#Kisah ini mengingatkan pada kaum wanita jika kamu tidak mencintai pria yang menyatakan perasaannya padamu, jangan pernah sekali-kali kamu menghinanya. Ingat! Pria sanggup melewati tajamnya duri, untuk membuatmu tak berdaya!!!
Tamara Morely terpaksa mau di nikahi oleh Bagas Arta Kusuma setelah di jebak melakukan cinta satu malam di sebuah villa dalam keadaan mabuk.
Sejak lama Bagas mencintai Tamara, namun di tolak mentah-mentah hanya karena wajah Bagas jelek akibat di tumbuhi plek hitam dan jerawat.
Selain itu, kantong tipis Bagas, membuat Tamara merasa hanya akan menderita nantinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sobri Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Dirumah Pak Arya
Pak Tara tak lagi pulang ke rumah, Ia yang ingin tetap mempertahankan harga diri dan harta bendanya langsung mengantar Tamara kerumah keluarga besar Arya Sanjaya.
Terserah apa yang akan mereka lakukan pada Tamara, yang pasti Ia tidak ingin jatuh melarat jika sampai menentang keluarga Arya Sanjaya.
"Aku sudah memenuhi janjiku Pak Arya!" Ucapnya sambil mendorong Tamara ke arah pria yang berkuasa di depannya.
Melihat perlakuan sang Ayah yang bertindak kasar, Tamara sangat terkejut. Bahkan air matanya langsung berjatuhan
"Papa, kenapa Papa mendorong Tamara? Apa Papa sudah gak sayang lagi sama Tamara?" protesnya tidak suka.
"Diam lah Tamara, Papa lakukan ini juga untuk kebaikanmu. Turuti saja apa kata Pak Arya nanti," timpal Papa Tara acuh tak acuh.
Belum apa-apa Tamara jadi merasa takut saat Pak Arya, Alek dan semua keluarga itu menatapnya dengan sangat tajam.
Di antara orang itu juga ada seorang perempuan yang menatap penuh kebencian, Tamara yakin jika itu adalah istri pertama Alex.
"Bawa dia ke kamar!" Titah Pak Arya pada dua orang perempuan yang sejak tadi berdiri menunggu perintahnya
"Baik Pak!" Jawab mereka patuh.
Kedua gadis itu segera menuntun tangan Tamara menuju ke sebuah anak tangga untuk pergi ke kamar atas. Apa yang bisa di lakukan Tamara dalam keadaan seperti itu, kalau Papa Tara saja membiarkannya.
"Bagus Arya, tapi tetap saja kamu harus berhati-hati, pasalnya kamu sudah melampaui batasan!" Pesan Pak Arya setengah membisikan sebuah kalimat ancaman.
Pak Tara sendiri hanya membisu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi pada Tamara di rumah itu nanti, pasalnya Alex terlihat bringas dalam bersikap.
Pak Arya menepuk-nepuk pundak Pak Tara dengan lembut, "Dua hari lagi, aku akan menikahkan Tamara dengan putraku. Jangan lupa untuk datang karena kamu adalah walinya!" Tambah Pak Arya lagi.
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu!"
Sebelum melangkah keluar Papa Tara masih menyempatkan diri menatap ke arah Tamara yang juga masih menoleh ke arahnya.
Andai Pak Tara tahu, jujur saja Tamara tidak ingin perjodohannya dengan anak Pak Arya di lakukan dengan cara seperti ini.
Sesampainya di sebuah kamar termegah yang pernah Tamara lihat, Ia takjub dengan penataan kamar ini, begitu juga bentuk dekorasi yang sangat indah, karena di beberapa sudut dindingnya ada ornamen ukiran yang sangat memukau.
"Silahkan istirahat Nona, mulai hari ini anda tidak boleh keluar kamar sampai waktu pesta pernikahan itu tiba?" ujar salah seorang diantara mereka.
"A- apa menikah? Secepat itu?" Tamara berulang kali mengerjap-ngerjapkan bola matanya namun tak juga membuat hati Tamara berhenti dari kerisauan.
Sebab Ia masih istri syah Bagas, karena bagaimana pun juga Ia mengelak Bagas masih suaminya, meski menikah dengan Bagas hanya sebuah perjanjian kontrak, tapi tetap saja mereka masih terikat janji suci sebuah Akad nikah yang syah.
"Kami juga kurang tahu Nona, tapi kamu hanya menjalankan perintah Tuan Arya pada kami," jawab salah satu gadis itu lagi.
Mereka pun segera berpamitan pergi meninggalkan Tamara, bergantian dengan masuknya seorang Alex.
"Hai Tamara, apa kau menyukai kamar ini?" Tanya Alex sambil mengedarkan bola matanya keseluruhan isi ruangan di kamar itu.
"Pak Alex...!"
Tamara yang masih berdiri langsung memutar tubuhnya ke arah pria yang nampak berwibawa dengan setelan jas putih yang di kenakannya.
"Kenapa kamu sangat terkejut Tamara? Bukan kah kita pernah bertemu sebelumnya?" Seringai Alex setengah mengerlingkan bola matanya kearah perempuan yang sedikit merasa takut itu.
"Oh... tidak, tapi bisakah Pak Alex tidak kesini?" Ucap Tamara dengan berani. Berusaha sebisa mungkin menyembunyikan kegugupannya.
Alex terkekeh menanggapi lelucon Tamara, sangat aneh rasanya jika Tamara melarang tuan rumah masuk ke kamar mana saja di rumahnya.
"Baiklah, aku akan pergi. Kedatanganku sebenarnya hanya ingin memastikan kalau kau nyaman di kamar ini!"
Tamara tak menanggapi dan membiarkan Alex meninggalkannya seorang diri.
Ah, bagaimana ini? Apa Papa tidak memikirkan posisiku saat ini?...
Tamara mendudukkan diri di tepi ranjang sambil menyapukan pandangannya ke kamar yang luar biasa megah.
***
Sedang di ruangan yang lain dimana hanya ada anggota keluarga besar, Pak Arya rupanya sedang sibuk membahas apa saja yang akan di persiapkan dalam pesta pernikahan itu nanti, mengingat waktu mereka sangatlah sedikit.
"Lex, Papa percayakan ini sama kamu, karena Papa yakin kamu bisa menghadlenya jadi jangan biarkan Eyang memberikan harta kekayaan yang sudah kita rintis dari nol untuk Om Abian dan putranya!"
"Pasti Pa, aku pun tidak mau hal itu terjadi karena putra Om Abian pasti akan menggunakan kekuasaannya untuk berbuat semena-mena!"
"Tapi apa kalian sudah memastikan kalau gadis itu subur?" Timpal Mama Melisa.
"ku rasa begitu, Pak Tara sendiri yang bilang kalau semua garis keturunannya tidak ada satu pun yang mandul," ucap Pak Arya yakin.
"Semoga saja...!"
Sore hari menjelang, beberapa orang membantu Tamara mempersiapkan diri untuk segera mandi dan di rias. Pasalnya malam ini akan ada acara perkenalan calon mantu pada kalangan semua pejabat tinggi dan penguasa besar.
"Ayo Nona, segeralah berendam di buthtap yang sudah kami campur dengan pewangi yang akan membuat tubuh Nona harum dan lebih bersinar!" Ucap perempuan itu.
"Iya baiklah, aku akan pergi sekarang!"
Tamara mengambil alih handuk yang sudah di persiapkan untuknya dan melangkahkan kaki ke ruangan lembab itu, dimana tempatnya memang sangat bersih dan mewah.
Berbagai macam wewangian menyeruak langsung ke dalam rongga hidungnya.
Astaga, kenapa ruangan ini sangat bagus? Sekaya itukah keluarga Arya Wijaya?...
Kedua orang tadi hendak menguntit namun Tamara langsung berbalik dan mencegahnya.
"Kalian mau apa ha? Katanya aku di suruh mandi tadi? kenapa mengikuti?" Sentak Tamara kesal.
"Ma- maaf Nona, kami hanya ingin membantu Nona untuk membersihkan diri. Karena kami takut di marahi jika hasilnya tidak maksimal," ucap mereka takut.
"Ck, konyol? Kalian pikir aku anak kecil yang harus di mandikan seperti itu ha? Sana pergi, aku bisa melakukannya sendiri!" Usir Tamara setengah berteriak dan membentak.
"Ta- tapi Nona...?"
"Turuti saja, aku tidak mau kalian sampai melihat tubuhku? Aneh, emangnya pantas seseorang mengumbar tubuhnya di depan orang lain. Katakan saja pada Tuanmu, meski punya kekuasaan bukan berarti dia bisa berbuat seenaknya ya? Aku bukan perempuan clubing seperti yang sering mereka temui setiap hari, paham?"
Kedua orang itu hanya tertunduk tak berani melawan, apa lagi saat Tamara membanting pintu dengan kasar keduanya hanya bisa pasrah jika terkena hukuman karena melanggar perintah.
"Bagaimana Ning, apa kita akan terkena masalah?"