"Gue peringatin sama lo, jangan pernah sentuh barang-barang gue!" ucap Refano sambil menarik kasar gantungan kunci yang ada di tangan Wafa.
"Dan satu lagi. Jangan pernah lo deketin Fani. Karena lo cuman bawa pengaruh buruk buat dia." suara datar dan tatapan tajam Refano tujukan kepada Wafa yang masih setia berdiri didepannya.
"Fani teman aku. Dan aku merasa bahwa nggak ada salahnya Fani membuat keputusan yang membuat dia jadi lebih baik." balas Wafa dengan berusaha untuk tidak sakit hati dengan ucapan Refano barusan.
"Lebih baik dengan berhijab maksud lo?"
"Apa yang salah dengan hijab?"
"Nggak usah ikut campur urusan keluarga gue. Dan ingat, lo nggak tahu apa-apa soal kehidupan gue. Jadi berhenti untuk pengaruhin Fani atau lo akan menyesal."
Bagaimana kisah Wafa selanjutnya? akankah dia mampu untuk menghadapi rintangan demi rintangan yang menimpa hidupnya?
Silahkan berkunjung di IG author: awanmendung_26 🌻🌻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwanMendung26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan Tangguh Berhati Rapuh
..."Tidak ada manusia yang benar-benar kuat. Yang ada hanyalah berusaha untuk ...
...terlihat kuat."...
...-AwanMendung26-...
HAPPY READING....
Setelah berhasil keluar dari suasana yang cukup membuat hati menjadi panas. Kini Zeya dan Fani menuntun sahabatnya menuju ketaman kecil yang ada dilingkungan kampus.
"Fa. Kamu nggak apa-apa?" Tanya Zeya pelan sembari menelisik raut wajah Wafa yang terlihat syok. Siapa yang tidak syok dengan kejadian yang tiba-tiba seperti tadi.
Gadis berhijab itu menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Posisi Wafa saat ini sedang menunduk sembari menutup wajah dengan kedua tangannya. Bahu gadis itu terlihat bergetar dan tak lama terdengar suara tangisan yang tertahan.
Zeya dan Fani yang mengerti dengan kondisi sahabatnya saat ini tidak lagi berani untuk bertanya. Yang dilakukan kedua gadis itu hanya memeluk Wafa erat sembari mengucapkan kata-kata penguat untuk sahabatnya. Cukup lama dengan posisi tersebut. Perlahan suara tangis Wafa berhenti. Dia mengusap air mata yang masih tersisa di pipinya.
"Makasih, ya." Ucap Wafa dengan suara lirih. Wafa lalu mendongkak menatap sahabatnya bergantian. Hanya ada senyum yang menghiasi wajah Zeya dan Fani. Kedua gadis itu terlihat sangat mengerti dengan apa yang dirasakan Wafa saat ini.
"Kita akan selalu ada buat kamu Fa." Ucap Fani sambil menggenggam erat tangan Wafa. Senyum di bibir Wafa terbit setelah mendengar kata-kata penyemangat dari sahabatnya.
"Jangan sedih lagi, ya, Fa. Aku tahu kamu kuat. Dan soal perempuan tadi aku akan ngomong sama kak Gian. Aku akan minta dia buat peringatin perempuan itu supaya nggak gangguin kamu lagi." Ucap Zeya sungguh-sungguh. Zeya tidak akan rela jika ada yang menyakiti gadis sebaik Wafa.
"Makasi, ya, Ze." Ucap Wafa yang berusaha tersenyum.
"Sama-sama Fa."
"Oh, iya, supaya kamu nggak sedih lagi gimana kalau aku beliin ice cream aja?"
"Kayaknya bukan hal yang buruk kalau kita makan ice cream." Ucap Fani yang tampak berbinar ketika mendapat tawaran dari Zeya.
"Aku mau rasa Vanila, ya, Ze." Lanjut Fani.
"Kalau kamu, Fa mau rasa apa?" Kini atensi Fani beralih menatap Wafa.
"Coklat."
"Oke. Tunggu bentar, ya, aku beliin dulu."
"Mau ditemenin nggak Ze?" Tawar Fani saat melihat Zeya sudah bersiap untuk pergi.
"Nggak usah. Kamu temenin Wafa disini aja."
"Oke deh. Hati-hati."
Zeya kemudian menuju kearah parkiran. Langkah gadis itu tiba-tiba terhenti melihat sosok perempuan yang tadi menampar Wafa seperti sedang berdebat dengan sepupunya. Gian yang tidak sengaja melihat Zeya yang ada diparkiran kemudian memanggil gadis itu.
"Zeya?" Panggilan Gian justru diabaikan oleh perempuan yang mengikat kuncir kuda rambutnya.
"Ze. Di mana Wafa sekarang?" Zeya menghentikan gerakan tangannya saat ingin mengambil kunci mobil di tasnya. Hari ini Zeya memang berangkat sendiri tanpa diantar oleh supir. Karena, itu adalah permintaan Zeya pada orang tuanya.
Gadis itu berbalik dan memicingkan matanya kearah Gian. "Ngapai kak Gian nanya-nanya soal Wafa? Belum puas cewek kakak itu bikin sahabat aku sedih?" Gian dapat mendengar jelas nada marah saat Zeya menjawab pertanyaannya.
"Ze, cewek tadi itu mantan gue. Dan dia belum bisa liat gue sama yang lain makanya dia ngelabrak Wafa kayak tadi. Dia fikir Wafa yang bikin gue jadi ngejauh dari dia." Ucap Gian yang ingin meluruskan.
"Kalau gitu jangan pernah kak Gian temuin Wafa sebelum masalah kakak sama cewek itu selesai." Ucap Zeya kemudian bergerak membuka pintu mobilnya. Tangan Zeya tertahan oleh Gian yang menghentikan dirinya.
"Apa lagi?" Tanya Zeya malas.
"Oke, gue turutin permintaan lo. Tapi, kasi tahu gue gimana keadaan Wafa sekarang." Ucap Gian dengan sedikit memohon. Laki-laki yang terkenal jail dan cuek itu menurunkan egonya untuk kembali bertanya pada Zeya.
"Dia baik."
"Udah kan? Jadi lepasin tangan kakak sekarang karena aku mau pergi."
"Kemana?"
"Aku nggak ada waktu buat jawab pertanyaan kak Gian."
"Oke. Kalau gitu gue pergi dulu." Ucap Gian kemudian melangkah menjauh.
Zeya tak sengaja menangkap sosok Adit dan Kenan teman sekelasnya. Tampak kedua pria itu berjalan dengan menenteng kantong plastik yang berisi ice cream.
"Adit!" Tiba-tiba suara Zeya membuat Adit dan Kenan menatap kearah gadis itu. Sedang Zeya langsung menghampiri mereka dengan berlari kecil.
"Kenapa Ze?" Tanya Adit pada Zeya yang kini tersenyum manis padanya. Perasaan Adit jadi tidak enak. Tidak biasanya Zeya bersikap manis seperti sekarang.
"Kenapa senyum-senyum gitu Ze? Jadi merinding gue liatnya." Ucap Adit menjaili Zeya.
"Itu ice cream lo Dit?" Bukannya menjawab. Gadis itu justru melayangkan pertanyaan pada Adit.
"Iya, emang kenapa?"
"Rasa apa aja?" Lagi-lagi pertanyaannya tidak mendapat jawaban yang jelas.
"Vanila sama coklat."
"Kalau gitu ice creamnya gue beli aja, ya, Dit. Gue kebetulan lagi mau beli ice cream nih." Zeya berusaha menampilkan wajah imut dengan senyum manis. Benar firasat Adit tadi. Zeya bersikap manis karena ada maunya saja.
"Nggak ada. Beli sendiri!" Tolak Adit tegas.
"Ken, boleh, ya, gue beli ice creamnya." Kini wajah memelas ditunjukkan Zeya pada kenan. Padahal jelas-jelas Kenan sebenarnya tidak punya hak akan ice cream itu.
"Dit, kasih aja lah. Kasian tuh anaknya mohon-mohon gitu." Kenan memang laki-laki yang paling tidak bisa menolak permintaan perempuan apalagi jika sampai memohon pada dirinya.
"Apaan sih lo. Nggak, pokoknya ice cream ini nggak akan gue kasih sama Zeya." Kekeh Adit.
"Ya, udah, deh kalau gitu gue beli 3 ice cream itu 200 ribu. Gimana?" Mendengar penawaran menarik Zeya. Membuat hati Adit bersorak senang. Meski Adit dari keluarga yang berada tapi saat ini uang jajannya sedang dipotong oleh orang tuanya. Maka dari itu Adit berusaha mencari celah untuk mendapatkan uang.
"Oke. Deal." Ucap Adit lantang.
"Giliran duit aja lo semangat." Ucap Kenan yang tak habis pikir dengan Adit.
"Kita harus realistis bro. Uang memang bukan segalanya. Tapi, kalau nggak uang pasti hidup lo nggak bakan tenang juga." Balas Adit.
"Nih," Zeya menyerahkan uang 200 ribu pada laki-laki itu dan langsung merebut kantong plastik dari tangan Adit.
"Gue pergi dulu." Teriak Zeya yang sudah berlari meninggalkan Adit dan Kenan yang bingung dengan tingkah Zeya.
Zeya kini menghampiri Fani dan Wafa yang sedari tadi menunggunya.
"Nih ice creamnya." Ucap Zeya sambil memberikan ice cream tersebut pada dua sahabatnya.
"Makasih Ze." Ucap Wafa.
"Makasih, ya, Ze." Ucap Fani dengan mata berbinar memandang ice cream yang kini berada ditangannya.
Ketiganya langsung melahap ice cream tersebut sambil mengobrol. Wafa dan Fani tertawa ketika mendengar Zeya yang bercerita bahwa dia membeli ice cream tersebut pada Adit dengan harga 200 ribu. Padahal jika beli di warung-warung harganya hanya 15 ribu saja. Adit untung berkali-kali lipat bukan? Dasar adit mata duitan.
Setelah sudah merasa tenang akhirnya Wafa memilih pulang kerumah. Sebelum pulang Wafa lebih dulu mampir ke toko obat. Akhir-akhir ini dia merasa asam lambungnya sedang kambuh. Semua itu karena Wafa yang terkadang lupa makan saat berhadapan dengan tugas-tugas kuliah. Biasanya Wafa hanya makan saat sarapan dan makan saat malam tiba. Hal itu tentu saja akan memicu perih di ulu hatinya. Ketika akan keluar dari apotek. Wafa tidak sengaja berpapasan dengan Naila. Gadis itu terlihat sedikit pucat.
"Naila."
Gadis itu menatap Wafa yang kini berdiri didepannya.
"Naila, kamu nggak apa-apa? Muka kamu pucet banget." Ucap Wafa yang justru terdengar seperti nada khawatir dan cemas ditelinga Naila. Bahkan gadis itu tidak terbiasa dengan perhatian dan kasih sayang. Papanya sendiri bahkan tidak pernah menanyakan perilah kesehatan Naila.
"Gue nggak apa-apa." Jawab Naila dengan suara lirih dan pelan.
"Tapi, muka kamu pucet banget."
"Gue ssstt--" Naila meringis kesakitan. Kening gadis itu berkerut dan tangannya seketika memegang bagian perut tepatnya dibagian ulu hati.
"Kamu udah makan?" Gadis itu terlihat menggeleng kecil.
"Ayok, duduk dulu." Wafa kemudian menuntun Naila untuk duduk dikursi yang ada disamping apotek tersebut.
"Tunggu sebentar, ya." Ucap Wafa kemudian pergi begitu saja. Setelah beberapa menit menunggu, gadis itu kembali dengan menenteng kantong plastik.
"Nih, kamu makan ini dulu. Pasti asam lambung kamu kambuh kan?" Tebak Wafa dan gadis itu tampak mengangguk.
Wafa kemudian membuka bungkus roti tersebut dan menyerahkannya pada Naila. Gadis itu menerima tanpa sepatah kata lagi. Dia langsung saja memakan roti pemberian Wafa dengan lahap dan diakhiri dengan meneguk beberapa kali air didalam botol mineral yang diberikan Wafa padanya.
"Makasih, ya," ucap Naila yang merasa dirinya sedikit membaik. Perlahan rasa perih di ulu hatinya dan pusing dikepalanya sudah mereda.
"Sama-sama." Balas Wafa sambil tersenyum.
"Oh, iya, ini obat buat kamu. Jangan lupa diminum, ya." Wafa memberi obat tablet yang dibelinya tadi. Wafa memang lebih suka meninum obat tablet dibandingkan dengan yang cair. Karena gadis itu memberi 2 kotak sebagai persediaan. Akhirnya diberikan pada gadis disampingnya.
"Maaf," cicit Naila sembari menunduk.
"Kenapa minta maaf?" Wafa tertegun mendengar suara Naila.
"Gue minta maaf karena selama ini gue salah menilai lo. Gue kira semua perempuan berhijab itu sama aja. Nggak ada yang bisa gue percaya sedikit pun. Masa lalu gue benar-benar bikin gue nggak bisa melihat sisi baik seorang perempuan berhijab kayak lo. Sekali lagi, maafin gue, ya." Ucap Naila sambil menggenggam tangan Wafa erat.
Wafa tersenyum bahagia mendengar itu. Akhirnya satu persatu doanya bisa terkabul. Naila bisa menerimanya dan tidak lagi memandang semua perempuan berhijab buruk.
"Kamu nggak perlu minta maaf Nail. Aku tahu semua sikap yang kamu tunjukin selama ini cuman bentuk kekecewaan kamu dengan masa lalu yang belum bisa kamu terima."
"Aku harap setelah semua ini, kita bisa berteman baik, ya." Lanjut Wafa tanpa mengalihkan tatapannya pada Naila.
"Lo mau berteman sama gue?" Wafa mengangguk. Bagaimana tidak. Itu adalah salah satu impian Wafa. Bisa mengenal Naila si gadis tangguh berhati rapuh.
"Makasih." Naila dengan gerakan kilat langsung memeluk Wafa. Sedang gadis berhijab itu diam beberapa saat dan kemudian membalas pelukan Naila.
"Oh, iya, Nai. Kamu sekarang tinggal di mana? Kok nggak tinggal sama tante Maya lagi?" Tiba-tiba saja Wafa teringat pada Naila yang sudah tidak tinggal bersama dengan Fani dan tante Maya. Terbukti saat makan malam waktu itu Naila baru datang berkunjung di rumah Fani.
"Gue ngekos dekat-dekat sini."
"Tapi kenapa?"
"Gue nggak mungkin ngerepotin tante Maya dan Fani terus. Lagian gue juga udah terbiasa mandiri semenjak gue dapat pekerjaan." Wafa lagi-lagi tersenyum.
"Kamu tahu Nai? Kamu salah satu perempuan tangguh yang pernah aku kenal." Naila tertawa kecil mendengar penuturan Wafa.
"Semua ini karena keadaan yang maksa gue seperti sekarang. Gue kehilangan Mama saat gue masih kecil dan Papa bahkan sedari dulu nggak pernah nganggap gue anaknya. Mau nggak mau gue yang harus semangatin diri gue sendiri."
"Tapi sekarang kamu nggak sendirian. Aku sebagai teman kamu akan selalu ada buat kamu."
"Makasih, ya, gue beruntung bisa ketemu sama lo."
betapa indahnya bersama mahrom yg sejalan..
semoga solih sholihah q, juga mendapatkan spt keindahan kisah ini d akhirnya..aamiin
sub
like
vote
iklan
komen
kopi
stars
cha yo..
😘😍😘😍😘😍😘😍
berharap terbaik
apa yg terjadi skrg..adlah berharap terbaik kedepanya. aamiin..
menjaga hati..
sakit
buku diary
dl zaman nabi yusuf yg oncek2 bagianya kaum hawa, yg ampe tak menyadari tanganya kepisau saking gantenge..nabi yusuf
x ini berbeda ....hehehhe
🤣😂😁😀😃😅😆😉
krn tak bs melupakan jk hati terluka. uhhhhh..hny bs menguatkan diri sendiri.. cha yo..semua siper women disini i luv u pull
😘😍😘😍😘😍😘😍😘😍😘😍
berharap yg yerbaik