petir.
Tidak ada suara yang memaksanya untuk memilih jawaban tertentu.
Hanya lautan yang tenang.
Lalu...
Suara Columba kembali terdengar.
Suara itu tetap lembut seperti sebelumnya. Namun kali ini, Luc bisa merasakan kehangatan di baliknya.
"Engkau tidak memilih untuk melupakan lukamu."
Lautan beriak pelan.
"Engkau tidak berpura-pura bahwa pengkhianatan itu tidak pernah terjadi."
Angin lembut menyentuh wajah Luc.
"Engkau mengakui amarahmu."
"Engkau menerima kesedihanmu."
"Dan meskipun demikian..."
Cahaya Columba mulai bersinar lebih terang.
"Engkau tetap memilih untuk tidak menyerahkan hatimu pada kebencian."
Luc mendengarkan dalam diam.
Entah kenapa, dadanya terasa semakin ringan.
"Engkau tidak sempurna."
"Engkau tidak suci."
"Namun engkau masih mampu berharap."
Perahu kecil itu berhenti bergerak. Lautan menjadi setenang kaca.
"Ash... Tidak, sekarang Lucien...."
Untuk pertama kalinya, Columba memanggil namanya.
Bukan Ash Sang Pangeran Keempat, bukan noda ataupun sampah.
Tapi Lucien—Luc.
"Engkau telah lulus."
Mata Luc membelalak. "Hah?"
Ia berkedip beberapa kali. "Tunggu bentar."
Luc menunjuk dirinya sendiri. "Jadi... aku beneran lulus?"
Cahaya Columba berpendar lembut. "Ya."
Luc terdiam beberapa detik. Lalu menggaruk pipinya pelan. "Jujur aja..." gumamnya sambil tertawa canggung. "Aku kira bakal gagal."
"Engkau hampir gagal."
Luc langsung membeku. "Eh?"
Suara Columba terdengar tenang. "Ada saat ketika kebencianmu hampir menelan dirimu."
Bayangan aula kerajaan muncul sesaat di permukaan laut. Bayangan keluarganya. Bayangan dirinya yang terjatuh ke jurang. Lalu semuanya menghilang kembali.
"Namun pada akhirnya... Engkau memilih untuk tetap melangkah."
Luc mengusap tengkuknya dengan malu. "Kalau dipikir-pikir... aku juga nggak tahu kenapa milih begitu."
Ia menatap langit berbintang.
"Mungkin karena masih ada orang-orang yang baik sama aku."
Lea yang berlari di tengah hujan.
Chiron yang terus membimbingnya.
Ophiucus yang memberinya kesempatan kedua.
Kalau bukan karena mereka... Mungkin jawaban Luc akan berbeda.
Cahaya Columba perlahan turun dari langit dengan lembut. Pendar putih keperakan itu mengelilingi tubuh Luc seperti ribuan bulu merpati yang beterbangan di udara.
"Sebagai penghargaan atas jawabanmu... Saya, Columba... Menitipkan sayapku kepadamu."
Luc merasakan kehangatan mengalir ke seluruh tubuhnya seperti pelukan hangat yang menenangkan hati.
Sebuah panel bercahaya perlahan muncul di hadapan Luc.
"Konstelasi Columba telah mengakui Anda." Suara dunia terdengar bergema dalam kepala Luc.
Skill Diperoleh.
Wings of Serenity
Sayap merpati bercahaya menenangkan hati sekutu, meredakan rasa takut, mempercepat pemulihan mental, dan melindungi pikiran dari pengaruh negatif.
Olive Branch
Menghadirkan kedamaian yang mampu meredakan permusuhan, menenangkan makhluk buas, menghentikan amukan, dan melemahkan niat membunuh yang tidak terlalu kuat tanpa mengendalikan kehendak target.
Feather of Absolution
Bulu-bulu cahaya Columba menghapus kutukan ringan, mengusir energi negatif, meredakan luka emosional, serta membantu mereka yang dipenuhi kebencian menghadapi penyesalan dalam dirinya.
Messenger of the Horizon
Merpati cahaya berfungsi sebagai pembawa pesan dan penunjuk jalan, mampu menemukan orang yang dicari serta membimbing mereka yang tersesat menuju tujuan mereka.
Ultimate Skill: Peace Beyond the Storm
Konstelasi Columba bersinar di langit saat ribuan bulu putih turun membawa kedamaian. Seluruh sekutu di dalam wilayah efek akan memperoleh penyembuhan luka ringan, terbebas dari rasa takut, keputusasaan, racun, dan kutukan ringan, sementara niat membunuh di sekitarnya ditekan oleh ketenangan yang menyelimuti area tersebut.
.
.
.
Luc membaca satu per satu panel itu dengan mata membulat.
Ia menggaruk pipinya pelan. "Kedengarannya nggak sekuat kekuatan yang bisa meledakkan gunung atau semacamnya."
Luc kembali menatap Columba.
"Tapi..."
Tatapannya perlahan melembut.
"Aku menyukainya."
Ribuan bulu cahaya terus berputar di sekelilingnya.
Luc memejamkan mata sejenak. Entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak dibuang ke jurang, ada ketenangan yang perlahan mengisi kekosongan di dalam dadanya.
Luka itu belum sembuh.
Amarah itu belum hilang.
Namun sekarang ia tahu. Meskipun dunia pernah melukainya... Ia masih mampu memilih untuk menjadi seseorang yang berbeda dari mereka.
Cahaya Columba semakin terang.
"Teruslah melangkah, Luc. Dan ketika badai datang kembali... Jadilah sayap yang menuntun mereka pulang."
Pandangan Luc mulai memutih. Lautan perlahan menghilang. Perahu kecil di bawah kakinya berubah menjadi partikel cahaya.
Sesaat sebelum kesadarannya kembali ke dunia nyata, Luc tersenyum kecil sambil menggaruk pipinya.
"Kalau dipikir-pikir, ujian ini berat banget. Tapi... makasih, Columba."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Konstelasi Columba...
Rasi bintang Columba dalam bahasa Latin berarti "merpati" adalah konstelasi redup di langit selatan. Berbeda dengan rasi bintang klasik Yunani lainnya, Columba tidak memiliki akar mitologi kuno. Sebaliknya, konstelasi ini memiliki kaitan erat dengan dua kisah legenda yang cukup populer.
Kisah Alkitab: Merpati Nuh
Konstelasi ini sering disebut sebagai Columba Noachi (Merpati Nuh). Menurut kisah, burung merpati dikirim dari bahtera oleh Nuh untuk mencari daratan setelah Banjir Besar surut. Merpati tersebut kembali dengan membawa sehelai ranting zaitun di paruhnya, menandakan bahwa air telah surut dan kehidupan dapat dimulai kembali.
Mitologi Yunani: Merpati Jason dan Para Argonaut.
Dalam versi mitologi Yunani, rasi bintang ini diidentifikasikan sebagai burung merpati yang dilepaskan oleh Jason. Dalam kisah pencarian Golden Fleece, Jason dan para Argonaut menggunakan burung tersebut untuk memandu kapal mereka melewati Symplegades (Batu-Batu yang Bertabrakan) di Laut Hitam.
Sedangkan menurut sejarah:
Columba diperkenalkan oleh seorang astronom Belanda Petrus Plancius pada tahun 1592 untuk memisahkan bintang-bintang yang 'tidak terpakai' pada rasi bintang Canis Major. Plancius pertama kali menggambarkan Columba pada sebuah peta bintang yang terdapat pada peta dinding buatannya pada tahun 1592. Rasi ini juga muncul pada peta dunia buatannya pada tahun 1594 dan pada beberapa bola langit buatan Belanda.
Plancius pada mulanya menamai rasi bintang ini Columba Noachi ("Merpati Nuh"), mengacu pada merpati yang memperingatkan Nabi Nuh akan datangnya banjir besar. Nama tersebut dipakai pada peta bintang dan bola langit pada awal abad ke-17 (misal Uranometria buatan Johann Bayer pada tahun 1603).