Delima Anastasia : Hidup dengan sederhana, dipertemukan dengan CEO di temat ia bekerja. Semenjak bertemu dengan CEO itu, ia sudah mempunyai perasaan kepada bos muda di kantornya, dengan hobinya menulis maka ia salurkan menjadi sebuah cerita didalam novelnya.
Sampai suatu hari ia merasa bahwa CEOnya itu mengawasinya dari jauh dan mulai bersikap tidak wajar, membuat Delima merasa selalu di awasi.
"Aku tidak tau takdir membawaku kemana, yang jelas jangan buat aku menderita Tuhan."
Derel Sean Miller :
"Setelah kau jadikan aku fantasimu membuat sebuah cerita, apakah aku akan membiarkanmu pergi dengan mudahnya?"
Tidak akan Delima, kau akan tetap di sini, di tempat yang seharusnya yaitu di sisi ku, kau adalah milikku dan siapapun tak akan ku biarkan milikku di ganggu ataupun disentuh orang.
Kau akan menjadi milikku, karna dari awal kau memanglah tercipta untukku. Apapun caranya itu pasti akan aku buktikan tidak akan lama lagi Del.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KarismaAd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Setelah mereka meninggalkan cafe, Delima pergi ke kosnya sedangkan Dea pulang ke rumahnya. Walaupun mereka tidak tinggal bersama tapi tempat tinggal mereka satu arah, makanya mereka kerap pulang bersama.
Delima sudah berada di kamar kosnya, walaupun tidak terlalu besar. Bisa di bilang kecil, cukuplah untuk ia tinggal.
Ia mengingat kembali saat pertemuan tadi, delima agak kaget dengan apa yang ia dengar apa yang ia dengar. Teman bosnya itu adalah penggemar dari novel yang ia buat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa jam yang lalu..
Saat mereka berada di dalam cafe dan dengan hidangan yang sudah tersaji, dengan indahnya di atas meja mereka.
"Perkenalkan nama saya Reyhan Winata, kalian berdua udah pada tau kan kalau saya ini siapa." Sedikit membanggakan dirinya.
Itu sukses membuat sahabat yang di sebelahnya tercengang. Bukan karena kelakuannya, tapi kata-katanya itu loh yang biasanya yang jarang mendengar sahabatnya ini ke dirinya sendiri memakai bahasa formal.
"Oh iya nama anda pasti Delima Anastasia, dan anda seorang penulis novel yang judulnya Kutemukan Dirimu. Nama samaran anda yaitu gadis gabut, betulkan." Bicara dengan percanya diri dan seolah menemukan hal yang sangat berharga yang ia cari selama ini.
Itu sukses membuat Delima dan sahabatnya tercengang. Karena selama ini yang mengetahui nama samarannya hanya sahabat, adik dan dia yang melindunginya.
Untung saja suasana di cafe itu sepi, dan suara Reyhan agak pelan. Karna ia juga tidak mau identitas Delima terungkap.
"Maaf sudah membuat anda kaget , anda tenang saja saya akan merahasiakan semua tentang anda. Dengan syarat anda harus membuat cerita tentang diri saya juga." Dengan senyum yang sangat indah, yang terpancar di wajah Reyhan.
Karena Delima juga tidak ada pilihan lain, maka ia menerima kesepakatan itu.
"Baiklah saya setuju dengan persyaratan yang Bapak Reyhan ajukan, tapi Bapak juga harus menjaga rahasia ini dari siapapun." Dengan tegas Delima berucap.
Seakan itu memang hal yang tidak boleh di ketahui oleh semua orang, Kecuali orang tertentu.
Untuk saat ini Delima tidak ingin identitas dirinya terungkap, apalagi masalah rumit yang sedang ia hadapi.
"Ada satu lagi, jika anda sudah menerbitkan novel yang berjudul Kutemukan Dirimu, beritahu saya."
"Ok, kalau begitu. Akan saya kabari jika novelnya sudah terbit." Delima menerima janji tersebut.
Mungkin karena jegah mendengar perkataan yang di ucapkan sahabatnya. Denis sudah tidak bisa bersabar lagi.
"Bro lo itu bisa gak sih bahasanya jangan terlalu formal gitu. Gatal tau kuping gue dengarnya, seperti saat rapat di kantor aja lo." Ucap Denis mencairkan suasana kaku dan sedikit tengang tadi.
"Maaf suasananya seperti di interfiu ya." Kembali seperti sifat semula.
"Hummm, sedikit pak." Merasa tidak enak, padahal emang iya. Gak tau aja kalau Delima dari tadi gelisah, untung bisa ia sembunyikan dan Tak nampakkan.
"Panggil aja gue bang Reyhan dan teman Abang ini panggil aja Bang Danis. Teman Abang ini masih jomblo loh, jadi kalau teman adek yang di sebelah juga jomblo mending kita jodohkan saja" Reyhan memperkenalkan sahabatnya sambil mempromosikan sahabatnya itu.
"Kalau boleh tau siapa nama teman adek itu." Bertanya tanpa tak menghilangkan senyum di bibirnya, seolah tidak merasakan capek.
Sebelum Delima menjawab di potong langsung oleh Denis.
"Maksud lo apa sih, kok nama gue di bawa-bawa. Kalau lo pengen kenalan sama temanya Dek Delima, ya Lo bilang langsung lah. Gak perlu juga lo jual-jual nama gue." Cerca Denis dengan sedikit emosi.
"Gak usah berantam gitu lah bang." Ucap Delima menenangkan, yang lagi sedikit emosi jika tidak dilerai akan menjadi hal yang sangat panjang nantinya.
"Perkenalkan gue Dea Resti Wulandari, panggil aja Dea." Itu bukanlah Delima yang berucap melainkan Dea. Karena jengah dengan apa yang di ucapkan oleh para laki-laki yang tampan ini tapi kalau di amati mereka kadang bikin kesel juga.
"Salam kenal adek Dea, nama yang cukup bagus seperti orangnya." Ucapnya sambil merayu Dea.
Mengalir lah perbincangan di antara mereka, canda dan tawa yang keluar dari mulut mereka. Dangan Dea yang asik berbincang dengan Reyhan, Delima dan Denis yang hanya mendengarkan, sesekali ikut nimbrung juga di obrolan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Huff, mudah-mudahan pak Derel tidak mengetahui tentang hal ini. Tapi bisa saja ia tau apalagi mereka berdua sahabatnya Pak Derel." Delima menjadi frustasi memikirkan jika benar yang ia pikirkan itu menjadi kenyataan.
"Apasih yang gue pikirkan, kalau memang ia tau, apa coba yang ia perbuat. Lagian ia kan gak tau kalau gue buat karakternya Alvara sama dengan pak Derel. Jadi gue aman lah." Bermonolog sendiri dengan menghibur hatinya yang gelisah, dengan kemungkinan yang akan terjadi.
"Sekarang lo harus tenang rileks dan senyum. hilangkan semua pikiran buruk belum tentu terjadi, sekarang lo jalani hari-hati Lo seperti biasanya, Lo pasti bisa Adel pasti bisa." Delima menenangkan dirinya dengan tekat yang kuat.
"Mending gue tidur aja, jangan sampai gue terlambat besok, kan gak lucu. Masa baru di angkat jadi karyawan tetap dan teladan malah telat." Gumam Delima.
Belum sempat Delima merebahkan tubuhnya di kasur, terdengar suara hpnya berbunyi. Ia penasaran siapa gerangan yang menelepon malam-malam begini.
Tak ingin orang yang menelephon memutuskan sambungan ya, Delima mengangkat hpnya yang bergetar tadi. Sebelum itu ia melihat nomor yang menelephonnya, di sana tertera nomor yang tidak ia kenal.
Karna penasaran ia mengangkat telephon itu sedikit ragu, karena baru kali ini ada nomor yang tidak ia kenal menelephonnya.
"Hallo, maaf dengan siapa ya." Ucapnya ramah, tapi tidak menghilangkan sedikit kecemasan di hatinya.
"Humm, akhirnya aku mendengar suaramu lagi.' Jawab penelephon di seberang sana.
Delima hanya bisa, terdiam dengan semua kecemasannya.
"Kamu pikir akan semudah itu pergi dari diriku Tasia." Ucap orang itu lagi.
Masih hening dan delima tidak mampu berkata-kata, karena semua persendiannya menjadi lemas dan ia pun terduduk di atas kasur, dengan keadaan yang ketakutan.
"Tidak akan lama lagi kita akan ketemu, dan persiapkanlah dirimu mulai dari sekarang. Karna saat itu kamu tidak akan memiliki pilihan yang lain. Jikapun ada pilihan, aku tidak akan membiarkanmu memilihnya." Ucapnya panjang lebar isyarat akan ancaman kepada Delima.
Setelah ancaman itu, sambungan lagsung terputus secara sepihak. Bukan delima yang memutuskannya melainkan orang itu.
"Dia, dia datang lagi. Aapa yang terjadi Tuhan mengapa dia kembali lagi." Dengan suara bergetar dan terbata-bata Delima berucap.
Dengan derai air mata yang bercucuran tanpa bisa di cegah, dan itu membuat tubuhnya ikut bergetar mewakili ketakutan yang ia rasakan.
"Mengapa hidupku ini tidak lepas dari dia Tuhan, bantu aku menghadapi semua ini."
" Baru saja gue merasakan hidup bahagia dan tenang, dengan sekejap dia datang mengusik kembali."
"Pasti ada titik terang dari semua ini, kepada siapa gue harus meminta bantuan. Jika gue sendiri, gue tidak akan sanggup menghadapinya." Gumamnya denga mencari solusi atas masalah ini.
"Ya, gue bisa. Gue pasti bisa, apapun yang akan terjadi nantinya."
"Gue tidak akan menyerah, mereka selama ini membantu gue dan buat gue tegar dan tangguh menghadapi semua ini."
"Ya ini saatnya gue harus bangkit dan tunjukin sama dia, kalau gue tidak akan pernah bisa dia tindas dan gue tidak akan membiarkan dia mendapatkan apa yang dia mau." Tekat yang di tanamkan di hati Delima.