Suara riuh rendah khas jam kosong di kelas 10-MIPA 3 selalu didominasi oleh dua hal: gosip hangat di pojok belakang, atau teriakan frustrasi dari gerombolan siswa di baris tengah. Bagi Naomy, suara yang kedua jauh lebih mengganggu sekaligus memicu rasa penasarannya belakangan ini.
"Kiri, kiri! Woy, lindungi gue! Ah, telat lo, mati kan gue!"
"Sabar, cooldown skill gue masih jalan! Mundur dulu, mundur!"
Naomy menghentikan goresan pulpennya di atas buku catatan Biologi. Ia menoleh ke arah meja milik Tasya dan sisa gengnya. Tiga gadis yang biasanya sibuk membahas drama Korea atau warna lipstik terbaru itu kini tengah menunduk dalam-dalam, menatap layar ponsel masing-masing dengan posisi lanskap. Ibu jari mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sementara wajah mereka tampak sangat tegang, seolah-olah masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran enam inci tersebut.
Rasa asing itu mulai merayap di dada Naomy. Fear of Missing Out. FOMO. Istilah yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Detak Jantung Di Ruang Sempit
Lampu indikator di atas pintu lift bergerak lambat, menunjukkan angka yang perlahan naik. Naomy bersandar pada dinding lift yang dilapisi cermin stainless steel, menatap pantulan dirinya dengan helaan napas panjang. Pagi ini, ia benar-benar terlihat seperti zombi berjalan. Wajahnya pucat, matanya sayu dengan lingkaran hitam yang semakin tegas di bawahnya.
Kombinasi antara tidur jam dua pagi karena keasyikan mabar dengan Rawwwrrr dan tekanan draf revisi yang harus selesai sebelum jam makan siang benar-benar menguras energinya. Kantuk yang luar biasa menggelayuti kelopak matanya, membuat segelas kopi instan yang ia minum di kosan tadi terasa sama sekali tidak mempan.
Ting.
Pintu lift mulai bergeser menutup perlahan di lantai dua. Naomy sudah bersiap untuk memejamkan mata sejenak selama perjalanan menuju lantai divisinya. Namun, tepat sebelum celah pintu itu merapat sempurna, sebuah tangan dengan jemari kokoh dan jam tangan mewah melesat masuk, menahan sensor pintu hingga lift kembali terbuka otomatis.
Naomy mendongak otomatis, dan detik itu juga, rasa kantuknya menguap digantikan oleh sengatan listrik kepanikan.
Pria yang melangkah masuk ke dalam lift adalah Raka. CEO muda itu tampil sangat karismatik dengan kemeja hitam yang lengannya digulung rapi hingga siku, memperlihatkan jam tangan yang sama dengan yang menahan pintu tadi. Aroma parfum maskulin yang mahal dan segar langsung memenuhi ruang lift yang sempit, mengusir bau apek khas pagi hari.
Seketika, refleks tubuh Naomy bekerja. Ia langsung memutuskan kontak mata, menundukkan kepalanya dalam-dalam, dan bergeser ke sudut paling pojok belakang lift. Jantungnya berdegup kencang, berkejaran dengan rasa cemas kalau-kalau bos monster ini akan menanyakan soal draf revisi atau—yang lebih buruk—kejadian ngedumel di mesin fotokopi kemarin.
Pintu lift menutup kembali. Suasana di dalam kotak besi itu mendadak menjadi sangat sunyi dan mencekam bagi Naomy. Ia bisa melihat sepatu pantofel kulit mengkilap milik Raka berdiri hanya berjarak dua langkah di depannya.
Raka, yang menyadari kehadiran Naomy sejak awal, diam-diam melirik pantulan gadis itu dari cermin di depan mereka. Ia menangkap basah bagaimana Naomy langsung menunduk ketakutan seperti anak kucing yang bertemu singa. Sudut bibir Raka berkedut, menahan senyum geli yang hampir lolos.
Tampak kurang tidur, batin Raka, memperhatikan kantung mata Naomy yang samar. Ia tahu persis apa penyebabnya, karena dialah orang yang menemani gadis itu terjaga hingga dini hari di dunia virtual.
"Kurang tidur, Naomy?"
Suara bariton Raka yang berat memecah keheningan lift. Suaranya terdengar datar, namun jika didengarkan dengan saksama, ada nada interogasi yang santai di sana.
Naomy tersentak kecil di sudut lift. Ia tidak menyangka sang CEO akan menegurnya terlebih dahulu. Dengan posisi kepala yang masih agak menunduk, ia menjawab dengan suara cicitan yang gugup. "A-ah, iya, Pak. Sedikit. Kemarin malam ada beberapa tugas yang... yang saya rapikan." Naomy terpaksa berbohong demi menyelamatkan harga dirinya daripada mengaku habis main game online.
Raka membalikkan sedikit tubuhnya, menghadap ke arah Naomy. Ia menyilangkan kedua tangan di dadanya, menatap gadis itu dengan pandangan menyelidik yang jail.
"Merapikan tugas, atau merapikan strategi pertempuran?" tanya Raka dengan nada suara yang sengaja diturunkan satu oktav, sangat mirip dengan intonasi @Rrrrarrkyyy saat menggoda "si Anonim" di ruang obrolan.
Mendengar kalimat yang tidak biasa itu keluar dari mulut sang CEO, Naomy langsung mendongak kaget. Matanya membelalak menatap Raka. Strategi pertempuran? Maksudnya apa? Otak Naomy yang masih setengah mengantuk mendadak macet total. Apakah Pak Raka tahu dia suka main game? Atau ini hanya istilah kiasan dalam dunia desain agensi?
Sebelum Naomy sempat mencerna kebingungannya, pintu lift berdenting dan terbuka di lantai tiga—divisi kreatif.
Raka menurunkan kembali tangannya, lalu berbalik memunggungi Naomy bersiap untuk keluar terlebih dahulu. Sebelum melangkah, ia menoleh sedikit ke belakang, menyunggingkan sebuah senyum tipis yang penuh misteri di sudut bibirnya.
"Jangan sampai refleksmu melambat di meja kerja hari ini. Saya butuh desainer yang sigap," ucap Raka perlahan, memberikan penekanan khusus pada kata 'refleks'.
Raka melangkah keluar dari lift dengan santai, meninggalkan Naomy yang masih terpaku di pojok lift dengan mulut yang sedikit terbuka. Kata 'refleks', 'strategi pertempuran', dan nada suara bariton itu... semuanya berputar-putar di kepala Naomy seperti kepingan teka-teki yang mulai mendekat, membuat bulu kuduknya merinding tanpa alasan yang jelas.
Brak!
Pintu lift yang baru saja terbuka beberapa sentimeter di lantai tiga mendadak tertutup kembali dengan kasar. Sebuah guncangan hebat melanda kotak besi itu, membuat tubuh Naomy terdorong ke depan dan kehilangan keseimbangan. Lembar-lembar kertas draf yang didekapnya terlepas, berserakan di lantai lift yang dingin.
"Aaah!" Naomy terpekik, memejamkan mata erat-erat seraya berpegangan pada besi pembatas di dinding lift.
Di depannya, Raka dengan sigap melebarkan tumpuan kakinya untuk menahan guncangan. Jantungnya berdesir tajam saat merasakan tubuh Naomy sempat menabrak punggung tegapnya sebelum gadis itu berhasil mencengkeram besi pengaman.
Detik berikutnya, lampu utama lift padam. Keadaan di dalam kotak besi itu mendadak gelap gulita selama dua detik yang menegangkan, sebelum akhirnya lampu darurat berwarna kekuningan menyala redup, memberikan penerangan yang minim dan remang-remang. Suara dengung mesin lift yang biasanya terdengar halus kini mati total, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.
Lift itu macet. Dan mereka berdua terjebak di dalamnya.
Naomy mengatur napasnya yang memburu. Napasnya pendek-pendek dan tangannya gemetar hebat. Ia menatap ke arah panel tombol lift yang kini semua lampunya mati, lalu beralih menatap punggung Raka yang berdiri tegap di depannya. Ketakutan akan ruang sempit yang gelap mulai merayap di dadanya.
"P-Pak Raka... liftnya macet ya?" tanya Naomy dengan suara yang bergetar menahan tangis. Ketakutannya pada sang CEO mendadak luntur, digantikan oleh ketakutan yang lebih besar terhadap situasi mereka saat ini.
Raka membalikkan tubuhnya perlahan. Di bawah temaram lampu darurat, ekspresi wajahnya yang biasa sedingin es kini tampak jauh lebih tenang dan terkendali. Ia melangkah mendekati panel tombol, menekan tombol darurat bergambar lonceng berkali-kali, namun tidak ada respons balik dari luar. Ia lalu meraih ponsel dari saku celananya.
"Tidak ada sinyal," ucap Raka dengan suara baritonnya yang berat, menatap layar ponselnya yang menampilkan tanda silang di bar jaringan.
Raka mengalihkan pandangannya kepada Naomy. Gadis itu tampak sangat rapuh di sudut lift. Wajahnya yang memang sudah pucat karena kurang tidur kini terlihat semakin pasi. Kedua tangannya meremas ujung kemejanya sendiri, dan sepasang matanya yang bulat tampak berkaca-kaca menahan panik.
Melihat kondisi karyawannya yang mulai diserang kepanikan, insting pelindung di dalam diri Raka langsung bangkit. Ini bukan lagi tentang menyamar sebagai akun game atau berpura-pura menjadi bos yang kejam. Ini tentang keselamatan gadis yang setiap malam menemaninya tertawa.
Raka melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Naomy bisa mencium kembali aroma parfum maskulin bosnya yang menenangkan. Raka perlahan berjongkok di depan Naomy, memunguti beberapa lembar kertas draf milik Naomy yang berserakan di lantai, lalu menyusunnya menjadi tumpukan yang rapi.
"Tenang, Naomy. Tarik napas dalam-dalam," ucap Raka. Nada suaranya kali ini benar-benar berubah—hilang sudah intonasi dingin sang CEO, digantikan oleh suara bariton yang sangat lembut, hangat, dan penuh keyakinan. Suara yang selalu didengar Naomy lewat pesan suara saat mereka terdesak di dalam game. "Ini gedung agensi besar, sistem keamanan dan teknisinya pasti langsung bergerak begitu tahu ada lift yang berhenti. Kita aman di sini."
Naomy menatap Raka yang sedang berjongkok di depannya. Mendengar untaian kata penenang dan nada suara itu, jantung Naomy memberikan letupan yang jauh lebih dahsyat daripada guncangan lift tadi.
Suara ini... batin Naomy berteriak. Di dalam ruang sempit yang sunyi ini, suara Raka terdengar begitu bersih tanpa ada distorsi dari pelantang suara ponsel. Kemiripannya dengan suara @Rrrrarrkyyy kini bukan lagi sekadar kemiripan sekilas. Nada penenang, cara menekankan kata per kata, bahkan helaan napas di akhir kalimat... itu adalah Rawwwrrr. Cowok yang selalu berjanji akan memasang badan melindunginya di dalam game.
"Rawwwrrr...?"
Nama panggilan konyol itu lolos begitu saja dari bibir Naomy tanpa bisa ia cegah. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Raka yang tersembunyi di balik kacamata.
Raka yang sedang memegang tumpukan kertas mendadak menghentikan gerakannya. Ia mendongak, menatap balik ke arah Naomy. Di bawah lampu darurat yang remang, sepasang mata mereka bertemu. Raka tersenyum tipis—sebuah senyum yang sangat tulus dan geli, bukan senyum misterius seperti di koridor kantor tadi pagi.
"Refleks lo emang gak pernah melambat ya, Non?" balas Raka dengan suara baritonnya yang paling familier, menggunakan panggilan rahasia mereka.
Detik itu juga, waktu di dalam lift yang macet seolah berhenti berputar bagi Naomy.