NovelToon NovelToon
SANG PENUAI NYAWA

SANG PENUAI NYAWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

Dibuang dan dicap sebagai ancaman oleh militer korup karena membangkitkan Morthas—Malaikat Maut Kelas Misterius yang arogan dan ditakuti sejarah—Kael Ardyn diselamatkannya oleh guild terlarang di luar dinding peradaban. Bersama tiga jiwa abnormal lainnya, Kael harus melatih ranah jiwanya di Lapisan Kedua yang mematikan. Ini adalah kisah persekutuan empat jiwa yang siap mengguncang hukum dunia yang korup!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KETEGANGAN DI GERBANG VOLCANIA

​BAB 14: KETEGANGAN DI GERBANG VOLCANIA

​Suasana di perbatasan Kerajaan Volcania terasa semakin mencekam dari detik ke detik. Kabut tebal berwarna abu-abu pekat yang menyelimuti jajaran ngarai batu tidak lagi mampu menyembunyikan getaran hebat dari dasar bumi.

​Setiap kali retakan tanah bergetar, dinding-dinding pertahanan benteng perbatasan tampak berguncang hebat. Debu batu berwarna merah bata beterbangan dari celah-celah tembok tua yang mulai menipis dan retak berantakan.

​Dari balik lipatan kabut pekat, raungan kasar dan dengusan napas miliaran Beast terdengar makin dekat. Suara-suara mengerikan itu bergaung memantul di dinding ngarai, menciptakan simfoni kematian yang menekan mental para prajurit. Kawanan monster ganas terus mendesak masuk tanpa henti dari berbagai titik retakan Labirin Kuno yang terbuka paksa dari bawah tanah.

​Sementara itu, di jalur navigasi lain yang tertutup rimbunnya kabut Lapisan Kedua, tiga siluet manusia terus memacu langkah kaki dengan kecepatan tinggi.

​Kael Ardyn, Hugo, dan Kapten Gareth membelah hembusan angin malam yang menusuk tulang. Mereka bergerak bagaikan bayangan yang meluncur di atas tanah berpasir, melesat menuju titik perbatasan Volcania yang sedang dilanda krisis.

​Kapten Gareth berlari di posisi terdepan. Zirah besi tingkat Emas yang membungkus tubuh kekarnya berkilau samar di balik tembusan kabut abu-abu.

​Sepasang mata veteran milik pria paruh baya itu memancar tajam, memantau setiap lekuk pepohonan purba dan bongkahan batu di sekeliling mereka tanpa mengurangi kecepatan ritme langkahnya sedikit pun.

​Brak! Brak!

​Setiap kali telapak sepatu besinya menghantam tanah bergetar, aura keemasan tipis meledak pelan dari tumitnya, membelah pasir dan meninggalkan jejak cekungan dangkal di sepanjang jalur yang mereka lalui.

​"Lebih cepat, Hugo! Kita tidak punya banyak waktu untuk membuang detik di jalanan ini!" panggil Kapten Gareth dengan suara berat yang menembus deru angin, tanpa menolehkan kepalanya sedikit pun.

​Hugo yang bertubuh tambun menguraikan napasnya yang mulai kacau. Wajah membulat pemuda itu memerah padam. Ia menghentakkan kedua kakinya lebih kuat ke tanah, memaksa setiap serat otot di tubuhnya untuk membakar energi jiwa demi mengimbangi kelincahan Kael dan Kapten Gareth.

​Setelah berhasil memangkas jarak dan memposisikan dirinya sejajar dengan dua rekannya, suara napas Hugo terdengar memburu sengal. Uap panas yang pekat keluar bertubi-tubi dari mulutnya yang terbuka lebar.

​"Hah... hah... Uhuk!" Hugo menyapu buliran keringat dingin yang membasahi dahinya menggunakan bagian belakang lengan baju. Ia menggertakkan gigi, menolak untuk tertinggal di belakang walau dadanya terasa bagai terbakar oleh pasokan oksigen yang menipis.

​"Kael... menurutmu... apa teman-teman kita di depan sana akan baik-baik saja? Terutama si rambut merah bodoh bernama Ren itu?" tanya Hugo di sela desahan napasnya yang berat.

​Sambil terus berlari dengan ritme tubuh yang sangat stabil dan konstan, Kael Ardyn memiringkan kepalanya sedikit, menoleh ke arah Hugo di sampingnya. Wajah Kael tetap terlihat tenang, datar, dan tanpa ada riak kepanikan sedikit pun di matanya.

​"Jangan membuang energi jiwamu untuk mencemaskan hal yang belum terjadi, Hugo," sahut Kael. Suaranya mengalir sangat tenang, memberi efek mendinginkan di tengah laju adrenalin mereka. "Meski Ren agak ceroboh dan sering kali bertindak tanpa menggunakan otaknya, dia bukan sosok yang akan tumbang semudah itu di medan perang. Kau jauh lebih lama mengenalnya daripada aku."

​Kapten Gareth yang memimpin di posisi terdepan ikut menyambung kalimat Kael dengan nada ketegasan khas seorang komandan perang.

​"Kael benar, Hugo. Percayalah penuh pada kemampuan bertarung rekan-rekan timmu. Mereka bertiga telah melewati ratusan simulasi latihan yang keras di markas guild. Selama tingkatan Beast yang keluar dari labirin itu masih berada di kelas menengah, kombinasi pertahanan mereka tidak akan bisa dihancurkan dengan mudah."

​Hugo menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin Lapisan Kedua memenuhi paru-parunya. Rasa cemas dan gelisah yang sempat melilit dadanya perlahan-lahan mulai terurai digantikan oleh keyakinan.

​"Ah... kau benar, Kapten," bisik Hugo sambil mengulas senyum tipis di bibirnya. "Kenapa aku harus secemas ini? Di sana kan ada Elena yang galak dan Suna yang sangat cekatan. Si Gendut ini saja yang terlalu banyak berpikir..."

​Tiga bayangan dari Guild Scar Horizon itu kembali memicu aliran energi spiritual di kaki mereka. Kecepatan mereka meroket dua kali lipat, membelah hempasan angin malam yang kian kencang dan menembus pekatnya kabut untuk memangkas jarak menuju benteng perbatasan.

​Di saat yang bersamaan, kondisi di gerbang utama perbatasan Kerajaan Volcania justru sudah bertransformasi menjadi arena pembantaian yang sengit dan dipenuhi genangan darah. Darah merah milik manusia dan cairan kental berwarna hitam pekat milik para Beast membeku melebur di atas tanah berbatu.

​Di barisan paling depan pertahanan benteng, seorang Jenderal Kerajaan berperingkat Gold berdiri dengan kokoh. Zirah besi keemasannya telah dipenuhi torehan bekas cakar dan cipratan darah yang mulai mengering.

​Di belakang punggung gagah sang Jenderal, memanifestasikan sesosok Anima Kelas Tinggi berwujud Serigala Zirah Besi yang sangat masif. Serigala itu melolong nyaring ke udara, memancarkan gelombang aura keemasan tebal yang membentuk kubah perisai transparan. Perisai itu bergetar hebat, menjadi dinding terakhir yang menahan gelombang pasang ratusan Beast yang terus merangsek masuk melalui pintu ngarai.

​Brakkk! Cringgg!

​Setiap kali cakar-cakar raksasa monster menghantam permukaan perisai emas tersebut, dentingan keras logam beradu gaung memenuhi udara, menerbangkan serpihan batu benteng dan percikan api ke segala arah.

​"Atur kembali formasi kalian! Rapatkan perisai! Pertahankan gerbang utama ini sampai titik darah penghabisan!" seru sang Jenderal dengan suara lantang yang menggelegar, memadamkan rasa takut yang hinggap di dada puluhan prajuritnya.

​Dengan satu putaran tubuh yang bertenaga, sang Jenderal mengayunkan pedang raksasanya secara horizontal.

​Wushh! Tebasss!

​Mata pedang berlapis energi Emas itu membelah udara, menebas tubuh seekor Beast raksasa berwujud beruang berduri hingga terbelah dua di udara sebelum sempat mendarat di atas tembok benteng.

​"Tetap bertahan! Percayalah pada janji pimpinan kita! Rekan-rekan petarung dari Scar Horizon pasti sedang bergerak menuju ke sini!" tambahnya memberi semangat.

​Di tengah gemuruh dentingan zirah besi, raungan histeris monster, dan teriakan perintah para kapten prajurit, sesosok pengintai dengan pakaian yang robek-robek berlari kencang dari arah ngarai samping. Wajahnya pucat pasi, dan sepasang matanya terbelalak panik saat ia berlutut di samping sang Jenderal.

​"Lapor, Jenderal! Kabar buruk dari ngarai bagian barat!" teriak prajurit pengintai itu dengan napas yang putus-putus. "Tim pengintai melihat Nona Elena dan dua rekannya dari Scar Horizon sedang terkepung di celah retakan sekunder! Gelombang Beast di area tersebut terlalu masif, dan mereka mulai kehabisan ruang untuk bergerak!"

​Sang Jenderal menggeram gusar, rahangnya mengerasa erat hingga urat-urat di lehernya menegang. Keningnya berkerut dalam saat menatap ke arah celah-celah ngarai yang terus mengepulkan asap hitam.

​Bagaimana mungkin skala serangan ini bisa sebesar dan seluas ini... Menurut catatan akademi, kekuatan segel labirin kuno itu seharusnya masih bertahan hingga belasan tahun ke depan! umpat sang Jenderal dalam hati.

​Belum sempat sang Jenderal menyusun rencana pembagian pasukan untuk mengirimkan bantuan ke ngarai barat, seorang prajurit pengintai kedua berlari kencang dari arah menara pengawas gerbang luar dengan raut wajah yang bertolak belakang.

​"Jenderal! Laporan terbaru dari garis batas perbatasan!" seru pengintai kedua dengan nada gembira yang membakar harapan. "Tim bala bantuan utama dari Guild Scar Horizon telah terlihat di radar energi! Mereka bergerak dengan kecepatan sangat tinggi! Dipimpin langsung oleh sosok Kapten Gareth berperingkat Emas, dan diprediksi akan tiba di lokasi kita dalam kurun waktu kurang dari satu jam!"

​Mata sang Jenderal seketika berbinar terang. Beban berat yang menindas dadanya seolah terangkat sebagian. Wajah kaku militernya kini diselimuti oleh optimisme baru.

​Sebagai seorang komandan perbatasan, ia tahu betul betapa mengerikannya kualitas tempur para anggota Scar Horizon di Lapisan Kedua. Guild tersebut adalah benteng tak terlihat yang selama puluhan tahun menjaga kedamaian manusia dari marabahaya luar dinding.

​"Dengarkan aku, Pasukan!" teriak sang Jenderal, mengangkat pedang besarnya tinggi-tinggi ke udara. "Bala bantuan terbaik kita sudah berada di jalan! Tahan posisi kalian selama satu jam ke depan, dan tunjukkan pada monster-monster sialan ini keberanian prajurit Volcania!"

​"Hiyaaaaaa!" sorak ratusan prajurit, kembali menegakkan perisai besi mereka dengan semangat yang membara.

​Sementara harapan baru mulai menyala di gerbang utama, kondisi yang terjadi di celah ngarai barat tempat Elena, Ren, dan Suna bertarung justru sudah berada di ambang batas krisis yang kritis.

​Bebatuan gunung di sekeliling celah ngarai itu telah hancur menjadi serpihan. Asap hitam dan jelaga bekas ledakan membumbung tinggi, menutupi pandangan mata. Meski kelelahan fisik dan terkurasnya wadah jiwa mulai menggerogoti stamina mereka bertiga, kekompakan taktis antara Elena dan Suna yang telah terlatih di ribuan pertempuran nyata tetap menjadi benteng pertahanan yang mematikan.

​WUSSSSSS—!

​Atmosfer di dalam ngarai batu itu mendadak membara secara ekstrem. Manifestasi ilusi dari burung Phoenix purba, Pyrael, membumbung tinggi di udara tepat di belakang tubuh anggun Elena. Sayap-sayap api raksasa milik sang Anima Mitologi mengibas dengan keagungan mutlak, membakar habis kabut dingin dan menguapkan kelembapan udara di sekitarnya dalam sekejap.

​Bulu-bulu cahaya berwarna merah keemasan berguguran dari sayap Pyrael, mendesis begitu menyentuh tanah dan meledak menjadi percikan api oranye yang menyilaukan mata.

​Elena berdiri melayang beberapa meter di udara dengan jubah abunya yang berkibar hebat tertiup hawa panas. Sepasang mata merah menyalanya memancarkan ketegasan yang dingin. Dengan satu ayunan tangannya yang anggun namun sarat akan dorongan energi spiritual, Pyrael melepaskan raungan melengking yang menggetarkan jiwa.

​BOOOOOOMMMM!

​Gelombang lahar api menyembur dahsyat dari paruh Pyrael, menyapu horizontal ke arah barisan terdepan kawanan Beast di dalam ngarai. Kobaran api purba itu melalap puluhan monster bertanduk secara bersamaan. Suara derit daging yang terbakar dan jeritan kesakitan Beast menggema memekakkan telinga sebelum tubuh-tubuh mereka hangus seketika, menguap menjadi tumpukan abu hitam yang diterbangkan angin panas.

​Semburan api masif dari Pyrael itu berhasil menciptakan sebuah ruang kosong di tengah kepungan musuh selama beberapa detik. Celah waktu yang sangat singkat itu langsung dimanfaatkan dengan sempurna oleh Suna.

​Srettt! Wush!

​Dengan dorongan kecepatan kinetik murni dari Anima Cheetah Kelas Tinggi miliknya, tubuh Suna bertransformasi menjadi bayangan kilat berwarna perak. Gadis berambut pendek itu melesat melompati bongkahan batu yang membara, bergerak sangat cepat hingga mata biasa tidak mampu menangkap pergerakannya.

​Srettt! Srettt! Srettt!

​Sepasang belati di tangan Suna berkilat dingin. Dengan presisi gerakan yang mematikan, Suna menyergap setiap titik buta para Beast yang selamat dari amukan api. Ia menebas urat leher dan memotong persendian monster-monster tersebut sebelum mereka sempat menyadari keberadaannya. Dalam hitungan detik, lima ekor Beast peringkat Perak roboh bersimbah darah di atas pasir.

​Elena mendarat perlahan di atas sebuah pilar batu tinggi, dibantu oleh kepakan pelan sayap api Pyrael yang mulai menyusut. Dahi cantiknya dipenuhi oleh butiran keringat dingin, dan napasnya terdengar memburu tipis. Mengendalikan sebagian kekuatan elemen Pyrael di Ranah Perak Awal menguras kapasitas wadah jiwanya dengan sangat cepat.

​Sepasang mata merah Elena melirik tajam ke bawah, menatap ke arah Ren yang sedang berlutut di tanah berdebu. Pemuda berambut merah itu tampak terengah-engah dengan wajah tercoreng darah hitam. Sepasang tangannya gemetaran saat menahan fokus aliran energi jiwanya.

​"Bodoh! Sampai kapan kau akan terus bertarung dengan gaya ugal-ugalan seperti itu?!" seru Elena dari atas pilar batu, suaranya terdengar ketus namun mengandung kepedulian yang mendalam.

​"Selama kau tidak bisa mengontrol dan memanfaatkan aliran energi Kraken-mu dengan benar, kau hanya akan membuat dirimu sendiri mati konyol di tempat laknat ini!" tegas Elena.

​Elena mengibaskan jubah abunya yang telah ternoda hangus di bagian ujungnya, lalu memberikan instruksi taktis dengan cepat di tengah gemuruh pertempuran.

​"Dengar instruksiku, Ren! Hentikan serangan sporadis yang membuang-buang energi itu! Manfaatkan tentakel-tentakel Kraken milikmu untuk membentuk jaringan kontrol di area tengah! Tahan dan kunci pergerakan kaki musuh agar mereka tidak bisa mengepung kita dari samping!"

​Pandangan Elena kemudian beralih cepat pada Suna yang baru saja melompat kembali ke sisinya dengan belati berdarah.

​"Suna! Begitu Ren berhasil mengunci pergerakan mereka di area tengah, manfaatkan kecepatan perakmu untuk masuk dan mengeksekusi titik-titik vital mereka! Aku akan menghemat sisa energiku untuk membombardir fokus serangan Beast raksasa yang mencoba menerobos masuk!"

​Suna mengusap darah di pipinya, lalu mengangguk mantap tanpa ragu. "Dimengerti, Elena!"

​Di bawah pilar batu, Ren menggertakkan giginya rapat-rapat hingga rahangnya menegang. Rasa panas dan lelah di pembuluh darah jiwanya ia abaikan. Dengan satu raungan frustrasi yang membara, Ren mendorong kedua telapak tangannya ke atas tanah.

​Wushhh! Bum!

​Aura kebiruan bergetar hebat di sekeliling tubuh kurusnya. Di belakang punggung Ren, ilusi Kraken Rin memanifestasikan enam tentakel energi berukuran besar yang langsung menghantam bumi. Tentakel-tentakel air dan energi itu menjalar di atas pasir, membentuk cengkeraman taktis yang mengunci kaki-kaki kawanan Beast yang mencoba merangsek maju di barisan tengah.

​"Mati kalian semua, monster sialan!" teriak Ren, memaksa fokus jiwanya berada di titik puncak.

​Kombinasi taktis yang dirancang Elena berjalan dengan sangat efektif. Pergerakan musuh yang tadinya kacau dan masif kini berhasil tertahan di dalam perangkap area tengah. Suna melesat bagai kilat mengeksekusi musuh yang terkunci, sementara Elena berdiri siaga mengawasi seluruh medan laga dari atas pilar batu.

​Satu jam berlalu bagaikan neraka di celah ngarai barat. Dinding batu hancur menjadi serpihan, sementara bau jelaga api Pyrael dan amis darah Beast memenuhi udara yang kian pengap. Elena, Ren, dan Suna telah bertarung hingga ke titik nadir stamina mereka demi mengulur waktu, menahan gelombang monster tanpa jeda untuk sekadar menarik napas.

​Napas Elena memburu sengal, sementara jemari Suna gemetaran menahan belati yang mulai tumpul. Di tanah berdebu, Ren berlutut sambil memegangi dadanya yang memerah akibat terkurasnya aliran energi jiwa. Saat pertahanan mereka bertiga berada di ambang krisis, kepulan asap hitam di tengah ngarai mendadak bergejolak hebat.

​Namun... kedamaian dan kestabilan formasi pertahanan mereka tidak berlangsung lama.

​Bumi di bawah celah ngarai mendadak berguncang dahsyat dengan skala getaran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Retakan-retakan besar tercipta di dinding gunung batu, membuat bongkahan batu raksasa berguguran menghantam tanah.

​Dari dalam kegelapan retakan labirin yang paling dalam, sebuah hawa intimidasi yang teramat pekat, dingin, dan berkuasa mutlak meledak ke udara. Hawa panas milik Pyrael seketika tertekan mundur oleh aura kegelapan yang menguar dari retakan tersebut.

​Gerakan puluhan Beast kecil mendadak terhenti secara serentak. Monster-monster itu melangkah mundur dengan tubuh gemetar ketakutan, memberikan jalur kosong di tengah ngarai.

​Dari dalam asap hitam yang mengepul tebal, sesosok bayangan monster raksasa berukuran delapan meter merangkak keluar dengan perlahan.

​Monster itu memiliki bentuk fisik yang sangat mengerikan. Tubuhnya dibungkus oleh lempengan batu hitam tebal yang menyerupai Zirah Purba. Sepasang mata berwarna merah darah berkilat mematikan di balik celah kepalanya, dan dari mulutnya yang dipenuhi taring tajam, uap beracun keluar menetesi tanah hingga bebatuan meleleh.

​ROAAAAAAAAAAAAAAAAAR!

​Beast raksasa itu melepaskan raungan kolosal yang menggetarkan penderatan udara. Tekanan gelombang suaranya begitu kuat hingga sanggup membuat telinga Elena, Ren, dan Suna berdenging perih.

​Elena, Ren, dan Suna tersentak hebat. Pupil mata mereka membesar seketika, dan warna dari wajah mereka memucat total.

​"P-Puncak Perak...?" bisik Suna dengan suara yang tercekat di tenggorokan. Jemarinya yang menggenggam belati bergetar hebat saat merasakan gravitasi spiritual dari Beast raksasa itu mengunci pergerakan mereka secara mutlak.

​Beast berzirah batu hitam itu mengepalkan tinju raksasanya, lalu menatap lurus ke arah Elena yang berada di atas pilar batu. Bagi monster tingkat tinggi tersebut, Elena yang membawa aura Anima Mitologi Pyrael adalah ancaman terbesar yang harus dihancurkan terlebih dahulu.

​BUMMMMM!

​Dengan daya ledak kinetik yang luar biasa dahsyat, Beast raksasa Puncak Perak itu menghentakkan kakinya ke bumi hingga tanah tempatnya berpijak hancur berantakan. Tubuh besarnya meluncur melayang di udara, menembus kepulan asap tebal dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukuran fisiknya.

​Dengan sepasang tinju batu raksasa yang dilapisi aura kegelapan pekat, Beast Puncak Perak itu menerjang lurus ke arah Elena yang masih melayang di udara.

1
Aegis
punya kekuatan op, punya guru op😎
Aegis
buat selamat, masih harus bergantung pada orang lain🥴
Crimson
Gas pol
Crimson
ku vote ya /Good/
Kausafiksi.id: terimakasih abang kuh
total 1 replies
Crimson
Udah kyk adu pokemon aja /Grin/
Kausafiksi.id: 🤣🙏 siap abang kuh, tiba tiba dapat 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
total 3 replies
Anonim
cerita yang sangat menarik tidak pasaran
Anonim
cerita sangat menarik dan gak pasaran👍
Kausafiksi.id: terimasih nantikan kelanjutan nya
total 1 replies
WER
semangat kak membuat novel ya 😆👍👍👍
Kausafiksi.id: terimakasih 😁🙏
total 1 replies
Kausafiksi.id
updete sehari 2 kali ya teman teman.
Day Chuk
lanjut thor
Kausafiksi.id: terimakasih 🙏
total 1 replies
Dian Meilani
ceritanya menarik baru bab pertama, nanti kalo senggang aku mampir lagi ya kk.
Dian Meilani: yaa 👍
total 2 replies
Day Chuk
sangat menegangkan
Kausafiksi.id: iyakan 😁
total 1 replies
Day Chuk
chura apa thor
Kausafiksi.id: typo bang
total 1 replies
Day Chuk
di tunggu kelanjutan cerita nya ya
Kausafiksi.id: di usahain bang 🙏 terimaksih
total 1 replies
Day Chuk
kaya nya elena ada persaan salam kael nih 🫢
helena
lanjut thoomr✈️✈️
Kausafiksi.id: 🙏👍 siap kaka
total 1 replies
WER
semangat kak dan novel nya sukses Aamiin
Kausafiksi.id: sama sama suksek kak, aamiin
total 1 replies
WER
Thor apakah ada benih cinta di antara El dan kael pasti seru /CoolGuy/
Kausafiksi.id: Bisa kelihatan sih, sudah ada debar debar kaya nya si el
total 3 replies
WER
sabar El sabar orang sabar di sayang Tuhan 👍😆
Day Chuk: 🤣 galak amat ya cewe nya
total 2 replies
Muhammad Nur Septyawan
keren bang gua suka alur nya lumayan pas dan tidak basa basi👍
Kausafiksi.id: terimakasih bang, di bab 12 kesana baru baku hantam nya 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!