Dua kali menikah dengan pria dari keluarga yang sama, freya sasmita tak menyangka cinta dan takdirnya akan menikah dua kali. yang lebih membuatnya tak percaya adalah pernikahanya yang biasa disebut turun ranjang.
ya, istilah untuk pernikahan yang dilakukan dengan menikahi kakak/adik dari pasangan kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri_uncu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan apa ini
"meri, sama mila tolong bawakan barang mami dan freya ke dalam ya" sasmita membawa beberapa makanan kesukaan ria dan cemilan yang pastinya tidak ada dikota lain
sementara freya masih tidur pulas di dalam mobil karena mila salah memberikan obat pada bosnya, harusnya vitamin tapi yang freya minum adalah obat tidur. biasa dia gunakan dengn resep dokter akibat depresinya yang kadang masih kambuh dan membuatnya kesulitan untuk tidur
freya terbangun dari tidur nyenyaknya di dalam mobil tapi sudah tak ada orang dan melihat keluar mobil, sepertinya sudah sampai tempat ria
"astaga kenapa masih saja mengantuk" freya meregangkan tubuhnya, mendengar suara di dalam rumah sudah freya memutuskan untuk berkeliling kebun saja, mengingat dulu ada pohon buah-buahan dekat rumah sambil menghilangkan rasa kantuknya
"evelin liat sini ayo kejar" arka mengambil rumput memanggil evelin untuk mendekatinya
"evelin!" freya melihat anak kecil lucu sedang berlarian dan jatuh
"om aka, om aka" evelin menunjuk arka karena didekati oleh freya
arka tersenyum melihat siapa yang datang
"maaf saya pikir evelin sendirian" freya berbalik arah takut ada nenek kunti yang akan melabraknya karena dikira menggodanya suami dan anaknya
bukan takut tapi freya tak ada jiwa p*elakor. jadi tak mau ribut hanya karena laki-laki saja.
"mama" panggil evelin " mama" sekali lagi evelin memanggil sebutan mama dan menangis
"kau tidak dengar evelin memanggilmu" arka mendekati evelin dan mengendongnya, tak hanya itu arkia juga mengejar freya yang tak mau berhenti
"tunggu! kamu ngga kasihan anak kecil memanggilmu tapi didiamkan saja" arka meraih tangan freya agar berhenti berjalan.
"evelin salah sebut mas arka, pasti ada ibunya kan" freya menghempaskan tangan arka yang menggenggamnya "lepaskan, nanti ibu evelin marah" ucap freya sambil celingukan
"kalau ngga marah kamu mau saya pegang?" ucap arka yang melantur
"evelin, tante bukan mama mu. nanti mama mu marah kalau tante main sama kamu" freya memegang pipi evelin yang menggemaskan tapi sekali lagi freya was-was
"tenang saja, ibunya evelin sedang pergi jauh jadi tak akan marah" arka meyakinkan freya yang terlihat ingin sekali menggendong evelin
"benarkah? eh tapi mas arka jangan disini biar saya sama evelin saja yang main" freya tak mau menganggung resiko, lebih baik menghindari
"kalau evelin mau berdua saja denganmu akan saya tinggal" arka menyerahkan evelin pada freya dan awalnya mau saja karena masih menganggap mamanya, setelah arka berjalan mundur dan mulai menjauh evelin kembali menangis
"om aka" evelin mengulurkan tangannya pada arka tanda tak mau ditinggal
"itu papa sayang bukan om, ini tante bukan mama" freya memberikan pengertian pada anak yang belum genap dua tahun itu
"no,no om aka sama mama" evelin masih menangis sampai arka mendekat kembali
freya semakin bingung saja, bagaimana bisa anak disuruh panggil om dan panggil orang lain dengan sebutan mama. " sejak kapan anak suruh panggil om saya ayahnya? biar apa? biar dianggap masih bujang dan bisa merayu gadis gitu!"
freya mengomel pada arka karena sikap arka pada freya semakin aneh saat bertemu, sangat berbeda dengan dulu
"ngga harus gadis juga sih, janda juga boleh kalau mau" jawab arka bukannya meluruskan malah semakian mengesalkan saja
"terserah deh, evelin tante mau ke dalam dulu ya. evelin main sama papa oke" freya menyerahkan evelin pada arka tapi evelin menolak
"evelin main sama om ya, tante capek baru datang. mama sama papamu besok pulang oke jadi jangan nakal" arka tak menjelaskan apapun tapi ucapannya seolah ingin memberitahukan pada freya jika evelin bukan anaknya
tapi freya tak begitu memperhatikan ucapan arka, yanga dia dengar hanya mama evelin sedang pergi. freya yang tak tega pun tetap menggendong evelin dengan mulut yang terus menguap. apalagi saat ini ada ditempat yang sejuk dengan rerumputan hijau membentang, angin berhembus membuatnya semakin rileks dan ingin kembali tidur
"bu, bu sasmita meminta anda masuk ke dalam" mila mencari freya karena sudah tak ada dimobil dan mencarinya disekeliling rumah
"hm, iya ayo" dengan menggendong evelin freya izin pada arka untuk membawanya masuk ke rumah yang sangat ramai
arka mengikutinya dari belakang karena evelin pun tak bisa jauh darinya saat tak ada mamanya. freya malu kalau sampai dilihat teman maminya karena dekat dengan papa evelin
"freya sayang sini nak, mami kangen" ria masih menyebutkan dirinya dengan panggilan saat menjadi mertua freya
"iya tante, freya juga. tadi habis main sama evelin sebentar" ucap freya
"sus, ajak evelin main dulu" ria meminta suster mengajak evelin karena memang ini acara untuk orang deawasa terutama wanita. maka dari itu arka memilih keluar
"bu, masih ngantuk?" mila takut bosnya marah
"engga, terima kasih sudah salah memberikan ku obat" freya sadar mengapa terus saja menguap sejak tadi
"hehe maaf bu"
"hm, minta buatkan es kopi saja dan bawa ke tempat tadi" freya berbisik pada mila. setelanya menyapa semua teman sasmita dan mengobrol sedikit keramah tamahan saja lalu minggir dan mencari celah untuk pergi tanpa ada yang sadar
freya mencari gazebo ditengah pepohonan buah manggis dan duku yang mulai berbunga, sayangnya belum musim panen ditemani dengan es kopi buatan mila
"bu enak banget ya tinggal disini" mila ikut merebahkan dirimenikmati sejuknya udara yang masih segar
"kamu kapan menikah?" freya harus bersiap mencari pengganti mila jika mila tak diizinkan untuk bekerja lagi
"belum tahu bu, menunggu dika katanya mau naik jabatan dulu" mila merasa hubungannya sudah tak begitu baik. terlebih saat dika mengancam membatalkan pernikahannya jika tak berhsil membujuk freya untuk menerima rangga
mila juga tak mengatakan apapun pada freya, baginya tak ada orang yang lebih tulus padanya dibandingkan freya bahkan calon suaminya pun rela mempertaruhkan cintanya demi jabatan
"malah melamun, tenang saja saya akan mencari asisten yang jauh lebih baik darimu, jangan khawatir" ucap freya yang tak mau membebani mila dengan pikiran yang tak perlu
"saya mau jadi asistenmu selamanya" jawab mila dan memeluk freya
suasana jadi haru seketika " jangan pecat saya ya bu"
freya malah tertawa " sudah-sudah, kita mau senang-senang disini. nanti tanya tante ria apakah duriannya ada yang bebruah atau tidak. disini banyak buah enak"
freya mengingat disajikan durian baru jatuh yang wangi, manis dan sangat enak dulu
"kalau mau durian besok pagi-pagi cari dikebun yang agak jauh dari sini, ada beberapa pohon yang buahnya siap panen" arka selalu saja tiba-tiba muncul
"pak arka" mila beranjak
"sini aja" freya menahannya
"ini ada tapi hanya ada satu" arka meletakkannya dekat freya dan membukakannya, wanginya menyeruak dan warna daging buahnya begitu menggoda
"silahkan makan, ini pakai sarung tangan biar tidak bau tangannya" arka munduur agar freya dan mila bisa makan dnegan santai
"bu" mila menahan tangan freya yang akan mengambil sarung tangan, lalu mila mengambil buah durian dan menyuapinya " enak?" tanya mila
"enak, makanlah sendiri saya bisa makan sendiri" freya malu diihat oleh arka
"kenapa? malu ada pak arka?" mila semakin membuat freya tak punya muka.
hampir tak pernah ada orang yang tau jika freya sebenarnya sangat manja, sangat berbeda dengan tampak luarnya yang tegas dan tangguh
"kalau mau lagi besok saya tunggu disini jam enam" arka meninggalkan dua wanita yang asik menikmati durian bahkan tak menawari yang membawanya
"ibu sadar ngga sih pak arka tuh perhatian banget sama ibu loh, bahkan sejak dulu" mila selalu memperhatikan arka memperlakukan freya
"jangan sembarangan, kamu ngga tahu istrinya kaya singa kan, saya hanya suka sama buahnya saja" uacp freya yang sudah kenyang melahap beberapa buah durian