Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.
Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15: Jejak Pertama Menuju Bandung
Pagi tanggal 23 Juni 2026 dimulai dengan gemuruh mesin yang memecah kesunyian perbukitan, seolah bumi sendiri sedang dipersiapkan menyambut perang yang belum diketahui siapa pun. Ketika matahari baru naik di balik kabut, Arga berdiri di halaman vila sambil memandangi iring-iringan truk yang terus berdatangan melalui jalan sempit. Baginya, setiap kendaraan yang tiba bukan sekadar membawa material bangunan, melainkan membawa harapan agar keluarganya memiliki tempat berlindung ketika dunia berubah menjadi neraka.
Gruuummm...
Puluhan dump truck, ekskavator, buldoser, dan kendaraan pengangkut baja memenuhi lahan yang kemarin masih tampak tenang. Ratusan pekerja turun mengenakan rompi keselamatan berwarna terang, sementara para mandor membagikan tugas melalui pengeras suara dengan ritme yang teratur. Suasana yang biasanya hanya diisi nyanyian burung kini berubah menjadi lautan manusia yang bergerak cepat, menandai dimulainya proyek yang bagi semua orang hanyalah pembangunan sebuah vila, tetapi bagi Arga merupakan fondasi benteng terakhir sebelum kiamat.
Direktur proyek menghampiri Arga sambil membawa gulungan gambar teknik yang telah diperbarui semalaman. Wajahnya masih menyimpan sedikit kebingungan melihat rancangan bangunan yang lebih menyerupai markas militer daripada tempat tinggal pribadi. Meski begitu, nilai kontrak yang diterima perusahaan membuatnya memilih mempercayai klien muda di hadapannya.
"Pak Arga," katanya sembari membuka denah besar di atas kap mobil, "kami membagi pekerjaan menjadi empat tim. Tim pertama membangun pagar luar, tim kedua menggali bunker bawah tanah, tim ketiga memperkuat struktur utama, dan sisanya menangani instalasi listrik serta saluran air."
Arga memperhatikan denah itu dengan saksama sebelum mengangguk pelan. "Jangan ubah satu ukuran pun dari rancangan. Kalau menemukan batu besar atau tanah keras, laporkan sebelum mengambil keputusan."
Direktur tersenyum kecil. "Tenang saja, kami akan mengikuti gambar ini seakurat mungkin. Namun demi keselamatan, saya sarankan Bapak meninggalkan area selama pekerjaan berlangsung. Mulai hari ini alat berat akan bekerja hampir tanpa henti."
Arga tidak membantah. Ia memahami bahwa kehadirannya justru dapat mengganggu pekerjaan yang harus selesai sebelum tenggat paling penting dalam hidupnya.
Kraakk...
Suara pohon pertama yang tumbang menggema di lereng bukit ketika gergaji mesin memotong batang pinus tua. Tak lama kemudian, pagar batu yang selama bertahun-tahun mengelilingi vila mulai dihancurkan oleh lengan besi ekskavator. Debu beterbangan bersama serpihan beton, menandai berakhirnya sebuah rumah liburan dan dimulainya kelahiran benteng yang akan menentukan hidup atau mati banyak orang.
Arga berdiri cukup lama tanpa bergerak. Matanya mengikuti setiap ayunan alat berat yang menggali tanah di halaman belakang, tepat di lokasi bunker bawah tanah yang telah ia rancang berdasarkan sepuluh tahun pengalaman bertahan hidup. Di dalam benaknya, lorong penyimpanan logistik, ruang medis, pusat komando, gudang persenjataan, hingga jalur evakuasi rahasia mulai terbentuk begitu jelas, seolah semuanya telah berdiri di hadapannya.
Dalam kehidupan sebelumnya, benteng seperti itu baru dibangun setelah kiamat dimulai, ketika material telah menjadi barang langka dan setiap meter tembok harus dibayar dengan darah para penyintas. Kini semuanya berbeda. Arga sedang membangun masa depan ketika dunia masih sibuk mengejar keuntungan, merencanakan liburan, dan memikirkan target akhir bulan.
Angin pegunungan berembus pelan melewati wajahnya. Untuk sesaat, beban yang selama ini menekan dadanya terasa sedikit lebih ringan karena akhirnya ia melihat langkah nyata menuju masa depan yang ingin ia ciptakan.
"Setidaknya..." gumamnya lirih dalam hati. "Satu langkah besar sudah dimulai."
Setelah berpamitan kepada direktur proyek, Arga kembali mengendarai mobilnya menuju Jakarta. Jalanan masih dipenuhi kendaraan para pekerja kantoran yang bergegas mengejar waktu, sementara radio memutar berita ekonomi dan ramalan cuaca seperti hari-hari biasa. Tidak seorang pun di antara mereka menyadari bahwa hitungan mundur menuju runtuhnya peradaban terus bergerak tanpa bisa dihentikan.
Sesampainya di kamar kos menjelang siang, Arga langsung mengunci pintu dan menutup seluruh tirai jendela. Ia mengeluarkan hard drive hasil curian dari Sektor-9, lalu menyambungkannya ke laptop yang telah dimodifikasi agar tidak pernah terhubung ke internet. Ia tahu masih ada bagian data yang belum berhasil dibuka pada percobaan sebelumnya, dan firasatnya mengatakan bahwa informasi terpenting masih tersembunyi di dalam perangkat itu.
Klik...
Layar laptop memantulkan cahaya kebiruan ke wajah Arga ketika deretan program dekripsi mulai bekerja. Bar demi bar kode terus berjalan tanpa henti, sementara kipas pendingin laptop berputar semakin cepat akibat beban komputasi yang berat. Hampir dua jam berlalu sebelum sebuah folder tersembunyi akhirnya muncul di layar, membuat jantung Arga berdetak sedikit lebih cepat.
Folder itu diberi nama sederhana: NUSANTARA NETWORK.
Arga membukanya perlahan. Puluhan dokumen, peta digital, serta laporan operasional langsung memenuhi layar. Semakin jauh ia membaca, semakin dalam kerutan muncul di dahinya karena Organisasi Hitam ternyata jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
Jakarta hanyalah permukaan. Di baliknya terdapat jaringan yang membentang hingga Bandung, Surabaya, Semarang, Medan, Makassar, dan berbagai kota besar lainnya. Bahkan beberapa wilayah yang dalam kehidupan sebelumnya tampak relatif aman ternyata telah lama menjadi titik operasi organisasi tersebut sebelum kiamat dimulai.
Arga menggeser peta digital menggunakan jarinya. Titik-titik merah bermunculan di hampir seluruh Indonesia, masing-masing diberi kode laboratorium, gudang logistik, pusat distribusi, jalur keuangan, hingga markas operasi tersembunyi. Organisasi itu rupanya telah membangun fondasi nasional bertahun-tahun sebelum dunia mengenal nama Necrovirus Sapiens.
"Jadi..." bisiknya pelan sambil menyipitkan mata. "Kalian sudah menyiapkan semuanya bertahun-tahun."
Ia membuka dokumen lain yang berisi laporan distribusi logistik. Gudang-gudang rahasia itu menyimpan makanan, obat-obatan, generator, kendaraan, bahan bakar, perlengkapan komunikasi, senjata nonmiliter, hingga berbagai material penelitian bernilai sangat tinggi. Semua persiapan itu dibuat dengan satu tujuan: memastikan organisasi tetap berdiri ketika pemerintahan dan negara-negara mulai runtuh.
Senyum tipis perlahan muncul di sudut bibir Arga.
"Kalian bekerja keras mengumpulkan semua ini..." katanya lirih. "Sayang sekali aku akan mengambilnya lebih dulu."
Ia segera menarik buku catatan yang selama ini selalu berada di samping meja. Kali ini halaman-halamannya tidak lagi berisi daftar kristal ataupun resep Awakener, melainkan skema operasi berskala nasional. Berdasarkan data yang baru ditemukan, Arga mulai menentukan urutan target yang harus diserang sebelum hari kiamat tiba.
Ia sama sekali tidak berniat menghancurkan Organisasi Hitam melalui pertempuran terbuka. Risiko yang harus dibayar terlalu besar, sementara waktunya sangat terbatas. Sebaliknya, ia memilih menghancurkan fondasi organisasi itu dengan menghabiskan dana operasi, menguras gudang logistik, merampas laboratorium, serta memutus seluruh jalur distribusi sebelum mereka sempat memanfaatkannya.
Jika Organisasi Hitam ingin berperang setelah kiamat dimulai, maka mereka akan memulai perang itu dalam keadaan lapar, miskin, dan kehilangan sebagian besar sumber daya. Semakin lama Arga menyusun rencana, semakin jelas gambaran besar yang terbentuk di kepalanya. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ia tidak lagi sekadar bereaksi terhadap perubahan masa depan, tetapi mulai mengambil inisiatif untuk mengubah keseimbangan kekuatan sebelum perang benar-benar dimulai.
Matahari mulai condong ke barat ketika pandangannya berhenti pada satu titik merah yang berkedip pelan di layar.
Bandung.
Cabang itu diberi tingkat prioritas tertinggi. Selain menjadi salah satu gudang logistik terbesar Organisasi Hitam, lokasi tersebut juga tercatat sebagai pusat penelitian kristal tahap awal. Yang paling menarik, fasilitas itu sama sekali tidak pernah muncul dalam ingatan kehidupan sebelumnya, seolah keberadaannya berhasil disembunyikan hingga akhir atau seluruh saksi yang pernah mengetahuinya telah dibungkam.
Arga mengaktifkan Sensor Dimensi secara perlahan. Meski jaraknya masih ratusan kilometer, ia mencoba menangkap denyut energi dari arah yang ditunjukkan peta digital. Ruangan kembali tenggelam dalam keheningan hingga beberapa saat kemudian ia merasakan sesuatu yang membuat napasnya sedikit tertahan.
Energi itu bukan milik zombie ataupun manusia biasa. Denyutnya terasa dingin, padat, dan berat, seperti jantung raksasa yang sedang tertidur jauh di balik pegunungan.
Arga membuka mata perlahan.
"Itu bukan kristal biasa..."
Tanpa membuang waktu, ia segera menyiapkan perlengkapan. Parang, pakaian tempur, obat-obatan, makanan, air minum, senter, tali, beberapa kristal eksperimen, laptop, hard drive, hingga seluruh dokumen penting langsung dipindahkan ke dalam Ruang Dimensi agar dapat dibawa tanpa membebani kendaraan.
Desis...
Ruang Dimensi menelan seluruh perlengkapan tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Kini Arga dapat membawa seluruh kebutuhan operasinya ke mana saja tanpa khawatir kekurangan ruang ataupun berat muatan.
Menjelang senja, Arga menuruni tangga kos dengan langkah mantap. Ia memasuki mobil yang telah disiapkan beberapa hari sebelumnya, menyalakan mesin, lalu mengarahkan kendaraan menuju gerbang tol keluar Jakarta.
Vruumm...
Langit perlahan berubah jingga ketika mobil melaju membelah arus kendaraan yang masih padat. Di kanan kiri jalan, papan reklame, pusat perbelanjaan, dan gedung-gedung tinggi tetap berdiri megah, seolah peradaban modern akan bertahan selamanya. Arga menggenggam kemudi sedikit lebih erat karena ia tahu perjalanan menuju Bandung bukan sekadar operasi penjarahan berikutnya, melainkan langkah pertama memasuki wilayah yang bahkan asing bagi dirinya yang telah hidup dua kali.
Beberapa kilometer setelah memasuki jalan tol, Sensor Dimensi kembali berdenyut.
Dum...
Dum...
Denyut itu jauh lebih jelas dibanding sebelumnya. Arga memejamkan mata sesaat tanpa mengurangi kecepatan mobil, lalu merasakan seolah ada sesuatu di arah Bandung yang sedang merespons keberadaannya. Energi itu terasa hidup, waspada, dan perlahan mulai bergerak, membuat bulu kuduknya meremang oleh firasat yang sudah lama tidak ia rasakan.
Insting yang menemaninya selama sepuluh tahun bertahan hidup berteriak memberi peringatan. Kali ini, misinya tidak akan semudah memasuki laboratorium kosong atau menguras gudang tanpa penjaga. Seseorang atau sesuatu tampaknya telah lebih dahulu menunggunya di Kota Kembang, dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, Arga merasakan bahwa ia sedang melangkah menuju wilayah yang bahkan masa depan pun tidak pernah memberinya jawaban.