Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.
Kesimpulan Yu: dia pasti model.
Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.
Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.
"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22: Penulis Skenario
Yu membaca pesan Lily tiga kali.
Aku kayaknya dalam masalah.
Kalimat itu terlalu pendek untuk seseorang seperti Lily, dan justru karena pendek, Yu tahu masalahnya tidak kecil. Ia langsung menelepon, tapi Lily tidak mengangkat. Beberapa detik kemudian, pesan baru masuk.
Besok aku cerita. Jangan telepon. Aku butuh menatap plafon dan menyesali hidup.
Yu menatap layar, lalu membalas:
Aku di sini.
Balasan Lily hanya satu stiker menangis dramatis.
Yu menaruh ponsel di meja, tapi pikirannya tidak bisa langsung lepas. Yan dan Lily. Zhen yang mengatakan Yan bodoh. Kalimat "orang yang paling berisik biasanya paling takut mengatakan hal penting." Entah kenapa, kalimat itu ikut menempel pada Zhen sendiri.
Malam itu, hujan turun setelah pukul sebelas.
Tidak deras, hanya cukup untuk membuat kaca ruang tengah berbintik dan lampu kota di luar tampak kabur. Yu keluar kamar membawa laptop, berniat mengambil air, tetapi berhenti ketika melihat Zhen duduk di sofa.
Ia tidak sedang bekerja.
Laptopnya tertutup. Di tangannya ada buku tipis berbahasa Inggris tentang sistem terdistribusi. Burger tidur melingkar di dekat kakinya.
Zhen mengangkat mata. "Belum tidur?"
"Kamu juga."
"Aku membaca."
"Aku mengambil air."
"Air ada di dispenser."
"Terima kasih atas informasi geografis."
Sudut bibir Zhen bergerak. "Duduk kalau mau."
Yu seharusnya mengambil air lalu kembali ke kamar. Besok ada kelas pagi. Lily dalam masalah. Tugasnya belum selesai semua. Dan duduk berdua dengan Zhen di ruang tengah setelah hujan tengah malam terdengar seperti adegan yang terlalu mudah masuk NovelMe.
Ia duduk.
Di ujung sofa lain.
Jarak di antara mereka cukup untuk Burger lewat dua kali, tapi tidak cukup jauh untuk membuat Yu merasa aman dari detak jantung sendiri.
Beberapa menit pertama, mereka diam. Zhen membaca. Yu membuka laptop, pura-pura mengecek tugas, padahal layar masih menunjukkan dokumen kosong. Suara hujan mengisi ruang di antara mereka.
Aneh.
Diam dengan Kevin dulu sering terasa seperti hukuman. Diam dengan Zhen lebih mirip tempat bersembunyi.
"Kamu sering begadang untuk apa?" tanya Zhen tiba-tiba.
Jari Yu berhenti di keyboard. "Tugas."
Zhen menatapnya.
"Dan... hal lain."
"Hal lain yang membuatmu mengetik seperti dikejar debt collector."
"Kamu masih ingat?"
"Sulit lupa."
Yu menutup laptop setengah. "Aku menulis."
Zhen tidak terlihat terkejut. "Kode?"
"Cerita."
Hening sebentar.
Yu menunggu komentar seperti, anak Fasilkom kok nulis cerita, atau kamu punya waktu sebanyak itu? Namun Zhen hanya menutup bukunya dan menaruhnya di samping.
"Cerita apa?"
"Romansa."
"Oh."
"Jangan oh begitu."
"Aku belum bilang apa-apa."
"Oh kamu terdengar menghakimi."
"Aku hanya tidak menyangka."
"Karena aku anak Fasilkom?"
"Karena kamu selalu terlihat seperti ingin memukul laptop saat coding. Kupikir kamu tidak akan membuka laptop lagi untuk hal sukarela."
Yu tertawa sebelum sempat menahan.
Zhen menatapnya. Hujan di kaca bergerak pelan, dan untuk beberapa detik, Yu merasa sorot mata Zhen lebih tenang daripada biasanya.
"Kamu mau jadi apa?" tanyanya.
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi Yu sudah terlalu sering menjawabnya dengan jawaban yang disukai orang lain. Programmer. Software engineer. Mungkin lanjut S2. Sesuatu yang bisa membuat Papa bangga, Ko Darren lega, dan orang-orang berhenti bertanya mengapa ia mengambil Fasilkom kalau suka menulis.
Malam itu, entah karena hujan, entah karena Zhen tidak mendesak, jawaban asli keluar.
"Penulis skenario."
Zhen mengangkat alis sedikit.
Yu langsung menegakkan punggung. "Aku tahu kedengarannya aneh. Aku kuliah di Fasilkom, tapi aku suka struktur cerita. Menurutku coding dan cerita sama-sama soal logika. Kalau satu bagian salah, semuanya runtuh. Bedanya, di cerita, orang boleh menangis."
Zhen masih menatapnya.
Yu makin gugup. "Aku belum bilang Papa. Ko Darren juga cuma tahu aku suka nulis, bukan serius. Mereka pikir ini hobi. Mungkin memang hobi. Tapi aku ingin mencoba. Suatu hari, aku ingin melihat namaku di credit film atau series. Bukan nama asli mungkin. Atau mungkin nama asli. Aku belum tahu."
Ia berhenti, baru sadar ia bicara terlalu banyak.
"Maaf."
"Kenapa minta maaf?"
"Aku kebanyakan ngomong."
"Aku yang tanya."
Jawaban itu membuat Yu diam.
Zhen mengambil gelas di meja, minum sedikit, lalu berkata, "Struktur cerita memang mirip program."
Yu menatapnya.
"Kalau karakter melakukan sesuatu tanpa motivasi, itu bug," lanjut Zhen. "Kalau konflik selesai tanpa konsekuensi, itu patch malas. Kalau ending tidak membayar setup, pembaca marah."
Yu membuka mulut.
"Kamu baca novel?"
"Kadang."
"Romansa?"
"Kalau algoritmanya menarik."
Yu menatapnya beberapa detik, lalu tertawa lagi, lebih lepas.
Burger mengangkat kepala, mungkin terganggu oleh suara itu, lalu kembali tidur.
"Aku suka skenario karena penulisnya tidak boleh egois," kata Yu setelah tawa itu reda. "Kalimat bagus kalau tidak bisa dimainkan aktor, harus dibuang. Adegan cantik kalau tidak bisa diproduksi, harus diubah. Rasanya seperti menulis sambil memikirkan banyak orang."
Zhen menatapnya dengan perhatian yang membuat Yu hampir salah napas.
"Kamu sudah memikirkannya sejauh itu," katanya.
Bukan pertanyaan.
Pengakuan.
Yu menunduk ke layar laptop yang kosong. "Aku memikirkannya diam-diam."
"Tidak semua hal yang dipikirkan diam-diam berarti kecil."
"Kamu aneh," kata Yu.
"Kamu baru sadar?"
"Tidak. Tapi levelnya naik."
Mereka terus bicara. Tentang film Indonesia yang dialognya terlalu kaku. Tentang series yang bagus di awal tapi runtuh di akhir. Tentang Zhen yang lebih suka cerita dengan karakter cerdas, dan Yu yang membela karakter bodoh asal emosinya jujur.
Waktu bergerak tanpa terasa.
Hujan berhenti.
Jam di dinding menunjukkan 01.37.
Yu mulai mengantuk. Awalnya hanya menguap kecil. Lalu matanya berat. Ia memeluk bantal sofa, masih mencoba mendengar Zhen menjelaskan kenapa plot twist tanpa foreshadowing adalah kejahatan struktural.
"Kamu tidur," kata Zhen.
"Nggak."
"Matamu tutup."
"Aku mendengarkan dengan mata."
"Itu namanya tidur."
Yu ingin membalas, tapi kata-kata itu larut.
Kepalanya miring pelan.
Zhen melihat gerakan itu. Secara refleks, ia seharusnya mundur. Tubuhnya selalu punya jarak aman. Bahu orang lain, rambut orang lain, napas orang lain terlalu dekat biasanya membuat kulitnya tidak nyaman.
Namun ketika kepala Yu menyentuh bahunya, Zhen tidak bergerak.
Rambut Yu masih sedikit wangi jahe dan shampoo. Napasnya pelan, lelah, percaya tanpa sadar. Berat kepalanya ringan sekali, tapi entah mengapa membuat seluruh sisi tubuh Zhen diam.
Tidak jijik.
Tidak tegang.
Tidak ada dorongan untuk mengambil tisu basah.
Yu bergumam sangat pelan, setengah tidur.
"Ending-nya jangan malas..."
Zhen menunduk melihatnya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang tertidur di bahunya, dan dunia tidak terasa kotor.
Ia hanya menarik selimut kecil dari sandaran sofa, menutupkannya ke tubuh Yu, lalu duduk diam sampai hujan benar-benar berhenti.