Perjodohan? Ya mereka menikah karena perjodohan.
Seperti seperti cerita lain, jika menyangkut perjodohan maka mereka adalah dua insan yang tidak saling mengenal yang terpaksa duduk di depan pak penghulu dan menjadi pusat perhatian.
Kira-kira bagaimana kisah dua insan tersebut dalam menjalani bahtera rumah tangga? Dengan sifat lelaki itu yang dingin dan juga sifat perempuan yang sedikit bar-bar?
Ikuti kisahnya di novel Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
Salam kenal,
ptrmyllln
(PROSES REVISI)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ptrmyllln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duapuluhtiga
Setelah memikirkan beberapa kemungkinan di atas, Viola menatap Ardo yang terbaring lemah di kasur dengan kompres air dingin di keningnya, Ardo memang sudah berada di kamar tamu.
Kaki Viola tergerak menuju ranjang yang di tempati Ardo. "Maaf," ucapnya lirih sambil mengelus kepala Ardo. Entah kenapa hatinya sakit melihat Ardo seperti ini. Ia lebih suka saat Ardo memandangnya dengan tatapan tajam dingin, dan juga Ardo dengan mulut bon cabe nya.
Engh ...
Suara Ardo terdengar merintih, keningnya berkerut.
Mengerti kepala Ardo pusing, Viola langsung memijat lembut kening suaminya itu. "Kamu mau apa?" tanyanya lembut.
"Mau mama. Pusing ..." kata Ardo parau. Namun lebih tepat seperti rengekan. Rengekan anak kecil ketika demam.
Seketika itu Viola ingin menyemburkan tawanya melihat Ardo merengek seperti ini. Rasanya bukan Ardo banget. Ardo yang lempeng itu sekarang tergantikan dengan Ardo yang letoy.
"Mama udah pulang. Sama aku aja ya?" entah keberanian dari mana Viola mengatakan itu. Yang jelas ia mengikuti kata hatinya, karena mungkin rasa bersalah masih menghinggapi hatinya.
Tangan Viola yang sedang memijat kepala Ardo ditepis oleh si empunya kening. "Mama! Bukan kamu," ketus Ardo.
Mata Viola melotot. 'Astaga! Bunuh aku di rawa rawa Mas,'
"Jangan kepala batu deh. Sini," Viola mulai memijat pelan kepala Ardo lagi. Dan kali ini Ardo tidak membantah lagi bahkan ia mulai memejamkan matanya.
"Enak?" tanya Viola.
"Biasa aja, tangan kamu bau ikan asin,"
Astagfirullah, masih sempet-sempetnya ngeluarin bon cabe, batin Viola menggeleng.
"Aku balurin minyak kayu putih, mau?"
"Hm,"
Dengan sigap Viola membaluri kening, leher serta dada Ardo dengan minyak kayu putih, lama kelamaan mata Ardo memberat dan sekarang ia sudah terlelap.
Viola memperhatikan wajah damai suaminya. Meskipun wajah Ardo nampak pucat namun tidak menyurutkan ketampanan yang ia miliki.
Kalo lagi tidur wajahnya lucu ya jadi pengen cium hihi yaudah gausah bangun lagi deh, Viola terkikik geli.
Viola beranjak pergi untuk mengambil minum, namun Ardo mencekal tangannya.
"Jangan pergi," tiba tiba Ardo menarik tangan Viola hingga Viola jatuh medalam pelukannya. Meskipun suhu tubuh lelaki itu panas namun terasa nyaman bagi Viola.
Sial jantung gue!
"Aku mau ke dapur, Ardo. Lepasin dong," ucap Viola seraya melepaskan pelukan Ardo. Namun lelaki itu malah mengeratkan pelukannya.
"Ardo," geram Viola dengan suara rendah. Bukan apa Viola takut bahwa nanti dia kelepasan lalu membalas pelukan Ardo kemudian bersandar di dada bidang itu, Viola kan enggak mau cari kesempatan dalam kesempitan. Viola ini gadis baik-baik lho.
"Saya nggak nyiksa kamu, saya cuma minta peluk," ucap Ardo manja.
LO NYIKSA JANTUNG GUE ****!!
"Minta elus kepala boleh?" tanya Ardo polos, matanya mengerjap menatap Viola yang juga menatapnya
Mata Viola melotot melihat tingkah Ardo yang disertai raut wajah yang sok polos itu. Rasanya ia ingin mencium wajah tampan menggemaskan itu. Sungguh, Ardo mirip sekali dengan bocah dua tahun yang mau minta cucu.
Viola menelan salivanya kemudian mengangguk. "Bo-leh," dengan gugup Viola mulai mengelus rambut tebal itu.
Ardo sudah membenamkan kepalanya di belahan bukit kembar Viola serta tangan dan kaki yang melingkar di pinggang Viola. Sesekali dia menggusalkan wajahnya serta menghirup wangi di belahan itu.
Sialan! Enak ye tidur di gunung empuk! Eleh dasar lelaki, enggak bisa liat benda yang kenyal-kenyal. Awas aja kalo Ardo berani macam-macam, rambutnya akan menjadi sasaran empuk Viola.
Ardo mulai tertidur lagi dengan suara detak jantung Viola yang berdetak cepat sebagai lagu pengantar tidurnya, serta aroma khas yang dikeluarkan di area itu. Viola juga dapat merasakan jantung Ardo yang juga sama cepat dengan detak jantungnya. Mungkin Ardo juga sama-sama gugup seperti dirinya.
Hah entah apa yang merasuki tubuh Viola sekarang ini, ia malah membalas pelukan hangat itu. Mata Viola pun terasa memberat, tanpa sadar Viola tersenyum dalam tidurnya.
Ya Allah kalau kayak gini terus gimana Viola nggak jatuh cinta sama Lempeng tektonik ini?
***
Hallo, chapter ini memang pendek hanya sekitar 620 kata saja. Tapi meskipun pendek semoga kalian terhibur yaa :)
Kasi vote untuk novel ini yaa hehehe, selamat membaca:')
Semoga sehat selalu ya thor,semoga sukses selalu🤲🏻🤲🏻🤲🏻🌺🌺🌺🌺🌺⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️