Arsyana, seorang gadis yang diusir demi mempertahankan bayi yang ada dalam kandungannya. Janin yang ia dapatkan dari sebuah kesalahan fatal karena kelalaiannya.
Di bulan ke empat kehamilannya, tiba-tiba datang seorang Presdir ternama di kota itu, yang usianya 12 tahun lebih tua darinya.
"aku ayah dari anakmu." kata Presdir itu tiba-tiba yang membuat Arsy tak percaya.
Seorang presdir yang terkenal baik tanpa cela, mengakui bahwa dirinya ayah dari janin yang dikandungnya? Bagaimana bisa? Atau dia mengakui hal itu karena hanya merasa kasihan karena Arsy hamil diluar nikah.
Apakah benar Presdir itu ayah dari anak yang dikandung Arsy?
Bagaimana tanggapan keluarga presdir yang sangat terpandang itu, menolak atau menerima Arsy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 23 - Merasa Sesak
"jangan panggil aku, bapak..." kata Dae Jung dengan dingin dan melangkahkan kakinya pergi tanpa mempedulikan reaksi Arsy yang bingung mendengarnya.
Melihat suaminya pergi, Arsy hanya tertunduk mengikuti langkah suaminya. Bukannya ke ruang makan malah suaminya itu berbelok ke dalam kamarnya.
"maaf pak, bukannya kita mau makan. Kenapa..." tanya Arsy memberanikan diri takut suaminya lupa akan tujuan awal mereka.
"aku mau mandi dulu." potong Dae Jung segera menuju kamar mandi yang sebelumnya memerintahkan Rafi untuk mengirim makan malamnya ke kamar lewat ponselnya. "makan malam di kamar saja, kamu boleh duluan jika sudah terlalu lapar. Kasihan anak kita."
Arsy tak menjawab, ia hanya menundukkan kepalanya dan duduk di tepi tempat tidurnya. "Ada apa dengan orang itu, kemarin kelihatan baik banget kenapa sekarang jadi dingin seperti itu." batin Arsy
Setelah melihat suaminya ke kamar mandi, Arsy memutuskan tak akan ambil pusing dengan kelakuan suaminya, ia pergi begitu saja dari kamarnya untuk mencari udara segar diluar.
"nyonya mau kemana?" tanya Bi Ina yang datang ke kamarnya dengan beberapa pelayan membawa makanan.
"saya keluar sebentar bi, tiba-tiba dadaku terasa sesak," kata Arsy pada pembantunya. "bibi siapkan saja semuanya, saya cuman sebentar." pamitnya lalu pergi meninggalkan para pelayan yang sibuk menata meja makan di kamarnya.
Semua makanan telah tersedia di meja bundar yang tersedia di balkon rumah, badan Yoon Dae Jung pun sudah terasa segar dan siap untuk mengisi perutnya. Matanya menelurusi seluruh ruangan, ia tak tampak istrinya sama sekali.
Ia berjalan mendekati meja bundar itu dan semua masih terlihat utuh, "Arsy... " panggilnya dengan keluar kamar miliknya. "Arsy..." panggilnya lagi yang mengundang perhatian bi Ina yang ada di dapur untuk menghampiri tuannya. "ngelihat Arsy bi..."
"beliau bilang mau keluar sebentar tuan. Beliau merasa sesak berada dikamar."
"merasa sesak? apa karena bunga mawar itu?" tanya Dae Jung yang langsung mengira karena bunga mawar yang tersebar di kamarnya.
Padahal ia sudah mendesain kamarnya sesuai dengan cerita-cerita romantis yang ada pada film yang ia terbitkan, dan itu mengundang kebaperan golongan muda.
"saya kurang tahu tuan."
"bersihkan kamarku dari bunga mawar dan lilin itu." perintah Dae Jung
Dae Jung menuju taman depan rumah, tapi tak melihat sosok cantik disana, kemudian ia berjalan dengan agak cepat menuju taman belakang, ternyata disana juga tidak ada. "kemana perginya Arsy?"
"bi Ina... suruh semuanya mencari Arsy." perintah Dae Jung lagi, tiba-tiba ia merasa takut akan kehilangan wanita yang baru saja jadi istrinya. Dadanya tiba-tiba sesak ketika tak menemukan istrinya, keringatnya keluar begitu saja. Ia mondar mandir tak tenang, baru kali ini ia merasa khawatir pada seseorang. Rasa apa ini?
Setelah nyaman diluar dan sholat berjamaah dengan beberapa pelayan dibelakang, Arsy memutuskan segera masuk dan ingin secepatnya makan. Karena dedek yang ada di perutnya dari tadi sudah meronta-ronta karena lapar.
"sabar ya dek... kita tunggu papa sebentar lagi." ucap Arsy seraya mengeluas perutnya, saat ia masuk, ia melihat suaminya yang mondar mandir seperti setrikaan. ada apa ini?
Yoon Dae Jung menatap Arsy dengan tajam dan dingin seakan ingin menerkamnya, ia melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri istrinya. Ia memegang tangan istrinya dan membawanya ke kamar, apa Dae Jung lupa klo wanita yang tangannya dipegang erat dan sedikit di seretnya itu sedang hamil.
"tuan..." panggil Rafi segera saat melihat tuannya memperlakukan agak kasar pada istrinya.
Mendengar panggilan Rafi, Dae Jung pun berhenti. "nyonya kesakitan tuan." beritahu Rafi yang menyadarkan Dae Jung akan perbuatannya. Ia melihat ke arah istrinya, dan Arsy tersenyum nyengir memandang suaminya, seakan membenarkan apa yang dikatakan Rafi.
Dae Jung melepas tangannya, dan terlihat genggaman Dae Jung membekas pada kulit kuning langsat sang istri.
"Maafkan aku, Ar...."
butuh biaya untuk hidup.di luar sana...
no 209